Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Valerio dan Godaan Gadis Semprul dalam Tubuh Pria
Persembunyian sementara klan De Luca setelah terusir dari Palazzo bukanlah sebuah hotel mewah atau bunker bawah tanah yang dingin, melainkan sebuah vila tua di pinggiran Tuscany yang dikelilingi oleh kebun anggur yang rimbun. Vila itu milik mendiang bibi mereka yang sangat menyukai ketenangan—sesuatu yang kini terasa sangat ironis mengingat Bianca ada di sana.
Malam itu, bulan menggantung rendah, menyinari teras batu tempat Valerio sedang membersihkan senapan runduknya. Valerio adalah tipe pria yang bicara dengan peluru dan bernapas dengan presisi. Baginya, logika adalah segalanya. Namun, sejak insiden "Pargoy taktis" dan cara Lorenzo (jiwa Bianca) menatap dunia, logika Valerio mulai bergeser ke arah jurang kehancuran.
Bianca—dalam tubuh kekar Lorenzo—keluar ke teras sambil membawa sepiring camilan yang ia buat sendiri: roti panggang sisa tadi siang yang ia olesi dengan mentega dan taburan gula pasir.
"Mas Val, kok sendirian aja? Nanti kalau ada hantu lewat nggak ada yang nemenin lho," ucap Bianca dengan suara bariton Lorenzo yang berat namun dengan nada bicara yang ceria.
Valerio tidak mendongak. "Hantu tidak lebih berbahaya daripada anak panah pemutus jiwa milik Isabella, Lorenzo. Dan berhentilah memanggilku 'Mas'. Itu terdengar seperti kau sedang memanggil tukang bakso di Jakarta."
Bianca duduk di pagar teras, menggoyangkan kaki panjang Lorenzo yang berotot. "Galak amat sih. Padahal saya bawain roti gula nih. Enak lho, manis-manis kayak janji mantan."
Valerio akhirnya meletakkan kain pembersih senjatanya. Ia menatap kakaknya dengan tatapan tajam yang biasanya membuat musuh gemetar. Namun, yang ia lihat justru Lorenzo yang sedang mengunyah roti dengan pipi kembung, sisa gula menempel di sudut bibirnya, dan mata yang berbinar-binar menatap bintang.
"Kau benar-benar bukan Lorenzo yang kukenal," gumam Valerio. "Lorenzo yang asli akan menghabiskan malam ini dengan minum wiski sambil memetakan koordinat serangan balik. Dia tidak akan duduk di pagar sambil makan roti gula seperti bocah SD."
Bianca menelan rotinya, lalu tersenyum lebar. "Dunia mafia itu capek, Mas Val. Serius terus nanti cepat tua. Lihat tuh, kerutan di dahi Mas Val udah ada tiga baris. Sini, saya pijetin dikit biar rileks."
Sebelum Valerio sempat menolak, Bianca sudah melompat turun dan berdiri di belakang Valerio. Dengan tangan Lorenzo yang besar dan kuat, ia mulai memijat bahu Valerio.
"LORENZO! Lepaskan!" bentak Valerio, wajahnya memerah karena terkejut.
"Diem dulu, Mas! Otot kamu ini keras banget, kayak beton jalan tol! Ini namanya stres menumpuk. Relax, tarik napas... buang... tarik lagi..."
Valerio mencoba memberontak, tapi tenaga Bianca (yang menggunakan otot Lorenzo) ternyata cukup kuat untuk menahannya di kursi. Anehnya, setelah beberapa saat, pijatan Bianca memang terasa sangat enak. Tekanannya pas, dan ada kehangatan yang menjalar dari telapak tangan itu.
"Kenapa tanganmu terasa... berbeda?" tanya Valerio dengan suara yang mulai melunak.
"Berbeda gimana? Kan ini tangan kakak kamu juga," jawab Bianca sambil terus memijat.
"Bukan teksturnya. Tapi energinya. Lorenzo selalu memegang sesuatu dengan niat untuk menghancurkan. Tapi kau... kau memegang bahuku seolah-olah kau sedang mencoba menyembuhkan sesuatu." Valerio memejamkan mata sesaat. "Ini sangat membingungkan, Lorenzo. Kadang aku ingin menembakmu karena kau terlalu berisik, tapi kadang aku merasa... nyaman?"
Bianca terkekeh. Suara tawa Lorenzo yang berat terdengar sangat hangat di telinga Valerio. "Itu namanya pesona gadis semprul, Mas Val. Meskipun saya di tubuh cowok, aura 'Mbak-mbak ramah' saya nggak bisa ilang."
Valerio tiba-tiba berbalik, menangkap kedua pergelangan tangan Bianca. Mereka kini berdiri sangat dekat. Valerio harus sedikit mendongak karena Lorenzo memang lebih tinggi darinya. Mata mereka bertemu.
"Katakan padaku yang sejujurnya," bisik Valerio, suaranya rendah dan mengancam. "Siapa kau sebenarnya? Dante mungkin percaya pada teori metafisika kristal itu, tapi aku butuh bukti. Siapa wanita yang sanggup meruntuhkan wibawa klan De Luca hanya dengan goyangan pinggul dan roti gula?"
Bianca merasa jantung Lorenzo berdegup kencang—bukan karena takut, tapi karena ia merasakan intensitas emosi Valerio yang meledak-ledak. "Nama saya Bianca, Mas Val. Saya cuma mahasiswa yang lagi apes terlempar ke Italia terus tukeran nasib sama kakak kamu. Saya nggak punya niat jahat. Saya cuma pengen kita semua selamat."
Valerio melepaskan tangan Bianca dengan kasar. Ia berjalan menuju tepi teras, menatap hamparan kebun anggur yang gelap. "Bianca... nama yang aneh. Dan sangat tidak cocok untuk tubuh yang penuh luka tembak dan tato itu."
"Eh, cocok-cocok aja tahu! Nama itu kan pemberian orang tua," Bianca mendekat lagi, berdiri di samping Valerio. "Mas Val, kamu tahu nggak? Di antara kalian bertiga, kamu itu yang paling jujur perasaannya. Dante itu terlalu pinter sampai susah dimengerti, Lorenzo itu terlalu keras sampai susah disentuh. Tapi kamu... kamu itu kayak api. Terang, panas, tapi bisa bikin hangat kalau kita tahu cara jaganya."
Valerio tertegun. Ia tidak pernah dipuji seperti itu. Di klan De Luca, pujian adalah tanda kelemahan. "Jangan mencoba merayu penembak jitu, Bianca. Itu berbahaya bagi kesehatanmu."
"Siapa yang ngerayu? Saya cuma observasi!" Bianca menyenggol bahu Valerio dengan bahunya. "Lagian, kalau nanti kita udah balik ke tubuh masing-masing, saya bakal kangen lho dipelototin sama kamu."
Tiba-tiba, Valerio melakukan hal yang tidak terduga. Ia menarik kerah baju Bianca dan membisikkan sesuatu tepat di telinganya. "Jika kau benar-benar kembali ke tubuh wanita itu... pastikan kau tetap tinggal di Italia. Karena jika kau pergi, aku tidak akan ragu untuk mencarimu dengan senapan ini."
Bianca merinding. Godaan Valerio terasa sangat maskulin dan berbahaya. "Waduh... itu ancaman apa ajakan kencan, Mas?"
"Anggap saja itu janji seorang De Luca," ucap Valerio sambil berbalik dan kembali mengambil senapannya. "Sekarang masuklah. Dingin. Dan berhentilah makan gula sebelum tidur, gigimu—maksudku gigi Lorenzo—bisa berlubang."
Bianca tersenyum simpul, ia merasa telah berhasil "menjinakkan" satu lagi macan De Luca. Saat ia hendak masuk ke dalam rumah, ia berpapasan dengan Lorenzo (tubuh Bianca) yang baru saja keluar dari dapur.
"Apa yang kau lakukan dengan Valerio?" tanya Lorenzo dengan nada curiga.
"Cuma sesi curhat antar saudara, Mas. Mas Val ternyata aslinya manis lho, kayak martabak kacang," jawab Bianca santai.
Lorenzo menyipitkan mata. Melalui koneksi batin mereka, ia bisa merasakan sisa-sian adrenalin yang bergejolak di dalam diri Bianca setelah interaksinya dengan Valerio. "Ingat, Bianca. Dia itu adikku. Jangan berani-berani kau... kau membuat situasinya semakin rumit."
"Cemburu ya, Mas?" goda Bianca sambil mencubit pipi tubuh aslinya.
"TIDAK! Masuk sekarang!" perintah Lorenzo dengan wajah memerah.
Di teras, Valerio menatap kepergian mereka berdua. Ia mengambil sepotong roti gula yang ditinggalkan Bianca, menggigitnya sedikit, dan mengernyit. "Manis sekali. Benar-benar menjijikkan."
Namun, ia terus memakannya hingga habis.
Malam itu, di vila tua di Tuscany, keheningan kembali tercipta. Namun di balik keheningan itu, benih-benih perasaan baru mulai tumbuh di tempat yang paling tidak mungkin. Seorang penembak jitu yang dingin mulai tergoda oleh jiwa yang hangat, dan seorang bos mafia mulai merasa terancam oleh kehadiran adiknya sendiri di dalam hati "asistennya".
Dan di kejauhan, mawar hitam Isabella Moretti mulai layu, digantikan oleh aroma mentega dan gula yang tak terduga.