NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

Balas dendam adalah hidangan paling nikmat, tapi juga yang paling memabukkan.

Lima tahun lalu, Zara dijual, dihina, dan diinjak harga dirinya oleh kerabat sendiri. Diselamatkan sekaligus ditempa oleh Garda, ia berubah menjadi Zevana Ardhani—wanita cerdas, berkuasa, dingin, dan mematikan yang hidupnya hanya punya satu tujuan: Balas Dendam.

Namun segalanya goyah saat Arka hadir. Pemuda tulus dan polos—anak musuh terbesarnya—mencintainya tanpa syarat, perlahan mencairkan hati beku yang ia bangun bertahun-tahun.

Di tengah pusaran kebencian yang memberi kepuasan sesaat layaknya efek dopamin… Zevana dihadapkan pada pilihan terberat yaitu antara terus memburu kehancuran, atau berani berhenti demi cinta yang menawarkan kesembuhan sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana dan Harapan

"Engh!...."

"U-ugh!...." Rintih Zara mencoba menahan nyeri di seluruh tubuh, terutama bagian punggungnya. Memar dan lebam di wajahnya, kini bahkan tampak jelas.

Namun ia tak lagi menangis seperti beberapa saat lalu. Meski begitu, matanya yang mulai kehilangan sinar harapan, selalu terlihat punya rencana seolah ia masih berharap pada keberuntungan yang akan ia usahakan.

Ditekannya tombol ponsel digenggamannya lalu layar abunya menunjukkan sebuah nomor kontak bernama Om Hardi.

"Om harus tahu apa yang mereka lakukan padaku," batin Zara penuh tekad.

Baginya, kini hanya sang paman satu-satunya manusia yang bisa ia harapkan pertolongannya. Ia ingat dengan jelas bagaimana saat pertama kali mereka bertemu di hari pemakaman kedua orang tuanya.

"Om adalah Ayah kamu sekarang. Jangan pernah berpikir kamu sendirian, kamu aman bersama kami," ujar Hardi dengan mata berkaca-kaca.

Itu sudah 5 tahun yang lalu, sejak hari itu dimulai. Hari pertemuan pertama Zara dengan Paman dan Bibinya yang tak pernah sekalipun ia temui sebelumnya. Bermodalkan foto keluarga pada masa muda sang Ayah dan Pamannya, Zara akhirnya berada di bawah asuhan Hardi dan Susi. Namun kesibukan Hardi yang mendadak mengakuisisi semua perusahaan sang Ayah, membuatnya hampir tak pernah berada di rumah sama sekali. Ia pun harus menjalani keseharian di bawah pengasuhan Susi yang sejak awal sudah menunjukkan kebencian tanpa alasan padanya. Tanpa waktu untuk berduka, Zara justru harus terus mencari alasan soal mengapa ia mendapat semua perlakuan buruk dari Susi dan Reno.

Zara menatap ponsel yang kini menunjukan sebuah berkas rekaman di layarnya.

"Ini lebih dari cukup buat dijadiin bukti," monolognya.

"Besok, semuanya akan selesai. Aku akan adukan sikap Bibi dan Reno padaku," tekad Zara penuh harap, sembari menggenggam ponsel itu kuat-kuat.

"Tidur. Pokoknya sekarang harus tidur dulu supaya ada tenaga buat besok pergi diam-diam," batin Zara.

Satu jam pun berlalu sejak Zara memejamkan kelopak matanya. Namun kantuk tak kunjung datang, padahal tubuhnya sudah sangat lelah, dan ia benar-benar butuh istirahat. Sepertinya hal itu karena ia terlalu bersemangat untuk mengungkapkan semuanya pada sang paman. Atau mungkin karena para serangga sejak tadi terus mengusik tubuhnya. Nyamuk-nyamuk yang terus berdenging tepat di depan wajahnya, dan kecoak yang lalu-lalang keluar-masuk dari toilet lalu menggerayangi kakinya yang berada tepat di depan pintu toilet.

"Ck!" decak Zara sembari bangkit lalu menutup pintu toilet.

"Tinggal 3 jam lagi sampe jam 4 nanti. Malah ganggu tidur, mau mati ya kalian!" dengus Zara dengan mulut kerucut dan wajah ditekuk.

Dengan malas ia pun membuka laci sepatu yang berada di belakangnya lalu meraih sebuah kertas anti nyamuk dan dibakarnya bagian ujungnya hingga mengeluarkan asap beraroma khas lavender.

"Hah ... Plis, malem ini jangan ganggu lagi ya serangga-serangga," gumam Zara pasrah.

Bersamaan dengan asap putih yang seketika menyelimuti ruang, kantuk pun datang. Perlahan Zara kehilangan kesadarannya, lalu ia pun terlelap. Dalam tidurnya ia merasa damai, rasa sakit yang sejak tadi menjalar di setiap inci tubuhnya, ikut lenyap saat seluruh sarafnya ikut beristirahat bersama kesadarannya.

Zara pun tersenyum simpul, ia begitu menyukai waktu tidur, karena pada saat itu, ia bisa bermimpi dan menjadi pengendali bagi mimpinya. Selain itu, dalam mimpinya, ia bisa menjadi apapun, melakukan apapun, serta tidak perlu merasakan sakit. Namun mimpi adalah mimpi. Ada batas waktu yang mengharuskannya kembali tersadar untuk melanjutkan kenyataan yang begitu ia benci.

Samar-samar terdengar suara seseorang memanggil namanya.

"Ra ... Zara ... Bangun Zara...." panggil seseorang memaksanya terbangun.

Matanya perlahan terbuka, lalu terlihat sesosok bayangan buram seorang wanita berambut panjang menyentuh tangannya.

"Ugh...." desah Zara saat merasakan sentuhan dingin di atas permukaan kulit tangannya.

"Zara ... Ayo bangun," panggil sosok itu lagi.

Zara mencoba menggerakkan tubuhnya yang kaku, lalu menggeser kepalanya perlahan. Lalu saat kesadarannya mulai kembali, ia pun mendongak untuk melihat siapa yang bsru saja membangunkannya dengan begitu lembut.

"Hm?" Zara mengedarkan pandangan melihat sekeliling, namun tak ada siapapun di sana.

Tentu saja. Ruangan berukuran satu kali tiga meter itu hanya muat untuk dirinya berbaring. Bahkan pembantu lain pun hampir tidak pernah memasuki ruangan kepunyaannya itu karena masing-masing punya kamar pribadi sendiri, kecuali dirinya.

Zara pun menoleh ke arah jam duduk di dekatnya. Waktu menunjukkan pukul 04.20. Melihat hal itu Zara sontak bangkit dari pembaringannya.

"Waduh! Hampir aja telat!" monolognya sembari merapikan tempat tidur dengan tergesa.

Zara bersiap layaknya seekor kelinci lapar yang baru diberikan wortel, ia begitu cepat melakukan semuanya. Merapikan kamar, membersihkan diri, berganti pakaian, memakai sepatu, lalu saat ia keluar dari zona nyamannya itu, ia pun melambat. Zara mulai mengendap-endap, seperti seekor kucing yang sedang mengincar buruan. Perlahan ia berjalan menuju pintu belakang rumah, laly mengambil kunci cadangan gerbang belakang yang tersembunyi di bawah pot bunga di dekat pintu belakang. Hingga ia pun berhasil keluar dari penjara berbentuk rumah itu, barulah ia menghela nafas lega.

Setelah keluar dari kediamannya itu, Zara mematung sesaat.

"Sial. Udah gini harus gimana?" monolognya.

Tiba-tiba sebuah kendaraan melintas di depannya, ia melompat kaget lalu merunduk dan bersembunyi di balik tong sampah besar di sampingnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!