Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Sisi Lain Sang Sahabat Kecil
Setelah Ibu Arga akhirnya pamit pulang dengan raut wajah puas dan bahagia karena mengira anak tunggalnya hidup rukun bersama menantu pilihannya, suasana rumah kontrakan itu kembali hening. Kinar duduk sendirian di meja makan sambil menyantap lauk ayam ungkep buatan ibu mertuanya yang rasanya memang juara. Sementara itu, Arga sibuk mencuci piring-piring kotor bekas sarapan mereka tadi di wastafel dapur luar—semuanya berjalan sesuai dengan aturan pembagian tugas domestik yang tertulis di atas meterai kemarin.
Kinar mengunyah makanannya perlahan sambil memperhatikan punggung lebar Arga dari arah belakang. Cowok itu tampak sangat telaten menggosok setiap permukaan piring dengan busa sabun, sesekali kepalanya bergerak-gerak kecil karena dia sedang bersenandung mengikuti irama lagu yang berputar di kepalanya.
Mendadak, sebuah pikiran melintas di benak Kinar. Arga yang berdiri di depannya sekarang ternyata sudah bukan lagi bocah ingusan pelit yang dulu sering dia ejek karena menangis kalah main kelereng di lapangan kampung. Punggung cowok itu sekarang terlihat jauh lebih kokoh dan tegap. Pembawaannya—meski kadang masih sangat petakilan, menyebalkan, dan suka jail—ternyata sangat bisa diandalkan dan cekatan dalam situasi-situasi genting yang menguras emosi seperti tadi. Dan entah sejak kapan persisnya, kehadiran Arga di dalam rumah ini tidak lagi terasa seperti kehadiran seorang 'teman kos biasa', melainkan sudah mulai bertransformasi terasa seperti seorang... suami sungguhan.
"Gue tahu kok kalau gue ini ganteng maksimal, Nar. Tapi gak usah diliatin dari belakang segitunya juga kali. Ntar lo malah makin baper terus jatuh cinta beneran sama gue, berabe urusannya," celetuk Arga tiba-tiba tanpa membalikkan badannya sama sekali. Seolah-olah cowok itu punya mata batin di bagian punggungnya yang bisa membaca gerak-gerik Kinar.
Kinar yang tersadar dari lamunannya langsung menjadi salah tingkah. Dia mengambil sebutir kerupuk dari piringnya lalu melemparkannya ke arah Arga dengan akurat, tepat mengenai sasaran di punggung tengah cowok itu. "Geer banget lo jadi manusia! Gak usah mimpi siang bolong! Gue itu cuma lagi mikir, kok bisa-bisanya otak lo yang pas-pas itu kepikiran buat mindahin jaket sama parfum lo ke kamar gue? Sejak kapan lo jadi se-perhatian ini?"
Arga mematikan keran air wastafel, mengelap kedua tangannya yang basah dengan selembar kain serbet bersih, lalu membalikkan badannya sepenuhnya menghadap ke arah Kinar. Dia bersandar santai di pinggiran wastafel dapur sambil menatap Kinar dengan sepasang mata yang mendadak berubah menjadi sangat lembut dan teduh—sebuah tatapan yang belum pernah Kinar lihat selama belasan tahun mereka bersahabat.
"Ya... gue cuma gak mau lo kena omel atau dapet masalah dari Ibu atau Papa lo lagi, Nar," jawab Arga dengan nada suara yang pelan, terdengar sangat tulus dan serius tanpa ada sedikit pun kesan bercanda di dalamnya. "Gue yang bawa lo masuk ke dalam situasi pernikahan gila ini gara-gara kita berdua terlalu mabuk malam itu. Jadi, minimal, gue punya tanggung jawab penuh buat mastiin kalau lo gak bakal dapet kesulitan atau tekanan mental apa pun gara-gara keputusan nekat kita. Lo paham kan?"
Ruang makan berukuran kecil itu mendadak diselimuti keheningan yang cukup lama. Kinar terpaku, sendok di tangannya tertahan di udara mendengar kalimat perlindungan yang keluar dari mulut sahabat masa kecilnya itu. Ada sebuah desiran aneh yang kembali menyerang hatinya dengan telak, kali ini rasanya jauh lebih kuat, lebih hangat, dan lebih nyata daripada sebelum-sebelumnya.
Surat perjanjian rumah tangga mereka yang ada di atas meja, dengan poin nomor satu yang tertulis jelas 'Dilarang Baper', rasanya saat ini berubah seperti selembar kertas tipis yang sangat rapuh. Kertas itu tampaknya siap robek dan terbakar kapan saja jika Arga terus-menerus menunjukkan sisi dewasanya yang penuh perhatian seperti ini. Pernikahan paksa akibat satu malam yang kacau dan penuh ketidaksengajaan ini tampaknya perlahan tapi pasti mulai menyeret hati mereka berdua ke dalam pusaran perasaan cinta yang sesungguhnya.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/