"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma manis,suasana pahit
Setelah piring-piring makan siang dibersihkan dan dirapikan kembali oleh kelompok piket berikutnya, dua belas mahasiswa itu bersiap untuk agenda luar pertama mereka. Dipimpin oleh Wisnu, mereka melangkah keluar dari posko untuk berjalan-jalan menyusuri pemukiman warga Desa Sukamukti.
Udara siang menjelang sore itu terasa hangat, berpadu dengan embusan angin yang membawa aroma khas pedesaan dan asap pembakaran kayu dari dapur-dapur rumah warga. Mereka berjalan beriringan melewati jalanan berbatu yang rapi, dikelilingi oleh rumah-rumah panggung kayu dan sebagian rumah permanen yang memiliki halaman luas penuh pohon buah.
Kanaya sengaja berjalan di barisan paling belakang bersama Lisa dan Mely. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, sesekali membetulkan posisi almamaternya sambil menikmati pemandangan sekitar. Ia benar-benar memposisikan diri sejauh mungkin dari barisan depan, di mana Wisnu dan Clarissa berada.
"Permisi, Ibu... Bapak... Selamat siang," sapa anak-anak KKN dengan ramah setiap kali berpapasan dengan warga yang sedang duduk di teras rumah mereka. Warga desa pun menyambut mereka dengan senyuman hangat khas orang desa, bahkan beberapa kali menawarkan mereka untuk singgah.
Sepanjang perjalanan, Mely tidak berhenti berbisik heboh di dekat telinga Kanaya dan Lisa. "Eh, kalian lihat deh ke depan. Si Clarissa nempel terus tuh sama Kak Wisnu dari tadi, pura-pura nanya jalanlah, nanya program kerjalah. Kelihatan banget masih ada rasa."
Kanaya melirik sekilas ke arah depan. Memang benar, Clarissa berjalan tepat di sebelah Wisnu, sibuk mengajak sang ketua kelompok mengobrol. Wisnu sesekali menanggapi, namun tatapan matanya beberapa kali sempat menoleh ke belakang, mencoba mencari keberadaan Kanaya di antara kerumunan anggota kelompok. Setiap kali Wisnu menoleh, Kanaya dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah pohon kelapa atau rumah warga, berpura-pura tidak melihat.
Di sisi lain, Arman berjalan tidak jauh di depan barisan Kanaya. Laki-laki itu tidak ikut mengobrol heboh dengan anggota laki-laki lainnya. Langkahnya santai, namun bahunya tampak tegang. Ia sengaja memperlambat jalannya agar jaraknya tidak terlalu jauh dari Kanaya, memastikan mantan kekasihnya itu tetap berada dalam jangkauan pandangannya selama mereka menyusuri jalanan desa yang asing ini.
"Nah, teman-teman, coba lihat ke sebelah kanan," suara Wisnu agak meninggi di barisan depan, menghentikan langkah seluruh kelompok. Ia menunjuk ke arah sebuah rumah dengan halaman sangat luas, di mana asap mengepul dari sebuah bangunan semi-terbuka di sampingnya. "Itu salah satu rumah warga yang memproduksi gula aren cair yang diceritakan Pak Kades tadi pagi."
Melihat kepulan asap dan aroma manis karamel yang khas menyeruak ke udara, Wisnu langsung memimpin kelompoknya untuk membelok masuk ke halaman rumah tersebut. Rumah panggung itu tampak asri, dengan seorang pria paruh baya mengenakan kaos oblong dan kain sarung yang sedang sibuk mengaduk cairan cokelat pekat di dalam wajan raksasa.
"Permisi, Bapak. Selamat siang." sapa Wisnu dengan sopan sembari melemparkan senyum ramah.
Pria itu menghentikan aktivitas mengaduknya, menoleh, dan langsung tersenyum lebar begitu melihat gerombolan mahasiswa berjaket almamater. "Oh, mangga, mangga, Dek. Anak-anak KKN yang baru ya? Sini, silakan masuk ke area dapur produksi."
Mereka semua berkumpul mengelilingi bangunan semi-terbuka tersebut. Udara di sekitar wajan terasa cukup panas, membuat beberapa anggota kelompok mulai mengibas-ngibaskan tangan mereka.
Mely yang berasal dari jurusan Ekonomi langsung mengeluarkan buku catatan kecilnya, begitu pula dengan Lisa. Sementara Kanaya memilih berdiri agak di belakang, mengamati letup-letup buih gula aren cair yang sedang dimasak dengan saksama.
"Perkenalkan Pak, saya Wisnu, ketua kelompok KKN di sini. Kami ke sini mau silaturahmi sekaligus mau tanya-tanya sedikit tentang produksi gula aren cair ini untuk kelanjutan program kerja kami," ujar Wisnu membuka obrolan.
"Oh, boleh sekali, Dek Wisnu. Nama Bapak, Pak Anwar. Ini kebetulan Bapak lagi masak nira aren hasil sadapan tadi pagi. Mau ditanyakan soal apa saja? Prosesnya, atau penjualannya?" jawab Pak Anwar dengan sangat terbuka.
Wisnu mengangguk, lalu berbalik ke arah anggotanya. "Ayo teman-teman yang dari divisi program kerja, kalau ada yang mau ditanyakan langsung ke Pak Anwar, silakan."
Clarissa langsung mengambil posisi paling depan di sebelah Wisnu, mencoba menunjukkan keaktifannya. "Pak Anwar, kalau boleh tahu, untuk proses dari air nira mentah sampai bisa sekental ini butuh waktu berapa jam ya, Pak? Terus biasanya kendala utama dalam produksinya apa?" tanya Clarissa dengan nada bicara yang dibuat seprofesional mungkin, sesekali melirik Wisnu di sampingnya.
Sambil mendengarkan jawaban Pak Anwar yang menjelaskan bahwa proses memasak membutuhkan waktu sekitar 4 sampai 5 jam, Kanaya yang berdiri di barisan belakang tiba-tiba merasa agak pusing karena hawa panas yang mengepul dari tungku kayu bakar. Ia mundur satu langkah untuk mencari udara segar.
Arman, yang sejak tadi posisinya tidak jauh dari Kanaya, langsung menyadari perubahan raut wajah mantan kekasihnya itu. Tanpa suara, Arman menggeser posisi berdirinya, menghalangi kepulan asap yang sesekali berembus ke arah Kanaya akibat tiupan angin, memberikan perlindungan kecil dalam diam agar Kanaya tidak semakin merasa sesak.