Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Yang Sudah Pernah Mati
“…adalah satu-satunya yang berhasil hidup kembali.”
Kalimat Founder membuat seluruh ruangan terasa membeku.
Nayra bahkan lupa cara bernapas beberapa detik.
Hidup kembali?
Apa maksudnya itu?
Tangannya mulai dingin.
Kepalanya berdetak sakit.
Dan potongan-potongan ingatan aneh terus bermunculan seperti pecahan kaca.
Suara monitor rumah sakit.
Lampu operasi.
Tangisan seorang wanita.
Lalu suara seseorang—
“Detak jantung berhenti.”
DUK.
Jantung Nayra langsung berdebar keras.
“Tidak…”
Founder memperhatikannya dengan tatapan puas.
“Tubuhmu mulai mengingat.”
“Aku nggak ngerti…”
“Kamu memang tidak seharusnya mengingat.”
Zavian langsung berdiri di depan Nayra lagi.
“Cukup.”
Founder tersenyum kecil.
“Kamu terlalu protektif.”
“Aku muak dengar omonganmu.”
“Kamu selalu begitu.”
Tatapan Founder berubah tipis.
“Persis seperti kakakmu dulu.”
Rahang Zavian langsung mengeras.
Player 01 tetap diam di samping Founder.
Kosong.
Seolah semua pembicaraan ini tidak ada hubungannya dengannya.
Dan itu justru terasa paling menyakitkan.
—
“Jelaskan sekarang.”
Suara Nayra akhirnya keluar lagi.
Bergetar.
Tapi penuh amarah.
“Apa maksudnya aku hidup kembali?”
Founder berjalan pelan mendekati layar besar di tengah ruangan.
Sekali sentuh, layar langsung menyala.
Dan muncul rekaman lama.
Tanggalnya…
dua belas tahun lalu.
Nayra langsung menegang.
Karena yang terlihat di layar adalah seorang anak kecil.
Dirinya sendiri.
Tubuh kecil itu terbaring di ranjang rumah sakit.
Penuh kabel.
Pucat.
Tidak bergerak.
Dan suara monitor—
TIIIIIIIIIT.
Garis lurus.
Jantung berhenti.
Nayra langsung mundur.
“Enggak…”
Air matanya jatuh tanpa sadar.
“Matikan…”
Tapi Founder tidak peduli.
“Subject 07 meninggal pada usia delapan tahun.”
Zavian langsung menatap layar itu tajam.
Sementara Arsen mengepalkan tangannya keras.
Nayra menggeleng cepat.
“Itu bukan aku…”
“Itu dirimu.”
Founder berbicara tenang.
“Tubuhmu gagal bertahan dalam fase eksperimen awal.”
Lalu layar berubah.
Ruangan laboratorium.
Orang-orang berjas putih.
Simbol Project Lazarus di dinding.
Dan sebuah tabung hitam besar.
“Kami mencoba sesuatu yang mustahil.”
Tatapan Founder perlahan berubah penuh kebanggaan.
“Kami membawa Subject 07 kembali.”
Deg.
Seluruh tubuh Nayra gemetar.
Ia tidak tahu mana yang lebih mengerikan.
Fakta bahwa ia pernah mati.
Atau fakta bahwa orang-orang ini… menghidupkannya lagi.
—
“Aku… bukan manusia?”
Pertanyaan itu keluar begitu pelan.
Begitu rapuh.
Dan Zavian langsung
membencinya.
Karena Nayra terdengar seperti seseorang yang hampir kehilangan dirinya sendiri.
“Kamu manusia,” katanya cepat.
Founder tertawa kecil.
“Secara teknis? Tidak sepenuhnya.”
DUAK!
Peluru Zavian menghantam layar dekat kepala Founder.
Percikan api beterbangan.
“Mulutmu bakal bikin aku bunuh kamu.”
Founder bahkan tidak berkedip.
“Kemarahan tidak akan mengubah fakta.”
“Fakta versi orang gila.”
Arsen akhirnya bicara dingin.
Founder menoleh ke arahnya.
“Subject Alpha.”
Tatapannya menyipit tipis.
“Kamu kegagalan terbaik kami.”
Arsen menyeringai kecil.
“Dan aku bangga soal itu.”
—
Anak kecil Subject 07 asli berdiri diam di samping Nayra.
Tatapannya terus mengarah ke layar.
Tidak ada emosi.
Tidak ada sedih.
Tidak ada takut.
Dan Nayra mendadak sadar.
Anak itu benar-benar tidak bisa merasakan semua yang ia rasakan sekarang.
Karena semua emosi itu…
ada di dirinya.
“Kenapa…” suara Nayra pecah. “Kenapa kalian melakukan semua ini…”
Founder memandangnya lurus.
“Karena kematian adalah kelemahan manusia.”
“Tapi itu normal!”
“Normal bukan berarti benar.”
Tatapannya dingin sekali.
“Kami hanya ingin menciptakan masa depan.”
“Dengan membunuh orang?!”
“Pengorbanan kecil.”
Nayra langsung muak.
“Kalian monster.”
Founder tersenyum tipis.
“Dan monster sering kali mengubah dunia.”
—
Tiba-tiba layar berubah lagi.
Kali ini memperlihatkan rekaman lain.
Seorang anak laki-laki.
Rambut hitam.
Tatapan tajam.
Zavian langsung membeku.
“Kakakku…”
Founder mengangguk kecil.
“Player 01 sebelum rekonstruksi.”
Rekaman itu menunjukkan kakak Zavian sedang bertarung brutal di arena permainan lama.
Darah.
Teriakan.
Mayat.
Dan ekspresi ketakutan di wajah remaja itu perlahan berubah kosong dari waktu ke waktu.
“Tidak…” bisik Zavian.
Founder berbicara pelan.
“Dia peserta paling berbakat yang pernah kami punya.”
“Berhenti…”
“Tapi dia gagal pada misi terakhirnya.”
Layar berubah lagi.
Dan Nayra langsung membeku.
Karena di rekaman itu—
ada dirinya.
Versi kecil.
Berlari sambil menangis di lorong laboratorium.
Sementara alarm berbunyi keras.
Dan seorang remaja laki-laki menarik tangannya.
Kakak Zavian.
“Kita hampir keluar!” teriaknya.
Lalu—
DUAK!
Peluru menembus dadanya.
Nayra langsung menjerit kecil.
Ingatan itu kembali begitu saja.
Darah.
Tubuh jatuh.
Tangan yang masih mencoba melindunginya.
Dan suara terakhir—
“Jangan takut…”
Air mata Nayra langsung pecah deras.
“Itu dia…”
Zavian menatap layar tanpa bergerak.
Wajahnya pucat.
Tangannya gemetar.
“Kakakku…”
Founder berbicara tenang.
“Dia mengkhianati organisasi demi menyelamatkan Subject 07.”
Tatapannya berubah dingin.
“Dan pengkhianat harus dihukum.”
—
Ruangan mendadak hening.
Sangat hening.
Nayra tidak bisa berhenti menangis.
Ingatan itu terlalu nyata sekarang.
Dan rasa bersalah langsung menghantamnya.
“Kalau bukan karena aku…”
“Itu bukan salahmu.”
Suara Zavian langsung memotong.
Tapi Nayra menggeleng keras.
“Dia mati karena lindungin aku!”
“Karena dia memilih itu!”
“Kalau aku nggak ada—”
“NAYRA!”
Suara Zavian menggema keras di ruangan.
Semua langsung diam.
Cowok itu menatap Nayra dengan napas berat.
“Jangan ngomong kayak gitu lagi.”
Tatapannya tajam.
Tapi penuh sesuatu yang lain.
Sesuatu yang selama ini terus ia tahan.
“Kakakku nggak pernah nyesel nyelamatin kamu.”
Deg.
Nayra membeku.
Zavian memalingkan wajah sebentar sebelum melanjutkan pelan—
“Dan aku juga nggak.”
Jantung Nayra langsung berdetak aneh.
Di tengah semua kekacauan ini…
kenapa kalimat itu terasa begitu berbeda?
—
Founder memperhatikan mereka dengan tenang.
Lalu menghela napas kecil.
“Hubungan manusia memang menarik.”
Tatapannya kembali ke Nayra.
“Itu sebabnya kamu spesial.”
“Aku nggak mau jadi spesial.”
“Kamu tidak punya pilihan.”
Founder berjalan mendekat perlahan.
“Tubuhmu adalah kunci Project Lazarus.”
Anak kecil Subject 07 asli langsung menatap Founder.
Tatapannya berubah dingin.
“Aku benci dia.”
Founder tersenyum tipis.
“Dan aku menciptakanmu.”
“Makanya aku benci.”
Hening sesaat.
Lalu untuk pertama kalinya…
Founder terlihat sedikit terganggu.
—
Alarm baru tiba-tiba berbunyi.
Lebih keras dari sebelumnya.
Lampu berubah merah total.
Dan suara sistem menggema—
CORE FAILURE DETECTED
Arsen langsung menoleh cepat ke layar samping.
“Sial.”
“Apa lagi?!” Nayra mulai stres.
“Server inti overload.”
“Artinya?”
“Tempat ini bakal meledak lebih cepat.”
Timer besar muncul di semua layar:
00:15:22
Lima belas menit.
“Aku resmi capek,” gumam Nayra lemas.
“Belum boleh capek,” kata Arsen.
“Kok hidup makin lama makin horror sih…”
“Karena kita belum mati.”
“Itu nggak membantu!”
—
Founder tetap tenang.
Bahkan terlalu tenang.
“Kalian tidak akan keluar hidup-hidup.”
Zavian langsung mengangkat pistol lagi.
“Kamu terlalu banyak ngomong.”
“Tembak saja.”
Founder membuka kedua tangannya.
“Kalau itu membuatmu merasa lebih baik.”
Tatapan Zavian berubah gelap.
Dan untuk sesaat…
Nayra benar-benar takut dia bakal menarik pelatuk.
Tapi Player 01 tiba-tiba bicara.
“Jangan.”
Hening.
Zavian menatap kakaknya.
“Apa?”
Player 01 memandangnya lurus.
“Kalau dia mati sekarang…”
Tatapannya turun tipis.
“…semua sistem penghancur otomatis aktif penuh.”
Arsen langsung mengumpat.
“Tentu aja ada jebakan.”
Founder tersenyum kecil.
“Kalian mulai mengerti.”
Nayra langsung kesal.
“Kenapa semua orang jahat suka bikin sistem ribet?!”
Tak ada yang menjawab.
Karena… iya juga.
—
Tiba-tiba Subject 07 asli berjalan maju pelan.
Tatapannya ke Founder kosong.
“Kamu bilang aku sempurna.”
Founder mengangguk kecil.
“Kamu memang sempurna.”
“Kalau begitu…”
Anak kecil itu memiringkan kepala sedikit.
“…kenapa aku merasa kosong?”
Sunyi.
Untuk pertama kalinya…
Founder tidak langsung menjawab.
Dan Nayra bisa melihat sesuatu di mata anak itu sekarang.
Bukan emosi penuh.
Tapi… rasa kehilangan.
Samar.
Kecil.
Namun ada.
“Aku tidak suka perasaan ini,” bisik anak itu.
Nayra langsung menatapnya.
Karena ia tahu perasaan itu.
Kesepian.
Kebingungan.
Takut.
Hal-hal yang dulu ia rasakan sendirian.
Dan tiba-tiba Nayra sadar.
Anak itu bukan monster.
Dia cuma… rusak.
Sama seperti mereka semua.
—
“Hey.”
Nayra melangkah mendekat perlahan.
Semua langsung menoleh.
“Nayra, jangan—” mulai Zavian.
Tapi Nayra tetap maju.
Ia berhenti tepat di depan Subject 07 asli.
Anak kecil itu menatapnya diam.
“Aku nggak tahu kenapa kita
jadi kayak gini,” kata Nayra pelan.
“Tapi…”
Tangannya gemetar sedikit.
“…aku nggak mau ninggalin kamu sendirian lagi.”
Deg.
Anak itu membeku.
Dan untuk pertama kalinya…
matanya terlihat hidup.
Sedikit.
Sangat sedikit.
“Aneh,” bisiknya pelan.
“Apa?”
“Dadaku sakit.”
Nayra tersenyum kecil sedih.
“Itu namanya perasaan.”
Hening.
Lalu—
DUARRR!
Ledakan besar mengguncang seluruh ruangan.
Lantai retak.
Lampu padam separuh.
Dan dari lorong luar terdengar suara langkah.
Banyak.
Pasukan organisasi datang lagi.
Arsen langsung memutar pistolnya.
“Oke.”
Tatapannya tajam.
“Sekarang kita bunuh siapa dulu?”