NovelToon NovelToon
Mahkota Kegelapan: Pewaris Dewa Hades

Mahkota Kegelapan: Pewaris Dewa Hades

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:460
Nilai: 5
Nama Author: Vedyta Hyuk

Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.

sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.

Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.

Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Pertemuan pertama dengan Nayyara.

Gadis cantik itu baru keluar dari toko buku besar di daerah sini, setelah membeli perlengkapan melukis untuk menyalurkan hobi dan mata pencahariannya, tas coklat terselempang di bahu kirinya, HP berada di di tangannya, dia tengah sibuk berbalas pesan dengan temannya soal lukisan buatannya yang baru saja beres dan siap di kirim pada pemesan.

Rambut ikal coklat tua nya terurai indah hingga melewati bahu, wajah mulus itu yang tertimpa sinar sore matahari yang hangat makin membuat gadis itu terlihat luar biasa cantik. Dia tengah menunggu traffic light berwana hijau untuk pejalan kaki, tujuannya ke halte seberang untuk menumpang busway.

Sementara itu di tempat lain dalam kabin mobil Arka masih pening memikirkan suara misterius tadi yang menakutinya, benarkah dia hanya akan hidup 40 hari lagi, lalu jika dia benar-benar mati nantinya apa kedua orang tuanya bisa menerima itu.

Setelah tiba-tiba suara itu lenyap seketika, berganti dengan keheningan yang buat bulu kuduk meremang. Arka menghela napas kasar, dadanya naik turun menahan panik yang mulai merayap masuk ke dalam tulang-tulangnya.

"38 hari... aku bakal mati dalam 38 hari lagi?" Pikirannya berubah kalut, rasa percaya dirinya yang tinggi seketika runtuh, diserang rasa takut yang berlebihan.

Karena terlalu sibuk berdebat batin dan panik sendiri, konsentrasi Arka di jalan jadi terpecah. Matanya yang sedari tadi menerawang kosong, tiba-tiba membelalak lebar saat dari arah samping kiri, tepat di dekat penyeberangan jalan, sesosok bayangan melangkah keluar tiba-tiba, dia sampai tak melihat lampu traffic menyala merah, itu artinya mobil nya seharus nya berhenti.

Ciiiiitt!!!!

Arka mengerem spontan dan panik, jantungnya berdebar saat mendengar jelas suara.

BRAKK!!

Suara gesekan ban karet yang bergesekan keras dengan aspal terdengar nyaring, disusul suara gesekan bodi mobil yang nyerempet keras pada semen trotoar dan dengan benda lunak.

"ASTAGA!!" Pekik Arka kaget setengah mati.

Dengan refleks cepat, Arka tadi langsung menginjak remnya dalam-dalam hingga mobil sport mewahnya itu berhenti mendadak, badannya tersentak ke depan karena gaya hentakannya, untung nya dia pakai sabuk pengaman. Jantungnya rasanya mau copot. Tiba-tiba panik menyerang sekujur tubuhnya.

"Tadi itu... aku menabrak seseorang ya tuhan?!" Tanpa membuang waktu sedetik pun, Arka membuka pintu mobilnya dengan kasar, melompat turun, dan berlari kecil ke arah depan mobilnya, tempat di mana sosok itu terjatuh terduduk, dipinggir jalan beraspal.

"Ya Tuhan... maafkan saya! Anda tidak apa-apa?! Ada yang sakit?!" Arka cemas dan panik, aduh apa dia akan kena pasal kelalaian di jalan sampai bisa menabrak orang, dasar jaksa teledor.

"Maafkan saya, saya tidak lihat tadi kakak nyeberang" Seru Arka beruntun, suaranya terdengar sangat panik dan khawatir. Dia langsung berjongkok di depan sosok itu, tangan besarnya terulur ingin membantu gadis itu berdiri, namun dia ragu takut salah dan tidak sopan.

Namun saat sosok itu perlahan mengangkat wajahnya, menyingkirkan rambut indah yang menutupi sebagian wajahnya karena terkejut, napas Arkanendra seketika tertahan di tenggorokannya. Mulutnya ternganga sedikit, matanya menatap lekat-lekat tak berkedip.

"Oh my goodness?" Arka melongo dalam sepersekian detik, dia seperti melihat Dewi aprodhite tengah ada di depannya.

Di hadapannya ini, duduk di pinggir jalan dengan sedikit gugup namun tak terluka, ada seorang gadis muda yang wajahnya indah luar biasa.

Kulitnya putih bersih, matanya bening dan lembut berwarna cokelat muda, hidungnya mancung mungil, dan bibirnya yang merah alami kini sedikit terbuka kaget. Rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan sebahu terurai indah berantakan sedikit tertiup angin sore, menambah pesona alaminya. Ia mengenakan blazer cokelat tua yang santai namun elegan, memancarkan aura tenang, lembut, dan murni.

Bagi Arkanendra, rasanya seolah ada cahaya terang yang memancar keluar dari tubuh gadis itu. Gadis itu cantik jelita bak Dewi Yunani, tapi bukan sekadar cantik biasa, tapi cantik yang murni, meneduhkan hati, persis seperti bidadari yang turun dari langit tepat di depan matanya.

Gadis itu, Nayyara Syakira—menatap Arka dengan wajah sedikit pucat karena kaget, lalu perlahan tersenyum tipis, senyum yang manis dan tulus.

"Saya... saya tidak apa-apa, pak. Hanya kaget saja... tidak ada luka kok," Ucap Nayyara pelan, suaranya lembut dan merdu, persis seperti salju yang menyejukkan hati.

Arka terpaku masih bengong terpesona. Tak bisa bergerak, tak bisa bicara. Di dalam kepalanya yang tadi berisik dengan suara misterius itu, kini hening total. Hanya ada satu kalimat yang berputar terus di kepalanya.

"Ya Tuhan... ini. Cewek apa Bidadari, njir belom pernah aku lihat cewek secantik ini?" Arka membatin gugup lalu berusaha mengubah ekspresinya terlihat datar lagi.

"Sekali lagi maafkan saya kak, biar saya anterin ke rumah sakit ya" Tawar arka agak nekat

Tiba-tiba tanpa dia duga, samar-samar suara misterius itu kembali berbisik, namun kali ini suaranya terdengar penuh kemenangan.

"Kau sudah menemukannya, Arkanendra... Itu dia. Gadis itu Kepingan jiwa Dewi Athena, dia harus jadi milikmu." Arka melotot lebar makin kaget dengan suara-suara itu.

Nayyara menggeleng pelan sambil tersenyum ramah, berusaha bangkit berdiri sendiri meski sedikit tertatih. "Benar kok saya nggak apa-apa. Cuma kaget aja tadi,.. saya juga minta maaf sampai bikin Bapak kaget dan repot" Jawabnya sopan, nada bicaranya lembut banget sampai bikin hati Arka yang sempat kacau jadi tenang seketika.

"Tidak bisa begitu. Ini salah saya seratus persen, saya nggak konsentrasi nyetir. Kalau anda bilang nggak apa-apa tapi saya nggak bakal tenang seumur hidup," Sahut Arka tegas, dia tetap bersikeras ingin mengantar gadis itu ke rumah sakit, tangannya refleks menahan bahu Nayyara agar gadis itu tidak jatuh saat berusaha berdiri.

Baru saja Nayyara berusaha menumpukan badannya ke kedua kakinya, bibirnya langsung meringis kecil menahan sakit. Wajahnya pucat menahan perih, dan dia kembali terhuyung mau jatuh, kalau saja tangan Arka tidak sigap memeluk pinggang rampingnya dengan cepat.

"Ah...!" Desis Nayyara pelan, menahan rasa sakit yang menjalar dari pergelangan kaki kanannya. Arka langsung menangkap perubahan ekspresi itu, dahinya berkerut kuatir. Dia menatap ke arah kaki Nayyara yang terlihat sedikit bengkak di bagian pergelangan.

"Kaki Anda keseleo ya..." Arka menunjuk dengan pandangan tak percaya. "Katanya nggak apa-apa? Itu bengkak lho"

Nayyara mengusap pipinya gugup, wajahnya jadi merah padam karena ketahuan berbohong demi sopan santun. "Aduh... ketahuan ya? Hehe... Iya sih, tadi pas jatuh keseleo dikit aja kok. Nanti juga sembuh sendiri, nggak perlu ke rumah sakit deh" Jawabnya polos.

Di dalam hati Arka rasanya meleleh total. Gadis ini, di tengah situasi seperti ini, malah menolak di tolong. Padahal dia yang terluka. Beda banget sama wanita lain yang pasti bakal bikin keributan atau minta ganti rugi besar. Nayyara... benar-benar polos dan murni banget.

Arka menghela napas panjang, senyum tipis tak sadar terukir di bibirnya. "Sudah nggak usah debat lagi sama saya. Kalau nggak mau ke rumah sakit, ya harus saya antar pulang. Biar saya pastikan Anda sampai rumah dengan selamat. Kalau Anda masih nolak juga, saya panggil ambulan sekarang juga," Ancam Arkanendra setengah bercanda tapi nada akhirnya tegas, membuat Nayyara cuma bisa melongo dan akhirnya mengangguk pasrah.

"Ya sudah... kalau Bapak bersikeras begitu. Terima kasih banyak ya," Jawab Nayyara akhirnya pasrah.

Tanpa ba-bi-bu lagi, di depan mata banyak orang di jalanan ini, Arka langsung membungkukkan badannya, melingkarkan satu lengannya ke bawah lutut Nayyara, dan tangan lainnya menopang punggung gadis itu. Dalam satu gerakan halus namun kuat, Arka mengangkat tubuh mungil itu gendong secara mendadak.

"Eh yak?! Pak? Lho, turunkan saya, saya berat lho Pak!" Pekik Nayyara kaget luar biasa, wajahnya seketika merah padam sampai ke telinga. Tangannya refleks melingkar di leher Arka karena kaget, jantungnya berdegup kencang bukan main.

Arka malah tersenyum puas melihat reaksi itu. Dia berjalan santai menuju mobil sportnya yang berwarna putih dengan langkah tegap, seolah apa yang dia gendong itu cuma bantal empuk, tidak terasa berat sama sekali, memang berat tubuh Nayyara ringan dan pas di lengannya.

"Kamu berat? Jangan bercanda deh, kayak bawa bantal ini rasanya," Bisik Arka pelan, cukup terdengar di telinga Nayyara, suaranya berat dan rendah yang bikin bulu kuduk si gadis meremang halus, dia menatap wajah pria itu dengan takjub kenapa dia baru sadar betapa ganteng pria yang tadi menabraknya itu.

"Namaku Arkanendra panggil aja Arka..."

Arka menyebut namanya ketika mendudukkan Nayyara di jok mobil penumpang sebelah kursi kemudi. "Ah~ Nayyara, nama saya Nayyara..." Arka tersenyum tipis menatap wajah cantik gadis itu yang tepat di depannya ketika dia membungkuk di depan pintu mobilnya.

Orang-orang di sini sampai di sini takjub juga saat melihat betapa tampan dan gagahnya lelaki itu, serta betapa cantik gadis yang digendongnya. Adegan itu terlihat persis seperti adegan romantis di film drama.

1
Ananda Boy
seru banget 😍
Ananda Boy
seruuu banget 🤭
Ananda Boy
next thor
Ananda Boy
kak kasian Naya🥹
Ananda Boy
lanjut ka author 😘🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!