Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06: Unexpected
Suasana di dalam aula yang megah itu seketika berubah hening total, seolah waktu berhenti berputar. Raja Julius dan Ratu Mirelle saling berpandangan dengan mata terbelalak penuh ketidakpercayaan. Begitu pula dengan Raja August, ayah dari Theodore dan Algernon, yang mengerutkan keningnya dalam kebingungan yang mendalam. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa di hari istimewa Elarise, justru Amorette yang akan menjadi pusat perhatian, apalagi setelah Theodore secara terang-terangan memberikan hadiah kepadanya.
Bisik-bisik pelan kembali terdengar menyelimuti ruangan, bergerak dari satu kelompok bangsawan ke kelompok lainnya bagaikan angin yang berhembus.
"Pangeran Theodore memberikan kado untuk Putri Amorette?"
"Bukankah mereka bermusuhan?"
"Lihatlah penampilannya... dia terlihat jauh lebih anggun dari Putri Elarise."
"Ada apa dengan Putri Amorette? Kenapa dia berubah drastis begini?"
Sementara semua mata tertuju padanya, hati Amorette sebenarnya berdegup sangat kencang di balik dada rata yang ia pertahankan. Ia sama sekali tidak menyukai keramaian, tidak suka menjadi sorotan, dan tidak nyaman dengan begitu banyak pasang mata yang meneliti setiap inci gerak-geriknya. Saking gugupnya, ia berusaha mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari titik tenang, dan matanya terhenti pada satu sosok yang berdiri agak terpisah dari rombongan keluarga Remington.
Pangeran Algernon Leandor Remington.
Pria itu berdiri tegap dengan wajah yang sangat datar, tanpa ekspresi apa pun. Matanya menatap lurus ke depan, seolah-olah segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya tidak lebih menarik dari debu di ujung sepatunya.
Itu dia... batin Amorette. Penjahat utama cerita ini, tokoh jahat yang nasibnya sama buruknya denganku. Satu-satunya orang yang ditulis akan mati bersamaku di akhir cerita. Namun... siapa sebenarnya yang ada di dalam tubuh itu? Apakah dia juga orang dari dunia lain sepertiku? Atau hanya pemuda malang yang akan terjebak dalam fitnah yang sama denganku?
Amorette tidak tahu bahwa di balik wajah dingin itu bersembunyi jiwa Jasper Herasio, CEO yang tewas dikhianati adiknya sendiri, sama seperti dirinya. Ia hanya tahu bahwa dalam naskah cerita, Algernon adalah pemuda yang lemah, tidak berguna, dan dijauhi semua orang.
Namun, Amorette mengesampingkan kebingungannya itu sejenak. Ia menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya, lalu melangkah maju dengan langkah yang sangat tenang dan terukur. Bunyi hak sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar jelas, bergema di seluruh penjuru aula, membuat semua bisikan perlahan lenyap hingga kembali menjadi keheningan mutlak.
Ia berjalan lurus menuju Theodore. Pangeran itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara rasa ingin tahu, kekaguman, dan sesuatu yang lain yang semakin hari semakin kuat. Amorette mengulurkan tangannya dengan anggun, menerima bungkisan berbalut kertas hijau itu dari genggaman tangan Theodore. Jari-jari mereka sempat bersentuhan sejenak, membuat Theodore menahan napasnya, namun Amorette bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia membuka bungkisan itu perlahan. Di dalam kotak beludru sederhana, terbaring sepasang anting berbentuk daun kecil yang terbuat dari emas murni dan dihiasi batu zamrud kecil yang berkilau lembut. Tidak berlebihan, tidak terlalu mencolok, namun terbuat dari bahan terbaik dan memiliki desain yang sangat indah serta rapi.
"Minimalis," ucap Amorette pelan namun tegas, senyum tulus mengembang di bibirnya. Ia benar-benar menyukainya. "Aku suka hadiah ini, Pangeran Theodore. Terima kasih banyak."
Ia membungkukkan badannya dengan sopan dan hormat, sebuah penghargaan yang tulus, bukan basa-basi seperti biasanya.
Setelah itu, Amorette menepuk kedua telapak tangannya pelan. Sinyal yang sudah dimengerti oleh Esther dan Lily. Kedua pelayan setianya segera mendekat, masing-masing membawa sebuah kotak berukuran sedang yang dibungkus dengan kertas berwarna putih bersih dengan pita emas sederhana.
Amorette berbalik menghadap Elarise.
Sang adik tiri berdiri di sana, wajahnya dipaksakan tersenyum namun matanya memancarkan api kecemburuan dan kemarahan yang tertahan. Gaun merah oranyenya yang penuh renda dan permata kini terlihat justru terlalu berlebihan jika dibandingkan dengan kesederhanaan elegan Amorette.
Amorette membungkuk hormat di hadapan Elarise. "Ini hadiah yang aku berikan untukmu, Putri Elarise. Semoga kau menyukainya," ucapnya dengan nada manis yang dibuat-buat. Untunglah, kepiawaiannya berakting cukup baik sehingga tidak ada yang menyadari bahwa senyum itu hanyalah topeng.
Esther dan Lily meletakkan kotak itu di atas meja khusus tumpukan kado, bersanding dengan hadiah-hadiah mewah lainnya dari para bangsawan. Isinya adalah koleksi minyak wangi terbaik dan benang-benang sulaman langka—barang yang berguna namun tidak terlalu mahal atau terlalu istimewa, cukup untuk memenuhi kewajiban sebagai kakak, namun tidak sampai membuat Elarise merasa dirinya disamakan kedudukannya dengan Amorette.
Setelah itu, Amorette kembali membungkuk singkat kepada Raja Julius, Ratu Mirelle, dan Kak Cornelius. Tidak ada kata-kata tambahan, tidak ada pujian berlebihan, dan tidak ada drama. Ia hanya melakukan kewajibannya, lalu berbalik badan dan pergi begitu saja menuju meja panjang yang berjejer rapi berisi aneka kue dan minuman manis.
Aula itu kembali hening. Sungguh hening.
Semua orang masih terpaku pada sosok Amorette yang menjauh. Perubahan sikapnya yang drastis, keanggunannya, dan ketidakacuhannya yang dingin itu jauh lebih menakjubkan sekaligus jauh lebih mengerikan daripada tingkah laku keras kepalanya di masa lalu.
Elarise menelan rasa kesalnya dengan susah payah. Ia pun akhirnya tersenyum lebar dan mengangkat suaranya, berusaha memecah kebisuan yang membuatnya merasa kalah telak itu.
"Terima kasih banyak untuk semuanya! Silakan nikmati pesta dan hidangan yang telah kami sediakan!" serunya lantang. Perlahan namun pasti, keramaian kembali terjadi, musik mulai mengalun lagi, dan percakapan kembali terdengar. Namun jauh di lubuk hatinya, Elarise merutuk kesal habis-habisan. Kenapa dia tidak marah? Kenapa dia tidak menangis? Kenapa dia tidak membuat keributan seperti biasanya?! Aku sudah bersiap menyalahkannya jika dia berbuat salah, tapi dia malah bersikap sempurna begini!
Elarise sangat berharap Amorette akan membuat drama, namun gadis itu seolah-olah sudah berubah menjadi orang lain.
Di sisi lain, Amorette duduk santai di ujung meja prasmanan, mengangkat piring porselen putih dan mulai memilih kue-kue kecil yang tampak lezat. Esther dan Lily berdiri setia di samping kanan dan kirinya, sesekali membisikkan nama makanan atau meminumkan minuman. Walau banyak pasang mata yang masih mengawasinya, Amorette sama sekali tidak peduli. Ia adalah putri pertama dan sah di kerajaan ini, pemilik darah murni Elowen. Tidak ada seorang pun yang berani melarangnya melakukan apa pun yang ia inginkan.
Belum sempat ia menyantap suapan pertamanya, bayangan tinggi besar tiba-tiba menutupi cahayanya.
Pangeran Algernon Leandor Remington berdiri di sana. Ia berpura-pura sedang sibuk memilih dan mencicipi berbagai jenis makanan manis yang ada di meja itu, bergerak perlahan mendekati Amorette, seolah-olah pertemuan ini hanyalah kebetulan belaka. Setelah memastikan tidak ada yang terlalu dekat dan mendengarkan, ia akhirnya membuka pembicaraan tanpa basa-basi.
"Kau tidak seperti yang mereka gosipkan, ya?" tanyanya datar, matanya menatap lurus ke arah Amorette dengan pandangan tajam yang menyelidik.
Amorette melirik sekilas ke arah pria itu, lalu menyeringai tipis. Ia meletakkan garpunya pelan.
"Ah? Pangeran Algernon..." jawabnya dengan nada terdengar terkejut namun nada bicaranya justru menyindir halus. "Aku terkejut kau ikut ke pesta ini. Sudah menjadi rahasia umum kau jarang terlihat di acara-acara kerajaan. Sungguh suatu kehormatan bisa melihatmu, sang Pangeran Misterius, berada di sini, di dalam istanaku." Ia menutup kalimatnya dengan membungkukkan badan sedikit dengan gerakan yang sangat anggun.
Algernon terkekeh pelan, suara tawanya rendah dan berat. Bagi Jasper, melihat gadis ini berubah seratus delapan puluh derajat sungguh mengingatkannya pada dirinya sendiri. Dulu, ia adalah anak yang ramah, namun berubah menjadi dingin dan tegas demi bertahan hidup di dunia bisnis yang kejam.
"Ya," balasnya, kalimat yang memiliki dua makna sekaligus—merujuk pada adiknya yang mengkhianatinya di dunia sebelumnya, dan merujuk pada adiknya yang lebih hebat dan disayangi semua orang, Theodore, di dunia ini. "Jika bukan karena adikku tercinta, aku tidak akan menjadi apa yang kau lihat saat ini."
Amorette menatap tajam ke manik mata hitam itu. Ada rasa waspada yang besar di hatinya. Ia harus memastikan posisinya.
"Aku tidak berniat untuk melakukan skenario buruk apa pun yang kau pikirkan, Pangeran Algernon," ucapnya tegas dan tajam. Ia mengingat bahwa dalam cerita, merekalah yang akan disatukan dalam fitnah pengkhianatan. Ia harus menjauhkan diri dari itu.
Algernon tampak bingung sejenak, alisnya berkerut dalam. Wajar saja, dia tidak tahu isi buku novel dan nasib mengerikan yang menanti mereka berdua di masa depan. Yang ia tahu hanyalah sejarah masa lalu Amorette yang suka membuat keributan.
"Apa maksudmu?" tanya Pangeran Algernon bingung. Namun ia menggeleng pelan, membuang rasa penasarannya. "Ah, sudahlah. Aku tidak terlalu peduli masa lalu atau rencanamu. Tapi, aku serius, Putri Amorette..."
Ia mencondongkan badannya sedikit ke depan, menatap gadis itu lekat-lekat.
"...kau sangat berbeda dengan yang mereka rumorkan. Sangat berbeda dengan gadis yang aku dengar sering membuat keributan, marah-marah, atau menangis minta perhatian. Itu sangat membingungkan bagiku..."
Seolah kau benar-benar orang yang berbeda, batin Algernon—atau Jasper—dalam hati. Sama sepertiku. Kita sama-sama sampah yang tiba-tiba menjadi berakal, ya?
Amorette tersenyum miring, senyum yang penuh dengan makna tersembunyi dan kebijaksanaan yang jauh melebihi usianya yang tujuh belas tahun.
"Rumor itu memang benar adanya, Pangeran Algernon. Dulu aku memang seperti itu. Namun..." ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap, "Aku tidak memiliki niat lebih lanjut untuk melakukan apa yang telah aku lakukan. Aku sudah sadar, bahwa membuang waktu demi hal-hal yang tidak berguna hanya akan menghancurkan diriku sendiri."
Algernon terdiam, tertegun mendengar jawaban yang jauh lebih dewasa dan cerdas dari yang ia perkirakan.
Di kejauhan, di dekat meja panggung kehormatan, Theodore berdiri tegak namun pandangannya sama sekali tidak lepas dari dua sosok yang sedang berbicara santai di dekat meja makanan itu. Matanya menatap tajam, sorot matanya membara dengan rasa tidak suka dan kecemburuan yang mulai tumbuh. Ia semakin tertarik dan terpesona pada Amorette, semakin penasaran dengan perubahan gadis itu, hingga ia sama sekali tidak mendengarkan ocehan Elarise yang berdiri di sampingnya, terus berusaha menarik perhatiannya di tengah kobaran api cemburu yang membakar hati gadis itu habis-habisan.