Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.
Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.
Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang Tak Terputus
Bab 18
Matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna jingga keemasan yang menyelimuti seluruh halaman rumah. Angin sore berhembus lembut, mengibaskan ujung gaun Elena dan rambut Alvaro yang sedang berlari kecil mengejar kupu-kupu di halaman luas itu. Leonid berdiri di samping Elena, kedua tangannya merangkul bahu wanita itu erat, menatap putranya dengan pandangan yang tak pernah sekalipun lepas penuh kasih sayang.
"Dulu aku pikir rumah ini hanya tempat berlindung," ucap Leonid pelan, memecah keheningan sore yang indah itu. "Tempat untuk menyimpan harta, tempat untuk menyembunyikan kekuatan, tempat untuk menegaskan siapa yang berkuasa. Tapi kau datang... dan mengubahnya menjadi tempat di mana hati bisa beristirahat."
Elena mendongak menatapnya, tersenyum hangat meski mata berkaca-kaca. "Rumah bukan tentang bangunannya, Leonid. Rumah adalah orang-orang yang ada di dalamnya. Orang yang kita perjuangkan, orang yang kita sayangi, dan orang yang tak akan pernah membiarkan kita jatuh sendirian."
Malam itu, setelah Alvaro terlelap dengan senyum di bibirnya, mereka duduk bersama di ruang tengah yang remang. Tak ada urusan penting, tak ada ancaman, tak ada rahasia yang ditutupi. Hanya ada keheningan yang nyaman, di mana mereka bisa saling bercerita tentang harapan-harapan kecil yang dulu tak berani diucapkan.
"Aku ingin mengajak Alvaro berjalan-jalan ke pantai minggu depan," kata Elena tiba-tiba. "Aku ingin dia melihat laut lepas, bermain pasir, dan mendengar suara ombak."
Leonid mengangguk mantap. "Kita pergi bertiga. Aku akan mengurus semuanya. Tak ada urusan pekerjaan, tak ada yang boleh mengganggu. Waktu itu hanya milik kita."
Beberapa hari kemudian, janji itu ditepati. Pantai yang tenang, pasir putih yang halus, dan laut yang biru luas menyambut mereka. Alvaro berlari kegirangan, mengejar ombak kecil sambil tertawa lepas suara yang begitu merdu, begitu penuh kebebasan yang dulu tak pernah ia miliki. Elena dan Leonid berjalan berdampingan di belakangnya, tangan mereka saling bertaut erat seolah tak ingin terpisah lagi.
"Kau tahu," ucap Elena pelan sambil menatap hamparan laut yang tak berujung. "Dulu saat aku masih... di sana, aku selalu berharap diberi kesempatan hidup lebih lama. Aku ingin sukses, ingin kaya, ingin hidup bahagia. Tapi sekarang... aku sadar bahagia itu sederhana. Cukup seperti ini."
Leonid berhenti melangkah, memutar tubuhnya menghadap Elena. Ia menatap wanita itu dalam-dalam, seolah ingin menyimpan setiap detail wajahnya di dalam ingatan selamanya.
"Apa pun yang terjadi di masa lalu, siapa pun kau sebelum ini... bagiku kau adalah takdir yang ditakdirkan untuk melengkapi hidupku," ucapnya dengan suara tegas namun lembut. "Kau adalah Elena yang kusayangi. Ibu dari anakku. Dan satu-satunya wanita yang akan selalu ada di sisiku, sampai napas terakhirku."
Malam harinya saat api unggun kecil menyala di tepi pantai, Alvaro tertidur pulas di pangkuan Leonid. Elena duduk di samping mereka, membiarkan hangat api dan kasih sayang yang melingkupi mereka meresap ke dalam setiap jengkal jiwanya. Ia tahu, takdir mungkin membawanya lewat jalan yang menyakitkan hujan deras, tabrakan maut, dan dunia yang asing namun penuh makna. Tapi ia juga tahu, semua itu terjadi agar ia bisa bertemu dengan mereka berdua. Agar ia bisa melengkapi apa yang belum selesai, dan menulis lembaran baru yang indah bersama.
bersambung..