Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15 fitnah
Hantaman berita dari Jefri seketika meruntuhkan keheningan intim yang baru saja tercipta di dalam ruang ganti privat tersebut.
Devano langsung menarik kembali tubuhnya, menjauhkan wajah tampannya dari Alana. Oksigen dingin seketika menyerbu rongga dada Alana, menggantikan hawa panas yang sempat mengunci kesadarannya. Dengan gerakan yang sangat efisien dan tenang, Devano kembali menduduki kursi roda elektriknya, merapikan letak kemeja hitamnya seolah tidak ada badai emosi yang baru saja mengguncang tubuh kekarnya.
"Masuk, Jefri," perintah Devano. Suaranya terdengar datar, namun ada nada rendah yang bergetar tajam, menandakan bahwa sang tirani siap menghancurkan siapa saja yang mengusik ketenangannya.
Pintu ganda terbuka lebar. Jefri melangkah masuk dengan wajah yang sangat tegang, menyerahkan sebuah tablet digital yang layarnya menyala terang menampilkan tajuk utama berita kilat nasional.
Alana melangkah keluar dari ruang ganti dengan perlahan, jemarinya meremas kain beludru hitam gaun malamnya yang terasa dingin. Matanya melirik ke arah layar tablet yang kini dipegang oleh Devano. Di sana, foto wajah ayahnya, Herman Wijaya, bersanding dengan logo Adhitama Group di bawah tajuk berita yang sangat provokatif: “Skandal Pencucian Uang: Apakah Pernikahan Kilat Sang CEO Hanyalah Kedok Pengalihan Aset?”
"Julian Mahendra merilis dokumen mutasi rekening palsu dari perusahaan Wijaya Corps ke salah satu anak perusahaan kita di luar negeri, Tuan," lapor Jefri dengan suara cepat namun teratur. "Media massa langsung menggoreng berita ini. Saham Adhitama Group mengalami penurunan sebesar tiga persen dalam waktu tiga puluh menit terakhir. Dewan komisaris panik dan terus menghubungi ruang sekretariat."
Alana merasakan seluruh persendiannya melemas. Julian Mahendra benar-benar licik. Pria itu tahu bahwa Siska baru saja ditumpas dan keluarga Wijaya berada di ambang kehancuran finansial. Julian memanfaatkan celah tersebut untuk merekayasa cerita bahwa Devano sengaja menikahi Alana demi melegalkan dana hitam dan menutupi kebangkrutan Wijaya Corps. Ini bukan sekadar serangan bisnis, ini adalah pembunuhan karakter yang terstruktur sempurna.
"T-Tuan Devano... saya tidak tahu apa-apa tentang ini," cicit Alana, suaranya bergetar hebat di tengah ruangan yang mendadak terasa mencekam. Ia menatap Devano dengan pandangan memelas, takut jika pria itu akan berpikir bahwa dirinya adalah bagian dari rencana busuk Julian. "Saya bersumpah, ayah saya tidak memiliki kemampuan untuk melakukan transaksi sebesar itu."
Devano tidak langsung menjawab. Pria itu justru terkekeh rendah. Suara tawa yang mengalun di dalam ruangan luas itu terdengar sangat mengerikan, sebuah melodi kegelapan yang membuat bulu kuduk Alana meremang. Tatapan mata elang Devano yang sehitam malam menatap layar tablet dengan binar kepuasan yang aneh.
"Julian... kau benar-benar tidak sabar untuk menggali liang kuburmu sendiri," kata Devano, mengabaikan kepanikan Alana. Pria itu melempar tablet digital tersebut ke atas meja kerja dengan bunyi benturan yang keras.
Devano memutar kursi rodanya menghadap Jefri. "Apakah tim hukum kita sudah memegang dokumen asli audit forensik dari Wijaya Corps yang kita sita dua hari lalu?"
"Sudah, Tuan Besar. Semuanya aman di dalam brankas rahasia," jawab Jefri patuh.
"Bagus. Biarkan media terus menaikkan berita palsu itu hingga mencapai puncak tren malam ini," perintah Devano dengan seringai sinis yang sangat tampan namun mematikan. "Jangan lakukan klarifikasi apa pun sekarang. Biarkan Julian mengira dia telah berhasil menjatuhkanku ke titik terendah. Malam ini, di jamuan makan malam asosiasi pengusaha, aku sendiri yang akan meremukkan kesombongannya di depan seluruh relasi bisnis internasional."
Jefri menundukkan kepala dalam-dalam. "Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan tim pengamanan ekstra untuk jamuan malam ini."
"Dan satu lagi," tambah Devano, matanya kembali melirik lambat ke arah Alana yang masih berdiri mematung di sudut ruangan. "Pastikan seluruh awak media mendapatkan akses masuk ke aula utama jamuan. Aku ingin seluruh dunia menyaksikan bagaimana Mahendra Group runtuh dalam waktu satu malam."
Setelah Jefri keluar dan kembali mengunci pintu dari luar, atmosfer di dalam ruangan itu kembali berubah menjadi medan magnet yang sarat akan ketegangan psikologis.
Alana menatap Devano yang kini perlahan bangkit berdiri dari kursi rodanya. Postur tubuh tinggi tegap pria itu tampak begitu mengintimidasi di bawah pendar lampu ruangan yang mulai temaram. Devano melangkah maju, derap langkah kakinya yang berat terdengar konstan di atas lantai marmer, memotong jarak di antara mereka hingga tidak ada lagi ruang kosong yang tersisa.
Alana terpaksa mundur hingga punggungnya menempel keras pada dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota di luar. Jantungnya berdegup brutal, berpacu dengan rasa takut sekaligus getaran aneh yang selalu muncul setiap kali pria ini mempersempit jarak di antara tubuh mereka.
Brak!
Devano menumpukan tangan kanannya di dinding tepat di samping kepala Alana, mencondongkan tubuh kekarnya yang besar hingga Alana bisa merasakan embusan napas hangat pria itu yang beraroma kayu cedar murni menerpa kulit wajahnya. Jarak wajah mereka begitu dekat, menyisakan ketegangan yang membakar seluruh sisa akal sehat Alana.
"Kau takut, Alana?" bisik Devano dengan suara serak yang sangat rendah dan seksi, tepat di depan bibir mungil Alana yang bergetar. Sepasang mata elangnya berkilat dengan kegilaan obsesi yang sangat pekat, mengunci seluruh pergerakan wanita di bawah kuasanya.
"Saya... saya takut Anda akan membuang saya karena masalah ini, Tuan," jawab Alana jujur, setetes air mata murni akhirnya lolos membasahi pipinya yang mulus. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata sang tirani. "Nama keluarga saya kembali menjadi beban untuk Anda. Saya tidak ingin menjadi penyebab kehancuran Anda."
Mendengar kalimat itu, sudut bibir Devano terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan dominasi mutlak. Jemari tangannya yang besar bergerak naik, mencengkeram rahang Alana dengan kekuatan yang pas, memaksa wajah cantik wanita itu semakin mendongak ke arahnya. Ibu jarinya mengusap air mata di pipi Alana dengan gerakan yang kasar namun sarat akan klaim kepemilikan yang absolut.
"Membuangmu?" kata Devano, suaranya mengalun berbahaya. "Jangan pernah bermimpi untuk lepas dari sisiku, Alana. Kau adalah properti yang sudah kutandai. Masalah yang dibawa oleh keluargamu tidak akan pernah bisa membuatku goyah, karena akulah yang memegang kendali atas hidup dan mati mereka."
Devano memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan, mengalirkan sensasi berdebar yang membuat lutut Alana terasa lemas tak berdaya. "Malam ini, kau akan berdiri di sampingku dengan gaun hitam ini dan kalung safir ini. Kau akan menjadi saksi bagaimana aku menghancurkan pria yang berani melirikmu dan mencoba memfitnah kepemilikanku. Tunjukkan pada dunia bahwa kau hanya tunduk pada kuasaku, Alana."
Sebelum Alana sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk merespons, Devano membungkuk dan langsung membungkam bibir mungil Alana dalam sebuah ciuman yang lambat, penuh tekanan intim, dan menuntut kepatuhan total tanpa akhir. Alana hanya bisa pasrah, mencengkeram erat lengan kemeja Devano seiring dengan sisa kewarasannya yang terbakar habis di dalam sangkar emas sang tirani. Jamuan makan malam malam ini akan menjadi medan pertempuran berdarah, dan Alana telah dikunci sebagai hadiah utama yang tak akan pernah dilepaskan oleh Devano Adhitama.