Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.
Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.
Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.
Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.
Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.
Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelabuhan Muaro Jambi
Sena mengajak Balun dan Jagu kembali ke tempat persembunyian mereka di sebuah gua kecil yang terlindung. Malam telah jatuh sepenuhnya. Sena memanjat sebuah batu besar yang permukaannya datar, lalu duduk dengan sikap Seiza—berlutut dengan punggung tegak dan tangan di atas paha.
Ia menarik napas dalam, memejamkan mata, dan mulai melakukan Kuji-in. Jari-jarinya bergerak membentuk simbol-simbol mistis yang sebenarnya berfungsi untuk memusatkan energi saraf dan kejernihan pikiran.
Bagi Balun dan lainnya yang memperhatikannya dari bawah, Sena tampak seperti sedang bermeditasi menikmati dinginnya malam. Namun di dalam batin Sena, sebuah pertempuran hebat sedang berkecamuk.
Sena sedang melakukan simulasi mental. Di dalam kepalanya, ia membangun replika sempurna dari Benteng Batang Arau yang baru saja ia lihat.
Skenario 1: Masuk lewat sisi timur, melumpuhkan dua penjaga dengan sumpit beracun. Hasil: Terlalu berisiko. Suara tubuh jatuh akan memicu alarm.
Skenario 2: Pembakaran di gudang logistik sebagai pengalih perhatian. Hasil: Benteng Batang Arau memiliki sistem drainase air yang baik, api akan cepat padam sebelum ia menemukan Puti Kirai.
Sena memutar simulasinya ke bagian yang paling krusial: Jalur Pelarian.
"Jika aku sendirian, aku yakin bisa melompati pagar itu dan menghilang di hutan dalam sepuluh detik," pikir Sena. Matanya di balik kelopak yang terpejam bergetar mengikuti aliran simulasinya.
"Tapi Puti Kirai... dia adalah target operasi. Dia seorang putri yang dibesarkan dalam kemewahan istana. Kemungkinan langkah kakinya lambat, pernapasan pendek, ototnya tidak terlatih, dan mentalnya mungkin sedang terguncang. Dia tidak akan bisa berlari medan yang naik turun sejauh dua kilometer dalam kegelapan tanpa terjatuh."
Sena kemudian menghitung kecepatan lari rata-rata seorang prajurit Bhayangkara yang terbiasa berburu pemberontak di hutan.
"Mereka hampir tanpa celah. Dalam waktu kurang dari lima menit setelah alarm berbunyi, pasukan berkuda akan mengepung jalur hutan. Dengan membawa Kirai, kecepatan pergerakanku akan berkurang tujuh puluh persen. Kami akan terkejar sebelum mencapai sungai."
Sena membuka matanya. Keringat dingin mengucur di pelipisnya meski udara malam sangat dingin.
"Tingkat keberhasilan misi di Benteng Batang Arau... kurang dari 20%," bisiknya pelan pada kegelapan. "Ini adalah misi bunuh diri jika dipaksakan sekarang."
Balun mendekat, wajahnya penuh harap. "Bagaimana, Sena? Kita bergerak besok malam?"
Sena menggeleng tegas. "Tidak. Menerobos Benteng Batang Arau berarti menyerahkan leher kita secara cuma-cuma. Kita butuh medan di mana air dan kegelapan berpihak pada kita, bukan pagar kayu dan kuda. Kita harus mencari jalan lain... Ya, pelabuhan. Malam terakhir sebelum kapal berangkat."
Keputusan telah diambil. Sena memerintahkan timnya untuk mengemasi barang. Mereka memutar arah, meninggalkan wilayah Nagari Tarang dan bergerak menuju wilayah pesisir barat, Muaro Jambi. Di sanalah pelabuhan utama berada, tempat di mana kapal-kapal besar dari Jawa sedang membuang sauh, menunggu "upeti" mereka dimuat.
Perjalanan menuju pesisir tak kalah berat, namun semangat para pemuda Harau ini tetap terjaga karena kepercayaan mereka pada Sena. Selama perjalanan, Sena terus diam, memetakan kembali strateginya. Pelabuhan adalah tempat yang kacau. Ada ribuan variabel: pedagang, kuli panggul, awak kapal yang mabuk, dan penjagaan yang tersebar, tidak terpusat seperti di benteng.
"28 Oktober malam," gumam Sena saat mereka melihat garis pantai dari kejauhan. "Itu adalah titik terlemah mereka. Saat perayaan terakhir sebelum keberangkatan, saat kewaspadaan Bhayangkara terpecah antara menjaga upeti kehormatan dan mengawasi barang muatan."
Sena menatap laut lepas. Ia tahu, di pelabuhan nanti, ia tidak akan lagi bertarung melawan kayu dan tanah, melainkan melawan arus air, kerumunan manusia, dan waktu yang berdetak di bawah lambung kapal. Observasi medan di pelabuhan harus dimulai seketika begitu mereka sampai.
"Siapkan diri kalian," perintah Sena saat kakinya menyentuh pasir pantai yang hangat. "Mulai besok, kita tidak lagi bersembunyi di balik pohon. Kita akan masuk ke jantung keramaian, dan di sanalah Siampa Harau akan benar-benar lahir."
Balun menoleh heran, ”Bukankah kamu Siampa Puncak Harau?”
Sena tersenyum dan menunduk, “Aku memang Siampa Puncak Harau, tapi kita semua adalah Siampa Lembah Harau.”
Tanpa Sena sadari, kalimatnya yang awalnya hanya gurauan agar teman-temannya tidak terlalu tegang malah membuat semangat mereka berkobar, meraka sangat bangga, bisa menjadi seorang legenda nantinya.
Mereka saling memandang “Siampa Lembah Harau” bisik mereka serempak.
Garis takdir kini bergeser dari Benteng Batang Arau yang kaku menuju pelabuhan Muaro Jambi yang cair dan berbahaya. Di bawah cahaya bulan yang mulai meredup, Sena kembali menyiapkan pikirannya untuk simulasi berikutnya, sebuah simulasi yang tidak boleh berakhir dengan kegagalan.
Malam tanggal 24 Oktober 1281, di pelabuhan Muaro Jambi, mereka mendirikan tenda tak jauh dari pelabuhan. Hanya Sena dan Balun yang masih terjaga, karena ini waktu giliran ia berjaga.
Selama perjalanan, Sena mengajarkan banyak hal pada kelima pemuda Harau ini, jaga malam bergiliran setiap tiga jam, adalah yang ia terapkan.
Balun bersandar di barang pohon, kepalanya sudah tergolek lemas oleh rasa kantuk yang tak tertahankan, Sena hanya tersenyum melihat Balun yang tidur terduduk karena lelah.
Ia memandangi pelabuhan Muaro Jambi, pandangannya tertuju pada kapal Jung Singasari. Ingatan lamanya terbawa kembali ke dermaga Mutsura pada tahun 1259 M, pada misi pertamanya sebagai Chunin Unit Obake.
“Hattori dan Kimura, kalian menyusup lewat bawah air” Perintah Kapten Yoshida.
Hattori dan Kimura bergerak bergantian bagai hantu, menggunakan bayangan peti kayu di dermaga.
Mereka menyusup lewat bawah air dan memanjat kapal musuh. Dengan gerakan senyap, mereka mengeksekusi beberapa penjaga, menyembunyikan mayat mereka dalam gelapnya bayangan.
“Hattori, kau sisir area kanan, aku sisi kiri.” Bisik Kimura.
Hattori mengangguk dan bergerak merapat ke dinding kayu, ia mendengar suara orang berdiskusi. Ia memanjat naik dan merayap di atap plafon kapal.
Dia berhenti diam dan menurunkan hawa keberadaannya ketika dua penjaga berlari terburu-buru lewat di bawahnya.
Ia merayap kembali layaknya Laba-laba, hingga sebuah pintu terbuka. Seorang berpakaian mongol keluar, dan berkata pada orang dalam bilik kamar itu, “Tuan Daimyo, anda tunggu di sini, aku akan mengecek, tikus mana yang berani menganggu Mongol.”
Orang Mongol itu sempat berhenti tepat di bawah Hattori, ia sempat menoleh ke kanan kiri dan mencabut pedangnya. Kemudian pergi dengan langkah tergesa-gesa.
‘Daimyo? Siapa?’ batin Hattori.
Bum—Bum..
Terdengar suara dentuman teredam di kejauhan, Hattori membeku.
Fuit—Fuitt—!
Itu adalah tanda untuk mundur. Rasa penasaran, siapa Daimyo di dalam bilik dan perintah untuk mundur sempat membuatnya bimbang. Tapi perintah adalah perintah. Ia segera melompat turun dan berlari keluar.
Kimura bersama Kapten Yoshida telah terkepung, Hattori berlari melesat dari belakang melemparkan bom asap yang membutakan mata.
Buff—!
Kesempatan itu tak mereka sia-siakan, mereka melompat terjun ke laut. Hattori menyusul terjun bebas ke laut.
Hujan panah berkali-kali nyaris mengenai mereka, hingga akhirnya mereka bertiga naik ke Dermaga Mutsura.
Setibanya di atas dermaga beberapa shuriken menyambut mereka bertiga. Dengan gerakan akrobatik mereka menghindari serangan dadakan itu.
“Pergi—!” Teriak Yoshida, ia berlompatan di atas peti kayu, menghalau jalan kelima Shinobi yang tak di kenal.
Mereka bertarung sengit. Kimura dan Hattori saling memandang dan akhirnya mereka memutuskan untuk membantah perintah dan menerjang ke dalam pertarungan membantu Yoshida.
“Kenapa kalian kemari—Bodoh!” Teriak Yoshida kesal.
Mereka berdua tak menggubris dan berlari mengitari kelima Shinobi musuh. Membuat Kuji-in.
“Rin-Pyo-Toh-Jin-Retsu. Iga Ryu: Bansenshukai” (Teknik Iga: Sepuluh ribu sungai).
Kimura dan Hattori bergerak selaras, melemparkan Shuriken dan Kunai bersamaan, seolah mereka berdua sedang saling serang dan kelima Shinobi musuh berasa di tengah serangan mereka berdua.
“Teknik ini? Mereka Kokurou Iga, bertahan” Teriak salah satu Shinobi musuh.
Melihat musuh melakukan pertahanan, Kimura dan Hattori mengunci celah pertahanan mereka, “Kokurou Kiba” (Taring Serigala Hitam)
Kimura dan Hattori melesat dengan pedang pendek mereka. Kilatan perak bagaikan kilat tajam yang menembus pertahanan musuh.
Slash—Slash—!
Darah menyembur deras di leher kedua musuh membuat ketiga rekannya mendesis marah.
Tubuh Kimura dan Hattori terseret berberapa meter, mereka berbelok tajam dan kembali melesat.
Boomm—!
Ledakan kecil memecah duo serangan mematikan Kokurou Kiba.
Kimura salto ke belakang menjauh dari ledakan, Hattori terpelanting dan berguling, dengan refleks, dia segera berjongkok, namun kilatan perak tiba-tiba muncul di depan matanya. Sebuah tebasan pedang musuh yang muncul mendadak.
Wuzz—!
Tubuh Hattori seketika tertarik kuat ke belakang, Kapten Yoshida menarik bajunya dari belakang.
Tebasan itu mengenai tali pengikat kalungnya. Jimat pelindungnya, kalung warisan keluarga Zen yang kelak harus ia wariskan pada anaknya.
“Lari—!” Teriak Yoshida. Ia menarik Hattori pergi dari dermaga. Kimura juga berlari menjauh ke arah berlawanan.
Ketiga Shinobi musuh bingung harus mengejar yang mana. Pada akhirnya Yoshida Hattori dan Kimura lolos. Namun kedua rekannya gugur dalam misi sabotase kapal Mongol.
Esoknya Hattori menyamar dan kembali ke dermaga Mutsura, mencari kalung warisan keluarga Zen. Dan ia kecewa, tak dapat menemukannya...
Di dekat pelabuhan Muaro Jambi, Hattori yang kini menggunakan tubuh dan nama Sena Sanjaya, memandangi kalung di lehernya, ia tak meyangka, 22 tahun kehilangan kalung itu dan ternyata benda itu kini ia dapatkan kembali meski di tubuh Sena.
‘Dalam ingatan Sena, kalung itu adalah hadiah dari ayah Sena, yang ia beli dari pedagang Cina di pelabuhan Muaro Jambi sebagai hadiah kelahiran Sena Sanjaya. Hattori tak menduga kalung itu terbawa lewat jalur perdagangan menyeberangi samudera.
'Sepertinya, jiwaku hidup kembali dalam tubuh Sena bukan hanya kebetulan, ini mungkin memang takdir’ Pikirnya dengan senyum kecut.
Sena melihat posisi bulan, dan sudah waktunya giliran ganti jaga. Ia harus istirahat, karena besok, misi pengintaian Kapal Jung Singasari di mulai…