Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
***
Melihat Neysa yang hanya diam tanpa memberi jawaban, Darren tidak langsung memaksanya. Ia hanya berdiri di sana, menatap wanita itu dengan sorot mata penuh teka-teki, seolah telah mengetahui rahasia besar yang selama ini Neysa coba sembunyikan.
“Kamu pikir aku tidak tahu, Neysa?” Darren berkata dengan nada tenang namun menusuk. “Aku tahu kamu berasal dari keluarga Kenneth.”
Pernyataan itu membuat Neysa tersentak. Namun, ia dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya di balik tawa kecil yang dingin. "Keluarga Kenneth? Kamu pasti bercanda," ujarnya sambil tersenyum sinis, berusaha terdengar santai.
Namun, tawa itu hanya bertahan sebentar sebelum ia mengalihkan pandangannya, menatap ke arah jendela. Ia tahu bahwa Darren belum sepenuhnya tahu kebenaran. Neysa bukan berasal dari keluarga Kenneth—dia adalah darah dari keluarga Lawrence.
Tetapi fakta itu harus tetap tersembunyi. Bagaimanapun, identitas sebenarnya akan menjadi kunci kehancurannya jika sampai terungkap, terutama oleh kakaknya yang terus mencarinya dengan gila-gilaan di luar sana. Untuk sementara Keluarga Barnes memang membuatnya aman.
Ada alasan yang sulit dijelaskan kenapa ia melarikan diri dari keluarga Lawrence. Rahasia itu adalah sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Darren. Baginya, semakin sedikit orang tahu, semakin aman ia dari bayangan kakaknya yang kejam.
Melihat Neysa tidak memberikan reaksi yang diharapkan, Darren hanya mendekat selangkah, membuat udara di antara mereka terasa lebih berat.
"Kalau bukan Kenneth, lalu siapa?" tanyanya pelan, suaranya seperti jebakan halus yang bisa memaksa Neysa untuk mengungkapkan kebenaran. “Kalau kamu memang berasal dari keluarga Kenneth, kau tahu?” katanya sambil melipat kedua tangannya, “Keluarga itu sedang tidak baik-baik saja.”
Neysa tersentak. Meski ia berusaha menyembunyikannya, kilatan kekhawatiran di matanya tidak luput dari perhatian Darren. Ia menunduk, pura-pura tidak tertarik dengan topik itu, tetapi Darren melanjutkan dengan suara lebih dalam.
“Usaha keluarga Kenneth sekarang sedang terpuruk. Anjlok. Nyaris bangkrut, sebenarnya,” ujarnya, menekankan setiap kata dengan nada penuh kepastian. “Investor menarik dukungan mereka. Rekan bisnis mereka tidak lagi percaya pada kemampuan keluarga itu untuk bangkit. Tidak ada yang mau bekerja sama dengan keluarga yang tampak seperti kapal karam.”
Neysa mencoba tetap tenang, tetapi kata-kata Darren terus menggema di telinganya. Nyaris bangkrut. Ia tahu keluarga Kenneth punya pengaruh besar, tetapi mendengar bahwa mereka sekarang berada di ujung kehancuran benar-benar mengejutkan.
Darren menatapnya, menikmati setiap detik kebisuan Neysa. “Dan yang membuat keadaan semakin buruk,” lanjutnya dengan suara rendah, “adalah fakta bahwa Putri Kenneth, yang mereka banggakan itu, kabur entah ke mana.”
Neysa perlahan mendongak, pandangannya tajam tetapi penuh kecemasan. Darren memperhatikan setiap reaksi kecil di wajahnya, seolah sedang membaca buku yang terbuka.
“Mereka bilang, dia menghilang,” kata Darren dengan nada yang sedikit lebih tajam. “Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Mereka bahkan beranggapan bahwa dia mungkin sudah mati.”
Napas Neysa tercekat. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memikirkan Celine. Ia ingat wajah temannya yang bersemangat membantu Neysa kabur dari keluarga Lawrence. Celine selalu menjadi pelindung dan temannya di saat-saat sulit. Namun kini, mendengar bahwa keluarga Kenneth percaya putri mereka telah meninggal—tanpa mayat yang ditemukan—membuat Neysa merasa bersalah dan cemas sekaligus.
“Mereka tidak menemukan mayatnya,” lanjut Darren, matanya masih terpaku pada Neysa. “Tapi untuk dunia luar, itu sama saja. Kehilangannya menghancurkan reputasi keluarga Kenneth lebih dari apa pun. Orang-orang berpikir mereka terlalu lemah untuk melindungi putri mereka sendiri.”
Neysa memejamkan mata, mencoba menahan gelombang emosi yang mengancam untuk meluap. Ia tidak bisa mengabaikan rasa bersalah yang tiba-tiba menyelimutinya.
Celine... apa yang sebenarnya terjadi pada Celine setelah malam itu?
“Aku tidak tahu kenapa kamu ingin menyembunyikan identitasmu,” Darren menyela lamunannya, suaranya lebih lembut tetapi tetap tegas. “Tapi satu hal yang pasti, Neysa. Tidak ada rahasia yang bisa bertahan selamanya. Cepat atau lambat, semuanya akan terungkap.”
Neysa menatap Darren, matanya dipenuhi campuran ketakutan dan kemarahan. Namun, ia tidak mengatakan apa pun. Dalam hatinya, ia tahu bahwa Darren benar—dan itu adalah sesuatu yang lebih menakutkan daripada ancaman apa pun yang pernah ia dengar.
"Baiklah."
Darren terpaku, tubuhnya membeku saat Neysa tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan. Sentuhan tangannya yang lembut menyusup di balik kemeja Darren, mengusap kulitnya dengan perlahan. Keintiman itu terasa asing—terutama datang dari seorang Neysa, yang selalu menjaga jarak.
“Neysa, apa yang—” Darren berusaha berbicara, tetapi suaranya terhenti saat Neysa berbisik pelan.
“Ayo kita menikah," katanya dengan nada tenang, nyaris berbisik, namun penuh dengan tekad.
Kata-kata itu membuat Darren terkejut. Alisnya berkerut, menatap wanita di hadapannya dengan campuran kebingungan dan kewaspadaan. Sebelum ia sempat merespons, Neysa melanjutkan, nadanya penuh kalkulasi.
“Bantu aku kembali ke keluarga Kenneth,” ujar Neysa dengan lirih, suaranya hampir terdengar seperti permohonan. “Buat mereka menerima aku kembali. Aku akan memberikan apa saja yang kamu inginkan, Darren. Apa pun.” Ia menatapnya dengan mata penuh determinasi. “Asal keluarga Barnes mau mendukung mereka, menyelamatkan mereka dari kehancuran.”
Mendengar kata-kata Neysa, senyum tipis muncul di sudut bibir Darren. Sorot matanya yang semula penuh teka-teki berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut, hampir hangat. Namun, ada kilatan kegembiraan yang tak bisa ia sembunyikan. Ia merasa menang—Neysa akhirnya menyerah pada tekanan yang ia berikan.
“Neysa,” Darren berbisik, suaranya rendah namun penuh kepastian. “Kamu tidak akan menyesali ini.”
Sebelum Neysa sempat berkata apa-apa, Darren membungkuk sedikit dan mengangkat tubuhnya dalam gendongan yang tiba-tiba. Neysa tersentak, matanya melebar karena terkejut.
“Darren! Apa yang kamu lakukan?” tanyanya, mencoba memberontak, tetapi lelaki itu hanya menatapnya dengan senyum penuh percaya diri.
“Apa menurutmu?” balas Darren santai sambil melangkah menuju ranjang di tengah ruangan.
Neysa menahan napas, hatinya berdegup kencang. Pikiran buruk mulai memenuhi kepalanya. Apakah dia akan menyentuhku sekarang? Tubuhnya menegang, tapi ia tidak mengatakan apa pun. Ia hanya bisa menatap Darren yang tetap terlihat tenang dan tidak terbaca.
Namun, apa yang terjadi berikutnya sama sekali di luar dugaannya. Darren dengan lembut meletakkan Neysa di atas ranjang, membenarkan posisi tubuhnya seperti seseorang yang merawat sesuatu yang sangat berharga. Setelah itu, ia berlutut sedikit di tepi ranjang, menatap langsung ke dalam mata Neysa.
“Aku tidak akan menyentuhmu, Neysa,” bisiknya lembut, tetapi tegas. “Setidaknya, bukan sekarang. Aku ingin kamu tahu bahwa aku serius dengan ini.”
Neysa menatapnya, bingung sekaligus lega. Tubuhnya yang tadi tegang perlahan mulai rileks, tetapi hatinya masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya Darren rencanakan.
“Aku akan mengurus semuanya,” lanjut Darren. “Besok, kamu akan menjadi istriku. Aku akan memastikan itu terjadi, apa pun yang perlu dilakukan.”
Mata Darren menyala dengan tekad, membuat Neysa kehilangan kata-kata. Ia tidak pernah melihat Darren seperti ini sebelumnya—begitu serius, begitu bersemangat. Ia tahu bahwa Darren selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, tetapi kali ini terasa berbeda. Pernikahan ini bukan hanya tentang permainan kekuasaan, melainkan sesuatu yang lebih dalam.
Neysa hanya bisa terdiam, memandang Darren yang kini bangkit dari posisinya dan berdiri tegak. “Kamu hanya perlu percaya padaku,” tambah Darren sebelum membalikkan tubuhnya, bersiap untuk pergi. “Istirahatlah malam ini, Neysa. Mulai besok, hidupmu akan berubah.”
Ketika pintu kamar tertutup di belakang Darren, Neysa masih memandangi langit-langit dengan perasaan campur aduk. Ia tahu bahwa langkah ini akan mengubah segalanya, tetapi ia tidak bisa mengabaikan suara kecil di dalam hatinya yang bertanya-tanya: Apakah ini benar-benar jalan yang harus aku ambil?
B e r s a m b u n g ....