NovelToon NovelToon
The Return Of The Lost Heiress

The Return Of The Lost Heiress

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Keluarga & Kasih Sayang / Drama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Haena_Llulia

Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.

Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Skakmat di Atas Kertas

Suasana di dalam kelas 11-A yang sangat luas dan ber-AC dingin itu mendadak senyap begitu bel masuk berbunyi. Ruangan ini tidak seperti kelas sekolah negeri pada umumnya; setiap siswa memiliki meja kerja ergonomis sendiri yang dilengkapi dengan tablet pintar terintegrasi. Di dinding depan, sebuah layar proyektor interaktif raksasa sudah menyala, menampilkan logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Haena duduk di barisan paling belakang, dekat dengan jendela besar yang menghadap langsung ke lapangan tenis sekolah. Dia meletakkan tas ransel hitamnya dengan tenang di lantai. Di sekelilingnya, bisik-bisik sinis dari para siswa masih terdengar samar, tetapi Haena memilih untuk mengabaikannya. Dari balik kacamata transparannya, fokusnya tertuju pada sosok pria paruh baya berkacamata tebal yang baru saja melangkah masuk ke dalam kelas dengan langkah terburu-buru.

Dia adalah Pak Danu, wali kelas sekaligus guru matematika tingkat lanjut yang terkenal killer di Dirgantara High School.

"Selamat pagi semuanya. Harap tenang dan kembali ke tempat duduk masing-masing," suara Pak Danu menggelegar melalui pelantang suara ruangan.

Dia meletakkan seonggok tebal lembaran kertas fisik di atas meja guru—sebuah pemandangan langka di sekolah digital ini yang menandakan sebuah keadaan darurat.

Pak Danu menghela napas panjang, wajahnya tampak tegang.

"Saya baru saja kembali dari ruang kepala sekolah. Pagi ini, yayasan dan kementerian secara mendadak menginstruksikan seluruh sekolah elite di ibu kota untuk mengadakan ujian seleksi pra-olimpiade sains nasional hari ini juga. Soal-soal ini dikirim langsung secara acak dari pusat, dan tidak ada satu pun guru yang mengetahui isinya sebelumnya."

Keluhan dan rintihan frustrasi seketika pecah di seisi kelas.

"Yaaaah! Pak, kok mendadak banget sih? Kita kan belum persiapan!"

"Ujian nasional lagi? Pasti susah banget soalnya!"

Pak Danu mengetuk meja dengan penggaris besi, menuntut keheningan.

"Tidak ada bantahan. Ini ujian standar internasional untuk menyaring perwakilan sekolah kita. Karena ini kertas fisik khusus bersandi, semua tablet kalian akan dinonaktifkan sementara selama dua jam ke depan. Pengawas eksternal juga memantau lewat CCTV."

Di barisan tengah, Vanya menoleh ke belakang, melirik ke arah Haena yang duduk sendirian. Sebuah senyuman licik yang sangat tipis terukir di wajah cantiknya yang dipoles riasan Korean Ulzzang. Vanya kemudian melirik ke arah dua orang anteknya, Sherly dan Marta, yang duduk tidak jauh darinya. Mereka bertukar pandang penuh arti.

Vanya sengaja mengangkat tangannya dengan anggun, menarik perhatian seluruh kelas.

"Maaf, Pak Danu. Berhubung hari ini kita kedatangan murid baru... apakah dia juga wajib mengikuti ujian sesulit ini? Maksud saya, Haena kan baru saja pindah dari sekolah pinggiran kota yang kurikulumnya pasti sangat berbeda dengan kita. Saya takut... ujian ini akan menjadi tekanan mental yang terlalu berat untuknya di hari pertama."

Ucapan Vanya yang terdengar sangat perhatian itu langsung memicu tawa tertahan dan pandangan meremehkan dari seisi kelas ke arah Haena.

Mereka semua tahu betul makna tersirat dari kalimat Vanya, Haena itu bodoh dan tidak selevel dengan mereka.

Pak Danu mengerutkan keningnya, menatap Haena dari balik kacamatanya. Pihak administrasi memang memberi tahu bahwa murid baru ini adalah putri kandung Keluarga Dirgantara yang baru ditemukan, namun Pak Danu belum tahu sama sekali mengenai kemampuan akademiknya.

"Bagaimana, Haena? Jika kamu merasa belum siap, kamu bisa menunggu di perpustakaan sampai ujian ini selesai."

Sherly langsung menyahut dari bangkunya sambil memutar-mutar pena mahalnya.

"Iya, Pak. Lebih baik dia di perpustakaan saja. Daripada nanti nilainya nol besar dan malah merusak rata-rata nilai kelas kita di tingkat nasional. Kan malu-maluin nama besar Dirgantara."

"Betul banget, lagipula soal olimpiade kan butuh logika tingkat tinggi, bukan cuma hafalan buku warung," tambah Marta dengan nada mencibir yang kentara.

Vanya menyembunyikan tawa kemenangannya di balik telapak tangannya. Dia yakin Haena akan memilih mundur karena takut dipermalukan, dan hal itu akan langsung membuktikan kepada Nyonya Rosalind serta seluruh sekolah bahwa Haena tidak lebih dari sekadar sampah yang tidak punya masa depan.

Namun, Haena sama sekali tidak bergeming.

Gadis berkacamata transparan itu justru menegakkan punggungnya, lalu berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan. Tidak ada kepanikan, tidak ada kemarahan, dan tidak ada rasa minder di wajah cantiknya. Sentuhan tahi lalat kecil di bawah dagunya justru mempertegas ekspresi dingin dan penuh percaya diri yang terpancar dari wajahnya. Mental bajanya membuat dia melihat situasi ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai papan peluncur untuk membungkam mulut-mulut sombong di depannya.

"Terima kasih atas kekhawatiranmu yang sangat berlebihan, Vanya," ucap Haena, suaranya yang jernih dan beraura tegas bergema di seluruh ruangan, seketika membungkam tawa riuh para siswa.

"Dan untuk Pak Danu, saya tidak perlu pengecualian apa pun. Sebagai murid baru, saya justru merasa terhormat bisa langsung menguji sejauh mana standar sekolah ini melalui ujian nasional. Silakan bagikan soalnya, Pak."

Pak Danu sempat tertegun mendengar jawaban yang begitu mantap dan tidak gentar dari Haena. Rasa kagum tipis muncul di hati guru senior itu.

"Baiklah kalau begitu. Silakan duduk kembali, Haena. Ujian akan dimulai sekarang."

Lembaran soal dan lembar jawaban fisik pun dibagikan. Begitu kertas soal mendarat di atas meja Haena, dia membalik kertas tersebut dan matanya dengan cepat memindai deretan pertanyaan kalkulus tingkat lanjut, kombinatorika, dan teori bilangan kompleks yang tertera di sana.

Bagi siswa biasa, soal-soal ini mungkin terlihat seperti bahasa asing yang mengerikan. Vanya bahkan langsung mengerutkan keningnya dalam-dalam begitu membaca soal nomor satu; dahinya mulai berkeringat dingin karena menyadari tingkat kesulitannya jauh di atas apa yang pernah dia pelajari dari guru les privat mahalnya.

Namun, bagi otak jenius Haena, deretan angka dan rumus rumit itu tak ubahnya seperti sebuah permainan teka-teki anak-anak yang sangat sederhana. Di kehidupan lamanya yang keras, di sela-sela waktu membantu Ibu Aminah di kedai soto, Haena selalu menghabiskan malamnya dengan membaca buku-buku teks matematika perguruan tinggi bekas yang dia beli dengan harga murah di pasar loak. Otaknya memiliki kemampuan komputasi visual yang luar biasa cepat.

Sret! Sret! Sret!

Suara goresan pena Haena di atas kertas mulai terdengar ritmis dan konstan di tengah keheningan kelas yang mencekam. Sementara siswa-siswa lain masih memegangi kepala mereka karena frustrasi atau sibuk mencoret-coret kertas buram dengan wajah pucat, jari-jari tangan Haena bergerak dengan sangat gesit tanpa ada keraguan sedikit pun. Setiap langkah penyelesaian persamaan diferensial ditulisnya dengan rapi, sistematis, dan padat.

Di barisan depan dekat meja guru, Kaelen Arkananta yang kebetulan berada di kelas yang sama, sengaja menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. Kaelen yang juga dikenal jenius dan biasanya selalu menyelesaikan ujian paling cepat, mendadak menghentikan goresan penanya sendiri. Matanya yang sedingin es menatap lekat-lekat ke arah Haena.

Kaelen memperhatikan bagaimana ekspresi gadis berkacamata itu sama sekali tidak berubah sejak awal ujian. Haena tidak pernah mengernyitkan dahi, tidak pernah menggigit bibir karena bingung, dan gerakannya begitu stabil. Ada daya tarik intelektual yang luar biasa kuat memancar dari diri Haena, sesuatu yang membuat jantung Kaelen mendadak berdegup dengan ritme yang tidak biasa.

Tepat satu jam semenjak ujian dimulai. Waktu pengerjaan sebenarnya masih tersisa satu jam penuh. Kebanyakan siswa bahkan belum menyelesaikan setengah dari total tiga puluh soal yang tersedia. Vanya baru sampai di soal nomor dua belas dan kepalanya sudah terasa pening luar biasa.

Krak.

Haena meletakkan penanya di atas meja dengan ketukan yang cukup terdengar di ruangan yang sunyi itu. Dia merapikan lembar jawabannya yang telah terisi penuh hingga halaman terakhir, berdiri dari kursinya, lalu melangkah maju ke meja guru dengan membawa kertas ujiannya.

Seluruh pasang mata di kelas seketika beralih menatap Haena dengan pandangan syok dan tidak percaya.

"Pak Danu, saya sudah selesai. Bolehkah saya mengumpulkannya sekarang?" tanya Haena dengan nada suara yang sangat tenang.

Pak Danu melebarkan matanya, buru-buru melihat jam dinding.

"Haena, waktu masih tersisa enam puluh menit. Ujian ini berskala nasional dan memengaruhi penilaian rapor besarmu. Apa kamu yakin tidak mau memeriksa jawabanmu lagi? Jangan terburu-buru menyerah hanya karena soalnya sulit."

Vanya yang mendengar itu langsung mengembuskan napas lega dan tersenyum sinis di dalam hati. "Ah, ternyata dia cuma menggertak. Dia pasti menyerah karena tidak tahu cara menjawabnya dan memilih mengumpulkan kertas kosong daripada pusing," batin Vanya dengan penuh kemenangan.

"Saya tidak menyerah, Pak Danu. Saya sudah memeriksa semuanya sebanyak dua kali dan saya yakin dengan jawaban saya," jawab Haena datar, tatapannya lurus tanpa keraguan.

"Baiklah kalau begitu, letakkan di sini," ucap Pak Danu, nadanya terdengar agak kecewa karena mengira murid baru ini benar-benar angkat tangan.

Begitu Haena meletakkan lembar jawabannya dan berjalan keluar kelas untuk menunggu di koridor, Pak Danu langsung mengambil kertas tersebut untuk melihat seberapa banyak soal yang dikosongkan oleh Haena. Namun, begitu mata Pak Danu membaca baris demi baris jawaban tertulis di kertas itu, seluruh tubuh guru matematika senior itu mendadak kaku seolah tersengat aliran listrik.

Tangan Pak Danu yang memegang kertas mulai gemetar hebat. Matanya melotot di balik kacamata tebalnya, membalik halaman demi halaman dengan tergesit-gesit.

Tidak ada satu pun nomor soal yang kosong.

Semua ruang jawaban terisi penuh dengan tulisan tangan yang sangat rapi. Dan yang membuat jantung Pak Danu berdegup kencang adalah logika rumus penyelesaian yang digunakan Haena; gadis itu tidak menggunakan metode standar sekolah yang panjang dan bertele-tele, melainkan menggunakan rumus teorema tingkat tinggi yang biasanya hanya dikuasai oleh mahasiswa tingkat akhir jurusan sains murni untuk memotong komputasi rumit menjadi jawaban yang sangat akurat dan elegan.

"Ini... ini tidak mungkin..." gumam Pak Danu dengan suara bergetar yang cukup keras, membuat beberapa siswa di barisan depan menoleh bingung.

"Semuanya... semuanya benar? Bahkan soal bonus nomor tiga puluh yang belum pernah diajarkan di tingkat SMA..."

Kaelen Arkananta yang melihat ekspresi syok di wajah Pak Danu langsung menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman misterius yang sangat menawan. Dia meletakkan penanya sendiri, mengumpulkan lembar jawabannya yang juga sudah selesai, lalu melangkah keluar kelas menyusul Haena, meninggalkan seisi kelas yang masih berkutat dengan kebingungan mereka.

Di koridor sekolah yang sepi dan sejuk, Haena berdiri menyandarkan punggungnya di pagar pembatas balkon, menatap pemandangan taman sekolah di bawahnya. Sinar matahari pagi menerpa wajah cantiknya, membuat kulitnya yang halus tampak bersinar.

"Memotong rumus teorema kalkulus menggunakan invers matriks di soal nomor dua puluh lima... itu cara yang sangat cerdas untuk menghemat waktu, Haena," sebuah suara bariton yang berat dan maskulin mendadak terdengar dari arah samping.

Haena menoleh sedikit, membetulkan letak kacamatanya, dan menemukan Kaelen Arkananta sudah berdiri di sampingnya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana seragamnya. Aura dominan pemuda itu kembali menyelimuti udara di sekitar mereka, namun Haena hanya menanggapi dengan sebuah senyuman tipis yang sangat tenang.

"Dan menyelesaikan seluruh soal dalam waktu enam puluh menit di saat orang lain bahkan belum melewati nomor sepuluh... kurasa kamu juga tidak seburuk yang mereka bicarakan, Tuan Arkananta," balas Haena, nada bicaranya tetap santai dan setara, seolah dia sedang berbicara dengan teman lamanya, bukan dengan penguasa sekolah yang ditakuti semua orang.

Kaelen menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Haena. Keberanian, kecerdasan mutlak, dan mental baja yang dimiliki gadis di depannya ini benar-benar telah membuat ego tinggi Kaelen runtuh sepenuhnya. Dia tahu, mulai hari ini, kehidupannya di sekolah tidak akan pernah lagi terasa membosankan selama ada Haena di sisinya.

"Ujian hari ini baru sebuah permulaan kecil, Haena. Vanya dan kelompoknya tidak akan tinggal diam setelah hasil ujian ini keluar nanti," ucap Kaelen, suaranya melembut, menyiratkan sebersit nada protektif yang sangat kental yang hanya ditujukan khusus untuk Haena.

"Tapi kamu tidak perlu khawatir. Mulai detik ini, selama ada aku di sekolah ini, tidak akan ada satu pun orang yang bisa menyentuh atau melukaimu."

Haena memutar tubuhnya, menghadap langsung ke arah Kaelen. Sorot matanya memancarkan ketangguhan yang luar biasa.

"Terima kasih atas tawarannya, Kaelen. Tapi aku tidak butuh pahlawan untuk melindungiku. Jika serigala-serigala itu berani datang dan mencoba menggigitku, maka aku sendiri yang akan memastikan bahwa taring mereka akan patah sebelum sempat menyentuh kulitku."

Mendengar deklarasi perang yang begitu berani dari Haena, tawa rendah yang terdengar sangat seksi lolos dari bibir Kaelen. Pemuda dingin itu benar-benar telah jatuh sepenuhnya ke dalam pesona luar biasa milik sang putri sejati yang kembali.

(Cliffhanger)

"Dua jam kemudian, hasil ujian pra-olimpiade nasional resmi dirilis secara digital di layar pengumuman lobi utama sekolah. Saat Vanya, Sherly, dan Marta berjalan dengan penuh percaya diri untuk melihat nilai jeblok Haena yang mereka nantikan, seluruh area lobi mendadak riuh oleh teriakan histeris para siswa. Di peringkat pertama nasional, nama Haena tertulis dengan skor mutlak 100%, sementara nama Vanya merosot jauh ke peringkat bawah, memicu kepanikan luar biasa di wajah anak angkat palsu tersebut."

1
Osie
rosalind mak kandung harga bukan yaa?? kok malah jd musuh anak sendiri
Haena_Llulia: kamu tau kan maknya gimana😔
total 1 replies
Osie
ini hana apa udah gak sekolah ya..kok mainnya diperusahaan terus
Haena_Llulia: iya, kayaknya gitu deh. ini jg pasti krn masalah yg muncul
total 1 replies
Osie
eh nyonya rosalind ente emak kandung haena kan??? kok kayak mak tiri ya yg takut kehilangan harta warisan
Haena_Llulia: iya aku juga jadi ngedek dehhh sama dia😡
total 1 replies
Osie
mampir akuh nya..msh nyimak dan moga MC nya sosok tangguh. benar benar tangguh n smart
Haena_Llulia: Terimakasih banyak, aminnnn🙏🤗
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak bebkuhhhh😳🙏❤
total 1 replies
Alia Chans
mampir thor✍️👈
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🙏
total 1 replies
Siru06
mampir thor👍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!