NovelToon NovelToon
Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kelemahan di Balik Pelukan

​Keheningan di dalam kamar utama terasa begitu mencekam saat sepasang mata kelabu Asher mengunci sosok Chloe. Tatapan pria itu tidak lagi hanya sarat akan dominasi, melainkan tampak meredup, berat, dan dipenuhi oleh kabut kelelahan yang teramat sangat. Di bawah pendar lampu tidur yang temaram, Chloe bisa melihat bagaimana bahu tegap yang biasanya berdiri menantang dunia itu kini tampak sedikit merosot.

​Melihat kondisi suaminya yang tampak begitu berantakan, rasa takut yang sejak tadi menguasai dada Chloe perlahan-lahan terkikis, digantikan oleh secercah rasa kemanusiaan dan kepedulian yang muncul secara alami. Bagaimanapun juga, pria di depannya ini adalah suaminya sekarang. Pria yang semalam memperlakukannya dengan kelembutan tak terduga sebelum pergi bertaruh nyawa di luar sana.

​Chloe menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dia perlahan menurunkan kedua kakinya dari atas kursi beludru. Gaun malam satin hitam tipis yang dikenakannya bergoyang lembut menyapu lutut saat dia melangkah maju. Dengan langkah yang pelan dan hati-hati, Chloe berjalan mendekat ke arah pintu, bermaksud untuk menyambut kepulangan sang suami dan membantunya melepaskan jaket kulitnya yang tampak kotor.

​"Asher..." panggil Chloe lirih, suaranya terdengar sangat lembut di dalam kesunyian kamar.

​Namun, baru saja Chloe mengambil tiga langkah mendekat, tubuh masif Asher tiba-tiba limbung ke depan. Langkah kaki tegap sang bos mafia tampak kehilangan keseimbangan secara drastis. Sebelum Chloe sempat mencerna apa yang terjadi, tubuh tinggi besar Asher merosot jatuh dan ambruk sepenuhnya ke arahnya.

​Bruk.

​Chloe terpekik kecil saat menahan bobot tubuh masif Asher yang menimpa tubuh mungilnya. Beruntung, instingnya bergerak cepat untuk menyeimbangkan diri, sehingga mereka berdua tidak jatuh berdebam ke lantai marmer. Kepala Asher terkulai pasrah, mendarat tepat di cekungan leher Chloe, sementara kedua lengan kekar pria itu melingkar lemah di pinggang ramping sang istri.

​Pada detik itulah, Chloe menyadari bahwa ada sesuatu yang benar-benar tidak beres pada diri Asher Sterling.

​Napas Asher berembus pendek-pendek dan terasa sangat panas di kulit leher Chloe, menandakan bahwa suhu tubuh pria itu sedang meningkat drastis. Tubuh kokoh yang biasanya sekaku batu itu kini terasa begitu lemas dan bergetar halus di dalam pelukannya. Ada erangan rendah yang sangat samar, keluar dari tenggorokan Asher seolah pria itu sedang menahan rasa sakit yang luar biasa yang sudah berada di ambang batas toleransinya.

​"Asher? Kau terluka?" tanya Chloe panik, sepasang mata rusanya melebar dipenuhi rasa cemas.

​Tidak ada jawaban verbal dari Asher. Pria itu hanya mempererat pelukan lemahnya selama beberapa detik, menghirup dalam-dalam aroma kombinasi mawar putih dan vanila yang menguar dari tubuh Chloe—sebuah aroma menenangkan yang tampaknya menjadi satu-satunya penawar rasa sakit bagi jiwanya yang lelah setelah dua hari berada di medan pertempuran bawah tanah.

​Di dalam kepasrahan Asher yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di dunia ini, Chloe perlahan menuntun tubuh suaminya menuju tepi ranjang. Dia mendudukkan Asher di sana dengan sangat hati-hati. Dengan jemari yang gemetar karena rasa panik yang menjalar, Chloe mulai membuka jaket kulit hitam panjang milik Asher yang terasa kaku. Begitu jaket itu terlepas dan jatuh ke lantai, bau besi berkarat khas darah segar langsung menyeruak tajam, menusuk indra penciuman Chloe.

​Chloe menahan napasnya, air mata cemas hampir saja menetes saat dia melanjutkan aksinya membuka satu demi satu kancing kemeja hitam di balik jaket Asher. Ketika kain kemeja itu tersibak sepenuhnya, pemandangan di depannya sukses membuat jantung Chloe mencelos.

​Di atas dada bidang dan perut berotot Asher yang kokoh, terdapat beberapa luka sayatan senjata tajam yang cukup panjang dan dalam. Luka-luka itu tampak memerah, sebagian di antaranya masih mengeluarkan rembesan darah segar yang membasahi kulit putih maskulin sang suami. Beberapa bagian kulit di sekitar luka juga tampak memar kebiruan, sebuah bukti nyata dari kekejaman pertempuran yang baru saja Asher lewati di area pelabuhan barat.

​Melihat darah yang mengalir, insting keibuan dan kepedulian Chloe langsung mengambil alih kendali tubuhnya seutuhnya. "Tunggu di sini, jangan bergerak. Aku akan mengambil kain dan air hangat untuk membasuh tubuhmu," ucap Chloe terburu-buru, bersiap untuk berbalik menuju kamar mandi.

​Namun, baru saja Chloe hendak melangkah, pergelangan tangan mungilnya tiba-tiba dicengkeram oleh jemari kokoh Asher. Cengkeraman itu tidak kuat, tidak kasar, namun memiliki penekanan mutlak yang menahannya di tempat.

​Chloe menoleh, dan pandangannya langsung berbenturan dengan sepasang mata kelabu Asher yang menatapnya lamat-lamat. Di dalam kedalaman warna kelabu itu, tidak ada lagi kabut gairah atau kekejaman; yang ada hanyalah sebuah permohonan tersirat dari seorang pria yang sedang berada di titik terlemahnya.

​Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Asher menggunakan sisa kekuatan yang dimilikinya untuk berdiri kembali. Sebelum Chloe sempat memprotes, Asher menyelipkan kedua lengan kekarnya di bawah tubuh mungil Chloe, mengangkat tubuh istrinya yang berbalut gaun malam hitam tipis itu ke dalam dekapan dadanya dalam satu gerakan halus. Asher menggendong Chloe, melangkah tegap meskipun sedikit goyah, membawa mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi mewah berdinding marmer hitam.

​Asher menurunkan tubuh Chloe dengan sangat lembut di atas lantai marmer kamar mandi yang hangat, tepat di samping sebuah bathtub porselen raksasa bergaya modern. Pria itu kemudian mengulurkan tangannya yang sedikit bergetar, memutar tuas keran berlapis emas. Seketika itu juga, aliran air hangat mengucur deras, mengisi bak mandi raksasa tersebut, menyebarkan kepulan uap air hangat yang tipis yang langsung memenuhi ruangan.

​Asher melepaskan kemeja hitamnya yang sudah rusak, menyisakan tubuh bagian atasnya yang terekspos sepenuhnya dengan luka-luka sayatan yang mengerikan. Pria itu kemudian melangkah masuk ke dalam bathtub, mendudukkan tubuh masifnya di dalam rendaman air hangat yang mulai meninggi. Dia menyandarkan kepalanya di tepi bak mandi, memejamkan matanya lamat-lamat sembari menikmati rasa hangat air yang mulai meredakan ketegangan di setiap otot dan luka-lukanya.

​Setelah beberapa saat menikmati ketenangan, Asher kembali membuka matanya. Pandangan kelabunya yang dalam beralih menatap Chloe yang masih berdiri mematung di samping bak mandi dengan gaun malam hitamnya yang sedikit terkena cipratan air. Asher mengangkat tangan kanannya perlahan, lalu memberikan sebuah isyarat tangan yang sangat jelas—sebuah lambaian lembut yang meminta Chloe untuk ikut masuk dan berendam bersama dirinya di dalam bathtub.

​Rasa takut, ragu, dan canggung seketika menyerang kesadaran Chloe secara bersamaan. Jantungnya kembali berdegup kencang. Berendam bersama seorang pria dalam kondisi seperti ini adalah hal yang teramat intim bagi seorang gadis polos sepertinya. Dia menatap air hangat di dalam bak mandi, lalu beralih menatap luka-luka di dada Asher yang tampak mengerikan.

​Namun, saat melihat bagaimana mata kelabu Asher menatapnya dengan ketulusan yang rapuh—seolah pria itu benar-benar membutuhkan kehadirannya malam ini bukan sebagai objek pemuas hasrat, melainkan sebagai pelabuhan terakhir untuk mengistirahatkan jiwanya yang penat—dinding pertahanan di dalam hati Chloe akhirnya runtuh sepenuhnya.

​Chloe memberanikan diri. Dengan gerakan yang sangat pelan dan diiringi oleh helaan napas pasrah, dia melangkah mendekati tepi bak mandi. Tanpa melepaskan gaun malam satin hitam tipisnya, Chloe mengangkat kakinya yang jenjang, melangkah masuk ke dalam rendaman air hangat secara perlahan, menyusul tubuh masif suaminya.

​Begitu seluruh tubuh mungil Chloe tenggelam di dalam air hangat bersama Asher, kain satin hitam gaun malamnya seketika melekat sempurna di kulitnya karena basah, membentuk lekuk tubuh indahnya dengan sangat jelas. Namun, sebelum rasa malu sempat menguasai pikiran Chloe, sepasang lengan kekar dan hangat milik Asher langsung bergerak dari dalam air.

​Asher menarik tubuh mungil Chloe agar semakin mendekat ke arahnya. Dalam satu gerakan lembut yang sarat akan proteksi, Asher membawa Chloe ke dalam dekapan dadanya, membiarkan punggung mungil Chloe bersandar dengan nyaman di dada bidangnya yang hangat, sementara kedua lengan kokoh Asher melingkar erat di sekitar perut dan pinggang Chloe dari belakang.

​Di bawah rendaman air hangat yang menenangkan dan kepulan uap yang memenuhi ruangan mandi, mereka berdua berbagi keheningan yang teramat sakral. Chloe bisa merasakan detak jantung Asher yang berdegup dengan ritme yang konstan di punggungnya, sementara napas hangat Asher berembus teratur di atas puncak kepalanya, memainkan beberapa helai rambut cokelatnya yang basah.

​Rasa takut yang selama ini membayangi pikiran Chloe tentang sosok Asher perlahan-lahan menguap, digantikan oleh sebuah pemahaman baru yang mendalam. Di balik topeng kekejaman, kekuatan mutlak, dan statusnya sebagai seorang bos mafia yang ditakuti seluruh kota, Asher Sterling pada akhirnya tetaplah seorang manusia biasa yang bisa merasakan lelah, sakit, dan kerapuhan. Dan malam ini, di dalam sangkar emas yang dingin ini, mereka berdua telah menemukan sebuah oase kehangatan yang tak terduga—sebuah pelukan di balik air hangat yang perlahan-lahan mulai menyatukan dua jiwa yang dipertemukan oleh takdir yang kelam.

1
Idah Faridah
dtunggu thor lanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!