Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Zivara saat kesadarannya perlahan kembali ke permukaan. Di langit-langit putih rumah sakit yang asing, ia seolah melihat kepingan film tua yang berputar tanpa henti—memori tentang hujan lebat di Bandung, tanggal 15 Juli yang kelam, dan punggung seorang pria yang bergetar hebat di depan sebuah nisan.
"Kaizar... kenapa di ingatanku kamu menangis di pemakamanku?" bisik Zivara lirih.
Pertanyaan itu bagaikan petir di siang bolong bagi Kaizar yang baru saja terjaga dari tidurnya yang tidak nyenyak. Ia tersentak, matanya membelalak menatap Zivara yang kini sudah membuka mata sepenuhnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena lega melihat gadis itu sadar, melainkan karena kengerian atas apa yang baru saja ia dengar.
Kaizar segera menegakkan duduknya, tangannya secara insting hendak meraih jemari Zivara, tetapi ia mendadak ragu. Ia menarik kembali tangannya, membiarkannya terkepal di atas lutut sendiri.
"Vara? Kamu sudah sadar?" suara Kaizar serak, sarat akan kecemasan yang meluap. "Bagaimana keadaanmu? Bagian mana yang terasa sakit? Apa kamu merasa sesak lagi?"
Zivara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kaizar dengan sorot mata yang sulit diartikan—sorot mata seorang perempuan berusia tiga puluh tahun yang terjebak dalam tubuh gadis delapan belas tahun. Kebingungan dan trauma seolah bertarung di dalam bola matanya yang jernih.
Melihat Zivara yang hanya diam, Kaizar dengan sigap meraih segelas air di atas nakas. Ia membantu Zivara minum dengan gerakan yang sangat telaten, menyangga tengkuk gadis itu dengan kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh kulit Zivara yang masih pucat.
"Minumlah sedikit demi sedikit," ucap Kaizar pelan.
Setelah membantu Zivara kembali berbaring, Kaizar beranjak untuk menyesuaikan suhu pendingin ruangan dan merapikan selimut gadis itu hingga batas dada. Meskipun begitu, ia tetap menjaga jarak yang cukup jauh. Ia tidak duduk di pinggir ranjang seperti biasanya, melainkan kembali ke kursi tunggu yang letaknya satu meter dari tempat tidur.
Rasa bersalah itu kini tampak nyata di wajah Kaizar yang biasanya kaku dan tanpa emosi. Ia merasa tidak layak berada terlalu dekat dengan Zivara. Di matanya, setiap helai rambut Zivara yang berantakan dan setiap bekas luka kecil di tangan gadis itu adalah bukti kegagalannya sebagai pelindung—atau lebih buruk lagi, bukti bahwa keberadaannya justru menjadi magnet malapetaka bagi Zivara.
"Maafkan aku, Vara," gumam Kaizar, kepalanya tertunduk dalam. "Seharusnya aku tidak meninggalkan ponselku di mobil. Seharusnya aku lebih waspada. Ini semua salahku."
Zivara mengamati setiap gerak-gerik Kaizar. Ia bisa merasakan penyesalan yang tulus mengalir dari pria itu, sebuah perasaan yang sangat kontras dengan sosok suami dingin yang ia ingat di kehidupan yang lalu. Perubahan ini membuatnya semakin bingung. Apakah garis waktu ini benar-benar bisa diubah, ataukah semua perhatian ini hanyalah penebusan dosa sebelum takdir yang lebih kejam menjemput mereka kembali?
"Kamu tidak perlu minta maaf terus-menerus, Kak," suara Zivara mulai kembali bertenaga meskipun masih terdengar rapuh. "Aku yang tidak hati-hati."
Kaizar menggeleng tegas. Ia menatap Zivara dengan mata yang memerah akibat kurang tidur. "Tidak. Aku akan mencari siapa pun yang mengunci pintu itu. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Di luar sana, Kota Bandung sedang diguyur hujan lebat, persis seperti dalam penglihatan Zivara tadi.
**
Suara rintik hujan Bandung yang menghantam kaca jendela apartemen Adrian terdengar seperti simfoni yang menghakimi. Di dalam kamar yang remang itu, Luna meringkuk, jemarinya mencengkeram erat pinggiran selimut sutra yang menutupi tubuh polosnya. Ia bisa merasakan hawa dingin AC merayap di kulitnya, tetapi rasa dingin yang paling menyiksa berasal dari dalam dadanya sendiri.
Ia menoleh pelan ke samping. Di sana, Adrian terlelap dengan napas yang teratur, tampak begitu tenang seolah tidak baru saja menjungkirbalikkan hidup Luna dalam satu malam. Pria itu tahu persis titik lemahnya. Dengan rekaman CCTV di gudang DKV sebagai umpan, Adrian telah menyeret Luna kembali ke dalam pelukannya—sebuah jebakan yang dibungkus dengan kata "kepemilikan".
Luna memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir sisa-sisa sentuhan Adrian yang masih terasa di kulitnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, membasahi bantal satin yang mewah. Ia merasa kotor, namun di saat yang sama, ia merasa hancur.
Ada sisi dari dirinya yang berteriak marah karena dimanipulasi, tetapi ada bagian kecil di sudut hatinya yang terdalam—bagian yang selama ini ia kunci rapat—yang berdenyut perih. Ia membenci kenyataan bahwa kehadiran Adrian masih mampu membangkitkan getaran yang seharusnya sudah mati sejak ia mengejar Kaizar. Rasa cintanya pada Adrian di masa lalu adalah luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh, dan kini Adrian sengaja membukanya kembali dengan cara yang paling kasar.
"Kenapa harus begini?" bisiknya nyaris tak terdengar, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan.
Pikirannya melayang pada Kaizar. Kaizar Ravindra, pria yang menjadi pusat gravitasinya selama beberapa tahun terakhir. Luna takut membayangkan hari esok. Bagaimana ia bisa menatap mata Kaizar yang dingin namun tajam itu? Bagaimana jika Adrian benar-benar melaksanakan ancamannya untuk membongkar kejadian di gudang sore tadi?
Jika Kaizar tahu Luna adalah dalang di balik penderitaan Zivara, habis sudah segalanya. Kaizar yang sekarang bukan lagi Kaizar yang bisa ia pengaruhi dengan air mata buaya. Kaizar yang sekarang seolah memiliki radar yang bisa mencium kebohongannya.
Luna merasa terjebak di tengah labirin tanpa jalan keluar. Di satu sisi, ada obsesinya pada posisi dan kemewahan yang ditawarkan keluarga Ravindra. Di sisi lain, ada Adrian—masa lalu yang destruktif namun nyata, pria yang mengenalnya lebih baik daripada ia mengenal dirinya sendiri.
Ia memandangi pantulan dirinya di cermin rias yang ada di seberang tempat tidur. Wanita di dalam cermin itu tampak begitu asing; seorang wanita yang kehilangan kendali atas takdirnya sendiri, yang kini harus bersiap menghadapi badai yang ia ciptakan sendiri.
**
Di dalam kamar rawat inap yang hening dengan wangi bunga lili yang diletakkan di atas nakas. Kaizar Ravindra berdiri mematung di dekat jendela besar, menatap pantulan dirinya di kaca yang beradu dengan kelap-kelip lampu kota di kejauhan.
Pandangannya sesekali beralih pada sosok yang terbaring di atas ranjang. Zivara sudah terlelap, napasnya teratur—efek dari obat yang diberikan perawat beberapa jam lalu. Wajahnya yang pucat tampak sedikit lebih tenang di bawah temaram lampu tidur, sebuah pemandangan yang membuat dada Kaizar sesak oleh kombinasi rasa lega dan penyesalan yang tajam.
Kaizar menempelkan ponsel di telinganya. Sambungan internasional itu akhirnya terhubung.
"Halo, Om Ridwan," sapa Kaizar dengan suara rendah, nyaris berbisik agar tidak mengusik tidur Zivara.
Di seberang sana, suara Ayah Ridwan terdengar berat dan penuh kecemasan. Sebagai seorang diplomat yang sedang bertugas di luar negeri selama tiga bulan, jarak adalah musuh terbesarnya saat ini. Kaizar segera menjelaskan bahwa keadaan Zivara sudah membaik dan kemungkinan besar dokter akan mengizinkannya pulang besok.
"Terima kasih banyak, Kaizar. Om benar-benar berutang budi padamu karena sudah menemani dan menjaga Zivara di sana," ucap Ayah Ridwan, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Tolong sampaikan permintaan maaf Om pada Vara. Om merasa gagal sebagai ayah karena tidak bisa berada di sampingnya saat dia sangat membutuhkan Om."
Mendengar itu, Kaizar memejamkan mata sejenak. Ia tahu persis rasanya merasa gagal melindungi seseorang yang berharga.
"Om Ridwan tidak perlu khawatir. Fokuslah pada tugas Om di sana," balas Kaizar dengan nada yang menenangkan namun tegas. "Ada Kaizar di sini. Ada Ayah Kevin dan Bunda Dila juga yang ikut menjaga Zivara. Kami tidak akan membiarkan dia sendirian."
Setelah panggilan berakhir, kelembutan di wajah Kaizar menguap seketika, berganti dengan sorot mata sedingin es yang mematikan. Ia segera menghubungi nomor lain—orang kepercayaannya yang bergerak di bawah bayang-bayang.
"Lacak semua rekaman CCTV di sekitar gedung DKV dan area parkir belakang tanpa terkecuali," perintah Kaizar tanpa basa-basi. "Aku tidak peduli seberapa bersih mereka mencoba menghapus jejaknya. Cari tahu siapa yang memegang kunci gudang itu sore tadi dan siapa yang memberikan perintahnya. Aku ingin identitas dalangnya di mejaku sebelum matahari terbit."
Kaizar mematikan ponselnya dengan kasar. Ia kembali mendekat ke ranjang Zivara, membetulkan letak selimut gadis itu dengan gerakan yang sangat hati-hati. Tangannya sempat ragu di udara, sebelum akhirnya ia memberanikan diri mengusap puncak kepala Zivara dengan sangat lembut.
"Siapa pun yang berani menyentuhmu, Vara... mereka harus bersiap kehilangan segalanya," bisiknya parau.
Penyesalan di masa lalu telah memberinya pelajaran mahal. Jika di lini masa sebelumnya ia terlambat menyadari arti kehadiran Zivara, maka kali ini, ia akan merobek siapa pun yang mencoba memisahkan mereka kembali.
***