Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HOW LONG I'VE BEEN HERE?
Angin Netherveil berhembus pelan melewati taman bunga hitam itu. Cahaya kecil dari kelopak-kelopak bunga beterbangan di udara seperti kunang-kunang gelap. Hyeana masih berdiri di depan Harvey dengan wajah memerah samar setelah tanpa sadar menyelipkan bunga tadi ke rambutnya.
Sementara Harvey…Masih menatapnya terlalu lama.
“Kenapa lihat aku begitu?” tanya Hyeana akhirnya gugup sendiri.
Harvey berkedip pelan seolah baru tersadar.
“Tidak apa-apa.”
“Itu jelas bukan tatapan ‘tidak apa-apa’…”
Sudut bibir Harvey naik tipis.
“Aku hanya berpikir.”
“Pikir apa?”
Harvey diam sebentar, lalu tatapan merahnya melembut.
“Kau benar-benar sangat suka tersenyum.”
Deg.
Wajah Hyeana langsung makin panas.
“Apa hubungannya…”
“Aku lebih suka melihatmu seperti ini.” Suara Harvey terlalu tenang saat mengatakan itu seolah itu fakta paling sederhana di dunia.
Hyeana langsung memalingkan wajah karena malu.
Namun detik berikutnya…tangannya tiba-tiba disentuh pelan.
Deg.
Hyeana refleks menoleh, Harvey sedang menggenggam tangannya perlahan, tangan Harvey dingin seperti biasa…tapi genggamannya lembut sekali.
“H-Harvey?”
“Ayo ikut aku.”
“Kita mau kemana lagi?”
Harvey tidak langsung menjawab, Ia hanya menarik Hyeana pelan keluar dari taman menuju jalan batu kecil di belakang istana.
Langit Netherveil malam itu dipenuhi cahaya perak samar. Kabut tipis bergerak di sekitar pepohonan hitam tinggi. Mereka berjalan cukup lama sampai akhirnya tiba di sebuah bukit kecil.
Dan saat Hyeana melihat pemandangan di depannya…Matanya langsung membesar.
“Waaah…”
Seluruh Veilstead terlihat dari atas sana. Istana besar bercahaya perak berdiri megah di tengah kegelapan Netherveil. Sungai-sungai cahaya mengalir di antara kota. Langit ungu gelap dipenuhi bintang bergerak perlahan seperti mimpi, cantik sekali.
Harvey memperhatikan reaksi Hyeana diam-diam lalu berjalan mendekat sampai berdiri di sampingnya.
“Aku sering datang ke sini dulu.”
“Ini tempat favoritmu?”
“Kurasa begitu.”
Hyeana tersenyum kecil.
“Aku mengerti kenapa kamu suka tempat ini.”
Angin dingin kembali berhembus pelan, untuk beberapa saat…Mereka hanya diam menikmati pemandangan itu bersama. Anehnya, suasana hening itu tidak terasa canggung sama sekali.
“Hyeana.”
“Hmm?”
“Kalau suatu hari nanti kau mengingat semuanya…”
Suara Harvey terdengar lebih pelan dari biasanya.
“Apa kau akan takut padaku?”
Hyeana langsung menoleh, tatapan Harvey masih lurus ke depan namun mata merah itu terlihat…gelisah.
Untuk pertama kalinya…Harvey terlihat takut menanyakan sesuatu yang membuat Hyeana menjadi sedikit bingung.
“Kenapa aku harus takut sama kamu?”
Harvey terdiam beberapa detik.
“Karena aku tidak baik.”
Jawaban itu membuat dada Hyeana terasa aneh karena cara Harvey mengatakannya terdengar seperti seseorang yang benar-benar percaya dirinya monster. Hyeana perlahan menggenggam balik tangan Harvey.
“Kalau kamu jahat…”
Harvey akhirnya menoleh pelan.
“Kamu nggak mungkin takut aku kesakitan sampai segitunya.”
Mata merah Harvey sedikit membesar, Hyeana menunduk malu-malu sebelum lanjut bicara kecil.
“Kamu juga nggak mungkin jagain aku terus…”
Angin malam bergerak lembut di sekitar mereka.
Lalu perlahan….Harvey mengangkat tangan satunya dan menyentuh kepala Hyeana pelan. Sentuhan itu terasa lembut sekali.
“Kau benar-benar tidak berubah.”
“Hah?”
Harvey langsung menggeleng kecil.
“Tidak apa-apa.”
Padahal di dalam hatinya…Harvey hampir merasa hancur karena rindu. Bahkan setelah kehilangan ingatannya… Hyeana masih tetap memilih percaya padanya lagi, itu lebih dari cukup untuk membuat Harvey ingin melindunginya selamanya.
Beberapa saat kemudian…Hyeana tiba-tiba duduk di rerumputan hitam bukit itu sambil memeluk lututnya. Harvey ikut duduk di sampingnya, jarak mereka dekat sekali sekarang, sangat dekat sampai bahu mereka bersentuhan samar.
“Harvey.”
“Hm.?”
“Di Veilstead…kamu selalu sesibuk ini?”
“Tidak.”
“Hah? Tapi semua orang kayak takut banget sama kamu.”
Harvey diam sebentar lalu menjawab santai.
“Mungkin karena aku sering menghancurkan sesuatu sejak dulu.”
“HARVEY.”
Sudut bibir Harvey naik tipis lagi.
Hyeana langsung menatapnya tidak percaya.
“Kamu sadar nggak sih itu bukan hal normal?!”
“Bukankah tadi kau juga melihat sendiri?”
“Itu malah lebih serem lagi!”
Harvey terkekeh kecil pelan dan Hyeana langsung membeku. Karena suara tawa Harvey…Bagus sekali. Sangat langka, terdengar lembut, dan terdengar sangat nyata. Harvey menoleh saat sadar Hyeana tiba-tiba diam.
“Kau kenapa?”
Hyeana cepat-cepat memalingkan wajah.
“Nggak ada.”
Namun ujung telinganya sudah merah total, Harvey memperhatikan itu beberapa detik. Lalu tanpa berkata apa-apa…Ia perlahan menyandarkan kepalanya ringan di atas kepala Hyeana.
Deg.
Tubuh Hyeana langsung menegang.
“H-Harvey?!”
“Diam sebentar.”
Suaranya rendah dan tenang.
“Aku ingin seperti ini sedikit lebih lama.”
Dan entah kenapa…Hyeana tidak sanggup menolak sama sekali.
Malam di bukit Veilstead itu berakhir jauh lebih tenang dari yang Hyeana bayangkan. Setelah cukup lama duduk bersama Harvey di bawah langit Netherveil, mereka akhirnya kembali ke istana.
Dan sejak malam itu…Hyeana mulai benar-benar terbiasa berada di sana. Pagi bersama Harvey. Berjalan di lorong istana. Makan malam bersama ibu Harvey. Membaca buku di perpustakaan Netherveil. Melihat Harvey diam-diam memperhatikannya dari jauh. Semuanya terasa begitu natural sampai Hyeana perlahan lupa kalau tempat itu sebenarnya bukan dunianya.
*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊
Pada suatu sore…Hyeana sedang duduk di ruang perpustakaan sambil membaca buku dunia manusia yang entah bagaimana ada di istana Netherveil.
Harvey duduk di seberangnya seperti biasa. Hyeana membalik halaman buku pelan lalu....
Deg.
Tangannya langsung berhenti, matanya membelalak.
“Ehhh.”
Harvey perlahan mengangkat tatapan dari bukunya.
“Hm.?”
Hyeana perlahan menoleh, wajahnya mulai pucat.
“Harvey…”
“Ada apa?”
“Aku…”
Deg.
“Aku belum pulang.”
“ASTAGA.” ucap Hyeana panik sampai buku di tangannya hampir jatuh.
“Aku udah berapa hari di sini?!”
“Beberapa hari.” jawab Harvey santai
“BEBERAPA HARI?!”
Hyeana langsung memegangi kepalanya sendiri.
“Kakakku pasti panik! Sekolahku juga! Temen-temenku juga.. ASTAGA HARVEY KENAPA AKU BARU INGET SEKARANG?!”
Harvey masih duduk tenang di tempatnya.
“Karena kau terlalu nyaman di sini.”
“ITU BUKAN WAKTUNYA NGOMONG GITU!”
Hyeana mulai mondar-mandir panik.
“Aku pasti dicariin polisi… terus kalau aku dianggap hilang gimana?!”
Harvey akhirnya berdiri perlahan.
“Aku bisa menjelaskannya.”
“HARVEY INI BUKAN HAL YANG BISA DIJELASIN.”
“Aku akan menghancurkan siapapun yang mengganggumu.”
“HARVEY!”
Harvey terdiam sebentar.
“Baiklah.” ucap Harvey pelan
Namun ekspresinya justru terlihat sedikit kecewa.
Karena kalau Hyeana panik begini…Artinya ia benar-benar harus kembali ke dunia manusia sekarang dan Harvey tidak suka itu, sangat tidak suka.
Hyeana masih sibuk panik sendiri sampai akhirnya…
Tok.
Pintu perpustakaan terbuka perlahan, Ibunya Harvey masuk sambil membawa cangkir teh hitam bercahaya.
“Ada apa? Aku bisa mendengar suara Hyeana sampai lorong luar.”
Hyeana langsung menoleh cepat.
“Ibu...!!”
Wanita itu berkedip pelan.
“Hmm?”
“Aku baru inget aku belum pulang beberapa hari!”
Beberapa detik hening. Lalu…“Oh.” Jawaban itu terlalu santai. Hyeana langsung membelalak.
“OH SAJA?!”
Ibunya Harvey malah tersenyum kecil.
“Kalau itu saja, tenanglah.”
“Hah…?”
“Aku sudah mengurusnya sejak hari pertama.”
Deg.
Hyeana berkedip bingung.
“Maksudnya bagaimana…?”
Wanita itu berjalan mendekat santai.
“Waktu di dunia manusia tidak berjalan sejak Harvey membawamu ke Veilstead.”
“Hah?” ucap Hyeana bingung sekali
Harvey yang berdiri di dekat jendela terlihat sudah tahu sejak awal, Hyeana menoleh cepat ke arahnya.
“KAMU TAHU?!”
Harvey hanya mengangguk kecil.
“Kenapa nggak bilang dari awal?!”
“Kau tidak bertanya.”
“HARVEY!”
Ibunya Harvey sampai tertawa kecil melihat kepanikan Hyeana.
“Kau tidak perlu khawatir. Saat kau kembali nanti.…”
Wanita itu menyentuh udara pelan, simbol sihir merah gelap langsung muncul di sekitar jemarinya.
“Duniamu masih berada di hari pertama saat Harvey membawamu ke sini.”
Hyeana langsung terdiam, otaknya seperti gagal memproses informasi itu.
“Jadi…” ucap Hyeana bingung
“Kau tidak benar-benar menghilang dari dunia manusia.” jawab ibu Harvey cepat
“…..”
“Hanya beberapa detik akan berlalu di sana.”
Sunyi beberapa saat, Lalu perlahan…Hyeana duduk lemas di sofa perpustakaan.
“Keluarga kalian serem banget.”
Ibunya Harvey tertawa kecil lagi, sementara Harvey…
diam-diam menghembuskan nafas lega. Karena untuk sesaat tadi…Ia benar-benar berpikir Hyeana akan pergi sekarang juga dan ia belum siap kehilangan kehangatan itu lagi.