NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB LIMA BELAS

Mobil pun melaju menembus gelapnya jalanan Jakarta malam itu. Lampu kota berkelebat lewat jendela, memantulkan wajah Maharani yang pucat dan mata yang kosong. Di kursi depan, suara percakapan singkat pengacara dengan seseorang di ujung telepon-yang tak lain adalah Rakha-membuatnya sadar: mulai malam ini, kendali hidupnya bukan lagi di tangannya sendiri.

Suara mesin mobil berdengung pelan, berpacu dengan degup jantung Maharani yang belum juga tenang. Matanya masih basah, tangannya gemetar ketika meremas tisu yang sudah kusut di pangkuan. Di kursi samping, Siska masih menggenggam erat jemarinya, berusaha memberi rasa aman yang sulit dirasakan malam itu.

Dari kursi depan, salah satu pengawal Wiratama law firm menoleh sedikit. Wajahnya tegas, suaranya datar namun penuh wibawa saat berbicara.

"Maaf, Nona Maharani. Bolehkah saya mengamankan ponsel nona untuk sementara waktu? Kami perlu melacak IP dari pengirim pesan ancaman, sekaligus menjaga agar barang bukti tidak rusak atau terhapus."

Maharani refleks mendekap tas kecilnya, di mana ponsel itu tersimpan. Matanya membesar, sorotnya penuh kewaspadaan, seakan benda itu satu-satunya pegangan yang masih tersisa. Ia menoleh pada Siska, mencari dukungan.

Siska mengangguk lembut, berusaha menenangkan. "Rani... biarkan saja. Mereka hanya ingin memastikan semuanya aman. Kalau pesan-pesan itu hilang, nanti kita nggak punya bukti."

Maharani menggigit bibir bawahnya, hatinya kacau. Ada ketakutan lain yang muncul-takut semua data pribadinya dilihat, takut kehilangan kendali penuh atas dirinya. Namun di sisi lain, ia sadar situasinya sudah jauh dari normal. Semua terasa terlalu besar untuk ia tanggung sendiri.

Dengan suara serak, ia akhirnya berkata lirih, "Apakah... apakah ponsel itu akan saya dapatkan kembali?"

Pengawal itu menatap melalui kaca spion, sorot matanya tegas namun tidak menghakimi. "Tentu, Nona. Ini hanya sementara. Kami akan pastikan semua jejak digital terlacak. Percayalah, ini demi keselamatan nona Maharani sendiri."

Maharani menarik napas panjang, lalu dengan tangan bergetar ia meraih tas kecilnya. Ia mengeluarkan ponsel itu perlahan, menatap layar yang masih penuh notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab. Sesaat, ia merasa seperti sedang menyerahkan bagian dari hidupnya sendiri.

Tangannya terulur ragu, tapi akhirnya ia meletakkan ponsel itu di telapak tangan pengawal. Suaranya pecah saat berbisik, "Tolong... jangan biarkan mereka menghancurkan aku lebih jauh."

Pengawal itu menunduk sedikit, menerima ponsel dengan sikap hormat. "Kami akan lakukan yang terbaik, nona. Tenanglah, sekarang Anda tidak sendiri lagi."

Siska mengusap bahu Maharani, sementara mobil terus melaju menembus malam. Dalam hati Maharani masih ada keraguan-kepada orang-orang asing ini, kepada Rakha yang bahkan belum pernah ia kenal dengan benar. Tapi di balik ketakutan itu, perlahan muncul secercah harapan tipis, bahwa mungkin... masih ada jalan keluar dari mimpi buruk ini.

Suasana di dalam mobil kian mencekam. Maharani terduduk di kursi belakang, wajahnya pucat pasi dengan mata bengkak karena tangis yang tak kunjung reda. Siska tetap memeluknya erat, sesekali mengusap punggungnya, mencoba menenangkan walau dirinya pun ikut tertekan.

Di kursi depan, pengawal Wiratama masih sibuk dengan laptop, kode-kode terus berderet di layar. Ponsel miliknya tiba-tiba bergetar-nama Rakha Adiwangsa Wiratama muncul di layar. Sekejap seluruh kabin mobil terasa menegang.

Pengawal itu segera menjawab, nadanya berubah penuh hormat.

"Ya, Pak Rakha. Situasi terkendali. Nona Maharani sudah bersama kami di kendaraan."

Suara Rakha terdengar dari seberang, tenang, dalam, dan penuh wibawa. Tidak terburu-buru, namun setiap kata bagai perintah yang tak bisa dibantah.

"Dengar instruksi saya baik-baik. Jangan bawa Nona Maharani ke apartemennya, dan jangan sekali-sekali mendekati kediaman keluarga Soetomo. Wartawan sudah mengepung kedua lokasi itu. Jika kalian ke sana, dia akan di bombardir oleh wartawan ."

Pengawal menunduk tipis meski Rakha tak bisa melihat.

"Baik, Pak. Lalu tujuan selanjutnya?"

Rakha terdiam sejenak sebelum menjawab, suaranya dingin namun terukur.

"Langsung bawa dia ke kediaman saya. Rumah saya cukup aman, dan tidak ada satu pun wartawan yang berani mendekat tanpa izin. Di sana, dia akan berada dalam kendali penuh kita."

Maharani mendongak dari pelukannya, mendengar samar-samar suara Rakha. Matanya bergetar, rasa ragu dan takut bercampur dalam dadanya. Ia menatap Siska dengan tatapan bingung, seolah menanyakan tanpa suara: kenapa harus di rumahnya?

Pengawal melirik ke arah belakang melalui kaca spion, kemudian kembali fokus menjawab.

"Dimengerti, Pak. Kami akan langsung mengarahkan kendaraan ke kediaman Anda. Perimeter keamanan bagaimana, Pak?"

Rakha menghela napas sebentar, lalu ucapannya terdengar mantap.

"Begitu tiba, pastikan area sekitar disterilkan. Bodyguard saya akan menunggu di gerbang. Pastikan Nona Maharani tidak membawa perangkat komunikasi pribadi selain yang sudah diamankan. Kita tidak boleh ambil risiko sekecil apa pun."

"Siap, Pak Rakha."

Sambungan telepon berakhir. Pengawal meletakkan ponselnya, lalu menoleh sebentar ke arah Maharani dengan suara datar namun tegas.

"Nona Maharani, sesuai instruksi, kita akan mengamankan Anda di kediaman Pak Rakha. Di sana lebih aman dibanding apartemen maupun rumah keluarga. Mohon percayakan semua pada kami."

Maharani menggeleng pelan, suaranya parau.

"Kenapa harus di rumahnya...? Tidak bisakah di tempat lain saja?"

Siska menggenggam tangan Maharani lebih erat, suaranya lembut menenangkan.

"Rani, percayalah. Kita nggak punya pilihan lain sekarang. Kalau kita pulang, wartawan sudah menunggu. Kalau tetap di hotel, situasi bisa makin kacau. Setidaknya di rumah Pak Rakha, kamu bisa bernapas lega sebentar."

Maharani menunduk lagi, air matanya kembali jatuh. Ia sadar, pada akhirnya semua keputusan kini ada di tangan orang lain. Dan nama Rakha, entah mengapa, semakin lama semakin membayang di kepalanya.

Mobil pun melaju ke arah kediaman Rakha, menembus gelapnya malam Jakarta yang kini seakan menjadi saksi bisu keterpurukan seorang Maharani Soetomo.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!