NovelToon NovelToon
Istri Tersembunyi Dokter Pradikta

Istri Tersembunyi Dokter Pradikta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Mengubah Takdir
Popularitas:58k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.

Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.

Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35 Sama-Sama Terjebak.

Pengobatan terus di lakukan Dikta, bahkan dia juga membawa botol infus dan memasangkan pada Zivanna agar memiliki tenaga. Sementara saat ini tangan kiri Zivanna sedang ditarik pelan oleh Dikta untuk mendapatkan terapi agar tangan tersebut bisa digerakkan dan begitu juga dengan kakinya.

Dikta melakukan semua yang bisa dia lakukan dengan obat-obatan yang telah dia bawa dan digunakan dengan baik kepada istrinya.

Dikta kemudian berdiri dan melihat di sekelilingnya, Dikta melihat ada wadah persegi yang membuatnya mengambil wadah itu, Zivanna hanya memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh pria itu.

Bisa ditebak sepertinya ruangan itu akan dijadikan lap, karena susunan ruangannya memang terlihat seperti itu dan makanya ada rak dan lemari yang berjatuhan. Memang ruangan itu selamat dari runtuhan tetapi tetap saja jika diturunkan alat berat untuk mengevakuasi, maka ruangan itu juga akan runtuh.

Keberuntungan datang pada Dikta dan Zivanna menemukan galon besar yang mungkin saja itu adalah milik para tukang. Dikta memeriksa dan ternyata galon itu penuh dengan air. Untuk bertahan di dalam tempat itu sampai menemukan jalan keluar air yang dibutuhkan.

Dikta kemudian langsung membukanya dan menuangkan air tersebut ke dalam wadah persegi mending kembali menghampiri Zivanna.

Dikta membasahkan kain putih berukuran kecil dan kemudian meremas kain putih tersebut hal yang dilakukannya ternyata mencoba untuk membersihkan wajah Zivanna, tetapi karena kesulitan Dikta melepaskan hijab yang masih terpasang sebagai penutup aurat itu Zivanna diam saja dan membiarkan apapun yang Dikta, karena saat ini tidak punya waktu untuk protes atau marah-marah.

Rambutnya sedikit berantakan yang Dikta menggulung rambut tersebut sehingga wajahnya terlihat lebih fresh dan apalagi ketika dibersihkan. Wajah sang istri memang sedikit lepek dan lembab bagaimana tidak air matanya mengering di pipinya.

"Bagaimana? Apa kamu sudah baik-baik saja?" tanya Dikta yang membuat Zivanna menganggukkan kepala.

"Syukurlah, jika kamu masih selamat," ucap Dikta.

Kondisi Zivanna sudah pasti jauh lebih baik-baik saja saat ini dibandingkan sebelumnya karena sudah mendapat pengobatan dan belum lagi infus untuk menambah tenaganya.

Dikta juga merasa lega, dengan mengusap pipi Zivanna dan menatapnya begitu dalam mampu Zivanna luluh yang hanya diam dengan saling menatap dengan Dikta.

"Semua akan baik-baik saja," ucap Dikta meyakinkannya dan bahkan membawa Zivanna kedalam pelukannya.

Dikta memeluknya dengan erat, pelukan itu sudah bertanda bahwa dia memang sangat takut jika sampai Zivanna kenapa-napa dan begitu juga dengan Zivanna yang ternyata sangat nyaman diperlukan itu dengan matanya terpejam, mungkin sekarang semangat hidupnya sudah kembali karena keberadaan Dikta di ruangan itu dan dia tidak sendiri lagi.

Ruangan itu hanya diterangi oleh senter yang dibawa Dikta dan mungkin saja senter itu juga baterainya akan habis.

Mungkin ada sekitar 3 jam Dikta berada di ruangan itu, tetapi sudah merasa pengap dan panas dan apalagi Zivanna yang bahkan sudah hampir 24 jam.

Saat ini posisi Zivanna tidak bersandar pada dinding lagi tetapi sudah berbaring dengan posisi yang sudah jauh lebih nyaman dan kakinya juga sudah tidak terasa sakit.

Karena istrinya kondisinya belum sepenuhnya membaik membuat Dikta mengurungkan diri untuk mencari jalan keluar dari ruangan tersebut.

Pasangan suami istri itu memilih saling berbaring dengan menatap langit-langit ruangan tersebut dan mungkin saja kapanpun langit itu bisa runtuh menimpa mereka, tapi mereka hanya berdoa agar hari itu tidak terjadi.

"Kenapa selalu mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dahulu?" tanya Zivanna membuat Dikta menoleh ke arahnya.

"Bangunan ini belum sepenuhnya sempurna dan bahkan belum ada uji untuk ditempati, tidak memeriksa dan mengambil keputusan untuk memindahkan pasien isolasi ke rumah sakit ini," ucap Zivanna masih memiliki tenaga untuk membahas kekesalannya Dikta karena terlalu ceroboh.

"Jadi kamu pikir aku yang mengambil keputusan itu?" tanya Dikta.

"Lalu siapa lagi? Dokter Irfan jelas-jelas mengatakan bahwa keputusan diambil dari pusat dan kamu bagian dari orang yang memutuskan hal itu dan lihat aku menjadi korban," ucap Zivanna.

"Zivanna pernah tidak sekali saja di dalam hidup kamu, sebelum mengambil kesimpulan dicari tahu dulu kebenarannya, bukan aku yang memutuskan untuk seluruh pasien Isolasi dipindahkan ke rumah sakit ini, tetapi sudahlah aku juga tidak punya waktu untuk berdebat dengan kamu dan ini bukan waktunya kita berdebat. Ingat kita berdua belum tentu hidup di tempat ini dan belum tentu bisa diselamatkan, daripada menambah dosa lebih baik menggunakan waktu yang singkat ini untuk berbuat baik agar mengurangi dosa!" tegas Dikta sepertinya juga mulai menyerah tidak akan bisa keluar dari tempat itu.

"Aku sudah meminta maaf sebelumnya, memang kamu tidak minta maaf kepadaku," gumam Zivanna.

"Kamu bicara apa?" tanya Dikta hanya mendengar samar-samar suara sang istri.

"Tidak! Aku tidak berbicara apapun," jawabnya tidak mau mengakui.

"Kalau begitu sekarang kamu sebaiknya istirahat dan tidur, infus kamu akan segera habis dan semoga saja kamu memiliki tenaga dan kita masih bisa mencari jalan keluar untuk pergi dari tempat ini," ucap Dikta

"Aku tidak bisa tidur," jawabnya.

"Lalu kamu mau apa? Tidak ada yang bisa dilakukan dan jika kita sekarang bergerak untuk mencari jalan keluar dan maka itu sama saja," ucap Dikta.

"Kamu ceritakan saja kepadaku bagaimana suasana di luar dan apakah benar rumah sakit ini benar-benar lumpuh hancur lebur keseluruhan?" tanya Zivanna.

"Ya, saat pertama kali aku sampai ke desa ini dan yang pertama kali aku lihat adalah rumah sakit ini, dari luar rumah sakit ini memang terlihat runtuh, tetapi tim penyelamat terus saja bergerak mencari di manapun titik yang bisa mereka lewati," jawab Dikta.

"Apa banyak orang yang terjebak di dalam reruntuhan ini?" tanya Zivanna.

"Kabar yang aku dapatkan ketika masih berada di Jakarta, dua orang dinyatakan meninggal dan sebagian luka-luka dan sementara 5 orang terjebak di dalam reruntuhan ini termasuk kamu, ketika aku sampai di sini satu orang keluar tanpa nyawa," jawab Dikta.

"Lalu bagaimana dengan orang tuaku? apa mereka mengkhawatirkan ku?" tanya Zivanna.

"Sudah pasti. Papa ikut bersamaku ke desa ini dan sekarang dia sedang di luar," jawab Dikta.

"Jadi Papa ikut," Zivanna seketika menjadi mewek dan mungkin tidak percaya jika ayahnya begitu khawatir padanya.

"Aku pikir Papa tidak sayang padaku lagi, selama ini tidak pernah berpihak kepadaku dan selalu berpihak kepada kamu," ucapnya.

"Kamu salah Zivanna, kamu pikir selama ini semua baik-baik saja, kamu pikir Papa selalu sepaham dengan apa yang aku katakan, tidak pernah," batin Dikta.

Di luar sepengetahuan Zivanna hubungan Dikta dan ayah mertuanya memang tidak seperti apa yang dilihat oleh Zivanna, mereka juga sering berdebat karena tidak sepaham dan bahkan perdebatan mereka jauh lebih serius dibandingkan pasangan suami istri itu.

Bersambung ...

1
Marini Suhendar
dokter dipta ini menebus waktu yg dulu terbuang sia" zivanya..makanya sekarang mulai dg hal" kecil seprti ini🤭
Marini Suhendar
Dokter Dikta td kyanya ngeprank sakit agar zivanya bisa melakukanya tnapa dia..Selamat Dokter Zivanya..good job🥰
Teh Euis Tea
jgn2 dokter Dikta jg sakit kanker ya tp jgn sampe, kasihan dokter Dikta nya terlalu banyak tekanan terutama dari si Andra yg egois
Marini Suhendar
Dokter Dikta..terlalu banyak tekanan
Marini Suhendar
kayanya nayla udah tau dikta & zivanaya menikah..itu hanya u memecahkan mereka berdua taw hanya menguji ..aku serahkan padamu thor yg tau segalanya😄
Teh Euis Tea
nah gitu dong akur jgn salah paham trs kerjaannya
Teh Euis Tea
duhh jgn2 Difta jg sakit, tp jgn sakit kanker ya sakit cuma kelelahan aj
Endang 💖
akhirnya zivana tahu satu persatu sifat tamak papanya...
papanya Zivanna terlalu egois dan ambisi
Endang 💖
gini kan enak liatnya akur....
Marini Suhendar
alhamdulilah dr dipta & zivana sudah saling terbuka jd tdk ad lagi kesalahpahaman lg kedepanya..sekrang tinggal memperbaiki nya dan menjalani dg baik
Marini Suhendar
wah..ad kemajuan nih
falea sezi
🤣🤣 zivanna ini goblok kok bs jadi dokter ya karena bapak nya kaya😒
falea sezi
zivanna ini bisa nya apa🤣 cwek. goblok bgt
falea sezi
goblok😕 cerai aja zivanna bapak. egois suami tukang selingkuh 🤭 meski. ma pacar sendiri
Sarinah Quinn
heran sampai sini Zivanna dan awal selalu di salah kan tidak pernah benar rumah tangganya pun kacau balau, gak ngerti deh tokoh utamanya di jadikan bodoh dan tidak berarti entah apa tujuannya mengangkat tokoh yg seperti ini kasian gak sih 😢 ngikutin dari awal berharap ke arah lebih baik tapi mentok gitu aja 🙏🙏
Marini Suhendar
Ayo dipta bersatu sama zivanya..biar orangtua tdk terus memaanfaatkan kalian..dan seandainya kamu memilih Nayla zivananya yakin mendukung
.wlo hrs menahan sakit hati
Sarinah Quinn
auto bingung dengan lanjutannya gak nyambung 🤔
Oma Gavin
ini ngga salah di up disini kok sering banget ngulang cerita lagi dan iniqlah salah kamar cerita lavanya kok di up di lapak dokter dikta
Marini Suhendar
g salah kamar kan thor ini..seperti cerita yg d sebelah
Marini Suhendar
Bagus zivanya..waktunya kamu duduk bareng sana dokter difta ap yg sebenernya terjadi agar kalian tdk d maanfaatkan terus sama papah mu itu yg egois
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!