Arvand Pratama hanyalah seorang guru honorer santai yang menjunjung tinggi prinsip "kerja minimal, damai maksimal". Namun, hidupnya yang tenang mendadak hancur ketika ia dijebak untuk menjadi wali kelas 12 F—kelas buangan paling brutal, berisi sekumpulan murid bermasalah yang dicap sebagai parasit sekolah tanpa masa depan.
Saat Arvand berniat melarikan diri dan mengundurkan diri, sebuah Sistem Mengajar Mutlak misterius mendadak aktif di kepalanya. Sistem ini memberinya pilihan ekstrem: terima misi menjinakkan kelas 12 F dengan imbalan uang melimpah dan kemampuan guru supranatural, atau menolak dan mati mendadak karena serangan jantung!
Terjebak di antara ancaman kematian sistem, janji manis kepala sekolah untuk dinikahkan dengan guru matematika yang cantik, dan keliaran murid-murid 12 F yang siap menguji kewarasannya, petualangan Arvand pun dimulai. Mampukah guru honorer bermodal sistem ini mengubah kumpulan "produk gagal" menjadi barisan murid terbaik, atau justru ia yang akan mati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Getar Kerinduan di Balik Layar Digital
Roda-roda besar BMW 7 Series itu menggelinding dengan sangat tenang, membelah aspal jalanan protokol kota yang mulai berpendar oleh siraman cahaya lampu merkuri dan papan reklame elektronik. Di dalam kabin sedan mewah yang kedap suara itu, suasana terasa begitu damai, hanya diisi oleh desisan halus pendingin udara dan alunan musik instrumental klasik yang mengalun tipis dari sistem pengeras suara premium bawaan kendaraan. Namun, ketenangan di dalam kabin tersebut berbanding terbalik dengan kecamuk emosi yang sedang melanda dada Ani Fitriani Aulia.
Gadis remaja itu sejak tadi terus memilin-milin ujung jilbab kaosnya dengan pandangan mata yang tidak tenang. Sesekali ia menoleh ke arah jendela samping, memandang takjub pada deretan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, lalu kembali menatap ke arah kakaknya, Arvand Pratama, yang sedang fokus mengendalikan kemudi berlapis kulit dengan satu tangan yang tampak begitu santai namun penuh wibawa.
"Mas Arvand..." panggil Ani dengan suara yang sedikit bergetar, memecah kesunyian di antara mereka berdua.
Arvand menolehkan kepalanya sekilas, memberikan seulas senyuman menenangkan yang selalu berhasil membuat adiknya merasa aman. "Iya, Ani? Ada apa? Kursinya kurang nyaman atau kamu merasa pusing karena belum terbiasa naik mobil seperti ini?"
Ani menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Mboten, Mas. Kursinya enak banget, empuk sampai rasanya Ani mau tertidur terus. Tapi... dada Ani rasanya sesak banget, Mas. Sesak karena saking senangnya, tapi juga ada rasa takut. Ini semua rasanya kayak mimpi di siang bolong. Ani... Ani mendadak kangen banget sama Ayah, Ibu, sama si bungsu Vina di kampung. Ani pengen ngabari mereka tentang berkah ini, Mas. Boleh mboten kalau Ani telepon mereka sekarang pakai hp-nya Ani?"
Arvand menghela napas panjang, sebuah kehangatan yang tulus menjalar di dalam dadanya mendengar penuturan polos sang adik. Ia tahu betul bagaimana rasanya memikul beban rindu dan tanggung jawab sebagai anak sulung yang harus merantau jauh demi mengubah nasib keluarga. Di kampung halaman mereka, di sebuah dusun terpencil di lereng pegunungan Wonosobo yang selalu diselimuti kabit tipit, Ayah mereka, Malik Pratama, hanyalah seorang buruh tani paruh baya yang tenaganya mulai digerogoti usia. Sementara Ibu mereka, Sintia Aulia, harus membanting tulang membantu perekonomian dengan berjualan gorengan dan sayur matang keliling kampung demi membiayai sekolah adik bungsu mereka yang masih kecil, Vina Talitha Qaireen.
"Tentu saja boleh, Ani. Kenapa harus minta izin segala? Mereka itu orang tua kita, berhak tahu kalau anak-anaknya di kota sekarang sudah hidup layak," jawab Arvand dengan nada suara yang mantap dan lembut. "Tapi, jangan pakai ponsel jadulmu itu. Sinyalnya sering timbul tenggelam di jalanan seperti ini. Pakai saja fasilitas telepon pintar yang ada di dasbor mobil ini. Mas sudah menyambungkan nomor kontak Ayah di sistem memori kendaraan."
Arvand mengulurkan tangan kirinya, menekan sebuah tombol digital di layar sentuh berukuran besar yang ada di tengah dasbor mewah BMW tersebut. Dalam hitungan detik, layar itu menampilkan proses panggilan keluar dengan nama "Ayah Malik Wonosobo". Suara nada sambung yang berat kini menggema di sekeliling kabin melalui sistem pengeras suara premium, membuat jantung Ani mendadak berdegup dua kali lebih cepat karena didera rasa haru yang luar biasa.
Tut... Tut... Tut...
"Halo? Assalamualaikum? Ini siapa ya? Kok nomornya bagus sekali, tidak ada nama kontaknya di hp bapak?"
Sebuah suara pria paruh baya yang terdengar sangat berat, serak, dan menyisakan rona kelelahan fisik yang amat dalam terdengar memenuhi seisi kabin mobil. Itu adalah suara Malik Pratama, sang ayah tercinta. Di latar belakang sambungan telepon, sayup-sayup terdengar suara riuh angin pegunungan dan suara gemercik air pancuran bambu yang sangat khas dengan atmosfer rumah kayu mereka di kampung.
Air mata Ani yang sejak tadi ditahannya sekuat tenaga langsung luruh seketika membasahi pipinya yang mulus begitu mendengar suara sang ayah. Suaranya tercekat di tenggorokan, membuat gadis remaja itu hanya bisa terisak kecil tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
"Halo? Waalaikumsalam, Ayah! Ini Ani, Ayah! Ini nomor telepon barunya Mas Arvand yang tersambung di... di mobil," ucap Ani akhirnya dengan suara yang terbata-bata dan bergetar hebat karena emosi yang membuncah.
"Lho? Ani? Kamu kenapa menangis, Nduk?! Ada apa di kota?! Jangan membuat Ayah jantungan sore-sore begini! Masmu si Arvand kenapa? Apa dia sakit? Atau... atau kalian diusir lagi dari kos-kosan karena terlambat bayar sewa?! Jujur sama Ayah, Nduk!" rentondong Malik Pratama dari seberang telepon dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat panik dan penuh kecemasan seorang kepala keluarga.
Mendengar kepanikan suaminya, Sintia Aulia, sang ibu yang rupanya sedang berada di dekat suaminya langsung merebut paksa ponsel jadul tersebut. "Halo, Ani?! Ini Ibu, Nduk! Kamu kenapa menangis sesenggukan begitu?! Bilang sama Ibu, ada masalah apa di sana? Jangan disembunyikan! Kalau memang bensin motor Masmu habis atau kalian tidak ada uang buat beli makan malam, bilang sekarang! Biar Ibu besok pagi-pagi sekali pergi ke pasar buat minjam uang ke juragan sayur untuk ditransfer ke kalian!"
Mendengar untaian kalimat penuh pengorbanan yang keluar dari mulut ibunya, air mata Arvand sendiri yang sedang menyetir tanpa sadar ikut menetes membasahi pipinya. Inilah esensi sejati dari sebuah keluarga miskin yang saling menyayangi; di saat mereka sendiri sedang kesusahan di kampung, hal pertama yang mereka pikirkan adalah bagaimana cara menyelamatkan anak-anak mereka yang sedang merantau di kota besar.
Arvand segera mengambil alih pembicaraan dengan menekan tombol mikrofon dasbor agar suaranya bisa terdengar lebih jelas dan bertenaga, memberikan ketenangan psikologis bagi kedua orang tuanya di seberang pulau.
"Ibu... Ayah... Ini Arvand. Tolong tenangkan pikiran Ibu dan Ayah dulu nggih. Alhamdulillah, Arvand dan Ani di sini dalam keadaan yang sangat sehat, sangat selamat, dan sama sekali tidak sedang kekurangan uang atau diusir dari kosan," potong Arvand dengan nada suara yang sangat tenang, lembut, dan penuh dengan aura kedewasaan yang matang.
Di seberang telepon, terdengar suara helaan napas lega yang sangat panjang dari Malik dan Sintia, disusul oleh suara langkah kaki kecil yang berlari mendekat. Itu adalah suara si bungsu yang baru berusia sembilan tahun, Vina Talitha Qaireen.
"Mbak Ani?! Mas Arvand?! Ini Vina! Vina kangen banget sama Mbak Ani! Mbak Ani di kota punya mainan bagus mboten buat Vina?!" seru suara cilik yang sangat melengking, polos, dan penuh keceriaan khas anak-anak, sedikit mencairkan ketegangan emosional yang sempat menyelimuti kabin.
"Iya, Vina sayang... Mas Arvand sama Mbak Ani juga kangen banget sama Vina. Nanti Mas belikan mainan yang paling bagus dan paling besar buat Vina nggih," jawab Arvand sambil tersenyum lebar menahan haru.
"Ayah, Ibu... tolong dengarkan penjelasan Arvand baik-baik nggih. Sore ini, Arvand mau menyampaikan sebuah kabar gembira yang sangat luar biasa. Saking besarnya berkah ini, Arvand harap Ayah dan Ibu tidak terkejut sampai pingsan."
"Kabar apa toh, Vand? Jangan membuat orang tua bingung. Kamu habis dapet hadiah undian sabun cuci atau bagaimana?" tanya Sintia Aulia dengan nada heran yang sangat kental.
Arvand menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan skenario cerita yang sudah ia susun rapi di dalam otaknya. Tentu saja, ia tidak akan pernah mengatakan sepatah kata pun mengenai keberadaan "Sistem Mengajar Mutlak" yang tertanam di dalam jiwanya, karena hal itu terlalu berbahaya dan berada di luar batas nalar manusia normal. Ia harus menggunakan alasan finansial modern yang masuk akal namun tetap terkesan sebagai sebuah keajaiban rezeki.
"Jadi begini, Ayah, Ibu... sekitar satu tahun yang lalu, Arvand menyisihkan sebagian kecil sisa uang gaji honorer Arvand yang tidak seberapa itu untuk membeli beberapa lembar saham perusahaan teknologi internasional dan beberapa aset mata uang digital yang namanya kripto di internet. Arvand cuma iseng-iseng berhadiah sebenarnya, buat tabungan masa depan."
"Saham? Kripto? Apa itu toh, Vand? Ibu kagak paham istilah-istilah orang kota begitu. Jualan keripik singkong maksudmu?" tanya Sintia dengan kepolosan yang persis sama dengan interpretasi kuliner Mbok Sum beberapa jam yang lalu.
Arvand terkekeh pelan, melirik ke arah Ani yang kini sudah mulai menghentikan tangisnya dan ikut mendengarkan. "Bukan keripik makanan, Ibu. Anggap saja itu seperti kita membeli sepetak tanah gaib di dalam komputer. Nah, tidak ada yang menyangka, semalam nilai pasar dari saham dan aset kripto yang Arvand beli itu mendadak naik melesat sangat tinggi sampai ribuan persen di pasar internasional! Istilahnya mendapat rezeki nomplok yang luar biasa besar, Ibu, Ayah."
"Maksudmu... kamu dapet uang banyak, Vand? Berapa? Dua juta? Atau lima juta rupiah?" tanya Malik Pratama dengan nada suara yang mulai bergetar, mencoba menebak nominal tertinggi yang ada di dalam batas imajinasinya sebagai seorang buruh tani.
Arvand tersenyum tipis, lalu menyebutkan sebuah kenyataan yang langsung membuat atmosfer di seberang telepon mendadak hening total seolah-olah waktu telah berhenti berputar.
"Jauh lebih banyak dari itu, Ayah, Ibu. Alhamdulillah, uang hasil penjualan aset tersebut sudah masuk ke rekening bank Arvand secara legal dan bersih. Jumlahnya sangat cukup untuk membeli sebuah mobil sedan mewah baru pabrikan Jerman yang saat ini sedang Arvand kendarai bersama Ani, dan bahkan masih sangat sisa banyak untuk membeli sebuah rumah hunian baru yang besar yang ada fasilitas kolam renangnya di kawasan elit kota."
Setelah situasi emosional di seberang telepon mulai agak mereda dan digantikan oleh isak tangis kebahagiaan yang menenangkan, Arvand kembali melancarkan kalimat intinya yang sudah ia rencanakan sejak awal kepindahannya dari Kos Sekali Nunggak Viral.
"Ayah... Ibu... Tolong dengarkan Arvand nggih. Keberhasilan Arvand di kota ini tidak akan ada artinya kalau Ayah, Ibu, dan Vina masih harus hidup susah memeras keringat di kampung halaman. Oleh karena itu, keputusan Arvand sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi."
Arvand menjeda kalimatnya sejenak, memberikan penekanan yang berwibawa. Wicaksana "Minggu depan, Arvand sendiri yang akan pulang ke Wonosobo mengendarai mobil baru ini untuk menjemput Ayah, Ibu, dan si bungsu Vina. Kita semua akan boyongan, pindah permanen ke kota besar ini untuk tinggal bersama-sama di rumah baru kita yang luas. Ayah tidak perlu lagi bekerja keras menjadi buruh tani di sawah orang lain sampai punggung Ayah bungkuk, dan Ibu tidak perlu lagi bangun jam tiga pagi untuk menggoreng makanan jualan keliling kampung."
"Lho... tapi, Vand... bagaimana dengan rumah kita di kampung? Bagaimana dengan tetangga-tetangga kita di sini?" tanya Malik Pratama dengan nada ragu, khas seorang tetua desa yang memiliki keterikatan mendalam dengan tanah kelahiran.
"Soal rumah di kampung, bisa kita renovasi bagus-bagus untuk tempat peristirahatan kita kalau sedang pulang mudik lebaran nanti, Ayah. Yang paling penting sekarang adalah kelayakan hidup Ayah dan Ibu di usia tua, serta masa depan pendidikan si bungsu Vina agar bisa mendapatkan fasilitas sekolah internasional yang terbaik di kota ini," jawab Arvand dengan argumen sosiologis yang sangat logis dan tidak terbantahkan.
"Aduh, Vand... Ibu bener-bener kagak tahu harus ngomong apa lagi selain mengucap syukur kepada Gusti Allah yang maha pemurah. Anak sulung Ibu ternyata sudah benar-benar dewasa dan bisa menjadi pelindung bagi keluarga," ucap Sintia Aulia dengan sisa-sisa isak tangisnya yang kini dipenuhi oleh rasa bangga yang tak terkira kepada anak laki-lakinya.
"Nggih pun, Ayah, Ibu, Vina... Tolong jaga kesehatan baik-baik di kampung selama satu minggu ini nggih. Mulai cicil bereskan pakaian dan barang-barang penting yang mau dibawa ke kota. Arvand dan Ani mau melanjutkan perjalanan dulu menuju rumah baru agar kemalaman di jalan. Assalamualaikum," pamit Arvand dengan sangat sopan dan penuh kelembutan tata krama.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh... Hati-hati di jalan ya anak-anakku sayang..." sahut Ayah dan Ibu secara serempak sebelum sambungan telepon pintar di dasbor itu terputus dengan suara klik yang halus.
Suasana kabin kembali senyap, namun kini atmosfernya telah dipenuhi oleh pancaran aura kebahagiaan dan optimisme yang luar biasa cerah. Ani menatap kakaknya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa takjub dan hormat yang setinggi-tingginya. Arvand Pratama, dengan genggaman tangannya yang mantap pada kemudi BMW 7 Series, tersenyum lebar menatap lurus ke arah masa depan cerah yang kini terbentang luas di hadapan garis takdir keluarganya.
Saya selalu baca komentar kalian, dan siapa tahu ada ide yang bisa menginspirasi jalan cerita ke depannya. Terima kasih sudah mendukung novel ini! 🙏🔥