NovelToon NovelToon
Kembaranku Penggantiku

Kembaranku Penggantiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Bullying dan Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Nadira selalu hidup dalam bayang-bayang saudara kembarnya, Nayla. Wajah mereka identik, tetapi nasib mereka sangat berbeda. Nayla adalah anak kebanggaan keluarga—cantik, pintar, dan selalu diprioritaskan. Sementara Nadira dianggap cadangan, seseorang yang hanya dipanggil saat keluarga membutuhkan “pengganti.”
Semua berubah ketika Nayla mengalami kecelakaan misterius sehari sebelum pertunangannya dengan Arsen Wijaya, pewaris keluarga kaya yang dingin dan sulit ditebak. Demi menjaga nama baik keluarga dan kontrak bisnis miliaran rupiah, Nadira dipaksa menyamar menjadi Nayla sampai kondisi saudara kembarnya pulih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 — Kamar yang Tidak Pernah Diketahui Siapa Pun

“Kamar rahasia?”

Suara Nayla langsung mengecil.

Hujan masih turun deras.

Sirine polisi semakin dekat.

Namun semua orang mendadak diam saat mendengar kalimat itu.

Arsen langsung menoleh tajam ke anak buahnya.

“Di mana?”

“Bawah rumah.”

Pria itu masih terlihat pucat.

“Ada lorong tersembunyi di belakang gudang lama.”

Deg.

Jantung Nadira langsung berdetak lebih cepat.

Entah kenapa…

Ia punya firasat buruk.

Firasat yang membuat perutnya terasa mual.

“Aku mau lihat.”

Arsen langsung menoleh.

“Nggak.”

“Aku bilang aku mau lihat.”

Tatapan Nadira keras sekarang.

Meski matanya masih sembab karena menangis.

Arsen mengembuskan napas pelan.

Dan lagi-lagi…

Ia kalah kalau menyangkut Nadira.

Mereka turun ke lantai bawah rumah.

Lorong tua itu lembap dan gelap.

Bau debu bercampur kayu lapuk memenuhi udara.

Damar berjalan paling depan sambil memegang pistol.

Meski bahunya masih berdarah, pria itu tetap memaksa ikut.

“Lo harusnya diobatin dulu,” omel Nayla pelan.

Damar melirik sekilas.

“Gue belum mati.”

“Kalau mati juga nyusahin.”

Pria itu malah tersenyum tipis.

Dan Nayla langsung memalingkan wajah salah tingkah.

Namun suasana kembali tegang saat mereka sampai di gudang tua belakang rumah.

Salah satu lemari besar sudah digeser.

Memperlihatkan pintu besi kecil yang tersembunyi di balik dinding.

Deg.

Papanya langsung membeku.

“Tidak mungkin…”

Tatapan Arsen langsung tajam.

“Anda tahu tempat ini?”

Papanya terlihat pucat.

“Aku… nggak pernah masuk.”

“Jadi Papa tahu ada tempat ini?”

Tak ada jawaban.

Dan Nadira mulai muak dengan semua diam itu.

Pintu besi dibuka perlahan.

Krieeettt…

Suara gesekan besi membuat bulu kuduk Nadira berdiri.

Di balik pintu itu ada tangga sempit menuju bawah tanah.

Gelap.

Sunyi.

Menyesakkan.

“Aneh…”

Mamannya memeluk tubuh sendiri.

“Dulu rumah ini nggak punya basement.”

“Berarti dibuat diam-diam,” gumam Arsen.

Mereka turun perlahan.

Dan semakin ke bawah…

Udara terasa makin dingin.

Sampai akhirnya—

Mereka tiba di sebuah ruangan kecil.

Lampu redup tua masih menyala samar.

Dan semua orang langsung membeku.

Karena ruangan itu…

Bukan gudang.

Melainkan kamar anak kecil.

Deg.

Napas Nadira langsung tercekat.

Ada tempat tidur kecil.

Rak buku.

Mainan.

Dan gambar-gambar crayon di dinding.

Seolah seseorang pernah tinggal di sini.

Lama.

“Ya Tuhan…”

Mamannya langsung menutup mulut sambil menangis.

Sedangkan Nayla merinding hebat.

“Ada anak yang tinggal di sini?”

Namun yang paling membuat Nadira membeku—

Adalah satu foto kecil di meja.

Foto dirinya waktu kecil.

Bersama Nayla.

Dan adik mereka.

Tubuh Nadira langsung lemas.

Ia berjalan mendekat perlahan.

Tangannya gemetar saat mengambil foto itu.

Di belakang foto tertulis dengan tulisan tangan kecil:

Untuk Kak Nadira dan Kak Nayla.

Air mata Nadira langsung jatuh.

“Ini…”

Suara itu nyaris hilang.

Arsen mendekat pelan.

Dan ekspresi pria itu langsung berubah serius saat melihat sekeliling ruangan.

“Ada seseorang yang tinggal di sini cukup lama.”

Tatapan Damar menyapu ruangan.

“Dan tempat ini masih dirawat.”

Deg.

Semua langsung sadar.

Debu di ruangan ini jauh lebih sedikit dibanding bagian rumah lain.

Artinya—

Tempat ini masih sering dipakai.

“Tunggu…”

Nayla menunjuk lemari kecil di sudut ruangan.

“Di sana.”

Arsen membukanya perlahan.

Dan wajah semua orang langsung pucat.

Karena isi lemari itu—

Foto-foto Nadira.

Banyak sekali.

Foto Nadira sekolah.

Foto Nadira di kampus.

Foto Nadira masuk café.

Bahkan foto Nadira beberapa hari lalu bersama Arsen.

Deg.

Tubuh Nadira langsung dingin total.

“Apa…”

Mamannya mulai menangis ketakutan.

“Siapa yang ambil semua ini…”

Namun Arsen langsung tahu jawabannya.

“Adrian.”

Tatapannya menggelap.

“Dia ngawasin Nadira selama ini.”

Bulu kuduk Nadira langsung berdiri.

Karena itu berarti…

Selama bertahun-tahun seseorang memperhatikannya diam-diam.

“Ini nggak normal…”

Nayla memeluk dirinya sendiri.

Sedangkan Damar menemukan sesuatu di bawah tempat tidur.

“Sini.”

Semua langsung mendekat.

Sebuah kotak kayu tua.

Terkunci.

Arsen mencoba membukanya.

Namun gagal.

“Geser.”

Damar langsung menembaknya sekali.

BRAK!

Kotak itu terbuka.

Dan suasana langsung berubah sunyi.

Karena di dalamnya…

Ada tumpukan surat.

Surat dengan tulisan tangan Adrian.

Dan semuanya ditujukan pada satu nama.

Nadira.

Jantung Nadira langsung berdetak kacau.

“Aku nggak mau baca…”

Namun tangannya tetap mengambil salah satu surat.

Tangannya gemetar saat membuka lipatan kertas tua itu.

Isinya:

Nadira kecil pasti sudah tumbuh cantik sekarang.

Maaf karena Ayah cuma bisa lihat kamu dari jauh.

Ayah janji suatu hari bakal bawa kamu pergi dari keluarga itu.

Air mata Nadira langsung jatuh ke kertas.

Tangannya dingin.

Dan rasa sesak di dadanya makin besar.

“Dia gila…”

Bisik Nayla pelan.

Namun Arsen justru terlihat makin tegang.

Karena ada sesuatu yang tidak cocok.

“Kalau Adrian cuma ngawasin Nadira…”

Tatapannya menyapu ruangan.

“…kenapa ada kamar anak di sini?”

Deg.

Semua langsung diam.

Dan detik berikutnya—

Nadira sadar sesuatu.

Tempat tidur kecil itu.

Bukan tempat tidur lama.

Kasurnya masih cukup baru.

Tubuhnya langsung merinding.

“Arsen…”

“Hm?”

“Ada orang lain tinggal di sini.”

Sunyi.

Lalu—

Suara langkah kaki terdengar dari lorong atas.

Semua langsung menegang.

Damar refleks mengangkat pistol.

“Siapa di sana?!”

Tak ada jawaban.

Namun suara langkah itu makin cepat.

Lalu—

BRAKK!

Pintu basement mendadak tertutup keras dari atas.

Lampu langsung mati.

Mamannya menjerit.

Nayla refleks memegang tangan Damar.

Sedangkan Nadira langsung membeku saat mendengar suara napas seseorang.

Dekat.

Sangat dekat.

“Diam.”

Suara Arsen rendah.

Tangannya langsung menarik Nadira ke belakang tubuhnya.

Ruangan gelap total sekarang.

Hanya ada cahaya samar dari senter Damar.

Dan saat cahaya itu menyapu sudut ruangan—

Seseorang berdiri di sana.

Deg.

Anak laki-laki.

Sekitar umur tujuh belas atau delapan belas tahun.

Tubuh kurus.

Wajah pucat.

Dan mata tajam yang langsung menatap Nadira tanpa berkedip.

Semua membeku.

Karena wajah anak itu…

Sangat mirip Nadira.

Air mata Nadira langsung jatuh.

Tubuhnya gemetar hebat.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin…

“Kak…”

Suara anak itu pelan.

Parau.

Seolah lama tidak bicara.

“Kak Nadira?”

Dunia Nadira runtuh saat itu juga.

Mamannya langsung menangis histeris.

Papanya mundur satu langkah dengan wajah pucat total.

Sedangkan Nayla menutup mulutnya shock.

“Ya Tuhan…”

Anak laki-laki itu terlihat bingung melihat semua orang.

Namun matanya tetap tertuju pada Nadira.

Dan detik berikutnya—

Ia tersenyum kecil.

Senyum yang langsung membuat Nadira hancur.

Karena ia ingat senyum itu.

Senyum adiknya.

“Raka…”

Suara Nadira pecah.

Tubuhnya langsung lemas.

Dan anak itu membeku mendengar namanya dipanggil.

“Aku tahu…”

Air matanya mulai jatuh.

“…Kakak pasti bakal datang.”

Deg.

Tangisan Nadira langsung pecah total.

Ia berlari memeluk adiknya erat.

Sangat erat.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Bagian kosong dalam dirinya terasa kembali.

“Aku pikir kamu mati…”

Tangis Nadira tidak berhenti.

Tubuh Raka sedikit kaku.

Seolah belum terbiasa dipeluk.

Namun perlahan…

Tangannya membalas pelukan itu.

“Aku juga pikir Kakak nggak bakal cari aku.”

Kalimat itu langsung menusuk dada Nadira.

“Maaf…”

Tangisnya makin pecah.

“Maaf aku ninggalin kamu…”

“Kakak nggak ninggalin aku.”

Suara Raka pelan.

Namun cukup membuat semua orang diam.

Tatapannya perlahan bergeser ke arah papanya.

Dan suasana mendadak berubah dingin.

“Papa yang ninggalin aku.”

Deg.

Papanya langsung terlihat hancur.

Sedangkan Nadira mulai sadar

Meski Raka hidup…

Bukan berarti semuanya akan langsung baik-baik saja.

Karena anak itu tumbuh sendirian.

Disembunyikan.

Dan dibesarkan di tempat seperti ini.

“Siapa yang rawat kamu selama ini?”

tanya Arsen pelan.

Raka menoleh perlahan.

Dan jawabannya membuat semua merinding.

“Om Adrian.”

Sunyi.

“Apa…?”

Raka mengangguk kecil.

“Dia bilang keluarga kita jahat.”

Tatapannya kembali ke Nadira.

“Tapi dia selalu bilang Kak Nadira pasti baik.”

Air mata Nadira jatuh lagi.

Karena tiba-tiba…

Ia tidak tahu harus membenci Adrian sepenuhnya atau tidak.

Pria itu monster.

Namun pria itu juga menyelamatkan adiknya.

Dan kenyataan itu terasa terlalu rumit untuk diterima.

Namun sebelum siapa pun bicara lagi—

Suara tembakan terdengar dari atas rumah.

DUARR!

Semua langsung tersentak.

Damar langsung menoleh ke arah tangga.

“Polisi bukan satu-satunya yang datang.”

Deg.

Dan detik berikutnya—

Suara seseorang terdengar dari atas basement.

Suara pria.

Dingin.

Tenang.

Dan langsung membuat Arsen membeku.

“Arsen.”

Jantung Nadira langsung jatuh.

Karena ia mengenali suara itu.

Ayah Arsen belum pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!