Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YAKIN TIDAK MENYESAL?
Melihat uang kas yang keluar dari tas Clarissa, membuat satu kelas heboh. Berbagai spekulasi mulai bermunculan. Banyak pro dan kontra terhadapt situasi yang terjadi. Masing – masing berusaha meyakinkan yang lain tentang pendapatnya. Berusaha terlihat peduli satu sama lain. Tercipta tiga kubu dalam waktu singkat. Kubu pertama adalah teman – teman dekat Clarissa yang beranggapan kalau ada orang lain yang sengaja menjebak dia. Kubu kedua adalah orang – orang yang tidak terlalu dekat dengan Clarissa, mereka percaya pada apa yang mereka lihat. Kubu terakhir adalah orang – orang yang tidak terlalu mempermasalahkan kejadian yang ada, dimana kubu yang termasuk aku didalamnya.
Clarissa yang merasa tidak melakukan pencurian tentu saja protes. Dia berusaha meyakinkan orang lain, “Serius, aku gak tau apa – apa. Tiba – tiba aja ada amplop ditasku.” Dia melihat sekeliling untuk memastikan respon yang diberikan. tatapannya terhenti pada seorang cewek yang dari tadi menatapnya dengan santai. “Pasti Yasmine yang naroh ditasku.”
“Lah? malah nuduh orang lain.” Yasmine tentu saja tidak terima dituduh. Sudah jelas – jelas uang kas ada di tas Clarissa, tindakan yang dia lakukan malah membuat situasinya menjadi semakin buruk. “Sama persis kaya maling yang ketangkap.”
“Jangan sembarangan ya!” Salah satu teman Clarissa membelanya. “Clarissa gak bakal nyuri uang kas.” Dengan penuh keyakinan dia mengatakan kalimat tersebut pada seisi kelas. Aku yakin kalau dia berusaha membuat orang – orang percaya dan mendukungnya. Walaupun aku tidak terlalu mengerti, tapi aku cukup yakin kalau hubungan yang dia jalani bersama Clarissa membuatnya berani mengambil tindakan.
“Kami semua yang ada disini tau kalau kamu temanan sama Clarissa, kemana – mana selalu bareng, ya pasti kamu bela dia lah!” Kata – kata yang dilontarkan oleh Yasmine, membuat kubu yang percaya pada Clarissa berkurang, menyisakan teman – teman dekatnya. Itulah pendapatku saat melihat reaksi yang ditunjukkan teman – teman sekelas. “Atau jangan – jangan …, kalian kerjasama, ya?”
Pertanyaan terakhir yang diberikan oleh Yasmine sudah cukup untuk menghancurkan rantai pertemanan yang dibangun Clarissa bersama teman – teman dekatnya selama beberapa tahun. Orang yang mendukung Clarissa sudah hilang sepenuhnya, tidak ada lagi yang percaya. Bahkan, ketika Clarissa menatap teman yang tadi mendukungnya, dia mengalihkan pandangan dengan menunduk. Tidak ada lagi pembelaan diri. Clarissa yang kehilangan percaya dirinya hanya bisa diam menerima keadaan.
“Ayo ikut ibu ke ruang guru!” Bu Mika yang dari tadi hanya memperhatikan, akhirnya turun tangan. Kesimpulan sudah terbuat tanpa persutujuan dari Clarissa sendiri. Tidak ada kalimat – kalimat penyemangat untuknya. Semua hanya diam ketika Bu Mika membawanya mendekati pintu keluar.
Aku tau kebenaran dari pelaku uang kas kelas. Meski aku tidak tau detail pastinya, tapi aku tau kalau bukan Clarissa yang mencuri uang kas. Dia dituduh karena kebencian sepihak dari Yasmine. Seisi kelas pasti tau kalau Yasmine sangat membenci Clarissa, mereka terlihat sering bertengkar, tidak ada yang berani melerai kecuali guru. Kuasa yang dimiliki oleh Yasmine begitu besar disekolahanan ini. Aku selalu bertanya – tanya kenapa Clarissa bisa sampai dibenci sebegitunya, terlebih alasan kenapa dia bisa selalu bertahan.
Setelah apa yang terjadi, aku mulai mengerti. Satu – satunya alasan dia bisa bertahan adalah karena masih ada teman yang percaya padanya. Selama masih memiliki kekuatan tersebut, dia akan selalu bangkit bagaimanapun situasinya. Sekarang kepercayaan itu hilang. Dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk bisa meyakinkan dirinya. Tidak ada lagi alasan untuk Clarissa terus berjuang.
Sebenarnya tidak ada pencuri dalam kasus uang kas kelas. Nadhifa dengan sengaja memasukkan uang kas ke dalam tas milik Clarissa. Aku tidak tau apakah hanya aku sendiri yang mengetahuinya atau tidak, tapi aku melihatnya secara langsung. Kemungkinan Nadhifa mendapat ancaman dari Yasmine. Aku tau Nadhifa bukan orang yang sejahat itu. Aku tau rasanya berada dalam situasi terancam. Aku tidak bisa menyalahkannya.
Bagaimana dengan aku sendiri? Kenapa aku tidak membela Clarissa jika mengetahui kebenarannya? Alasannya cukup sederhana. Aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan Yasmine. Jika sedikit saja aku terlibat dengannya, entah apa yang akan terjadi padaku. Mungkin karena menyadari hal itulah, sebagian besar orang dikelas langsung berada dalam kubu yang sama dengannya.
Aku tau kalau Clarissa pernah menolongku sebelumnya. Aku tau dan sangat berterimakasih akan hal tersebut. Tapi, apakah aku rela mengorbankan diriku untuk seseorang yang bahkan tidak mengingatku? Aku tidak memiliki keberanian sebesar itu. Kedamaian yang aku dapatkan berkatnya juga bukan sesuatu yang mudah kudapatkan. Aku tau aku egois. Aku hanya peduli pada diriku sendiri. Tapi, kalau tidak begitu, siapa lagi yang akan peduli selain diriku sendiri? Tidak ada. Lagipula sebentar lagi perpisahan, Clarissa hanya harus sabar sampai hal itu terjadi.
Sekilas, apa yang akan terjadi selanjutnya pada Clarissa terlintas dalam benakku. Dia mendapat teguran dari guru. Orang tuanya dipanggil dan ikut meminta maaf. Dia tidak perlu mengganti uang kas karena memang tidak berkurang. Dia kembali ke kelas seperti biasa, sampai perpisahan tiba. Tidak ada konsekuensi besar yang terjadi padanya. Aku memang tidak perlu ikut campur.
Yakin tidak menyesal?
Memang benar kalau aku tidak akrab dengan Clarissa. Aku juga tidak terlalu memahami sifatnya. Tapi, aku tau ketika dia bahagia. Aku tau kebaikan Clarissa, orang yang suka menolong tanpa harus mengenalnya. Tawa dan senyum Clarissa dapat mempengaruhi orang sekitar. Dan, aku tidak pernah melihatnya seperti itu lagi. Hari – hari yang dihabiskan olehnya setelah mendapat gelar “pencuri,” tidak lagi sama. Tidak ada lagi teman yang ada didekatnya. Tidak ada lagi rasa bahagia dalam hidupnya. Dia sendiri sampai perpisahan tiba. Bahkan, orang tuanya tidak datang saat perpisahan. Kepercayaan pada dirinya sudah benar- benar hancur.
Sekali saja dalam hidupku, aku ingin berarti untuk orang lain. Aku ingin berguna dan diandalkan. Aku ingin menjadi seseorang yang bernilai. Aku selalu menginginkannya. Tapi, saat kesempatan itu datang, aku malah mengabaikannya. Aku berharap tanpa adanya sedikitpun perjuangan. Padahal aku tau, kalau ingin menjadi seperti yang aku harapkan, aku harus memiliki keberanian dan rela berkorban. Berusaha semaksimal mungkin sampai harapan tercapai.
Aku menyesal tidak menolong Clarissa. Aku selalu berharap kalau saja ada kesempatan kedua, aku akan melakukan hal yang berbeda. Sekarang aku mendapatkan kesempatan itu dan tetap diam? Aku benar – benar orang yang arogan. Aku mau berubah. Aku ingin menjadi orang. Mungkin itulah alasanku kembali dalam situasi sekarang.
Pasti selalu ada cara bagi Sang Pencipta untuk menunjukkan kemurahan hati-Nya.
“T – TUNGGU!” Padahal aku berniat untuk teriak, tapi suaraku terdengar sangat cempreng. Meski begitu, karena aku mengatakannya dalam posisi berdiri dan masih terdengar, tatapan seisi kelas langsung mengarah padaku, termasuk Bu Mika dan Clarissa. “Clarissa gak salah.” Aku mengatakannya sekeras yang kubisa, bukan berarti berteriak, tapi suara ternyaring yang bisa kukeluarkan saat berbicara. Aku takut kalau suaraku tidak kedengaran. Bisa – bisa keberanianku menghilang. “Pasti cuman salah paham.”
Bu Mika menatapku tanpa bicara, begitu juga dengan yang lain, artinya mereka menungguku untuk menjelaskan. “Gimana kalau Nadhifa salah liat waktu mau masukin uang kas ke tas?” Padahal aku langsung mau to the point, tapi apa yang terucap dengan apa yang kupikirkan tidak selaras. Bukannya membuat orang lain paham, kata – kataku malah membuat mereka semakin bingung. “Nadhifa sama Clarissa mereka duduk sebelahan, bisa aja salah masukin karena buru – buru. Tas mereka juga keliatan mirip.”
Tidak ada yang merespon penjelasanku. Sekilas aku melihat kearah Awan, dia mengisyaratkan padaku untuk tidak ikut campur. Rasanya aku ingin segera keluar kelas untuk kabur. Situasinya sangat tidak nyaman. Aku sangat malu. Meski aku sudah berusaha memberanikan diri, bukan berarti apa yang akan terjadi sesuai dengan kehendak. Keberanian saja tidak cukup.
Yasmine tertawa kecil, entah kenapa mataku terarah padanya secara otomatis. “Kirain kenapa tadi teriak. Ternyata cuma kasih permisalan.” Benar yang dikatakan olehnya. Penjelasanku hanyalah sebuah permisalan, aku tidak punya bukti yang bisa membuat orang percaya. “Uang ada di tas Clarissa itu nyata. Semua ngeliat sendiri, kan?”
Bukannya merubah keyakinan, kata – kataku malah membuat Clarissa semakin disudutkan. Apakah memang tidak ada harapan? Aku sudah berusaha sebisaku untuk membelanya. Jika pada akhirnya hasil tidak sesuai ekspektasi, itu adalah hal yang wajar ….
Tidak! Masih ada yang bisa aku lakukan. Orang sepertiku, yang selalu menyesali sesuatu, memiliki sebuah kebiasaan yang terbentuk tanpa disengaja. Kebiasaan yang selalu kulakukan jika hal buruk terjadi. Kebiasaan untuk berspekulasi. Setelah aku melewatkan kesempatan, baik itu hal kecil atau besar, pikiranku selalu dipenuhi oleh kemungkinan – kemungkinan. Berusaha memperkirakan, tindakan apa yang harus dilakukan jika kejadian tersebut terjadi kembali. Pilihan terbaik agar tidak ada yang dirugikan. Begitu juga dalam situasi sekarang. Aku pernah membayangkannya. Respon yang diberikan Yasmine memang agak berlebihan, tapi itu masih dalam kondisi yang pernah kuperkirakan.
“Uangnya memang ada di tas Clarissa, tapi dia diluar dari tadi. Aku dari awal udah dikelas, gak ada ngeliat dia sama sekali. Kebetulan aja pas Bu Mika masuk dia ada ditempat duduk.” Kukatakan dengan penuh keyakinan. Sedikit saja ada keraguan, kata – kataku tidak akan dipercaya. Meski baru pertamakali aku bertindak seperti ini, aku tetap harus bisa. “Gimana cara dia ngambil? Uangnya kan baru aja hilang? Terus, masa dia bisa naroh tas tapi gak ke kelas?”
Yasmine terlihat bingung setelah mendengar kata – kata dariku. Dia terlihat kesal. Begitu pula dengan teman – teman dekatnya, mereka menatapku sinis. “Kamu gak liat kan, bukan berarti dia gak ada di kelas? Bisa aja dia masuk waktu kamu gak sadar.”
Pendapat yang masuk akal. Tapi, pendapat tetaplah pendapat, tidak akan pernah bisa mengalahkan fakta. Selanjutnya bukan giliranku untuk bicara. Aku tidak punya kapasitas untuk membantah kata – kata Yasmine. Ada orang lain yang lebih pantas. Kuarahkan tatapanku pada orang – orang tersebut. Orang yang selalu bersama Clarissa sebelumnya dan akan kupastikan tetap seperti itu untuk kedepannya, teman – teman dekat Clarissa. “Iya, bener tuh! Orang Clarissa bareng kami dari tadi. Kami dikelas sebelah.”
Perdebatan besar dimulai. Geng Yasmine tetap berusaha menyudutkan Clarissa. Disatu sisi, geng Clarissa berusaha semaksimal mungkin untuk mendukungnya. Argumen mereka semakin lama semakin tidak masuk akal. Dari sekarang, aku sudah tidak tau lagi apa yang akan terjadi. Perkiraanku selesai sampai pada dukungan teman – teman Clarissa. Sisanya aku hanya bisa berharap masalah akan selesai. Jika memang tidak, aku akan mencari cara lain.
“Tenang!” Bu Mika kembali turun tangan ketika situasi semakin kacau. Beliau mengarahkan seisi kelas untuk kembali ke tempat duduk masing – masing, termasuk Clarissa. “Kalian ini sebentar lagi perpisahan, masa malah bertengkar. Cuman gara – gara uang, kalian saling nyalahin. Seharusnya kalian selalu bareng sampai akhir. Bagus lagi kalau kalian terus sama – sama sampai dewasa nanti. Sekarang yang penting uangnya sudah ketemu. Gak harus ada yang disalahin.
Nadhifa. Lain kali hati – hati kalau nyimpan uang. Ini bisa jadi pelajaran buat kamu. Siapa tau kedepannya kamu dapat tanggung jawab yang lebih besar? jadi udah tau gimana ngadapinnya.
Clarissa. Kamu harusnya lebih percaya diri kalau memang gak ngerasa salah. Masa diam aja pas gak ada yang percaya. Kalau kamu sendiri aja gak yakin, gimana bisa orang lain percaya?
Yasmine. Kamu juga, jangan asal nuduh orang, kalau memang gak tau. Salah – salah, orang lain yang kena masalah. Mending tahan aja daripada nambah masalah. Seperti kata pepatah, diam itu emas.”
Ceramah Bu Mika membuat seisi kelas merenung. Beliau memang merangkap sebagai guru bk selain menjadi wali kelasku. Wajar saja pesan yang beliau sampaikan sangat panjang. Tidak ada yang berani menjawab kata – kata beliau, hanya anggukan yang bisa diberikan. Meski begitu, masih ada beberapa yang bercanda, mereka saling melempar tatapan dan senyuman. Berbagai reaksi terjadi. Terlepas dari itu, masalah sepertinya selesai. Tindakan yang kulakukan membuahkan hasil. Clarissa tidak jadi dituduh mencuri uang kas kelas. Perjuanganku sekarang dan memoriku dimasa lalu, tidak sia – sia.
“Kamu,” Aku tidak sadar Bu Mika bicara dengan siapa sampai ada seseorang yang menyenggol mejaku. “Iya, kamu.” Aku mengangguk saat tau kalau aku yang dimaksud beliau. “Kamu kalau udah tau jangan malah diam! Harusnya ngomong dari awal! Masalahnya pasti langsung selesai.” Beliau tidak menyebut namaku. Aku memang tidak pernah berurusan dengan guru. Wajar jika beliau tidak tau namaku. Tidak seperti murid yang bisa menghapal seluruh nama guru, guru sendiri tidak bisa menghapal semua nama murid, karena perbandingannya sangat jauh. Jarang – jarang guru berganti, sedangkan murid selalu berganti tiap tahun. Padahal aku tau alasan itu, tapi sedih juga hanya namaku yang tidak beliau ketahui dari semua murid yang disebutkan.