NovelToon NovelToon
Gairah Musuhku

Gairah Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Teen / Nikahmuda / Enemy to Lovers
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: HyMaira

Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.

Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.

Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

“Ayo makan dulu, ily…” Rey menunduk, sambil mengusap kepala Emily yang masih menekuk di meja makan. “…katanya tadi mau yang seger itu, udah gue bikinin smooties mangga… sama sandwich,” ucapnya lembut.

“Sudah gue bilang, gue lemes, Rey…” Emily mengangkat wajahnya sebentar, menatap Rey. “…lo yang ga kira-kira sama gue, tega banget, gue sampai dibuat kelelahan begini… pengen tiduran,” ucapnya pelan.

“Iya maaf, tapi makan dulu lah, Lo belum makan apa-apa juga…” Rey tersenyum, menepuk bahu Emily. “…ayo, gue udah bikinin lo, masa Lo nggak mau makan,” ucapnya menenangkan.

“Iya, gue makan, tapi habis ini gue pengen tidur…” Emily menunduk lagi, suaranya lirih. “…tapi kamarnya juga masih berantakan, nggak ada tenaga buat ngeberesin, sprei-nya kotor basah, ada darahnya, belum diganti,” ucapnya cemas.

“Ya udah, nanti gue yang beresin, tenang aja…” Rey menepuk punggung Emily. “…Lo makan, gue beresin kamarnya, gue ganti spreinya sekarang,” ucapnya menenangkan.

“Tapi lu udah bikin makan, berarti beresin kamar tugas gue…” Emily meringis, menatap Rey.

“Nggak apa-apa, kali ini lo nggak usah ngapa-ngapain…” Rey tersenyum, menunduk sebentar. “…sudah istirahat aja, pulihin tenaga lo, karena lo udah muasin gue dari semalam sampai pagi ini, jadi hari ini loh boleh full istirahat,” ucapnya lembut.

“Aaaaa, thank you, Reyyy,” Emily tersenyum lega.

Sekitar pukul 03.00 sore, Rey masih asik bermain game di handphonenya, sementara Emily sejak tadi sudah terlelap. Setelah Tempat  tidur nya sudah dibersihkan Rey, tapi sampai hampir pukul 03.00 Emily belum juga bangun. Rey enggan membangunkan—biar kan  aja dia istirahat, pikirnya.

Tiba tiba banyak sekali

Notifikasi dari  grup chat basket yang tiba-tiba ramai. Rey membaca sekilas.

Tama: Bos, sore latihan terakhir kan?

Bara: Si bos dari tadi nggak muncul, yaelah. Katanya semalam nggak enak badan.

Ezra: Muncullah bos, jangan bikin kita overthinking. Nggak mungkin kan lo lagi ngelonin LC.

Gio: Pikiran si Ezra mah kelonan mulu, heran dah.

Bara: Kayak nggak doyan aja loh, hahaha.

Gio: Anak soleh, hahaaa.

Tama: Anak soleh minumnya alkohol, badas nggak tuh hahaha.

Ezra: Hei para anak muda, yang soleh itu kayak gini…

Gio: Hhhha, soleh ah ah ah, itu mah…

Tama: Lo kenapa dah, Giopano? Hahaha, kejepit kucing lo?

Tama: Lagi mempraktekkan ustad Ezra.

Rey hanya menyelipkan balasan singkat.

Rey: Sore jam 4 otw.

Tama: Yey, si bos akhirnya muncul.

Gio: Curiga si bos habis bersemayam.

Ezra: Dapat berapa ronde, bos?

Rey: Asuuuuu.

Masih banyak balasan lain, tapi Rey memilih keluar dari room chat. Ia lalu menoleh pada Emily yang masih tidur pulas. Jam hampir menunjukkan 03.30.

“Ily, bangun dulu dong…” Rey menepuk pelan bahu Emily.

“Hmmm… apa, Rey… masih ngantuk gue,” gumam Emily sambil menarik selimut.

“Gue mau latihan basket, ily. Lo tau kan, besok gue tanding. Sore ini gue mau latihan sama anak-anak. Lo mau ikut apa gimana?” Rey menatapnya serius.

“Gila aja lo, masa gue ikut. Tapi gue kesepian sendirian,” ucap Emily setengah malas.

“Terus lo maunya gimana?” Rey mengernyit.

“Tapi tadi abang nyuruh gue anterin Kak Ruhi…” Emily menoleh sebentar.

“Ruhi???” Rey mengulang dengan dahi berkerut.

“Iya, dia pacarnya abang…” jawab Emily santai.

“Oh… ya sudah, anterin dia aja. Mau gue anterin sekalian?” Rey menawarkan.

“Gue bawa motor, Rey.” Emily menggeleng.

“Ke mana emang?” tanya Rey.

“Ngambil belanjaan ke butik. Bang Al nggak bisa nganter,” jawab Emily singkat.

“Oh ya udah, kalau gitu hati-hati ya. Gue janji pulangnya langsung balik ke apart kok.” Rey tersenyum tipis.

“Tapi gue rencananya habis nganter Kak Ruhi mau ke rumah ibu. Kangen aja, pengen makan di sana. Nanti lo nyusul aja,” ucap Emily.

“Oke, kalau begitu gue berangkat sekarang ya. Siap-siap dulu.” Rey berdiri, meraih jaket.

“Hmmm, gue pengen tidur sebentar lagi… jam 05.00 gue otw,” gumam Emily, menutup mata lagi.

“Okelah, lo tidur lagi aja, baik-baik ya, gue berangkat” ucap Rey sambil menepuk lembut bahunya.

“Oke, Rey,” jawab Emily pelan sebelum kembali terlelap.

Mereka latihan di lapangan kampus. Meskipun hari itu  hari Minggu, tim sengaja memilih lapangan kampus supaya gampang ditemukan semua orang. Saat Rey sampai, teman-temannya sudah stand by, begitu juga Nael dan Dion—meskipun bukan dari grup BLR, tapi masih satu kelas dan satu kampus.

“Woyyy, bos… sehatt?” tanya Tama sambil melambaikan tangan.

“Hmmm.” Rey hanya menjawab datar.

“Bos, semalam lo beneran nggak enak badan?” Ezra menyipitkan mata penuh curiga.

“Menurut lo?” Rey mendengus, lalu melangkah cepat. “Udah, gue ganti baju dulu…”

Di ruang ganti, Rey baru sadar. Saat berangkat tadi dia pakai celana panjang, jaket kulit, dan kaos tipis. Tapi sekarang harus ganti jersey basket yang lengan kutung—otomatis dada dan lehernya terekspos jelas. Masalahnya, kis mark bekas semalam masih terlihat begitu nyata.

“Ohhh, sith… ini pasti jadi bulan-bulanan mereka,” gumam Rey, menepuk jidat.

Mau ditutupin pakai apa? Kaos nggak mungkin, concealer kayak punya Emily jelas nggak ada. Akhirnya mau tak mau Rey pasrah, keluar dari ruang ganti.

Begitu muncul ke lapangan, semua mata langsung nyangkut ke lehernya yang penuh bercak merah.

“Woyyy bosss… hahahahah gila lo, bos!” Gio langsung ngakak sampai membungkuk. “Lo abis ngapain, bos… la ilaha illallah!”

“Ahahahah, bos serius ini… lo juga bisa nafsu ya bos?” Bara menepuk-nepuk bahu Ezra sambil ketawa.

“Asuuu luu… gue normal anjir!” Rey mengangkat tangan, menepis godaan mereka sambil setengah malu.

“Bos… vampir mana yang ngesep darah suci lo, bos?” timpal Bara lagi, bikin yang lain meledak ketawa.

“Bos… apa ini yang dinamakan nggak enak badan semalam? Sampe kerokan di leher-leher, ya?” ledek Tama dengan wajah polos.

“Gue alergi,” elak Rey cepat.

Sontak, semua temannya tertawa terbahak-bahak.

“Ahahahahaha bos, sumpah lo lucu banget kalo lagi bohong! Ya ampun, bos… belajar bohong dari mana sih? Kagak pantees banget!” ucap Bara masih sambil terpingkal.

“Bos… gue yakin vampirnya pasti hyper banget ya bos. Bisa kerokan sampe paha lo gitu. Gue yakin di perut sama selangkangan lo juga ada tuh, bos!” Ezra nyengir nakal.

“Hahaha… asuuuu lo pada! Udah, mau latihan nggak?” Rey mendengus, mencoba menyembunyikan wajah yang mulai memerah.

Tapi tawa teman-temannya makin pecah, sampai ada yang ngik-ngik sendiri saking ngakaknya.

“Hahahaha… akhirnya bos gue normal juga. Eh, tiba-tiba jadi suhu!” ledek Gio.

“Wanita mana yang nggak beruntung itu, bos?” tama ikut nyeletuk, membuat semuanya kembali terbahak.

“Asuuuuuuuuu!!!” Rey berteriak frustrasi, semen

tara sahabat-sahabatnya tak henti menertawakan.

1
°RhaiKen™
aihhh so sweet deh...gak sabar buat kegep lgi berdua ma anak buah nya 🤣🤣✌️ semangat up nya kak...
°RhaiKen™
astogeeee....mereka yg buk segel aku yg ngilu 🤣🤣🤣🤣/Hammer//Hammer/
Rais Raisya
lanjut ka
Rais Raisya
lanjut ka crita ya seru 🤭💪
Ar Junita
benci menjadi cinta..romantis
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!