SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 – Lorong yang Sunyi
Empat orang berjalan memasuki lorong.
Di depan, Kapten Idris memimpin langkah.
Di belakangnya Kael, kemudian Lyra, sementara Reza berjalan paling belakang sambil mengawasi keadaan.
Pintu logam di belakang mereka perlahan menutup.
"Suara itu..." gumam Lyra.
Tidak ada lagi suara mesin ESS Horizon.
Yang terdengar hanya langkah kaki mereka.
"Jarak ke Ruang Pertemuan?" tanya Idris.
AURA menjawab melalui komunikasi di helm mereka.
"Dua ratus delapan belas meter."
"Komunikasi masih stabil?"
"Stabil."
"Sensor?"
"Normal."
Reza mengangguk pelan.
"Setidaknya belum ada kejutan."
Dari kapal, Darius langsung menyela melalui radio.
"Jangan ngomong begitu. Biasanya habis kalimat itu langsung ada masalah."
Beberapa orang tertawa kecil.
Bahkan Idris tersenyum tipis.
Ketegangan sedikit berkurang.
Sementara itu di ESS Horizon...
Darius masih berada di ruang mesin bersama Owen.
"Sudah ketemu penyebab mesin mati?"
Owen menggeleng.
"Aneh."
"Kenapa?"
"Reaktor kita sebenarnya masih bekerja."
"Lalu kenapa kapal tidak bisa bergerak?"
"Seolah-olah..."
Owen menunjuk layar.
"...struktur ini meminjam energi kita."
Darius mengerutkan dahi.
"Itu bisa dilakukan?"
"Aku tidak tahu."
Di dek komando, Leo terus mengamati sinyal.
"Niko."
"Ya?"
"Lihat grafik ini."
Niko mendekat.
"Kenapa bentuknya berubah?"
Leo mengangguk.
"Sejak Kapten masuk ke dalam struktur..."
"...denyut sinyal menjadi lebih teratur."
Rina ikut melihat.
"Seperti ada sinkronisasi."
"Sinkronisasi dengan apa?" tanya Evan.
Leo menggeleng.
"Itu yang belum kutemukan."
Di dalam lorong...
Hana menghubungi Kael dari kapal.
"Kael."
"Ada apa?"
"Kami menemukan sesuatu dari hasil pemindaian dinding."
"Silakan."
"Struktur ini bukan dibangun sekaligus."
"Maksudmu?"
"Ada beberapa lapisan material."
"Bagian terdalam jauh lebih tua daripada lapisan luarnya."
"Perkiraannya?"
Hana terdiam beberapa detik.
"Kalau perhitungan kami benar..."
"...bagian inti struktur ini sudah ada jauh sebelum PPM berdiri."
Kael menoleh kepada Idris.
Kapten hanya mendengarkan tanpa berkomentar.
Beberapa meter di depan...
Lorong bercabang menjadi tiga.
Semua berhenti.
"Tadi di denah tidak ada percabangan," kata Lyra.
Kael membuka pemindai.
"Benar."
"AURA?"
"Denah masih menunjukkan satu jalur lurus."
Reza melihat ke kanan dan kiri.
"Berarti denahnya berubah..."
"...atau tempat ini berubah."
Tiba-tiba terdengar suara.
"Bunyi apa itu?" bisik Lyra.
Semua diam.
Suara itu terdengar lagi.
Tok...
Tok...
Tok...
Seperti seseorang sedang berjalan.
Namun langkah itu berasal dari lorong sebelah kiri.
Reza mengangkat senjata kejutnya.
"Siapa di sana?"
Tidak ada jawaban.
Tok...
Tok...
Tok...
Langkah itu semakin dekat.
Kael memberi isyarat agar semua bersiap.
Beberapa detik kemudian...
seekor benda kecil keluar dari sudut lorong.
Semua refleks mengarahkan senjata.
Namun benda itu berhenti.
"Itu..." kata Lyra.
"Bukan makhluk hidup."
Bentuknya menyerupai bola logam seukuran telapak tangan.
Enam kaki kecil keluar dari bagian bawahnya.
Robot itu memiringkan tubuhnya ke arah mereka.
Kemudian memancarkan cahaya biru.
AURA langsung memberi laporan.
"Tidak terdeteksi senjata."
Robot kecil itu berputar pelan.
Lalu berjalan menuju lorong tengah.
Berhenti.
Menoleh lagi ke arah mereka.
Seolah memberi isyarat.
"Dia menyuruh kita ikut?" tanya Kael.
"Atau menjebak kita," jawab Reza.
Idris memperhatikan beberapa saat.
"Lorong mana yang ditunjukkan di denah?"
"Yang tengah," jawab AURA.
Kapten mengangguk.
"Kita ikuti."
Robot kecil itu berjalan tanpa terburu-buru.
Sesekali berhenti memastikan empat manusia itu masih mengikutinya.
Lyra memperhatikan setiap gerakannya.
"Gerakannya halus sekali."
"Teknologinya lebih maju?" tanya Kael.
"Bisa jadi."
"Atau..."
Lyra menyentuh dinding lorong.
"...robot ini dirawat terus-menerus."
Di ESS Horizon, Rina tiba-tiba berseru.
"Kapten!"
Kael menekan komunikasinya.
"Ada apa?"
"Aku berhasil membuka sebagian arsip Pos Observasi Tujuh."
"Isinya?"
"Hanya satu daftar."
"Daftar apa?"
Rina menelan ludah.
"Daftar personel."
"Berapa orang?"
"Awalnya..."
"...seratus dua belas orang."
Kael mengangguk.
"Lalu?"
Rina menarik napas.
"Status mereka sekarang..."
"...tidak ada yang tercatat meninggal."
Langkah keempat orang itu berhenti bersamaan.
Seratus dua puluh enam tahun telah berlalu.
Namun menurut arsip Pos Observasi Tujuh...
tidak satu pun penghuninya pernah dinyatakan mati.