Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Begitu Lin Xiang mengucapkan kalimat itu, nyonya tua Xue terkejut sesaat, lalu mengerutkan kening dan berkata dengan nada tidak setuju, "kau ini asalnya menumpang pada kakak iparmu. Kau ini janda muda tak bersuami, bagaimana bisa kau membesarkan anak?"
Sebelumnya, untuk menciptakan identitas baru bagi Lin Xiang, Wang chunniang dan keluarganya menyebar kabar bahwa Lin Xiang adalah janda yang suaminya meninggal dan kini menumpang pada kakak dan iparnya.
Nyonya tua Xue adalah wanita bermulut tajam dan matanya sangat jeli. Ketika si serang dengan kata-kata itu, Lin Xiang secara refleks menciutkan tubuhnya. Namun, begitu ia menoleh dan melihat A Bao dan Jiang Ting yang mengintip di balik pintu, ia segera membusungkan dada dan menjawab nyonya tua Xue, "justru karena saya ini janda muda tidak bersuami, saya harus mencari seorang putra untuk dibesarkan agar kelak bisa mengurus masa tua saya."
Ucapan itu sangat realistis, membuat nyonya tua Xue kehabisan kata-kata.
Melihat ia tidak bisa memengaruhi orang dewasa, nyonya tua Xue langsung melangkah maju dua langkah, menghampiri A Bao dan Jiang Ting. A Bao agak takut pada nyonya tua Xue. Ia secara naluriah mendekat ke arah Jiang Ting, tangan kecilnya mencengkram erat tangan Jiang Ting.
"Jiang Ting, bibi mau bilang, pasangan itu sangat kaya. Kau lihat keluarga Zhao, orangnya banyak sekali, bagaimana mereka bisa memberimu kehidupan yang baik?"nyonya tua Xue bicara dengan cepat dan tergesa-gesa, bahkan air liurnya ikut bertebaran.
A Bao tak tahan, ia mengeluarkan sapu tangannya, mengelap wajahnya sendiri, lalu mengelap wajah Jiang Ting. Melihat nyonya tua Xue masih terus bicara, ia mendengus kesal, "aku... Aku juga akan keluar cari uang, jangan kau... Kau bawa kakak kecil pergi."
"Kau anak kecil tahu apa!" nyonya tua Xue tak tahan dan akhirnya mengeluarkan kata-kata kasar.
Jiang Ting melindungi A Bao, lalu mendorong A Bao ke sisi Zhao Heng. Barulah ia jalan menghampiri pasangan tukang kayu Lin.
Anak laki-laki itu bersikap sangat sopan. Ia membungkuk hormat pada Mereka berdua, baru kemudian berkata tanpa ekspresi, "terima kasih karena ingin mengadopsi saya. Namun, saya tidak ingin pergi dari sini."
Melihat anak itu sudah berkata demikian, pasangan tukang kayu Lin saling pandang, dan tidak berkata apa-apa lagi. Sebaliknya, nyonya tua Xue yang melihat" komisi"yang sudah ada di depan mata akan lenyap, menjadi cemas dan menggerutu pelan.
Setelah mengantar nyonya tua Xue dan rombongan pergi, di dalam rumah, Zhao Heng mengetuk-ngetuk kan jari telunjuknya perlahan ke meja, lalu berkata, "kamu bisa ikut dengan mereka."
Jiang Ting bagaimanapun juga masih anak kecil. Mendengar Zhao Heng bicara begitu serius, jari-jarinya meremas erat ujung bajunya, merasa bingung.
Lin Xiang dan Wang chunniang masuk dari depan. Mendengar ucapan Zhao Heng, Lin Xiang segera melangkah cepat dan berdiri di samping Jiang Ting.
Menatap lurus ke mata Zhao Heng yang buta namun masih terasa menakutkan, Jiang Ting berkata pelan, "saya ingin balas dendam."
"Memang benar anak kecil," cibir Zhao Heng. "balas dendam bagi seorang kesatria tidak akan terlambat walau harus menunggu sepuluh tahun. Kamu perlu mengumpulkan kekuatan dan mematangkan diri untuk bisa membalas dendam. Jangan sampai kamu mengabaikan pertumbuhan mu demi balas dendam itu. Setelah kamu cukup kuat, balas dendam hanyalah urusan sepele bagimu, mengerti?"
"Suamiku juga menyukai Jiang Ting kecil,ya. Sudah lama aku tidak mendengar mu bicara sepanjang ini. Ucapanmu memang masuk akal. Lagi pula A Bao masih kecil, bagus juga kalau ada teman seumuran." kata Wang chunniang lembut. Ia juga menyempatkan mengusap kepala kecil Jiang Ting.
Mendengar ibunya menyebut namanya, A Bao langsung berlari tap tap tap ke sisi Jiang Ting dan tertawa riang.
" Chunniang, jangan alihkan pembicaraan, "suara Zhao Heng masih terdengar serius.
Mendengar ini, Wang chunniang tidak lagi bersikap lembut. Ia menatap tajam ke arah Zhao Heng, dan suaranya tiba-tiba meninggi," Zhao Heng, apa aku memberimu muka? "
Begitu kalimat itu keluar, tidak hanya anak-anak, bahkan Lin Xiang pun menciutkan lehernya.
Zhao Heng sendiri terdiam. Tangan yang tadi mengetuk meja pun ia turunkan. Ia tampak jauh lebih "patuh" dibandingkan beberapa saat yang lalu.
"Sudah kubilang dia akan tinggal, ya tinggal. Cukup, rapat selesai." Wang chunniang mendengus lalu berbalik pergi.
A Bao menoleh menatap ayahnya. Ia melihat ayahnya duduk dengan tenang disana, dan sudut bibirnya seolah sedikit melengkung ke atas....
***
Setelah menyelesaikan urusan remeh temeh ini, keluarga Zhao mulai di sibukkan dengan pekerjaan musim semi.
Karena keluarga Zhao baru pindah ke desa ini dua tahun lalu, tanah yang mereka beli tidak berada di lokasi yang strategis. Selain terpencil, kualitas tanahnya juga kurang baik. Namun, makanan adalah kebutuhan yang utama, mereka tidak mungkin tidak bercocok tanam.
Maka hari itu, keluarga Zhao memboyong seluruh anggota keluarga ke lereng bukit. Kedua lahan yang mereka miliki berada dekat dengan bekas kebun beri sebelumnya. A Bao terengah-engah saat mendaki, dan akhirnya Jiang Ting yang menariknya selangkah demi selangkah menaiki bukit.
Begitu sampai di ujung lahan, si kecil langsung duduk di tanah, tidak mau bergerak lagi. Zhao Xuan yang melihat itu buru-buru menyuapkan bakpao daging kecil ke tangannya.
"Ah Xiang, kamu di sini saja menjaga kedua anak ini. Kami akan mulai menggarap lahan," kata Wang chunniang kepada Lin Xiang. "Kamu juga jangan terlalu memaksakan diri, duduk saja di sini dan istirahat."
A Bao duduk disana, sibuk mengunyah bakpao daging dengan pipi menggembung. melihat Wang chunniang sudah siap mencangkul tanah, A Bao tiba-tiba mengendus-endus dengan hidung kecilnya, lalu berlari ke arah lahan.
Jiang Ting melihat A Bao berlari, ia melirik Lin Xiang, lalu segera mengejar A Bao.
Kaki pendek A Bao berlari dengan cepat, sesekali ia berhenti, lalu meraba-raba tanah di sekitarnya.
" Ibu, di sini tidak boleh di tanami tanaman pangan, "A Bao menyusul Wang chunniang, lalu menarik-narik ujung baju ibunya.
Jiang Ting berdiri diam di belakang A Bao. Melihat baju A Bao di penuhi tanah, ia mengusapnya seperti penderita Obsessive-Compulsive Disolder (terlalu peduli pada kebersihan),sampai tidak ada bekas tanah sama sekali barulah ia menarik tangannya.
"Hah?" Wang chunniang belum mengerti.
"Ibu, tanah di sini tidak bagus. Kalau menanam biji-bijian tidak akan tumbuh baik. Tanah di sini terlalu jelek," A Bao sangat mengerti soal tanah. Bagaimanapun juga.... Ia tumbuh dari tanah.
" Memang benar, hasil panen di lahan ini tahun lalu kurang bagus. Tapi A Bao, keluarga kita tetap harus menanam sesuatu. Di desa ini sudah tidak ada lahan kosong lagi. Kalau kita membuka lahan baru sekarang, waktunya sudah tidak keburu," Wang chunniang tidak pernah mengabaikan ucapan anak-anaknya.
Jiang Ting melihat Wang chunniang berjongkok, berdiskusi tentang masalah bertani dengan seorang anak berusia tiga tahun.
Ternyata ibunya benar-benar mau mendengarkan perkataan seorang bayi kecil.
A Bao berjongkok di sana sambil berfikir serius. Ia menatap Wang chunniang dan berkata manja, "kita bisa tanam buah-buahan."
" Tidak bisa, A Bao. "Wang chunniang menggeleng. " menanam pohon buah butuh waktu lama. Satu atau dua tahun tidak akan berbuah. Itu terlalu menghabiskan waktu. "
" Ibu, kalau gitu kita tanam sayur saja, "A Bao akhirnya memberi keputusan.
Wang chunniang melirik Zhao Heng, yang matanya buta dan tidak bisa melihat. Zhao Xuan jelas berada di pihak A Bao.
"Lalu, bagaimana dengan benih kacang yang kita bawa?" Wang chunniang memijat keningnya.
A Bao berseru riang, "Digoreng saja, lalu di makan."
Semua orang:"....."
Maka, beberapa hari berikutnya, penduduk desa xixiang melihat keluarga Zhao pergi pagi pulang sore. Mereka membawa cangkul, konon katanya mereka membuka lahan dan menanam sesuatu di bukit. Tapi tidak ada yang tahu apa yang mereka tanam. Selain kebun berry yang berhasil mereka pindahkan, lahan mereka yang lain adalah tempat yang tidak terurus....
Memangnya bisa menanam apa di sana!