NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Mesin mobil meraung keras membelah keheningan malam yang kian larut. Di balik kemudi, jemari Bara mencengkeram lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Sorot matanya yang tajam menatap lurus ke jalanan yang lengang, sementara otaknya terus berputar menerka-nerka apa yang sedang terjadi di rumahnya.

Suara isak tangis dan ketakutan Andrea yang ia dengar lewat telepon terus bergema di kepalanya, membuatnya sedikit tak tenang. Tanpa memikirkan apa pun lagi, Bara memacu kendaraannya untuk pulang.

Hanya dalam hitungan menit, sedan hitam milik Bara memasuki pelataran rumah. Setelah mematikan mesin mobilnya, Bara segera keluar dan masuk ke rumah. Suasana di lantai bawah tampak lengang, menyembunyikan kekacauan di dapur yang luput dari penglihatannya. Pikiran Bara saat ini hanya tertuju pada Andrea.

Dengan langkah lebar dan terburu-buru, Bara menaiki anak tangga menuju ke kamar Andrea. Saat tiba di depan pintu yang tertutup rapat, ia mengetuknya pelan.

"Andrea ... ini Kakak. Buka pintunya," panggil Bara, suaranya berubah lembut.

Hening sejenak sebelum akhirnya terdengar suara gesekan samar perabot berat yang digeser perlahan. Tak lama kemudian, kunci pintu berputar dan daun pintu terbuka sedikit.

Wajah Andrea muncul dari balik pintu. Matanya sembap, pipinya basah oleh air mata, dan tubuhnya masih gemetar. Ia juga masih mengenakan gaun tidur sutra tipis bertali kecil berwarna merah muda lembut yang kini agak kusut, memperlihatkan betapa rapuhnya kondisi gadis itu saat ini.

Begitu manik mata Andrea menangkap sosok Bara yang berdiri tegap di hadapannya, pertahanannya runtuh.

"Kak Bara ...." lirih Andrea.

Tanpa membuang waktu, Bara.pun langsung menerobos masuk dan menarik tubuh Andrea ke dalam pelukannya.

"Kamu kenapa?" tanya Bara pelan, tapi Andrea hanya menggeleng.

"Oke, jangan dipaksakan kalau memang belum ingin cerita. Bara tidak memaksa Andrea untuk memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak menuntut penjelasan, dan tidak peduli pada hal lain selain fakta bahwa Andrea saat ini sangat membutuhkannya.

Bara melepas jaket kulit yang dikenakannya, lalu menyampirkannya dengan lembut ke bahu Andrea, membungkus tubuh gemetar itu dari dinginnya malam. Ia mengelus pelan rambut halus Andrea, menyandarkan kepala gadis itu ke dadanya yang hangat.

"Sudah ... tenang, ya. Kamu aman sekarang. Ada Kakak di sini," bisik Bara lembut tepat di samping telinga Andrea, memberikan ketenangan yang meluluhkan.

Perlakuan hangat dan rasa aman yang begitu hangat mendadak memenuhi dada Andrea. Di tengah sisa ketakutan dan kerapuhan trauma yang baru saja menimpanya, kehadiran Bara menjadi satu-satunya tempat bersandar yang aman. Rasa dilindungi, dikasihi, dan disayangi menyeruak di hatinya hingga mengetuk keberanian terdalam Andrea.

Andrea mendongak, menatap lekat paras tampan Bara yang berada begitu dekat dengannya. Air matanya kembali menetes, namun kali ini bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena perasaan besar yang tak mampu lagi ia bendung sendiri.

"Aku takut banget Kak ... tapi begitu lihat Kak Bara ada di sini, aku sadar ...." suara Andrea bergetar, jemari mungilnya meremas kemeja Bara di bagian dada. "Aku nggak cuma butuh Kakak sebagai pelindungku .... aku mencintai Kak Bara. Aku sangat mencintai Kakak ... lebih dari apa pun."

Bara terpaku. Kalimat jujur yang polos itu terngiang jelas di telinganya. Bara tidak menjawab dengan kata-kata. Tatapan matanya meredup, menyimpan keheningan yang dalam dan penuh makna.

Sebagai gantinya, Bara menundukkan kepala. Jemari tangannya merengkuh lembut tengkuk Andrea, lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir lembut gadis itu.

Ciuman itu berawal dengan begitu lembut, sebuah tautan bibir yang sarat akan kehangatan, perlindungan, dan kasih sayang yang mendalam. Bara menyesap bibir Andrea perlahan, seolah menyapu bersih seluruh sisa ketakutan dan kesedihan yang menggelayuti jiwa gadis itu.

Sentuhan hangat itu membuat dada Andrea berdesir hebat. Semua yang Bara lakukan membuat Andrea sangat yakin kalau Bara juga sangat mencintainya.

Detik berikutnya, ciuman hangat itu perlahan berubah menjadi semakin intim dan menuntut. Desahan halus lolos dari tenggorokan Andrea saat tautan bibir mereka kian dalam. Gelombang gai rah dan kepasrahan menyapu bersih seluruh keraguannya.

Dalam pekatnya malam dan buaian rasa cinta yang membara, Andrea menyerahkan dirinya sepenuhnya. Ia membiarkan jemari Bara menanggalkan jaket kulit yang membungkus bahunya, disusul tali gaun tidur sutra tipisnya yang perlahan meluncur jatuh dari bahu mulusnya. Di atas tempat tidur di dalam kamar yang temaram itu, di bawah kehangatan pria yang begitu ia cintai, Andrea dan Bara menyatukan rasa dan jiwa mereka dalam kehangatan malam.

Perlahan Bara membimbing tubuh mungil Andrea menuju ke atas tempat tidur. Di bawah remang cahaya lampu tidur, gaun malam sutra tipis yang tadinya menggantung di bahu Andrea, kini jatuh dengan lembut dari tubuhnya dan dilempar begitu saja ke lantai, menyisakan kehangatan malam yang kini hanya milik mereka berdua.

Jantung Andrea berdegup kencang, suaranya berpacu dengan detak jantung Bara yang berada tepat di atasnya. Rasa takut yang beberapa saat lalu menyiksanya mendadak sirna, tergantikan oleh gelombang desiran manis yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap kali jemari Bara yang hangat menyentuh kulitnya, mulai dari pinggang rampingnya hingga membelai pipinya yang bersemu merah, tubuh Andrea bergetar penuh hasrat.

"Kak Bara .... " bisik Andrea lirih sambil menatap tepat di kedalaman manik mata Bara yang redup namun penuh kehangatan yang memabukkan.

Tanpa bersuara, Bara kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini, ciumannya terasa lebih dalam, menuntut, namun tetap dipenuhi kelembutan yang menyihir. Jemari Bara menyusup perlahan di antara jemari tangan Andrea. Mengunci bagian itu dengan erat di atas sprei, memberikan rasa aman yang begitu membakar. Senandung napas mereka menyatu, saling bersahut-sahutan di dalam kamar yang kian menghangat.

Setiap sentuhan Bara benar-benar terasa begitu lembut dan memabukkan. Ia menjelajahi setiap jengkal keindahan tubuh Andrea dengan sapuan lembut bibir dan jemarinya, membuat napas Andrea tertahan dalam kepuasan manis yang membakar. Desahan halus meluncur berulang kali dari bibir Andrea saat gelombang sensasi mendebarkan menjalar ke seluruh tubuhnya.

Di bawah naungan malam yang hening dan kehangatan yang kian memuncak, rasa canggung dan keraguan Andrea runtuh sepenuhnya. Ia menyatukan tubuh dan jiwanya, menyerahkan seluruh dirinya kepada pria yang paling ia percayai di dunia ini. Malam itu menjadi saksi bisu penyerahan diri yang begitu indah, manis, dan mendalam. Sebuah ikatan yang menyatukan mereka dalam buaian gairah yang tak akan pernah terlupakan seumur hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!