Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 : Mulai Fitnah
Winarsih menatap amplop itu dengan cemas. "Bu... itu surat untuk saya."
Sulastri melirik sinis sebelum melipat kembali surat tersebut. "Surat apa? Nggak ada surat buat kamu."
"Tapi tadi bapaknya bilang..."
"Diam!"
Kurir yang mengantar surat itu hanya bisa saling pandang dengan Winarsih. Ia merasa aneh, sebab nama penerima memang jelas tertulis Winarsih Larasati. Namun karena yang menerima adalah ibu kandung Benni, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah kurir pergi, Sulastri segera masuk ke kamarnya sambil mengunci pintu. Di dalam kamar, ia kembali membaca isi surat itu. Surat itu berisi kabar dari Benni. Selain menanyakan keadaan istrinya, Benni juga menyelipkan secarik kertas berisi nomor telepon tempat ia bekerja di Jepang.
"Dek, mulai minggu depan Mas sudah bisa ditelepon setiap hari Minggu jam tujuh malam. Mas juga sudah mengirim uang lebih banyak agar kamu bisa membeli kebutuhanmu dan menabung."
Sulastri tersenyum licik. "Kalau kalian sampai berhubungan, semua rencanaku bisa gagal."
Tanpa ragu, ia merobek surat itu dan sebelum di robek, ia mencatat nomor telepon itu di ponselnya. Ia lansung mencoba menghubungi Benni, beberapa menit kemudian...
"Halo, Nak..."
"Bu, saya sudah mengirim surat untuk Winarsih, apa sudah sampai?"
Sulastri mengembuskan napas panjang, sengaja membuat suaranya terdengar sedih. "Ben... Ibu sebenarnya bingung harus ngomong apa sama kamu. Selama kamu di Jepang, Winarsih sudah banyak berubah."
"Maksud Ibu apa?"
"Ibu sering melihat dia pulang sore bersama laki-laki. Bahkan sekarang dia kerja entah di mana tanpa izin. Ibu takut... dia sudah punya pria lain."
Di Jepang, wajah Benni langsung pucat. Tangannya gemetar menggenggam ponsel. "Benarkah itu, Bu?"
Sulastri menutup mulutnya, menyembunyikan senyum kemenangan. "Kalau kamu tidak percaya, nanti Ibu akan buktikan semuanya."
Ucapan itu membuat dada Benni terasa sesak. "Bu... tapi Winarsih bukan perempuan seperti itu."
Sulastri mengembuskan napas panjang, seolah-olah menahan tangis. "Dulu memang bukan, Ben. Tapi sejak kamu pergi, semuanya berubah."
Benni terdiam, pikirannya dipenuhi kenangan saat pertama kali mengenal Winarsih. Gadis itu dikenal pendiam, sopan, dan tak pernah bertingkah aneh. Sulit rasanya mempercayai ucapan sang ibu.
Namun di sisi lain, Sulastri adalah orang yang membesarkannya seorang diri setelah ayahnya meninggal. Selama ini ia tak pernah sekalipun meragukan perkataan ibunya.
"Ibu nggak mungkin bohong sama kamu." Kalimat itu kembali terdengar. "Kalau memang Winarsih baik-baik saja, kenapa dia tiba-tiba kerja? Kenapa dia sering pulang sore?"
Benni hanya terdiam dan bingung harus berkata apa.
"Sepertinya dia mulai menyembunyikan sesuatu dari kamu dan Ibu."
Benni mengusap wajahnya kasar. "Memangnya kerja di mana, Bu?"
"Katanya sih di pabrik roti."
"Pabrik roti?"
"Iya. Tapi siapa yang tahu? Setiap pulang selalu sore. Kadang bajunya bau parfum laki-laki."
Padahal kenyataannya aroma yang melekat di pakaian Winarsih berasal dari mentega dan roti yang baru matang. Namun Sulastri sengaja memutarbalikkan semuanya.
Benni mulai gelisah. "Bu... tolong awasi dia."
"Ibu pasti awasi. Ibu juga nggak mau kamu dikhianati."
"Iya, Bu."
"Oh ya, uang yang kamu kirim sudah Ibu terima."
"Iya, Bu. Tolong sebagian buat Winarsih."
Sulastri tersenyum tipis. "Tentu."
Padahal tak sepeser pun uang itu akan diberikan kepada menantunya.
Malam itu Winarsih duduk sendirian di belakang rumah. Langit Desa Sekar Sari tampak dipenuhi bintang. Ia memeluk lututnya sambil menatap bulan.
"Mas... apa kabar di sana?"
Sudah sebulan lebih ia tak pernah mendengar suara suaminya. Ia tidak tahu bahwa Benni baru saja berkomunikasi dengan Ibunya.
Winarsih mengusap air matanya. "Aku cuma ingin dengar suaramu sekali saja."
Dari balik jendela, Sulastri memperhatikan Winarsih dengan tatapan penuh kebencian. "Menangislah sepuasmu, ini baru permulaan."
Hari-hari berikutnya, Winarsih semakin sibuk bekerja di pabrik roti. Ia datang sebelum matahari terbit dan pulang menjelang petang.
Juragan Warso memperhatikan etos kerja gadis itu. "Winarsih."
"Iya, Juragan?"
"Kamu cepat sekali mengerti."
Winarsih tersenyum tipis. "Saya cuma berusaha bekerja dengan baik."
Juragan Warso mengangguk puas. "Mulai bulan depan gajimu saya naikkan."
Mata Winarsih membulat. "Benarkah, Juragan?"
"Iya."
"Terima kasih banyak."
"Dan mulai besok kamu ikut mengantar roti ke beberapa warung."
Winarsih mengangguk. "Baik, Juragan."
Dari kejauhan, seorang pekerja bernama Rudi memandang Winarsih sambil tersenyum. "Gadis itu rajin sekali."
Sayangnya, senyuman sederhana itu justru menjadi awal petaka.
Siang itu Sulastri diam-diam datang ke pabrik roti. Ia berdiri di balik pohon mangga yang berada di depan bangunan.
Dari sana ia melihat Winarsih sedang berbicara dengan Rudi. Padahal mereka hanya menghitung jumlah roti yang akan dikirim.
Namun di mata Sulastri, pemandangan itu terlihat sangat berbeda. "Nah... akhirnya."
Ia segera mengeluarkan ponsel yang baru dibelinya dari uang yang di kirim oleh Benni.
Cekrek... cekrek...
Beberapa foto berhasil diambil. Sudut pengambilan gambar sengaja dibuat seolah-olah Winarsih sedang tertawa mesra bersama seorang pria.
Sulastri tersenyum puas. "Kalau foto ini dikirim ke Benni, pasti dia langsung percaya."
Malam harinya Benni mendapat kesempatan menelpon.
Akhirnya ia menghubungi Ibunya lagi. "Bu... bagaimana keadaan di rumah?"
Sulastri sengaja berbicara dengan suara pelan. "Ben... Ibu sedih."
"Ada apa lagi?"
"Ibu tadi melihat sendiri."
"Melihat apa, Bu?" tanya Benni penasaran.
"Winarsih berduaan dengan laki-laki di tempat kerjanya."
Jantung Benni kembali berdegup kencang. "Bu... mungkin mereka hanya teman kerja."
"Teman kerja sampai saling pandang begitu, Ibu juga sempat memotretnya."
Benni langsung terdiam.
"Besok Ibu kirim fotonya."
Ucapan itu membuat Benni tidak bisa tidur semalaman. Di dalam hatinya, ia masih ingin mempercayai istrinya. Namun setiap kata yang diucapkan ibunya perlahan mengikis kepercayaan itu.
Keesokan paginya, Winarsih sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya telah difitnah. Ia tetap bekerja seperti biasa, setelah semua roti selesai dimasukkan ke dalam keranjang, Juragan Warso menghampirinya.
"Winarsih."
"Iya, Juragan?"
"Hari ini kamu antar roti ke Puskesmas Sekar Sari."
Winarsih mengangguk. "Baik, Juragan."
"Karena ada Dokter baru yang bertugas di sana memesan cukup banyak."
Winarsih hanya mengangguk, lalu ia segera mengangkat keranjang rotinya ke atas sepeda.
Di sisi lain...
Sulastri baru saja selesai mengirim foto-foto hasil fitnahnya kepada Benni.
Beberapa menit kemudian, ponsel Benni berdering. Tangannya gemetar saat membuka gambar yang dikirim sang ibu. Matanya membelalak. Dalam foto itu, Winarsih terlihat sedang tersenyum ke arah seorang pria. Padahal kenyataannya foto tersebut diambil dari sudut yang menyesatkan.
Wajah Benni memucat. "Winarsih... kenapa kamu tega."
Sementara itu, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi, Winarsih mengayuh sepedanya menuju Puskesmas Sekar Sari. Di tikungan tajam dekat jembatan, sebuah mobil SUV hitam melaju cukup kencang dari arah berlawanan.
Winarsih panik, rem sepedanya mendadak blong.
"Ya Allah...!"
Brak!
Suara benturan keras menggema di jalan desa. Keranjang roti terlempar ke segala arah. Tubuh Winarsih terjatuh ke aspal.
Pintu mobil itu langsung terbuka.
Sepasang sepatu pantofel hitam menginjak tanah, disusul sosok pria tinggi berkemeja putih dengan jas dokter yang masih melekat di tubuhnya.
Pria itu berlari menghampiri Winarsih yang mulai kehilangan kesadaran. Saat wajah Winarsih terangkat, sorot mata pria itu mendadak membeku.