Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan
Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.
Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.
Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.
Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.
Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.
Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Milikku
Bab 16 – Dia Milikku
“Dia milikku.”
Kalimat itu jatuh begitu dingin, tegas, dan berat seperti peluru yang siap meluncur dari laras senjata.
Alya yang berdiri mematung di belakang punggung lebar itu merasakan getaran aneh di seluruh tubuhnya.
Kenapa setiap kali pria itu bicara dengan nada posesif seperti itu… jantungku selalu berdetak kacau dan tak beraturan? batinnya bertanya-tanya, antara kesal dan malu.
Di hadapan mereka, para pria bertopeng itu saling berpandangan sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak mengejek.
“Wah, bos besar kita jatuh cinta rupanya!”
“Serahkan saja gadis itu, Lorenzo! Kami tidak ingin membuat keributan besar malam ini. Urusan kita selesai kalau kami dapat dia.”
Kael mengangkat pistolnya dengan sangat santai, seakan sedang memainkan mainan, bukan senjata mematikan.
“Kalau begitu… kenapa kalian datang membawa senjata lengkap kalau tidak mau ribut?” tanyanya sinis.
Tak ada lagi percakapan sia-sia.
Salah satu pria bertopeng yang berdiri paling depan langsung menarik pelatuknya.
DOR!!!
Dalam sepersekian detik, Kael mendorong tubuh Alya keras-keras hingga gadis itu terpelanting jatuh ke balik dinding teras yang aman. Dan di saat yang sama, Kael juga menembak balik dengan kecepatan kilat.
DOR!!!
Satu tembakan tepat sasaran! Pria yang menembak duluan roboh tersungkur di halaman rumput.
“AAAA!!!” Alya menjerit kecil ketakutan dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terpejam kuat.
Kael menoleh cepat ke arahnya.
“Tetap di situ! Jangan bergerak!”
“AKU NGGAK MAU TINGGAL SENDIRI SINI! SEREM!” teriak Alya panik.
“Kalau begitu tunduk! Lindungi kepalamu!” seru Kael, lalu ia kembali bergerak gesit.
Pria itu berlari menyelinap ke depan pagar sambil menembaki musuh-musuhnya dengan tembakan terukur dan mematikan. Dua orang bodyguard andalan yang tadi berada di dalam mobil juga turun membantu, membalas tembakan dari sisi lain.
Halaman rumah kecil Alya yang dulu damai, malam ini berubah total menjadi medan perang yang kacau.
Pot bunga bunga hias pecah berantakan.
Kaca jendela rumah retak dan hancur berserakan.
Suara tembakan terdengar bertalu-talu memekakkan telinga.
Alya gemetar hebat sambil berjongkok memeluk lutut di balik tembok penyenggat.
Ini semua terlalu gila. Aku kan cuma gadis biasa yang kerja di toko bunga. Kenapa hidupku sekarang jadi penuh dengan mafia, peluru terbang, dan pria tampan sombong yang hobi sekali memerintah orang? batinnya mengeluh frustasi.
Tiba-tiba, dari sudut mata Alya, ia melihat gerakan mencurigakan. Seorang pria bertopeng sedang memutar arah diam-diam lewat sisi samping rumah, mengarahkan pistolnya tepat ke punggung Kael yang sedang sibuk menghadapi musuh di depan.
“KAEL!!! KANAN!!! AWAS KANAN!!!” teriak Alya sekuat tenaga tanpa sadar.
Kael bereaksi secepat kilat. Ia berbalik badan dan menembak tanpa perlu melihat lama.
DOR!
Pria itu jatuh tersungkur sebelum sempat menarik pelatuknya.
Kael menatap ke arah Alya sebentar saja. Di wajah dingin itu, terselip senyum tipis dan tatapan bangga yang sangat samar.
“Bagus.”
“AKU BUKAN ANGGOTA TIM KAMU!” sanggah Alya malu-malu.
“Tapi kau baru saja menyelamatkan nyawaku,” balas Kael santai sebelum kembali menembak.
Wajah Alya memanas. “ITU CUMA REFLEKS! REFLEKS!”
Tiga orang penyerang yang tersisa melihat situasi sudah tidak menguntungkan. Mereka berteriak dan lari terbirit-birit kembali ke motor mereka, lalu kabur meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.
Kael hendak mengejar untuk memastikan, tapi tiba-tiba salah satu bodyguard berteriak panik.
“TUAN! LIHAT ITU! GRANAT!”
Sebuah benda bulat kecil berguling-guling di lantai teras, tepat berhenti tidak jauh dari tempat Alya berjongkok.
Wajah Alya pucat pasi. Matanya terbelalak takut.
Tanpa berpikir dua kali, tanpa ragu sedikit pun, Kael berlari sekencang-kencangnya menuju arah itu.
Ia menerjang tubuh Alya dengan keras hingga mereka berdua jatuh berguling ke lantai, dan Kael langsung memeluk tubuh kecil itu erat-erat, menutupinya sepenuhnya dengan badannya sendiri.
DUARRRRRR!!!
Ledakan yang sangat keras mengguncang tanah. Debu beterbangan ke mana-mana, pecahan kayu dan batu berterbangan di udara.
Telinga Alya berdenging parah. Ia tidak bisa mendengar apa-apa untuk beberapa saat.
Tubuhnya aman. Karena seluruh badannya tertutup oleh tubuh kokoh Kael yang menjadi tameng manusia hidup.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang berat.
Alya perlahan membuka matanya yang terpejam erat.
Wajah Kael berada sangat dekat sekali dengan wajahnya. Hanya berjarak beberapa sentimeter. Debu halus menempel di rambut hitamnya, di alisnya, dan di pipi tirusnya. Napas pria itu terasa berat dan hangat menyapu wajahnya.
“Kau… hidup?” tanya Kael pelan, suaranya serak dan rendah.
Alya menatapnya terpaku. Jantungnya berdegup kencang bukan main karena takut, tapi juga karena jarak yang begitu intim ini.
“Harusnya… aku yang tanya begitu ke kamu,” jawab Alya lirih.
Kael berusaha mengangkat tubuhnya sedikit untuk bangun.
Dan saat itulah Alya melihatnya.
Di lengan kiri pria itu, baju hitamnya basah oleh darah merah segar. Luka sayatan cukup dalam akibat pecahan ledakan tadi.
“KAMU TERLUKA!!!” jerit Alya kaget.
“Hanya goresan kecil. Tidak apa-apa,” jawab Kael santai seolah tak merasakan sakit.
“ITU BERDARAH BANYAK BANGET! ITU BUKAN GORESAN!” Alya langsung panik, tangannya ingin memegang tapi takut salah.
Kael menoleh sekilas melihat lukanya sendiri, lalu kembali menatap wajah gadis di depannya yang terlihat sangat cemas.
“Kau ternyata lebih panik dari yang aku kira.”
“AKU PANIK KARNA KAMU ITU BODOH! KENAPA HARUS NUTUPIN AKU KAYAK GITU?! KALAU KENAPA-PAPA GIMANA?!” omel Alya dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi hasilnya… kau selamat dan tidak terluka sedikit pun. Itu sudah cukup,” jawab Kael tenang.
Alya terdiam. Ia tak bisa membalas kata-kata itu. Benar juga…
Kael membantu Alya berdiri dan menegakkan tubuhnya.
Mereka melihat sekeliling. Rumah kecil itu kini hancur sebagian. Atap bocor, dinding bolong, halaman berantakan penuh darah dan puing-puing.
Air mata Alya langsung jatuh membasahi pipi melihat pemandangan menyedihkan itu.
“Rumahku… rumahku hancur semua…” isaknya pelan.
Kael melihat sekeliling dengan wajah datar.
“Tidak masalah. Aku akan bangunkan yang baru untukmu. Lebih besar, lebih bagus, lebih aman.”
“AKU NGGAK BUTUH RUMAH BARU! AKU CUMA MAU HIDUP NORMAL SEPERTI ORANG LAIN!” teriak Alya emosi, menyeka air matanya kasar dengan punggung tangan.
Kalimat itu membuat Kael diam.
“Sejak ketemu kamu… semua hal baik dalam hidupku hancur satu per satu.”
Alya menatap lurus ke mata pria itu, penuh dengan kekecewaan dan lelah.
“Rumahku hancur. Ibuku hilang entah di mana. Aku diburu orang mau dibunuh. Dan sekarang… aku bahkan nggak tahu lagi siapa sebenarnya diriku ini.”
Untuk pertama kalinya, Kael Lorenzo terlihat tak punya jawaban. Ia hanya diam menatap gadis itu dengan tatapan rumit.
Alya berbalik badan memunggunginya.
“Aku tetap akan pergi ke gereja tua itu. Sekarang juga.”
Kael kembali meraih pergelangan tangan gadis itu, menggenggamnya lembut namun tak bisa dilepaskan.
“Tidak. Kau tidak akan pergi ke sana sendirian.”
“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
“Kau hampir mati terbunuh lima menit yang lalu, Alya. Jangan membual.”
“TERSERAH! AKU TETAP PERGI!”
Kael menatapnya lama sekali, seakan menimbang-nimbang. Akhirnya ia perlahan melepaskan tangannya.
“Baiklah.”
Alya terbelalak kaget. “Hah? Kamu… kamu ngizinin aku pergi?”
“Tidak.”
Kael berjalan mendekati mobilnya dan membuka pintu pengemudi.
“Aku ikut. Jadi kau tidak perlu pergi sendiri.”
Alya memejamkan matanya kuat-kuat menahan kesal yang meledak-ledak.
“Kamu ini memang nggak ada normanya ya?! Kenapa sih repotnya minta ampun?!”
“Tidak pernah.”
Kael menunjuk kursi penumpang dengan dagunya.
“Masuk. Jangan buat aku menunggu.”
Mobil hitam itu melaju kencang membelah jalanan menuju arah Bukit Timur.
Semakin tinggi mereka naik, jalanan semakin sepi, berkabut tebal, dan gelap gulita. Hanya ada cahaya lampu mobil yang membelah kabut.
Jam digital di dasbor mobil menunjukkan pukul 23.52.
Waktu tinggal delapan menit lagi menuju tengah malam. Hampir habis.
Alya duduk diam memegang amplop surat ibunya erat-erat di dada.
Di sampingnya, Kael menyetir dengan satu tangan. Tangan satunya terluka dan sudah dibalut perban seadanya oleh Riko tadi.
“Kamu harusnya ke rumah sakit. Itu lukanya bahaya,” gumam Alya pelan tanpa sadar, suaranya lembut.
Kael menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kau peduli padaku.”
“AKU PEDULI KALAU KAMU MATI DI DALAM MOBIL INI! NANTI SUSAH BERSIHKAN DARAHNYA!” sanggah Alya cepat, memalingkan wajah malu.
“Ini mobilku. Jadi tanggung jawabku,” jawab Kael santai.
Alya mendengus kesal dan kembali diam.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang anehnya nyaman.
Lalu Kael berkata pelan, memecah kesunyian.
“Dengar ya… kalau nanti di dalam sana ternyata benar-benar jebakan, apa pun yang terjadi, jangan pernah lepas dari sisiku. Mengerti?”
Alya menatap keluar jendela mobil yang tertutup kabut tipis.
“Kalau nanti… ibuku bilang kalau kamu itu orang jahat dan berbahaya…”
Kael menjawab tanpa ragu. “Aku memang berbahaya. Bagi siapa saja kecuali kau.”
“Dan kalau dia menyuruh aku menjauh darimu?” tanya Alya lagi, hatinya terasa sesak menunggu jawaban.
Kael menoleh perlahan, menatap profil wajah gadis itu di bawah cahaya lampu jalan yang redup. Tatapannya gelap pekat, dalam, dan sangat serius.
“Kalau begitu… meski kau lari sampai ke ujung dunia sekalipun… aku akan tetap mengejarmu. Dan aku akan membawamu kembali ke sisiku.”
Napas Alya tercekat di tenggorokan.
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan sebuah gereja tua yang tampak angker dan gelap gulita.
Pintu kayu utamanya terbuka sedikit, seakan mengundang mereka masuk.
Angin malam bertiup kencang, membuat lonceng tua yang menggantung di atap berbunyi ting… tong… ting… tong… pelan dan menyeramkan.
Alya menelan ludah.
“Ibu…” bisiknya pelan.
Dengan langkah ragu namun penuh tekad, Alya melangkah masuk ke dalam bangunan tua itu diikuti oleh Kael yang selalu waspada di belakangnya.
Di bagian depan, tepat di depan altar yang gelap, terlihat sosok seorang wanita berdiri membelakangi mereka.
Tubuhnya tinggi dan ramping.
Bukan ibunya.
Wanita itu perlahan berbalik badan menghadap mereka.
Wajahnya tersenyum manis namun penuh dengan racun.
Itu Serena.