"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMGP - Bab 16
Malam itu, Cya benar-benar merasa kelelahan.
Seluruh tubuhnya pegal—bahkan lebih pegal dibanding saat ia harus berdiri berjam-jam menyambut tamu di acara pernikahannya kemarin.
Sepulang dari bandara sore tadi, Cya masih harus membereskan barang-barangnya.
Rajendra mengajaknya pindah ke rumahnya malam ini.
Alhasil, begitu mobil melaju, Cya langsung tertidur lelap di kursi penumpang.
Sebelumnya, Cya sempat mengajak Rajendra untuk tinggal di rumah orang tuanya saja.
Namun Rajendra menolak.
Alasannya sederhana—sekarang Cya adalah istrinya.
Dan itu berarti… Cya adalah tanggung jawabnya.
Beberapa kali Rajendra melirik ke arah gadis yang tertidur di sampingnya.
“Dia pasti kelelahan…” gumamnya pelan.
Satu tangannya tetap memegang setir, sementara tangan lainnya terulur, mengelus lembut puncak kepala Cya.
“Dia terlalu banyak menangis hari ini.”
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah megah.
Rumah itu… sebenarnya dibangun Rajendra untuk ia tempati bersama Aurel.
Namun takdir berkata lain. Rumah itu belum pernah benar-benar mereka tempati bersama dan kini Aurel telah pergi untuk selamanya.
Sebelum turun, Rajendra menatap bangunan itu cukup lama.
Bayangan masa lalu kembali muncul.
Dirinya dan Aurel… yang dulu sempat datang melihat rumah ini saat masih dalam tahap pembangunan.
“Maafkan aku, Aurel…” gumamnya lirih. “Aku harus menempati rumah ini… tapi bukan dengan kamu.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Mungkin ini memang takdir kita. Semoga kamu tenang di sana.”
Kesedihan itu masih ada.
Masih utuh.
Masih dalam.
Rajendra menoleh ke arah Cya yang masih terlelap.
Wajahnya terlihat polos… tenang… tanpa beban.
Untuk sesaat, Rajendra ragu.
Apakah gadis ini… bisa menggantikan posisi Aurel di hatinya?
Dengan kepribadian yang begitu berbeda.
“Aku akan berusaha jadi suami yang baik untuk kamu, Cya,” ucapnya pelan. “Tapi untuk mencintai kamu seperti aku mencintai Aurel… sepertinya aku belum bisa.”
Beruntung, Cya tidak mendengar itu.
Karena jika tidak—mungkin hatinya akan benar-benar hancur.
Padahal, di sisi lain… sikap Rajendra sering kali terasa begitu hangat padanya. “Semoga kamu betah jadi istriku.”
Rajendra hendak membangunkan Cya.
Tangannya sudah terangkat, ingin menepuk pelan pipi gadis itu—namun ia mengurungkan niatnya saat mendengar dengkuran halus.
Ia tersenyum tipis.
Tidur Cya terlalu nyenyak untuk diganggu.
Akhirnya, Rajendra turun dari mobil, memutari kendaraan, lalu membuka pintu di sisi Cya.
Dengan hati-hati, ia menggendong gadis itu.
Tubuh Cya yang mungil terasa ringan dalam pelukannya.
Barang-barang yang masih tertinggal di mobil—ia putuskan untuk mengurusnya besok saja.
Yang penting sekarang… Cya bisa beristirahat dengan nyaman.
Rajendra melangkah masuk ke dalam rumah, menaiki tangga hingga ke lantai dua.
Langkahnya terhenti tepat di depan kamar utama.
Tangannya menggenggam knop pintu—namun ragu.
“Tidak…” gumamnya pelan. “Kamar ini… untuk aku dan Aurel.”
Bukan untuk dirinya dan Cya.
Akhirnya, ia beralih ke kamar di sebelahnya.
Tanpa ragu lagi, ia masuk dan meletakkan Cya dengan hati-hati di atas kasur.
Rajendra duduk di tepi ranjang, menatap wajah istrinya cukup lama. “Semoga kamu betah tinggal di rumah ini…” ucapnya pelan.
Ia lalu melepas sandal yang masih dipakai Cya, memastikan gadis itu benar-benar nyaman.
Setelah itu, Rajendra berdiri dan keluar dari kamar.
Ia memilih kembali ke kamar utama.
Bukan tanpa alasan.
Jika ia tidur satu ranjang dengan Cya—ia yakin, pagi harinya gadis itu akan membuat keributan besar.
***
Cya terbangun sekitar pukul setengah lima pagi.
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan tempat yang terasa asing.
Pandangannya berkeliling, mengamati setiap sudut kamar.
“Ini di mana sih…?” gumamnya pelan.
Beberapa detik kemudian, ingatannya mulai kembali.
“Semalam kayaknya gue ke rumah Om Jendra… tapi gue ketiduran di mobil… terus…”
Ia mengernyit. “Jangan-jangan Om Rajendra gak bangunin gue?” Cya langsung duduk, matanya membesar. “Berarti sekarang gue udah di rumah Om Jendra…”
Ia menoleh ke kanan dan kiri. “Tapi… dia di mana?”
Cya mulai celingak-celinguk mencari keberadaan Rajendra.
Karena tidak menemukannya, entah kenapa ia malah menunduk dan mengintip ke bawah ranjang.
Kosong.
“Om Rajendra…” panggilnya pelan.
Tak ada jawaban.
Cya berdiri, lalu beralih ke kamar mandi. “Om Rajendra…”
Kali ini suaranya lebih keras—nyaris berteriak. “Om, di mana?”
Tetap tidak ada jawaban.
Cya kembali keluar, lalu membuka lemari di kamar itu—
yang jelas-jelas kosong.
Ia tetap mengecek.
Siapa tau.
“Kamu pikir saya pakaian yang bisa masuk ke dalam lemari?”
Suara itu tiba-tiba terdengar dari belakang.
Cya langsung terlonjak kaget.
Ia berbalik cepat—dan mendapati Rajendra sudah berdiri tidak jauh darinya.
“Aduh, Om! Ngagetin aja…” gerutunya sambil mengelus dadanya.
Rajendra menggeleng pelan. “Lain kali kalau cari orang, yang masuk akal. Mana mungkin saya ada di dalam lemari.”
Cya mendengus pelan. “Nggak ada yang gak mungkin di dunia ini, Om.”
Rajendra hanya menghela napas tipis, lalu berkata tegas— “Cepat wudhu. Kita salat berjamaah.”
***
Setelah mereka salat berjamaah, Rajendra langsung pergi meninggalkan Cya.
Cya tidak bertanya ke mana laki-laki itu pergi.
Ia juga tidak terlalu memikirkannya.
Namun, beberapa menit kemudian, Cya mencium aroma masakan.
Hidungnya bergerak pelan. “Hmm…”
Ia tersenyum kecil.
Tanpa perlu berpikir lama, ia sudah bisa menebak siapa yang sedang memasak. “Pasti Om Rajendra…” gumamnya pelan.
Cya pun keluar dari ruangan kecil yang dijadikan musala di rumah itu.
Langkahnya pelan saat ia mulai mengamati sekeliling rumah.
Matanya berkeliling, memperhatikan setiap sudut dengan rasa penasaran.
Ia kemudian berhenti, menepuk dagunya dengan jari telunjuk. “Rumah ini mewah…” Ia mengangguk pelan, seolah menilai. “…tapi nggak klasik.”
Nada suaranya terdengar seperti seorang juri desain interior dadakan.
***
“Ternyata Om jago masak, ya.”
Cya tersenyum sambil mencicipi masakan buatan Rajendra.
“Makan yang tenang. Jangan banyak bicara, nanti kamu tersedak lagi.” Nada Rajendra terdengar tegas, tapi tidak setajam sebelumnya.
“Iya, Om.” Cya langsung menurut, meski sesekali masih melirik makanan di depannya dengan antusias.
“Setelah ini saya akan berangkat ke kantor,” lanjut Rajendra. “Kamu jangan ke mana-mana. Kalau mau pergi, hubungi saya dulu.”
“Iya.”
Jawaban Cya singkat, patuh.
Rajendra lalu merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang.
Ia menghitung sebentar, lalu menyerahkan lima lembar uang seratus ribu.
“Ini uang jajan kamu hari ini. Saya cuma punya cash segini. Besok saya tambah.”
Mata Cya langsung berbinar.
Tanpa ragu, ia mengambil uang itu. “Makasih, Om!”
Senyumnya lebar—tulus dan puas.
Dalam hati, Cya langsung menarik kesimpulan sederhana.
Ternyata… Rajendra tidak pelit.
***
Baru beberapa menit Rajendra meninggalkan rumah, bel sudah berbunyi.
Cya buru-buru berjalan ke pintu dan membukanya.
Ia sempat mengira Rajendra kembali—mungkin ada barang yang tertinggal.
Namun ternyata bukan.
Cya menatap orang yang berdiri di hadapannya, dari atas hingga bawah.
Ia belum pernah melihat wanita itu sebelumnya.
“Maaf, cari siapa ya, Mbak?” tanya Cya sopan.
Wanita di hadapannya tampak sedikit lebih tua dari Cya.
Ia tersenyum manis—membuat Cya refleks membalas senyum itu.
“Saya cari Anda,” jawab wanita itu tenang.
“Saya?” Cya menunjuk dirinya sendiri.
Wanita itu mengangguk.
“Maaf, ada perlu apa ya, Mbak?”
Wanita itu kemudian mengulurkan tangannya. “Saya Bela.”
“Saya Cya.” Cya menyambut uluran tangan itu dengan ramah. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Nggak ada, Mbak. Saya ke sini cuma mau kenalan… sama tetangga baru.”
“Oh…” Cya mengangguk pelan. “Mbak tinggal di samping rumah saya ya?” tebaknya.
“Bukan.”
Jawaban itu membuat Cya sedikit mengernyit.
Tadi bilang tetangga— tapi bukan yang di sebelah?
Seolah mengerti kebingungannya, Bela langsung menjelaskan. “Saya tinggal di Blok C.”
“Oh… berarti di belakang ya?”
Cya mencoba mengingat tata letak perumahan itu.
“Betul.”
Bela kembali tersenyum. “Saya harap kita bisa berteman baik.”
Cya tersenyum tipis, mengangguk. "Tentu saja bisa."
Cya tentu tidak akan menolak ajakan berteman.
Apalagi, dari penampilannya, Bela terlihat seperti orang yang baik.
“Supaya lebih akrab, gimana kalau kita saling panggil nama aja? Nggak usah pakai ‘saya’, pakai ‘aku’ aja,” usul Bela.
Cya langsung mengangguk.
“Boleh.”
“Kebetulan aku sering merasa kesepian. Makanya pas tau rumah ini sudah ada penghuninya, aku langsung ke sini,” ujar Bela jujur.
“Kalau kamu kesepian, main ke sini aja. Eh, aku sampai lupa… ayo masuk!” Cya baru sadar sejak tadi mereka masih berdiri di depan pintu.
“Makasih ya.”
Mereka pun masuk dan duduk di ruang tamu.
Cya segera ke dapur, lalu kembali membawa dua gelas teh hangat.
“Ayo diminum tehnya. Maaf ya seadanya, aku belum sempat belanja.”
“Iya, santai aja. Nggak perlu repot-repot.”
“Gapapa kok, aku gak repot.”
Bela tersenyum, lalu kembali bertanya, “Oh iya, kamu tinggal di sini sama siapa? Sama kakak kamu?”
“Bukan… sama suami aku.”
“Hah?” Bela tampak kaget. Ia menatap Cya dari atas sampai bawah. “Kamu… sudah menikah?”
Cya mengangguk. “Iya.”
“Umur kamu berapa?”
“Masih delapan belas tahun.”
“Kamu baru lulus SMA?”
“Iya.”
Bela terdiam sejenak, lalu bertanya lagi, “Kenapa kamu menikah muda? Kamu nggak mau kuliah dulu?”
“Mau. Aku sudah daftar di salah satu kampus,” jawab Cya.
Ia tersenyum kecil, tapi ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya. “Aku sebenarnya belum mau menikah. Tapi aku dijodohkan sama orang tua aku… sama anak sahabat mereka.”
“Kenapa kamu gak nolak?”
“Aku sudah coba nolak… tapi aku diancam gak akan dibiayai kuliah.”
Cya mengedikkan bahunya pelan. “Aku gak tahu cara cari uang… dan aku juga gak bisa hidup tanpa uang. Jadi ya… begini.” Ia tertawa kecil, meski terdengar hambar. “Terpaksa aku jalanin.”
Bela menatapnya dengan iba. “Tapi… kamu cinta sama suami kamu?”
Cya terdiam.
Ia hanya mengangkat bahu.
“Kalau suami kamu? Dia cinta sama kamu?”
“Kalau menerima… mungkin iya, karena kami sudah menikah.”
Cya menunduk. “Tapi kalau cinta… mungkin itu nggak akan pernah ada.”
Seketika suasana berubah.
Cya teringat ucapan Rajendra—bahwa ia tidak akan pernah berhenti mencintai istri pertamanya.
Hatinya kembali terasa sesak.
Ia sadar diri.
Ia tidak ingin berharap terlalu banyak— daripada nanti justru dirinya yang terluka.
“Kamu yang sabar ya…” Suara Bela terdengar lembut. “Kalau kamu punya masalah atau mau cerita tentang suami kamu, cerita aja ke aku.”
Cya tersenyum tipis. “Iya… makasih.”
Ia merasa sedikit lega.
Akhirnya, ia punya teman berbagi.
Selama ini, ia hanya punya Serena—dan bahkan pada sahabatnya itu pun, ia belum berani menceritakan semuanya.
“Kalau kamu sendiri? Sudah menikah?” tanya Cya.
Bela menggeleng.
Tatapannya berubah sendu.
“Dulu aku punya pacar. Kami saling sayang…” Ia menarik napas pelan. “Tapi waktu kami sudah mau menikah… dia malah dijodohkan sama orang tuanya demi bisnis.”
Cya langsung merasa tidak enak. “Maaf… aku nggak bermaksud bikin kamu ingat lagi.”
“Gapapa,” jawab Bela sambil tersenyum tipis. “Malah aku senang bisa cerita. Selama ini rasanya hampir gila… memendam semuanya sendirian.”
“Jadi sampai sekarang kamu belum punya pacar lagi?”
“Belum.” Bela menggeleng pelan. “Aku masih cinta sama dia.”
Ia menatap kosong ke depan. “Aku berharap suatu saat nanti dia bercerai… lalu kembali ke aku.”
Cya sedikit terdiam.
Ia ragu dengan harapan itu.
“Tapi… bukannya itu egois?” tanya Cya hati-hati. “Kenapa kamu gak coba buka hati buat orang lain? Aku yakin banyak yang suka sama kamu. Kamu cantik, loh.”
Bela tersenyum tipis sambil mengelus rambutnya. “Memang banyak yang mendekat… Tapi aku gak bisa buka hati. Aku masih berharap sama dia.” Ia menghela napas. “Aku tau itu egois… tapi menurutku, orang yang memisahkan kami jauh lebih egois.”
Cya hanya bisa menggaruk kepalanya pelan.
Ia sebenarnya tidak sepenuhnya setuju tapi ia juga tidak ingin menambah luka Bela.
“Ya sudah… Aku akan selalu doakan yang terbaik buat kamu.”
“Makasih.” Bela tiba-tiba berdiri, lalu berpindah duduk di samping Cya dan memeluknya.
Cya sempat kaget, tapi kemudian membalas pelukan itu.
Tangannya mengelus punggung Bela pelan, berusaha memberi kenyamanan.
“Kalau gitu aku pamit dulu ya,” ujar Bela setelah melepas pelukannya.
“Loh, kok buru-buru?”
“Aku harus masak. Dari tadi belum sempat.”
“Oh… ya sudah.”
Cya mengangguk. “Nanti kalau kamu kesepian lagi, main ke sini ya.”
“Oke.”
Bela mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum—
sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan rumah itu.
Dan tanpa Cya sadari—
pertemuan itu…
akan membawa sesuatu yang jauh lebih besar ke dalam hidupnya.
***
“Kenapa berhenti?” tanya Danish heran saat Rajendra tiba-tiba menepikan mobil, padahal mereka belum sampai di restoran langganan mereka.
Restoran itu memang sudah seperti tempat wajib—hampir setiap hari mereka makan siang di sana.
“Gue lupa… di rumah gue gak ada makanan,” jawab Rajendra singkat.
Danish mengernyit. “Terus kenapa kalau di rumah lo nggak ada makanan?”
“Istri gue gak bisa makan.”
Danish langsung menoleh, menatap Rajendra dengan tatapan aneh. “Perhatian juga lo sama istri lo. Gue kira lo nggak cinta.”
Rajendra mendecak pelan. “Ini bukan soal gue cinta atau nggak. Dia sekarang tanggung jawab gue. Orang tuanya nitipin dia ke gue.”
“Memangnya istri lo gak bisa masak?”
“Gue gak tau.” Rajendra menghela napas.
Ia memang belum benar-benar mengenal Cya.
“Kalaupun dia bisa masak, di rumah gue juga gak ada bahan apa-apa.”
Ia teringat—subuh tadi, ia sudah menghabiskan bahan makanan yang tersisa.
Itu pun sebenarnya stok lama yang dulu ia beli bersama Aurel.
“Kalau lapar, istri lo pasti bisa beli sendiri,” ujar Danish santai.
Rajendra langsung menggeleng. “Di rumah gue gak ada kendaraan selain mobil yang gue bawa. Lo tau sendiri jaraknya jauh kalau harus jalan kaki.”
Danish menghela napas, mulai mengerti. “Terus sekarang lo mau ngapain?”
“Lo beli makan di sebelah, bungkus tiga. Kita makan di rumah gue.”
Danish mengangkat alisnya. “Wow… ini yang lo bilang nggak cinta, tapi mau repot-repot kayak gini?”
Rajendra mendecak lagi. “Gue udah bilang—ini bukan soal cinta. Ini soal tanggung jawab. Gue gak mau orang tuanya kecewa kalau gue sampai menelantarkan anak mereka.”
Danish akhirnya mengangguk. “Oke, gue ngerti.”
Ia pun tidak membantah lagi.
Namun, bukannya langsung turun, ia malah mengulurkan tangan ke arah Rajendra.
Rajendra mengerutkan kening. “Apaan?”
“Uang.”
Jawaban Danish singkat, tanpa rasa bersalah.
Rajendra menghela napas panjang. “Uang cash gue habis. Gue kasih semua ke istri gue. Belum sempat narik. Pakai duit lo dulu, nanti gue ganti.”
Danish langsung menarik tangannya sambil mengangguk santai. “Oke.”
Lalu tanpa banyak bicara lagi—ia turun dari mobil untuk membeli makanan.
apa Bela itu sebenarnya Aurel