Pertemuan yang tak baik belum tentu menjadi akhir yang buruk, karna seiring berjalannya waktu perasaan itu pasti akan muncul, contohnya perasaan jatuh cinta dan suka.
seperti kisah Jovandra dan adelliana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annaaluvv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 9
1 jam berlalu-
06:32
Joan terbangun dari tidurnya saat suara alarm terdengar, Joan bangkit dan segera melihat ke arah tempat tidur miliknya yang sudah kosong dan ada seragam milik Liana yang basah karna kejadian semalam.
Joan menundukkan kepalanya, Liana sepertinya sudah tau apa yang terjadi semalam saat di mana tiba tiba Joan mengecup kening Liana tiba tiba.
" shyitt, gue harus ngomong apa nanti "
Joan jadi merasa bersalah, niat ingin mendekatkan Yolla dan Liana agar lebih lama bersama agar Yolla tak kesepian, malah berakhir seperti ini.
Joan menampar pelan wajahnya sendiri
" Salah Lo ga bisa nahan "
Ketika Joan hendak meraih ponselnya ada yang membuka pintu kamarnya keras sampai Joan mengurungkan niatnya untuk Meraih ponselnya itu, dua pria berdiri di sana, itu Bram dan Dika.
" Anjir ni cowo baru bangun jam segini, berantakan banget kamar Lo Jo " Ujar Bram seraya berjalan ke arah sofa lalu duduk di samping Joan.
Dika sendiri berjalan ke arah jendela kamar Joan, namun ketika dika hampir sampai di dekat jendela bola mata Dika bergerak ke arah penyangga tempat tidur dan melihat seragam putih yang tergantung di sana.
Dika berjalan cepat dan segera meraih baju putih itu, dari logo yang dika lihat itu sangat berbeda dengan logo seragam milik Joan alias buka logo lentera biru.
Dika membulatkan matanya terkejut saat melihat name tag yang tertempel di bajunya
"Adelliana DAVIENNA! " Seru Dika tak, Dika langsung menatap ke arah Joan tak percaya " Jo,,,, Lo abis ngapain anak orang anjir "
Bram yang penasaran pun menghampiri Dika dan mengambil seragamnya dari tangan Dika " Wah parah Lo Jo, udah sampe ke tahap kaya gini "
" Otak Lo berdua perlu di service kayaknya " Ujar Joan lalu bangkit untuk mengambil seragam milik Liana dari tangan bram.
Joan kembali duduk dan segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara Liana dan dirinya semalam, agar tak terjadi salah paham yang bisa membuat nama dirinya dan Liana jelek.
" Yakin Lo, pasti ada yang lain ya gak " Ujar Dika sembarii menyenggol Bima.
" Gue banting juga ya Lo! " Geram Joan melihat tingkah Dika dan Bram yang seperti sengaja menggodanya.
" Kalo Yesa tau gimana anjir, Lo sama dia bisa perang dingin mungkin bisa perang beneran, secara Yesa demen banget sama Liana " Ujar Dika.
Bram menggedikan bahu " ya gimana ya, Liana banyak yang demen lagian, kalau gue kagak punya cewe gue juga pasti demen sama Liana, secara dia cantik "
Joan merotasikan matanya " Ayo buruan cabut "
...----------------...
11:56
Liana kini tengah asik menyiram area taman kecil di depan rumahnya, tak ada kegiatan lain lagi sebenarnya berhubungan Liana sedang dalam keadaan bosan Liana pun memilih untuk menyiram tanaman di taman depan rumahnya.
Hampir selesai dengan kegiatan menyiram tanaman ponsel Liana berbunyi, Liana menyimpan alat penyiram dan segera memeriksa dan mengangkat telpon masuk itu.
Liana mengangkat telpon yang tak di kenali itu " Hallo, siapa ya? " Tanya Liana
" Hi Li, gue Yesa dari SMA lentera biru " Ujar suara pria di sebrang sana, nama Yesa yang di sebutkan tentu Liana tak mengenalnyaa.
" Bisa dapet nomor gue dari mana? " Tanya Liana
" Ada dari temen Lo, Lo sibuk? ada waktu gak? " Tanya Yesa.
" Ga, kenapa? " Balas Liana lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
Terdengar suara tak jelas seperti suara kertas yang sedang di acak acak " Oke, Lo tunggu di rumah Lo, nanti gue jelasin di sana, boleh " Ujar Yesa di sana.
" Eeee, o-oke " Liana merasa tak yakin, bukan apa apa Liana hanya takut jika itu telpon penipuan dengan mengatas namakan murid lentera biru.
" Se you " pamit Yesa.
Telpon pun terputus saat Yesa mengucapkan kalimat terakhir, Liana menatap ponselnya sejenak, kebingungan sesaat karna baru kali ini Liana mendapatkan telpon yang langsung mengajak dirinya bertemu.
" Bodo amat ah, siapa tau cakep kan " Ujar Liana lalu menyimpan ponselnya di saku celana.
Lagi lagi ponselnya bergetar, kini notifikasi chatting.
Liana pun segera memeriksa chatting, itu dari joandra, Liana diam tak ingin membuka pesan yang di kirim oleh Joan.
" Apa ya? Penasaran tapi,,,,"
Liana mengigit bibir bawahnya, ragu namun penasaran, Liana ingin tahu apa isi pesan yang dikirim joan, hanya terbaca ' Lo dimana? '.
" Gue tau pasti gue harus nemenin Yolla, tapi gimana kalo nanti gue ketemu dia, pasti suasananya canggung dong,,, " Liana membalikan badannya hendak kembali kedalam rumah.
Namun langkahnya terhenti saat seseorang yang sedang Liana hindari kini berdiri di hadapannya.
" Kenapa Lo gak mau ketemu gue? " Tanya Joan seseorang yang berdiri dihadapan Liana.
Liana tak langsung menjawab karena terkejut akan kedatangan Joan Yang tiba tiba itu, Joan sendiri tentu penasaran apalagi saat Liana hanya diam saja menatapnya, Joan memutuskan untuk melangkah satu kali agar lebih dekat, namun Liana melangkah mundur menjauh dari Joan.
" Kenapa Lo? " Joan bertanya dengan kembali melangkahkan kakinya.
Liana hendak mundur namun Joan terlebih dahulu manarik Hoodienya agar Liana tak lagi menjauh.
" Ngga gini s-soal se-semalem Lo- " Ucap Liana tak jelas.
" Gue apaan? " Potong joan cepat lalu melepaskan genggamannya dari Hoodie Liana " Gak ada yang terjadi semalem, l-lo ketiduran di sofa terus gue pindahin ke tempat tidur gue,,,, Udah i-itu doang " padahal Liana tak meminta terlebih dahulu pada Joan untuk menjelaskan apa yang terjadi, namun Joan menjelaskannya terlebih dahulu.
" Aaaahh, iya, gak ada, gue tidur " Ujar Liana berusaha membuat mimik wajah mengerti, bukan tak percaya namun Agar tak ada lagi kecanggungan di antara mereka.
" Iya! Jadi gausah mikir aneh aneh " Balas Joan lalu Joan memberikan paper bag berwarna hitam pada Liana " ini baju Lo, udah gue laundry tadi pas otw sini "
Liana meraih paper bag yang di berikan Joan
" makasi "
Liana menatap Joan yang masih berdiam di sana, Liana tak berniat mengusir namun memang niat Joan hanya ingin mengantarkan baju miliknya bukan?.
" Kenapa? Ada hal lain " tanya Liana.
Joan berdeham " ekhmm, itu eee "
" Apa sih? " Tanya Liana kembali, sedikit kesal karna Joan berbicara tak jelas.
" Lo,,, ada waktu gak?,,, Yola ini Yola yang minta " Ujar Joan sedikit menekankan kalimat terakhir, Joan memasukan tangannya kedalam saku jaket " Dia minta beliin sepatu terus gue gak tau apa selera cewe takutnya gue salah ni kan, kalo salah gue takut Yola marah jadi gue cari lo, bukan gue yang mau tapi Yola- "
Liana menepuk tangannya agar Joan berhenti " Banyak cingcong, bilang aja sih minta tolong buat bantu cari sepatu buat Yola, ribet banget pake segala ngejelasin "
" Ayo buruan, gak lama tapi, gue ada janji " Ujar Liana lalu berjalan melewati Joan hendak masuk kedalam rumah.
" Janji? Siapa? " Tanya Joan lalu berjalan mengikuti Liana.
Pasti laki, yakin gue*batin Joan
" Kepo! " Jawab Liana.
Joan mendelik tak suka " Dih, so sibuk Lo " ketus Joan.
Liana menghentikan langkahnya lalu berbalik membuat Joan ikut terhenti dan hampir menabrak Liana " nanya Mulu, kenapa cemburu? "
Joan mendengus " Dih ngga, geer banget Lo "
Liana balas delikan lalu berkata " Yaudah ngapain nanya! "
" Ya, yaudah sih ngegas anjir! " Balas joan
Liana menyipitkan matanya menatap Joan seakan ingin menghajar cowo di hadapannya itu, entah tak ada alasan apapun rasanya Liana geram saja.
Joan memutar balik tubuh Liana dan mendorongnya pelan agar segera masuk kedalam rumah " iya iya gue diem "
" Shit lah baru kali ini gue ngalah,mana sama cewe lagi " gumam Joan namun tetap terdengar oleh Liana, Liana lagi lagi menghentikan langkahnya hendak membalikkan badannya namun di tahan Joan " ngga Li iya ngga "
...TO BE CONTINUED ...