Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Fajar Pertama Di Maldives
Suara deburan ombak Maldives terdengar lembut di tengah kegelapan fajar, berulang-ulang menghantam bagian bawah Overwater Villa dengan irama yang menenangkan. Dari balik dinding kaca yang luas, lautan tampak seperti hamparan hitam berkilauan yang sesekali memantulkan cahaya bulan.
Di dalam kamar utama, lampu tidur bernuansa jingga keemasan masih menyala redup. Cahaya temaram itu menciptakan bayangan lembut di setiap sudut ruangan, menghadirkan suasana hangat setelah malam panjang yang dipenuhi begitu banyak perasaan baru.
Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul empat pagi.
Sepertiga malam terakhir.
Beberapa saat lagi, fajar akan menyingsing dan waktu Subuh tiba.
Aura perlahan membuka mata.
Ia terbangun dalam keheningan yang begitu nyaman. Tubuhnya masih terasa hangat di balik selimut, sementara sebuah pelukan kokoh membuatnya enggan bergerak terlalu banyak.
Ketika mencoba menggeser tubuh sedikit, Aura baru menyadari bahwa Reno masih memeluknya dari belakang. Lengan tegap pria itu melingkar erat di pinggangnya, seolah dalam tidurnya pun Reno masih ingin memastikan istrinya tetap berada dalam jangkauannya.
Aura tersenyum kecil.
Ada sesuatu yang terasa berbeda pagi ini.
Bukan sekadar karena mereka berada jauh dari Jakarta.
Bukan pula karena malam tadi telah menjadi titik balik dalam hubungan mereka.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, Aura terbangun dengan perasaan benar-benar tenang di dalam pelukan suaminya.
Ia perlahan membalikkan tubuh, berusaha melakukannya tanpa membangunkan Reno.
Namun begitu wajahnya menghadap sang suami, Aura justru terdiam.
Dalam cahaya temaram, wajah Reno terlihat jauh lebih lembut daripada biasanya. Tidak ada ekspresi tegas seorang CEO yang terbiasa menghadapi dunia bisnis. Tidak ada tatapan dingin yang membuat banyak orang segan mendekat.
Yang ada hanyalah Reno.
Suaminya.
Pria yang malam tadi telah mengucapkan cinta dengan ketulusan yang membuat seluruh keraguan di dalam hatinya runtuh.
Aura tersenyum.
Tangannya terangkat perlahan. Jemarinya menyentuh alis tebal Reno dengan sangat hati-hati, kemudian turun mengikuti garis hidungnya yang tegas. Jemarinya berhenti di rahang sang suami, mengusap lembut sisa bayangan rambut halus yang mulai tumbuh.
Aura menikmati setiap detik itu.
Tanpa sadar, senyumnya semakin lebar.
Namun, tiba-tiba tangan besar Reno menangkap jemarinya.
Aura terkesiap kecil.
Sepasang mata gelap itu perlahan terbuka.
Ternyata Reno sudah terbangun.
Pria itu menatap Aura beberapa detik sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
"Sudah puas mengagumi suamimu, hm?"
Suara baritonnya terdengar berat dan sedikit serak khas seseorang yang baru terbangun.
Wajah Aura langsung memerah.
"M-Mass... kamu sudah bangun?"
"Sudah dari tadi."
Reno mengusap punggung tangan Aura dengan ibu jarinya.
"Saya cuma ingin tahu sampai kapan istri saya mau diam-diam memperhatikan saya."
Aura langsung menarik tangannya.
"Aku tidak memperhatikan."
Reno terkekeh pelan.
"Begitu?"
Aura semakin salah tingkah.
"Iya."
"Kalau begitu, kenapa wajahmu merah?"
"Karena kamu suka menggodaku."
Reno tersenyum semakin lebar.
"Saya hanya mengatakan kenyataan."
Aura hendak membalas, tetapi Reno lebih dahulu menariknya mendekat. Gerakannya lembut dan penuh perhatian, membuat Aura kembali bersandar nyaman di dada sang suami.
Beberapa saat mereka hanya berdiam dalam pelukan.
Tidak ada percakapan.
Hanya suara ombak dan detak jantung yang terdengar samar di antara keheningan.
Reno kemudian menundukkan wajahnya dan mengecup kening Aura.
Lama.
Hangat.
Penuh rasa sayang.
Kecupan berikutnya jatuh di pipi yang masih memerah kemudian kecupan lembut di bibir mungil Aura.
Aura memejamkan mata ketika Reno kembali mengecup keningnya.
"Selamat pagi, istriku."
Suara itu begitu lembut hingga membuat hati Aura menghangat.
"Selamat pagi, suamiku..."
Reno terdiam sejenak.
Sepertinya ia masih menikmati cara Aura mengucapkan panggilan itu.
Senyumnya perlahan melebar.
"Katakan sekali lagi."
Aura membuka mata.
"Apa?"
"Panggil saya suamimu."
Aura langsung tertawa kecil.
"Mas Reno..."
"Hm?"
"Kamu menyebalkan."
"Saya hanya ingin mendengarnya."
Aura menggelengkan kepala, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.
"Selamat pagi, suamiku."
Reno menatapnya dalam-dalam.
"Lebih baik."
Aura tertawa pelan.
Reno kemudian mengusap rambut panjang Aura yang terurai di atas bantal.
"Sebentar lagi waktu Subuh."
Aura ikut menoleh ke arah jam digital.
"Sudah hampir?"
"Iya."
Reno kembali mengecup hidung mungil istrinya.
"Kita bersiap, ya. Kita mandi dan bersuci, kemudian shalat Subuh berjamaah."
Aura mengangguk.
"Iya."
Namun sebelum mereka benar-benar bangkit, Reno kembali menatap Aura.
Ada kelembutan yang begitu dalam di matanya.
"Terima kasih."
Aura mengerutkan kening.
"Untuk apa?"
"Untuk mempercayai saya."
Senyum Aura perlahan menghilang, digantikan tatapan haru.
"Aku memang percaya padamu."
Reno mengusap pipinya.
"Dan saya akan menjaga kepercayaan itu."
Aura menggenggam tangan Reno.
"Aku tahu."
Keduanya kembali terdiam.
Kemudian Aura perlahan mendekat dan memeluk Reno.
Pria itu membalasnya dengan dekapan hangat.
Beberapa detik kemudian, Reno mengecup puncak kepala Aura.
"Ayo, sayang."
Panggilan itu kembali membuat pipi Aura bersemu.
"Iya."
Reno bangkit terlebih dahulu dan membantu Aura berdiri. Mereka kemudian berjalan berdampingan menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian, mereka selesai bersuci dan kembali ke kamar dengan pakaian yang bersih. Suasana villa semakin tenang. Dari balik kaca besar, garis cahaya tipis mulai muncul di ufuk timur.
Fajar perlahan datang.
Dua sajadah telah terbentang rapi di atas lantai kayu.
Aura mengenakan mukena putih bersih dengan renda sederhana. Sementara Reno mengenakan sarung tenun dan baju koko putih.
Reno berdiri di depan sebagai imam.
Aura berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Saat takbiratul ihram dikumandangkan, suasana kamar seketika berubah menjadi begitu syahdu.
Suara Reno yang berat dan merdu mengalunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan penuh ketenangan. Setiap lantunan terasa memenuhi ruangan, berpadu dengan suara ombak yang masih terdengar dari kejauhan.
Aura menundukkan kepala dengan khusyuk.
Dadanya terasa penuh.
Bukan hanya oleh rasa syukur karena akhirnya menemukan cinta, tetapi juga karena menyadari bahwa pria yang berdiri di hadapannya bukan lagi sekadar seseorang yang hadir dalam hidupnya karena keadaan.
Reno adalah suaminya.
Tempat ia bersandar.
Tempat ia merasa aman.
Dan seseorang yang ingin ia dampingi dalam perjalanan hidup yang panjang.
Ketika sampai pada sujud terakhir, Aura menahan air mata yang perlahan memenuhi pelupuk matanya.
Ia memanjatkan doa dalam hati.
Semoga pernikahan mereka selalu berada dalam lindungan Tuhan.
Semoga cinta yang baru tumbuh itu tidak membuat mereka lupa kepada-Nya.
Semoga mereka mampu saling menjaga ketika kebahagiaan datang, maupun ketika ujian kembali menghampiri.
Dan semoga langkah mereka selalu dipertemukan dengan kebaikan.
Setelah salam terakhir, Reno tidak langsung berdiri.
Ia menengadahkan kedua tangannya dan memanjatkan doa.
Aura mengikuti di belakangnya.
Doa itu sederhana, tetapi penuh harapan.
Untuk rumah tangga mereka.
Untuk keluarga.
Untuk masa depan.
Dan untuk cinta yang akhirnya mereka akui tanpa lagi bersembunyi di balik alasan apa pun.
Beberapa saat kemudian, Reno menurunkan kedua tangannya.
Aura masih menundukkan wajah.
Reno menoleh ke belakang.
Tatapan mereka bertemu.
Senyum kecil muncul di wajah keduanya.
Reno kemudian mengulurkan tangannya.
Aura menyambutnya.
Jemari mereka kembali bertaut seperti malam sebelumnya.
Reno menarik Aura mendekat, lalu mengecup keningnya dengan lembut.
"Semoga Allah selalu menjaga kita."
Aura tersenyum haru.
"Aamiin."
Reno mengusap pipinya.
"Dan semoga saya selalu bisa menjadi suami yang pantas untuk kamu."
Aura menggeleng pelan.
"Kamu sudah lebih dari cukup."
Reno tersenyum.
"Belum. Saya masih harus belajar."
"Belajar apa?"
"Belajar bagaimana membuat istri saya tersenyum setiap hari."
Aura tertawa kecil.
"Kamu tidak perlu belajar terlalu keras."
"Kenapa?"
"Karena kamu sudah berhasil."
Reno menatapnya beberapa saat.
Kemudian ia menunduk dan mengecup bibir Aura singkat.
Lembut.
Sederhana.
Namun cukup untuk membuat senyum Aura semakin lebar.
Ketika Reno hendak menjauh, Aura justru menahan tangannya.
"Mass."
"Hm?"
"Terima kasih untuk semuanya."
Reno menggenggam tangannya lebih erat.
"Saya juga berterima kasih karena kamu memilih tetap tinggal."
Aura menyandarkan kepala di bahu suaminya.
Di luar sana, cahaya fajar mulai menyentuh permukaan laut Maldives.
Langit yang sebelumnya gelap perlahan berubah menjadi semburat warna keemasan.
Hari baru telah dimulai.
Dan bagi Reno serta Aura, pagi itu bukan sekadar pergantian waktu.
Itu adalah awal dari kehidupan baru.
Sebuah kehidupan yang tidak lagi dibangun di atas perjanjian, keterpaksaan, atau keadaan.
Melainkan di atas kepercayaan, kesetiaan, doa, dan cinta yang mereka pilih sendiri.
Di tengah luasnya lautan Maldives, dua hati yang pernah berjalan dalam arah berbeda akhirnya menemukan satu tujuan yang sama:
pulang kepada satu sama lain.