NovelToon NovelToon
Obsession Of Jayden

Obsession Of Jayden

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:939
Nilai: 5
Nama Author: Alyssa Kim

Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.

​Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.

​Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Kontak Pertama dan Aroma Stroberi

​Dua jam pelajaran berikutnya terasa seperti neraka berjalan bagi Elleanor. Ia duduk dengan posisi tubuh yang sengaja dimiringkan 45 derajat menjauhi Jayden, menumpukan sikunya di atas meja sambil menopang dagu. Matanya menatap lurus ke papan tulis, berpura-pura fokus pada penjelasan Bu Ratna tentang sejarah kolonial, meski otaknya sama sekali tidak merekam satu kata pun.

​Bagaimana bisa fokus jika sumber masalah terbesar dalam hidupnya duduk hanya berjarak kurang dari setengah meter di sampingnya?

​Jayden sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda ingin membuka obrolan. Cowok itu menyandarkan punggungnya dengan santai, satu tangannya sesekali mencatat poin penting di buku, sementara netra hitamnya lebih sering melirik ke arah samping, menikmati ekspresi judes dan bibir Elle yang maju beberapa sentimeter karena kesal.

​"Elleanor," suara Bu Ratna tiba-tiba memecah keheningan kelas.

​Elle tersentak, langsung menegakkan tubuhnya. "I-iya, Bu?"

​"Tolong ambilkan tumpukan buku paket sejarah di ruang guru sekarang. Ibu lupa membawanya tadi," perintah Bu Ratna sambil menyerahkan selembar kartu izin keluar kelas.

​"Baik, Bu!" Elle menyahut dengan nada yang kelewat gembira. Baginya, ini adalah kesempatan emas untuk keluar dari zona intimidasi Jayden, walau hanya untuk sepuluh menit. Ia segera berdiri dan menyambar kartu izin tersebut.

​Namun, baru dua langkah Elle berjalan menuju pintu, sebuah suara berat dari belakang menghentikannya.

​"Biar saya yang bantu temani, Bu. Bukunya cukup berat kalau cuma dibawa sendiri," celetuk Jayden sambil berdiri dari kursinya dengan gerakan tenang.

​Elle memutar tubuhnya seketika, menatap Jayden dengan pandangan melotot seolah ingin menelan cowok itu hidup-hidup. "Gak usah! Gua kuat kok! Otot gua gede, tenang aja!" tolak Elle cepat sambil memamerkan lengan atasnya yang tentu saja sama sekali tidak terlihat berotot.

​Bu Ratna tersenyum maklum, mengabaikan protes Elle. "Ah, kebetulan kalau begitu, Jayden. Baguslah, silakan kalian berdua ambil bukunya."

​Elle hanya bisa mengumpat dalam hati saat melihat Jayden melangkah mendekatinya dengan seringai tipis yang sangat menyebalkan. Mereka berdua akhirnya keluar dari kelas, berjalan beriringan menyusuri koridor lantai dua yang sepi karena jam pelajaran masih berlangsung.

​"Lo bener-bener gak bisa biarin gua napas tenang semenit aja, ya?" semprot Elle begitu jarak mereka sudah cukup jauh dari ruang kelas.

​Jayden tetap berjalan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya. "Gua cuma menjalankan tugas dari guru, Elle. Jangan kegeeran."

​"Halah, alasan! Muka tembok kayak lo mana ada sejarahnya rajin bantuin guru kalau bukan karena ada niat terselubung!" cibir Elle tajam.

​Langkah kaki Jayden mendadak berhenti tepat di depan belokan koridor dekat gudang sekolah yang sepi. Karena tidak siap, Elle maju dua langkah sebelum akhirnya ikut berhenti dan berbalik menatap Jayden bingung. "Kenapa berhenti? Ruang gurunya kan masih di bawah—"

​Sret!

​Belum sempat Elle menyelesaikan kalimatnya, Jayden sudah maju dalam satu gerakan cepat. Tangan kanannya mencengkeram lembut pergelangan tangan Elle, menarik tubuh gadis itu masuk ke dalam lorong sempit di antara dinding koridor dan loker-loker tua yang sudah tidak terpakai.

​Bruk.

​Punggung Elle membentur loker besi dengan pelan, dan sedetik kemudian, ia sudah terkurung oleh tubuh tinggi tegap Jayden. Cowok itu menumpukan tangan kirinya pada loker di sebelah kepala Elle, mempersempit ruang gerak gadis itu hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.

​"J-Jayden! Mau ngapain lo?!" pekik Elle panik, debaran jantungnya mendadak berpacu gila-gilaan. Sifat barbarnya mendadak lumpuh saat mencium aroma parfum maskulin bercampur wangi mint yang begitu pekat dari tubuh Jayden.

​Jayden menundukkan wajahnya sedikit lagi, menatap intens ke arah bibir Elle yang sedikit terbuka sebelum mengunci sepasang manik mata gadis itu dengan tatapan yang begitu gelap dan posesif.

​"Gua cuma mau mastiin satu hal," bisik Jayden, suaranya mengalun sangat rendah dan serak, mengirimkan getaran aneh yang membuat seluruh tubuh Elle meremang.

​Tangan kanan Jayden yang bebas perlahan terangkat, jemari panjangnya bergerak lembut mengusap pipi Elle yang terasa halus, lalu beralih menyelipkan sejumput rambut panjang Elle ke belakang telinganya. Jayden memejamkan matanya sesaat, menghirup dalam-dalam aroma wangi stroberi yang menguar kuat dari rambut dan tubuh gadis di depannya.

​"Aroma ini..." gumam Jayden lirih, membuka matanya kembali dengan kilat kepemilikan yang semakin pekat. "Aroma ini yang bikin gua gak bisa tidur semalaman setelah lo pergi dari apartemen gua, Elleanor."

​Elle menelan ludahnya susah payah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk melawan. "Gua... gua gak peduli lo bisa tidur apa kagak! Lepasin gua, Muka Tembok! Kalau ada guru yang lewat gimana?!"

​"Gak bakal ada yang berani lewat sini kalau gua ada di sini," balas Jayden mutlak. Cengkeramannya di pergelangan tangan Elle sedikit melonggar, namun ia justru menggeser jemarinya ke bawah, menautkan jari-jarinya di sela-sela jari tangan Elle, menggenggamnya dengan begitu erat seolah enggan melepaskannya sampai kapan pun.

​"Lo itu milik gua, Elle. Makin lo berontak, makin gua pengen ngurung lo di tempat yang gak bisa dilihat sama siapa pun. Jadi, berhenti memancing sisi gila gua kalau lo masih mau sekolah dengan tenang," ancam Jayden rendah, namun ada nada memohon yang samar di balik ketegasannya.

​Elle terdiam, matanya menatap lekat ke dalam netra hitam Jayden. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat intimidasi kosong. Di balik topeng dingin sang ketua Vultures, ada sebuah badai obsesi yang begitu besar dan siap menghancurkan apa saja demi memilikinya. Dan entah mengapa, kesadaran itu justru membuat jantung Elle berdegup dengan ritme yang jauh lebih kacau dari sebelumnya.

1
Davina Aurora
lanjutt ka ceritanya seruu🤩🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!