NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 Anak Mafia Tidak Pernah Menangis

Liontin itu masih berada di tangan Arda.

Sudah hampir satu jam ia duduk sendirian di kamar, tetapi matanya belum juga lepas dari benda kecil peninggalan masa lalu itu.

Hujan turun pelan di luar jendela.

Udara malam terasa dingin.

Namun pikiran Arda jauh lebih kacau daripada cuaca di luar.

Di dalam liontin itu terdapat foto Isabella.

Foto yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Foto yang membuat wajah ibunya terasa lebih nyata dibanding selama bertahun-tahun terakhir.

Selama ini Isabella hanya hidup dalam bentuk kenangan.

Potongan-potongan ingatan yang semakin kabur seiring waktu.

Suara yang hampir terlupakan.

Senyuman yang mulai sulit diingat.

Pelukan yang hanya tersisa sebagai bayangan.

Namun foto kecil itu mengubah semuanya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Arda merasa ibunya kembali dekat.

Dan justru karena itu rasa kehilangan menjadi semakin menyakitkan.

Ia membuka liontin sekali lagi.

Menatap foto itu.

Lalu tanpa sadar tersenyum tipis.

Sebuah kenangan muncul.

Saat itu usianya sekitar enam tahun.

Ia sedang bersembunyi di bawah meja makan karena takut dimarahi Leon setelah memecahkan vas mahal di ruang tamu.

Isabella menemukannya di sana.

Namun bukannya memarahinya...

Wanita itu justru ikut duduk di bawah meja.

"Apa yang Ibu lakukan?"

tanya Arda kecil waktu itu.

"Menemanimu."

jawab Isabella sambil tersenyum.

"Tapi Ayah sedang marah."

"Karena itu aku menemanimu."

Arda kecil masih mengingat bagaimana ibunya tertawa saat itu.

Tertawa seolah dunia tidak memiliki masalah apa pun.

Kenangan itu membuat dadanya terasa sesak.

Karena sekarang ia sadar.

Ia bahkan hampir lupa suara tawa tersebut.

Keesokan paginya.

Arda turun ke dapur lebih awal.

Rumah masih sepi.

Sebagian besar penghuni rumah belum bangun.

Hanya Elena yang terlihat sedang menyiapkan sarapan.

Ketika melihat Arda masuk, gadis itu langsung mengangkat alis.

"Kau terlihat seperti tidak tidur."

"Aku memang tidak tidur."

jawab Arda.

Elena menghela napas.

"Aku bisa menebaknya."

Arda duduk di kursi.

Liontin itu masih berada di sakunya.

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Sampai akhirnya Arda mengeluarkan liontin tersebut dan meletakkannya di atas meja.

Elena langsung mengenalinya.

Matanya sedikit membesar.

"Dari mana kau mendapatkannya?"

"Orang bertopeng itu meninggalkannya."

jawab Arda.

Elena terdiam.

Lalu perlahan mengambil liontin itu.

Tatapannya berubah lembut.

"Aku ingat benda ini."

ucapnya pelan.

Arda langsung menoleh.

"Kau pernah melihatnya?"

Elena mengangguk.

"Berkali-kali."

Jantung Arda langsung berdetak lebih cepat.

Karena selama ini hampir tidak ada orang yang mau bercerita tentang Isabella.

Dan sekarang Elena akhirnya membuka diri.

"Itu hadiah dari Leon."

lanjut Elena.

"Hadiah ulang tahun."

Arda diam mendengarkan.

"Ibumu sangat menyukainya."

Elena tersenyum kecil.

"Dia selalu memakainya."

"Bahkan ketika sedang tidur."

Arda tidak bisa menahan senyum tipisnya.

Entah kenapa mendengar cerita sederhana seperti itu membuat Isabella terasa hidup kembali.

"Banyak orang takut pada Leon."

lanjut Elena.

"Tapi saat bersama ibumu..."

"...dia berbeda."

Arda memperhatikan setiap kata.

"Berbeda bagaimana?"

Elena tertawa kecil.

"Lebih manusia."

Untuk pertama kalinya pagi itu Arda tertawa.

Meski hanya sebentar.

Namun senyum itu segera menghilang ketika Elena melanjutkan kalimatnya.

"Ibumu selalu khawatir tentang satu hal."

"Apa?"

Elena menatapnya.

"Kau."

Arda membeku.

"Dia takut dunia ini mengambil masa kecilmu."

Keheningan langsung memenuhi dapur.

Karena kalimat itu terasa terlalu nyata.

Terlalu tepat.

Dan mungkin...

Terlalu terlambat.

Menjelang siang.

Latihan kembali dimulai.

Namun hari ini Arda tidak berada dalam kondisi terbaiknya.

Pikirannya terus memikirkan Isabella.

BRAK!

Tubuhnya kembali menghantam tanah.

Darius berdiri beberapa langkah di depannya.

"Konsentrasi."

ucap pria itu.

Arda bangkit.

Lalu kembali menyerang.

Namun hasilnya sama.

BRAK!

Ia kembali jatuh.

Darius menghela napas panjang.

"Kau bahkan tidak memperhatikan gerakanku."

Arda mengepalkan tangan.

"Aku sedang mencoba."

"Tidak."

jawab Darius.

"Kau sedang berpikir."

Arda tidak membantah.

Karena itu memang benar.

Untuk beberapa saat mereka terdiam.

Kemudian Darius duduk di bangku kayu dekat arena latihan.

Sesuatu yang jarang ia lakukan.

"Duduk."

ucapnya.

Arda mengernyit.

"Apa?"

"Duduk."

ulang Darius.

Dengan bingung Arda menurut.

Angin siang berembus pelan.

Beberapa detik berlalu sebelum Darius akhirnya berbicara.

"Waktu aku seusiamu..."

ucapnya.

"...aku kehilangan ayahku."

Arda langsung menoleh.

Karena Darius hampir tidak pernah membicarakan masa lalunya.

"Aku marah."

lanjutnya.

"Sangat marah."

"Aku ingin membalas semuanya."

"Aku ingin menghancurkan siapa pun yang terlibat."

Tatapan Darius menerawang jauh.

Seolah sedang melihat masa lalu.

"Dan aku hampir berhasil melakukannya."

Arda diam mendengarkan.

"Tapi kemudian aku sadar."

"Sadar apa?"

Darius menatapnya.

"Bahwa kebencian tidak pernah benar-benar selesai."

Keheningan kembali muncul.

"Kau membunuh satu musuh."

lanjut Darius.

"Lalu muncul musuh berikutnya."

"Kau membalas satu kematian."

"Lalu muncul kematian lain."

"Dunia ini tidak pernah selesai."

Kata-kata itu terus terngiang di kepala Arda.

Karena jauh di dalam dirinya...

Ia mulai memahami maksudnya.

Sore hari.

Latihan dihentikan lebih awal.

Langit kembali mendung.

Arda berjalan sendirian ke halaman belakang.

Pikirannya penuh.

Perasaannya kacau.

Dan semakin ia mencoba menahannya...

Semakin sulit untuk bernapas.

Ia akhirnya duduk di bawah pohon tua yang berada di belakang rumah.

Tempat yang jarang didatangi orang.

Tempat yang tenang.

Tempat yang sepi.

Dan untuk pertama kalinya hari itu...

Ia membiarkan dirinya berpikir.

Tentang Leon.

Tentang Isabella.

Tentang Marcus.

Tentang semua orang yang telah pergi.

Dan tentang dirinya sendiri.

"Aku lelah."

bisiknya.

Tidak ada siapa pun yang mendengar.

Hanya angin.

Dan keheningan.

Kemudian tanpa sadar...

Air mata mulai jatuh.

Satu tetes.

Lalu dua.

Lalu semakin banyak.

Arda tidak berusaha menghentikannya.

Tidak kali ini.

Selama bertahun-tahun ia selalu mencoba terlihat kuat.

Selalu mencoba terlihat baik-baik saja.

Namun kenyataannya...

Ia tidak baik-baik saja.

Ia kehilangan ayah.

Kehilangan ibu.

Kehilangan rumah.

Kehilangan masa kecil.

Dan semua itu terlalu berat untuk dipikul sendirian.

Air mata terus mengalir.

Diam.

Tanpa suara.

Tanpa saksi.

Sampai akhirnya perasaannya sedikit lebih ringan.

Beberapa menit kemudian ia menghapus wajahnya.

Menarik napas panjang.

Lalu berdiri.

Dan tepat saat itu...

Ia merasakan sesuatu.

Perasaan sedang diawasi.

Arda langsung menoleh.

Di atas bukit kecil yang menghadap rumah...

Seseorang berdiri.

Mantel hitam.

Tubuh tinggi.

Wajah tertutup topeng hitam.

Lelaki itu lagi.

Jantung Arda langsung berdetak kencang.

Namun kali ini ia tidak berlari.

Tidak bergerak.

Hanya menatap.

Dan untuk beberapa detik...

Mereka saling memandang dari kejauhan.

Angin sore bertiup di antara mereka.

Sunyi.

Dingin.

Mencekam.

Kemudian lelaki bertopeng itu mengangkat tangan.

Bukan mengancam.

Bukan menyerang.

Hanya gerakan kecil.

Seolah sedang memberi salam.

Lalu suara pelan terbawa angin.

Begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.

Namun Arda tetap menangkapnya.

"Kau masih seperti ibumu."

Mata Arda membelalak.

Namun sebelum ia sempat bergerak...

Lelaki itu berbalik.

Dan menghilang ke dalam hutan.

Meninggalkan Arda dengan lebih banyak pertanyaan daripada sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya...

Arda mulai yakin.

Lelaki bertopeng hitam itu bukan sekadar penguntit.

Ia mengenal Isabella.

Mungkin jauh lebih baik daripada yang selama ini diketahui siapa pun.

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!