NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Air Mata di Bawah Guyuran Hujan

BAB 18: Air Mata di Bawah Guyuran Hujan

​Langit pagi itu tertutup mendung hitam yang pekat, seolah ikut merasakan duka yang bergelayut di hati Luna. Belum juga jam menunjukkan pukul tujuh, hujan deras langsung mengguyur bumi dengan kasarnya. Suara gemuruh air yang menghantam tanah beradu dengan suara petir yang sesekali menggelegar di langit Jakarta.

​Di bawah amukan badai tersebut, Luna berjalan sempoyongan di antara gundukan tanah pemakaman umum. Dia tidak membawa payung, tidak juga memakai jas hujan. Pakaian kantornya—sebuah kemeja katun polos dan rok panjang hitam—sudah basah kuyup, melekat erat pada tubuhnya yang kurus dan menggigil kelaparan. Rambut hitamnya yang panjang basah menempel di wajahnya yang sangat pucat.

​Luna tidak peduli lagi pada kesehatannya. Dia juga tidak peduli jika hari ini Devano akan memecatnya karena bolos kerja. Setelah keributan besar dengan ibu tiri dan kakaknya semalam, jiwa Luna sudah benar-benar kosong. Rumah terasa seperti neraka, dan kantor terasa seperti tempat penyiksaan. Satu-satunya tempat aman yang ada di otaknya saat ini hanyalah tempat peristirahatan terakhir sang ayah.

​Langkah kaki Luna terhenti di depan sebuah makam dengan batu nisan marmer hitam yang sudah mulai berlumut. Di sana tertulis nama sang ayah: Mahardika Maharani.

​Bruk.

​Lutut Luna lemas. Dia jatuh berlutut di atas tanah makam yang kini berubah menjadi lumpur cokelat yang becek. Tanpa peduli pakaiannya kotor, Luna langsung membungkuk, memeluk batu nisan yang dingin itu dengan kedua tangannya yang gemetar hebat. Tangisnya yang sejak semalam ditahan, kini pecah berbaur dengan suara deru hujan.

​"Ayah... ini Luna, Yah..." bisik Luna, suaranya serak dan bergetar di sela isak tangisnya. Air matanya mengalir deras, menyatu dengan air hujan yang membasahi pipinya yang tirus.

​Luna menggelengkan kepalanya kuat-kuat, meremas tanah basah di samping nisan. "Ayah... Ibu tiri dan Kak Siska bilang Ayah seorang penjudi. Mereka bilang Ayah yang menghancurkan perusahaan dan meninggalkan utang miliaran sampai mereka harus menjual Luna pada Tuan Devano... Tapi Luna tidak percaya, Yah. Luna tahu Ayah orang baik. Ayah tidak mungkin sejahat itu pada Luna..."

​Kesedihan yang menumpuk di dadanya selama berhari-hari seolah tumpah tak bersisa di tanah kuburan itu. Luna menangis histeris, menyembunyikan wajahnya di atas nisan sang ayah. Di bawah guyuran hujan yang semakin lebat, dia akhirnya meluapkan rahasia paling kelam yang selama ini dia simpan sendiri di dalam hati.

​"Ayah... maafkan Luna... Luna sudah kotor, Yah," ratap Luna dengan suara melengking pilu, tertutup oleh suara petir yang menyambar. "Kesucian yang selama ini Luna jaga baik-baik untuk suami Luna nanti... sudah hilang, Yah. Hilang dalam satu malam karena kebodohan Luna sendiri. Luna bodoh karena diam-diam mencintai seorang pria yang bahkan tidak menghargai Luna secuil pun... Pria itu menganggap Luna wanita murahan, Yah. Dia menginjak-injak harga diri Luna setiap hari..."

​Luna terus menangis dan bercerita di depan makam ayahnya hingga tubuhnya terasa benar-benar lemas dan mati rasa karena kedinginan. Kepalanya mulai terasa pening berputar, dan pandangan matanya agak mengabur. Sadar bahwa dia tidak bisa terus berada di sana, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Luna memaksakan diri untuk bangkit berdiri. Tubuhnya sempat limbung ke kanan, namun dia berhasil menyeimbangkan diri dan berjalan pelan keluar dari area pemakaman dengan langkah yang tersorok-sorok.

​Saat Luna berhasil mencapai gerbang luar pemakaman yang sepi, sebuah mobil sedan berwarna silver tiba-tiba memperlambat jalannya dan berhenti tepat di samping tubuhnya. Pintu mobil terbuka, dan sesosok pria dengan payung besar di tangannya bergegas turun dengan wajah penuh kepanikan.

​Pria itu adalah Dika, Manajer Keuangan kantornya.

​"Mbak Luna?! Astaga, apa yang terjadi?!" seru Dika setengah berteriak agar suaranya tidak tenggelam oleh suara hujan.

​Dika langsung berlari mendekat, memayungi tubuh Luna yang sudah basah kuyup seperti ayam sayur. Begitu melihat wajah Luna dari dekat, jantung Dika mencos. Mata Luna bengkak parah, bibirnya membiru karena kedinginan, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Tatapan mata Luna tampak kosong, seolah-olah dia sudah kehilangan harapan untuk hidup.

​"P-Pak Dika..." cicit Luna lemah, suaranya nyaris habis.

​"Mbak Luna, Anda bisa sakit kalau seperti ini! Kenapa hujan-hujanan di pemakaman?" Dika tidak tega melihat kondisi rekan kerjanya yang begitu mengenaskan. Tanpa pikir panjang lagi, Dika langsung merangkul pundak Luna yang dingin untuk menuntunnya. "Ayo masuk ke mobil saya dulu. Saya antar Mbak Luna pulang ke rumah sekarang."

​Luna sudah terlalu lemas untuk menolak. Kepalanya terlalu pening untuk memikirkan gengsi atau gosip kantor. Dia hanya pasrah saat Dika membukakan pintu mobil depan dan membantunya duduk di dalam kabin mobil yang hangat, sebelum Dika berputar untuk masuk ke kursi kemudi.

​Di seberang jalan, tidak jauh dari gerbang pemakaman, sebuah mobil MPV mewah berwarna hitam dengan kaca yang sangat gelap terparkir diam di bawah pohon. Di dalam mobil yang nyaman tersebut, duduk Devano di kursi belakang.

​Pagi ini, Devano merasa sangat murka karena Luna tidak kunjung datang ke kantor tanpa memberikan kabar apa pun. Karena rasa penasarannya yang tinggi dan egonya yang tidak mau kalah, Devano menyuruh sopir pribadinya untuk melacak keberadaan Luna sejak keluar dari rumahnya. Siapa sangka, pencarian itu membawanya ke pemakaman umum ini.

​Dari balik kaca jendela mobil yang basah oleh rintik air, mata elang Devano yang kelam menyaksikan seluruh adegan itu dari awal sampai akhir. Dia melihat bagaimana Dika turun dari mobil membawa payung, bagaimana Dika merangkul pundak Luna dengan lembut, dan bagaimana Luna dengan pasrah masuk ke dalam mobil pria lain.

​Krak.

​Devano tanpa sadar mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahang perseginya mengetat sempurna, dan urat-urat di leher kokohnya tampak menonjol menahan amarah yang mendadak membakar dadanya. Sorot matanya memancarkan kilatan kebencian yang teramat pekat.

​"Benar-benar perempuan murahan," desis Devano di dalam hati dengan sangat kejam. "Kemarin di kantor dia menangis di depanku seolah-olah dia adalah wanita paling menderita dan paling suci di dunia. Tapi lihat sekarang... begitu keluar kantor, dia langsung mencari kehangatan di pelukan pria lain saat hujan. Watak jalangnya ternyata tidak berbeda jauh dengan Siska."

​Cap "perempuan murahan" kini semakin melekat kuat dan mengakar di dalam lubuk hati Devano untuk Luna. Dia merasa muak karena telah sempat merasa sedikit bersalah setelah membentak Luna kemarin.

​Namun, di tengah rasa muak dan amarahnya yang membara, ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam dada Devano. Saat matanya melihat tubuh kecil Luna yang menggigil lemas diselimuti jas milik Dika di dalam mobil seberang, ada sebuah rasa tidak rela yang aneh berdenyut perih di hatinya. Dadanya terasa sesak, seolah-olah ada barang miliknya yang sengaja direbut oleh orang lain di depan matanya sendiri. Devano membenci perasaan ini, dia membenci kenyataan bahwa fokusnya hari ini bisa berantakan hanya karena seorang Luna Maharani.

​"Tuan Devano, apakah kita akan kembali ke kantor sekarang?" tanya sopir pribadi dari kursi depan, memecah keheningan di dalam mobil mewah tersebut.

​Devano tidak langsung menjawab. Mata elangnya terus mengunci mobil silver milik Dika yang kini mulai bergerak perlahan meninggalkan area pemakaman. Devano mencengkeram kain celana bahan hitamnya dengan kasar, lalu mendesis dengan nada suara yang teramat rendah dan berbahaya:

​"Ikuti mobil Dika. Jangan sampai kehilangan jejak."

1
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!