Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diculik
Elisa dan Suri baru saja selesai bersiap. Keduanya mengenakan gaun sederhana yang tetap terlihat anggun. Hari ini mereka berencana berkeliling pusat ibu kota sebelum rombongan bangsawan kembali ke wilayah masing-masing.
"Ayo cepat, Kara. Katanya pusat ibu kota ramai sekali. Aku ingin membeli beberapa aksesoris," ujar Suri dengan wajah bersemangat.
Elisa mengangguk sambil tersenyum tipis."Kalau aku ingin mencoba makanan yang dijual di pinggir jalan. Katanya enak."
"Dasar, yang kau pikirkan hanya makan."
"Memangnya salah?"
Suri hanya menggeleng geli.
Keduanya baru saja keluar dari tenda ketika langkah mereka langsung terhenti.
Di depan sana, Nyonya Winter sedang menundukkan kepala dengan hormat di hadapan seseorang.
Seseorang itu tidak lain adalah Putra Mahkota Erlan. Seketika senyum di wajah Elisa lenyap. Jika pria itu muncul, pasti sesuatu yang tidak enak akan terjadi, pikir Elisa.
Tanpa perlu diingatkan, Elisa dan Suri langsung ikut memberi hormat."Salam untuk Yang Mulia Putra Mahkota."
Erlan sama sekali tidak memedulikan Suri maupun Nyonya Winter.
Tatapan tajamnya langsung jatuh pada Nandikara."Ikut aku."
Hanya dua kata.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada permintaan.
Apalagi pertanyaan.
Perintah itu terdengar mutlak.
Elisa mengangkat kepala perlahan."Yang Mulia, aku..."
Namun Erlan sudah lebih dulu berbalik badan dan melangkah pergi seolah yakin perintahnya pasti dipatuhi.
Elisa melongo."Selalu seenaknya sendiri."
Suri menahan tawanya, dia berbisik."Aku rasa Yang Mulia memang tidak berniat mendengar jawabanmu."
Nyonya Winter segera memberi kode halus dengan pandangan matanya."Cepat."
"Ibu..."
"Jangan membuat Putra Mahkota menunggu."
"Tapi kami mau jalan-jalan," Elisa merengek.
"Jalan-jalannya lain kali."
Elisa langsung memasang wajah paling kesal sedunia. Dia melirik Suri dengan tatapan memelas."Tolong aku."
Suri justru tersenyum lebar."Selamat bersenang-senang." jawabnya, malah mengusir halus.
Dengan langkah berat Elisa akhirnya mengikuti Erlan dari belakang. Rencana berkeliling ibu kota bersama Suri pun gagal total.
Sepanjang perjalanan suasana begitu sunyi. Erlan berjalan di depan. Elisa beberapa langkah di belakangnya. Tak satu pun membuka percakapan.
Elisa beberapa kali melirik punggung pria itu.
Kalau memang mau mengajakku pergi, setidaknya bilang tujuannya ke mana.
Diam begini membuatku canggung.
Apa susahnya berbicara?
Namun karena masih kesal, Elisa memilih diam. Kalau Erlan tidak mau menjelaskan, dia juga tidak akan bertanya.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah area kandang kuda. Seorang penjaga segera berlari menghampiri.
"Salam, Yang Mulia."
"Siapkan kudaku."
"Baik."
Tak lama kemudian seekor kuda hitam besar dibawa keluar. Tubuhnya tinggi dan gagah dengan surai hitam mengilap.
Elisa menelan ludah.
Besar sekali.
Erlan mengusap leher kuda itu sebentar, lalu menoleh."Kemari, Nandikara."
Elisa langsung menggeleng."Tidak."
"Kemari."
"Tidak mau."
Erlan menghela napas pelan."Keras kepala."
"Yang keras kepala itu Yang Mulia." Baru saja Elisa selesai bicara, Erlan tiba-tiba melangkah mendekatinya.
"Apa yang..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, kedua tangan Erlan sudah mengangkat tubuhnya dengan mudah.
"A-Ah!"
"Lepaskan aku!"
"Yang Mulia!"
"Aku bisa jalan sendiri!"
Beberapa penjaga yang melihat kejadian itu langsung pura-pura memalingkan wajah. Mereka jelas mendengar teriakan Nandikara, tetapi tak seorang pun berani ikut campur.
Erlan tetap berjalan tanpa menghiraukan protes gadis itu.
"Lepaskan!"
"Aku tidak mau naik!"
"Yang Mulia, dengarkan aku dulu!"
Tidak ada jawaban.
Dengan tenang Erlan mendudukkan Elisa di atas pelana. Elisa langsung mencengkeram pelana karena takut terjatuh. Belum sempat ia turun, Erlan sudah naik ke atas kuda dan duduk tepat di belakangnya. Tubuh mereka otomatis menjadi sangat dekat.
Elisa langsung panik."Aku mau turun."
Tidak ada jawaban.
"Yang Mulia, aku serius."
Erlan mengambil tali kendali.
"Aku bisa jatuh."
"Pegangan." Perintah Erlan.
"Aku mau turun."
"Pegangan yang erat."
"Yang Mulia...." Rengekan Elisa seperti angin lalu bagi Erlan. Tanpa aba-aba lagi, Erlan langsung menjalankan kudanya.
Kuda hitam itu melangkah pelan meninggalkan area perkemahan. Elisa spontan memejamkan mata. Refleks ia memegang erat lengan Erlan."Pelan-pelan!"
"Kuda ini bahkan belum berlari." Ucap Erlan, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai.
Semakin lama, Elisa mulai memberanikan diri membuka mata. Angin pagi menerpa wajahnya. Pemandangan hutan yang luas perlahan berganti dengan jalan berbatu.
Ternyata, tidak semenakutkan yang ia bayangkan. Perlahan cengkeramannya mulai mengendur. Ia bahkan mulai menikmati perjalanan. Sesekali matanya berbinar melihat pemandangan di kanan dan kiri jalan.
Tanpa sadar, wajah cemberutnya menghilang.
Melihat perubahan itu, Erlan akhirnya membuka suara."Kemana suaramu?"
Elisa hanya menoleh sedikit. Lalu membuang wajahnya, enggan melihat Erlan.
"Hilang terbawa angin kah?"
Elisa mendengus pelan."Yang Mulia ingin aku berteriak sepanjang jalan?"
"Jika itu membuatmu nyaman, lakukan saja."
"Apa?"
"Aku tidak keberatan."
Elisa kembali cemberut. Dia menobatkan Erlan sebagai pria paling aneh sepanjang masa.