"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 17
“Dinda masih jadi istri lo?” Kalimat itu sukses membuat rahang Ervin mengeras seketika.
Tatapan tajam pria tersebut langsung tertuju pada Raka tanpa berkedip sedikitpun. Sedangkan Dinda yang berdiri di tengah mereka, mulai merasa kepalanya berdenyut pelan.
Lagi. Suasana seperti ini lagi. Dan entah kenapa, Dinda mulai lelah menghadapi ketegangan di antara kedua pria tersebut.
“Aku nggak mau ribut di depan butik,” tegas Dinda dengan nada rendah. Namun Ervin masih belum mengalihkan pandangannya dari Raka.
“Jaga omongan lo.” Sedangkan Raka justru terlihat santai.
“Gue cuma nanya.”
“Ra...” Dinda menatap pria itu memberi kode agar menghentikan semuanya.
Untuk beberapa saat, suasana terasa sangat menyesakkan. Orang-orang yang berlalu lalang di sekitar butik mulai melirik mereka dengan rasa penasaran.
Ervin menyadari hal tersebut. Pria itu langsung menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali menatap Dinda.
“Aku cuma mau ngobrol bentar.”
Dinda terdiam.
Jujur saja, dirinya tidak ingin memperpanjang masalah di tempat umum seperti ini. Terlebih wajah Ervin terlihat sangat kacau sekarang.
“Aku ikut ngobrol,” sela Raka tiba-tiba.
Sontak Ervin langsung terkekeh miring.
“Lo nggak punya urusan.”
“Dia keliatan nggak nyaman kalau sendirian sama lo.” Kalimat Raka tersebut, membuat emosi Ervin kembali naik.
Namun sebelum keduanya kembali berdebat, Dinda langsung melangkah maju.
“Cukup.” Suasana langsung hening.
“Aku capek lihat kalian begini terus.” Tatapan Dinda bergantian menatap Ervin dan Raka. “Aku bukan barang rebutan.”
Deg.
Kalimat itu sukses membuat keduanya sama-sama terdiam. Dinda mengusap pelipisnya perlahan.
“Mas, kita ngobrol di kafe depan aja.” Mendengar itu, wajah Ervin sedikit melunak.
Sedangkan Raka, hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana sebelum mengangguk kecil.
“Kalau gitu... gue pergi dulu, Din.”
Namun sebelum pria itu benar-benar pergi, tatapannya sempat tertuju cukup lama pada Dinda.
“Hati-hati pulang.”
Kalimat sederhana tersebut terdengar sangat tulus. Dan sialnya—Hal kecil seperti itu justru membuat hati Ervin semakin tidak tenang.
*****
Di sebuah kafe kecil tak jauh dari butik, Dinda dan Ervin duduk saling berhadapan dalam diam. Suasana terasa canggung—sangat canggung.
Sudah lama sekali mereka tidak duduk berdua seperti ini tanpa pertengkaran ataupun tangisan.
Pelayan datang mengantarkan minuman pesanan mereka. Namun keduanya masih belum membuka suara. Sampai akhirnya, Dinda memilih memecah keheningan lebih dulu.
“Mau ngomong apa?” Ervin menatap wajah istrinya cukup lama.
Wanita itu terlihat lebih kurus sekarang. Matanya masih menyisakan lelah yang jelas terlihat.
Dan semua itu semakin membuat hati Ervin terasa nyeri.
“Aku nggak suka lihat kamu deket-deket sama dia.” Ervin terus terang begitu saja.
Dinda langsung menghela napas pelan. “Mas datang cuma buat ngomong itu?” Kini, Dinda menatapnya kecewa.
“Aku serius.” Ervin menatapnya tegas.
“Terus aku harus gimana?” tanya Dinda dengan nada lelah. “Ngurung diri di rumah terus?”
“Aku bukan ngelarang kamu punya temen.”
“Tapi?” Tanya Dinda semakin lelah.
Ervin menundukkan kepalanya sebentar sebelum kembali menatap Dinda. “Aku takut kehilangan kamu.”
Kalimat itu terdengar begitu rapuh, begitu jujur. Namun, Dinda justru tersenyum kecil dengan wajah yang menyedihkan.
“Bukannya aku udah hilang sejak Mas pilih perempuan lain?”
Deg.
Ervin langsung kehilangan kata-kata. Tangannya mengepal pelan di bawah meja. “Jangan ngomong begitu.”
“Ini kenyataannya.” Dinda menatap lurus ke arah suaminya. “Sejak ada Jenita, rumah tangga kita nggak pernah benar-benar sama lagi.”
Hening.
Suara musik pelan dari dalam kafe justru terasa semakin menyakitkan di tengah percakapan mereka.
“Aku nyesel,” lirih Ervin sekali lagi.
Namun Dinda hanya tertawa kecil.
“Aku sampai hafal kalimat itu.” Kalimat tersebut membuat dada Ervin terasa sesak.
“Aku nggak tahu harus ngapain lagi supaya kamu percaya kalau aku benar-benar nyesel.” Ervin menunduk dalam kali ini, merasa malu hanya untuk sekedar memandangi wajah istrinya.
Dinda menatap cangkir kopinya diam-diam. Lalu perlahan tersenyum pahit.
“Kadang... penyesalan itu datang pas semuanya udah terlambat, Mas.” Dan kalimat itu sukses membuat Ervin kembali terdiam.
*****
Malam harinya, Ervin pulang ke rumah dengan kepala penuh pikiran. Percakapannya dengan Dinda tadi terus terputar di benaknya.
Terutama saat wanita itu berkata bahwa dirinya sudah “hilang” sejak ada Jenita.
Pria itu baru sadar satu hal sekarang. Pengkhianatan bukan hanya soal tidur dengan orang lain.
Namun juga tentang bagaimana seseorang perlahan menghancurkan rasa aman pasangannya. Dan Ervin telah melakukan itu pada Dinda.
Pria itu menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan frustrasi.
Lagi-lagi, ponselnya bergetar di atas meja.
Nama Jenita muncul lagi.
Namun kali ini Ervin cukup lama menatap layar tersebut sebelum akhirnya mengangkat panggilan.
“Halo.”
“Kak...” suara gadis itu terdengar kecil. “Bisa kesini nggak?”
“Ada apa?”
“Aku demam.” Seketika Ervin langsung bangkit dari duduknya.
“Udah minum obat?”
“Udah, tapi badanku masih dingin banget.”
Pria itu langsung mengambil kunci mobilnya.
“Ya udah, aku kesana sekarang.”
Satu jam kemudian, Ervin tiba di apartemen Jenita. Begitu pintu dibuka, gadis itu terlihat pucat sambil menggendong bayinya.
“Kak...” Ervin langsung menyentuh kening Jenita dan mendapati suhu tubuhnya cukup tinggi.
“Kamu istirahat aja. Sini bayinya aku gendong.” Jenita menurut tanpa banyak bicara. Tubuhnya memang terasa sangat lemas sejak sore tadi.
Sedangkan Ervin berjalan pelan sambil menggendong bayi perempuan kecil itu di ruang tamu.
Tangisan kecil bayi tersebut perlahan mereda. Untuk beberapa saat, suasana terasa tenang. Namun justru di momen seperti ini, hati Ervin semakin terasa berat.
Karena seharusnya—Yang berada di hidupnya sekarang adalah Dinda. Bukan situasi rumit seperti ini.
“Kak...” panggil Jenita lirih dari sofa.
“Hm?”
“Aku boleh jujur?”
Ervin menoleh pelan. “Apa?”
Air mata Jenita perlahan jatuh. “Aku takut Kakak ninggalin aku setelah Kak Dinda balik nanti.”
Pria itu langsung terdiam. Sedangkan Jenita mulai menangis semakin pelan.
“Aku tahu Kakak lebih cinta sama dia.” Gadis itu tersenyum pahit. “Dari awal aku juga sadar.”
Ervin memejamkan matanya perlahan. Tak ada jawaban yang bisa membuat keadaan membaik sekarang. Karena kenyataannya memang seperti itu.
“Aku nggak tahu hubungan kita sekarang harus dibawa kemana,” ujar pria itu lirih.
Dan kalimat tersebut langsung membuat hati Jenita terasa runtuh.
*****
Di sisi lain, Dinda baru saja selesai mandi ketika ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor yang cukup familiar.
Raka.
“Udah sampai rumah?”
Dinda terdiam beberapa detik sebelum akhirnya membalas singkat.
“Udah.”
Tak sampai semenit, pesan baru kembali masuk.
“Jangan terlalu dipikirin omongan Ervin tadi.”
Deg.
Wanita itu langsung memejamkan matanya pelan. Entah kenapa, perhatian kecil seperti itu justru membuat dirinya semakin bingung.
Ponselnya kembali berbunyi.
“Lo nggak harus kuat terus tiap hari.”
Kalimat tersebut sukses membuat hati Dinda terasa hangat sekaligus nyeri di waktu bersamaan.
Karena sudah terlalu lama—Tak ada yang benar-benar menanyakan apakah dirinya baik-baik saja.