NovelToon NovelToon
Mu Chen Pendatang Dari Dunia Lain

Mu Chen Pendatang Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: premier MT

Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Di Antara Kebingungan dan Keanehan

Suara panah yang menancap di tanah menimbulkan debu halus, dan kawanan hewan bertransformasi itu seketika berhenti bergerak. Mata mereka yang tadinya menyala tajam kini beralih menatap sosok gadis muda yang baru saja melompat turun dari dahan pohon tinggi.

Gadis itu bernama Lin Xiaoyao. Usianya sekitar tujuh belas tahun, mengenakan jubah pelindung berwarna hijau muda yang disulam motif daun-daunan, rambutnya diikat rapi dengan pita sutra, dan di tangannya tergenggam busur kayu yang diukir pola rumit. Dari ujung jarinya, masih terasa aliran energi angin yang samar namun tajam — ciri khas ajaran Sekte Angin Hijau.

Ia berdiri tegak di samping Mu Chen, posisi tubuhnya siap siaga, namun matanya melirik sekilas ke arah pemuda di sebelahnya. Pandangannya dipenuhi rasa penasaran yang mendalam.

Mu Chen masih memegang erat tongkat kayunya, napasnya mulai teratur meski hatinya masih berdebar. Ia memandang gadis di sampingnya, lalu menoleh lagi ke arah hewan-hewan yang mengepung mereka.

"Ini... apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya pelan, setengah bicara pada dirinya sendiri. "Tadi mereka mau menyerang, terus panah ini datang, dan sekarang mereka diam saja. Apakah panah itu punya sihir? Di duniaku, panah hanya melukai kalau kena sasaran, bukan membuat musuh takut cuma karena menancap di tanah."

Lin Xiaoyao mendengar gumamannya dan semakin bingung. Bagaimana bisa ada orang yang tidak memahami hal dasar seperti ini?

"Hewan roh ini memiliki naluri tajam," bisik Xiaoyao sambil tetap waspada. "Mereka bisa merasakan kekuatan yang terkandung dalam serangan. Panahku baru saja mengandung Qi Angin yang cukup tajam, jadi mereka sadar kalau menyerang kami tidak akan mudah. Tapi jangan lengah, mereka masih berniat buruk."

Mu Chen mengangguk paham, meski sebenarnya otaknya masih berputar memproses informasi itu.

Qi Angin? Energi? Di sekolah aku belajar bahwa angin itu adalah gerakan partikel udara, bukan sesuatu yang bisa disimpan di panah! Apakah ilmu pengetahuanku di sini salah? Ataukah ini dunia yang benar-benar berbeda aturannya?

Sementara itu, para hewan itu seolah berkomunikasi lewat geraman rendah. Serigala berapi yang tampak sebagai pemimpinnya mengangkat kepala, mengeluarkan suara panjang yang menggema di seluruh penjuru hutan. Seketika, bulu-bulu di tubuhnya menyala lebih terang, dan energi panas yang menyengat terasa menyebar ke udara.

"Awas! Dia akan mengeluarkan Bola Api Roh! Kita harus menghindar!" seru Xiaoyao.

Sebelum kata-katanya selesai, bola api seukuran kepala manusia melesat dengan kecepatan tinggi tepat ke arah mereka berdua. Xiaoyao sudah siap menarik busur untuk menangkisnya, namun hal yang tidak terduga terjadi.

Begitu bola api itu berjarak sekitar dua meter dari Mu Chen, tiba-tiba melambat, warnanya berubah dari merah menyala menjadi jingga lembut, lalu... perlahan terbang mendekat ke arah dada pemuda itu, dan diserap masuk begitu saja tanpa menimbulkan rasa sakit sedikit pun!

"..."

Keheningan menyelimuti tempat itu. Xiaoyao membelalakkan matanya lebar-lebar, busur di tangannya hampir terlepas. Para hewan roh di sekeliling pun membeku di tempat, ekspresi mereka seolah menunjukkan kebingungan yang sama.

Mu Chen merasakan aliran hangat yang nyaman menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia memandang telapak tangannya, lalu menatap tempat tadi bola api itu berada.

"Eh? Kok masuk sendiri? Rasanya hangat dan nyaman, tidak panas atau membakar sama sekali. Ini... ini seperti minuman cokelat hangat di musim hujan di rumahku," komentarnya polos.

Lin Xiaoyao menggelengkan kepala berkali-kali, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya. "Mustahil! Bola Api Roh itu bisa membakar batu menjadi abu! Bagaimana bisa diserap begitu saja tanpa teknik penyerapan khusus? Apakah kau seorang penyembunyi kekuatan? Tapi... aku tidak merasakan dasar Qi di tubuhmu sedikit pun!"

Pertanyaan itu membuat Mu Chen semakin bingung. Ia meraba tubuhnya sendiri, mencoba merasakan sesuatu yang berbeda.

"Teknik penyerapan? Qi? Tuan-tuan dan nyonya, aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang itu. Aku baru datang ke tempat ini tadi pagi. Yang aku tahu, tadi hembusan angin mereka, kekuatan tanah, dan sekarang api ini... semuanya masuk begitu saja. Apakah tubuhku rusak? Apakah aku punya penyakit aneh?"

Mendengar kata-kata jujur dan penuh kebingungan itu, Xiaoyao menjadi semakin yakin bahwa pemuda ini benar-benar tidak berbohong. Tapi apa yang terjadi di depan matanya tetap melanggar semua akal sehat yang ia pelajari selama bertahun-tahun berlatih kultivasi.

Di tengah kebingungan itu, batu giok Yin-Yang yang tersimpan di saku baju Mu Chen mulai memancarkan cahaya keemasan yang samar namun terlihat jelas di kegelapan malam. Cahaya itu perlahan menyebar, menyentuh udara, tanah, pepohonan, dan para hewan roh itu.

Keanehan terjadi lagi. Energi alam di sekitarnya mulai bergerak menuju tubuh Mu Chen secara alami. Energi dingin dari aliran air bawah tanah, energi hidup dari akar pohon tua, energi angin yang berhembus di antara dedaunan — semuanya mengalir masuk melalui pori-pori kulitnya, disaring oleh batu giok itu, lalu diubah menjadi aliran energi yang lembut dan seimbang.

Setiap kali energi itu masuk, tubuh Mu Chen terasa semakin ringan. Rasa pegal karena berjalan jauh hilang, pandangannya menjadi lebih tajam sehingga ia bisa melihat dengan jelas bahkan ke tempat yang agak gelap, dan telinganya bisa menangkap suara aliran air dari jarak yang cukup jauh.

Namun bagi Mu Chen sendiri, ia hanya merasa sedikit lebih bugar. Ia menggaruk kepalanya yang gatal karena terlalu banyak berpikir.

"Rasanya segar saja. Seperti habis minum air dingin yang bersih. Tapi kenapa kalian semua menatapku seperti melihat hantu? Apakah aku tumbuh tanduk di kepala?" tanyanya sambil memegangi kepalanya dengan panik.

Lin Xiaoyao menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia memandang kawanan hewan roh yang kini terlihat semakin gelisah — mereka bisa merasakan sumber energi di sekitar mereka perlahan berkurang sedikit demi sedikit, tersedot oleh pemuda aneh ini. Insting mereka menyuruhnya mundur, karena mereka sadar lawan ini bukan makhluk yang bisa diukur dengan akal biasa.

Serigala berapi itu menggeram panjang sekali lagi, kali ini suaranya terdengar ragu. Ia melambaikan ekornya sebagai isyarat, lalu perlahan mundur ke dalam kegelapan. Diikuti oleh hewan-hewan lainnya, satu per satu mereka pergi hingga hanya tersisa dedaunan yang bergoyang tertiup angin malam.

Tempat itu kembali hening, hanya suara aliran sungai kecil dan serangga malam yang terdengar.

Setelah merasa aman, Xiaoyao melepaskan posisi siaganya dan menatap Mu Chen dari atas ke bawah. Matanya tertuju pada pakaian yang dikenakan pemuda itu — kaos katun polos berwarna biru muda dan celana pendek, sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya di seluruh Benua Xuanhuang.

"Namamu Mu Chen, katamu?" tanya Xiaoyao memastikan.

"Benar. Dan maaf kalau pakaianku aneh. Di tempatku asal, ini adalah pakaian biasa yang dipakai sehari-hari. Lebih nyaman, adem, dan mudah dicuci," jawab Mu Chen dengan sopan, meski wajahnya masih terlihat bingung. "Dan kau... kau orang dari mana? Tadi kau bisa mengendalikan angin, terbang turun dari pohon, dan panahmu istimewa sekali."

"Namaku Lin Xiaoyao, murid luar dari Sekte Angin Hijau. Aku sedang ditugaskan mengumpulkan bahan obat di pinggiran hutan, lalu mendengar suara gaduh dan datang memeriksa," jawabnya singkat. Ia kemudian menunjuk ke arah dada Mu Chen. "Benda apa yang memancarkan cahaya itu? Apakah itu harta pusaka?"

Mu Chen mengeluarkan batu giok Yin-Yang itu dari sakunya. Begitu berada di udara terbuka, cahayanya sedikit lebih terang namun tetap lembut. Permukaannya halus, polos, hanya terukir lambang dua ikan yang saling melingkar.

"Ini batu giok yang aku beli di pasar barang antik. Ini... yang membawaku ke sini. Sebelumnya ia hanya batu biasa, tidak bersinar seperti ini," jelasnya jujur.

Xiaoyao mendekat sedikit, matanya berbinar tertarik namun juga waspada. Ia bisa merasakan getaran energi yang sangat halus namun kuno dari batu itu — energi yang tidak mirip dengan energi langit, energi bumi, maupun energi roh yang biasa ia kenal. Ini adalah jenis energi yang melampaui pemahamannya.

"Batu ini... sangat aneh. Rasanya seimbang, tidak terlalu kuat dan tidak terlalu lemah. Apakah karena batu inilah kau bisa menyerap serangan Binatang Bertransformasi tadi?"

Mu Chen menggeleng kuat-kuat. "Aku tidak tahu! Saat aku membelinya, penjual tua itu bilang ini hanya barang hiasan untuk menenangkan hati. Kalau aku tahu ini bisa membuatku tersesat ke dunia yang aneh, orang bisa terbang naik pedang, dan hewan bisa menembakkan api dari mulutnya... aku tidak akan membelinya!"

Ekspresi sedih dan bingung di wajah pemuda itu membuat Xiaoyao menahan senyum. Meskipun situasinya aneh, ia merasa bahwa Mu Chen benar-benar orang asing yang tidak memahami apa pun tentang dunia ini.

"Jadi maksudmu... kau berasal dari tempat yang berbeda? Di tempatmu tidak ada kultivasi? Tidak ada Qi? Orang-orang tidak bisa terbang atau memiliki kekuatan khusus?" tanyanya lagi untuk memastikan.

"Tepat sekali!" jawab Mu Chen antusias, merasa akhirnya ada orang yang mau mendengarkan penjelasannya. "Di tempatku, orang terbang naik pesawat besar yang terbuat dari logam, bukan naik pedang. Kita berbicara jarak jauh lewat benda kecil bernama telepon. Kita menerangi malam dengan lampu listrik, bukan dengan api roh. Semuanya dijalankan dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan energi dalam tubuh!"

Semakin banyak ia bicara, semakin bingung wajah Xiaoyao. Pesawat logam? Telepon? Listrik? Semua kata-kata itu sama sekali tidak ada dalam kamus pengetahuannya. Bagaimana bisa ada benda yang lebih cepat dari kultivator tingkat tinggi? Bagaimana bisa api menyala sendiri tanpa kayu dan minyak?

"Aku... aku tidak mengerti sedikit pun apa yang kau katakan. Tempatmu terdengar sangat asing dan mustahil," ucap Xiaoyao jujur. "Tapi satu hal yang pasti: kau sedang berada di Hutan Qinling sekarang. Tempat ini berbahaya sekali, terutama saat malam. Banyak binatang roh tingkat tinggi yang berkeliaran di bagian dalamnya."

Mendengar hal itu, ekspresi wajah Mu Chen langsung berubah menjadi cemas. Ia memandang sekeliling hutan yang gelap lebat.

"Berbahaya lagi? Baru saja lolos dari kawanan hewan, sekarang masih ada yang lebih kuat? Kenapa di sini tidak ada polisi atau penjaga hutan yang mengamankan jalan? Di duniaku, hutan lindung dijaga agar orang biasa aman berjalan-jalan," keluhnya dengan gaya khasnya yang polos.

Xiaoyao terkekeh pelan, suara tawanya renyah memecah keheningan malam. Ini pertama kalinya ia mendengar istilah seperti polisi atau penjaga hutan dengan konsep yang begitu berbeda.

"Di Benua Xuanhuang, kekuatan adalah hukumnya. Siapa yang lebih kuat, dialah yang berkuasa. Hewan roh memiliki wilayah masing-masing, dan orang biasa tidak berani masuk ke sini sembarangan. Kau sangat beruntung bisa selamat sejauh ini, meski... caramu selamat juga sangat aneh."

Mu Chen menghela napas panjang dan menepuk pahanya.

"Hukumnya kekuatan? Kalau begitu aku dalam bahaya besar! Aku tidak bisa mengeluarkan api, tidak bisa terbang, tidak tahu cara bertarung. Kalau ada orang jahat datang, apa aku harus lari sejauh mungkin atau mencoba bernegosiasi tentang hukum alam semesta?"

Melihat ekspresi panik dan bingung pemuda itu, Xiaoyao merasa sedikit kasihan. Bagaimanapun, ia tidak bisa membiarkan seorang anak muda yang tidak mengerti dunia ini ditinggalkan sendirian di tempat berbahaya.

"Baiklah, dengarkan aku. Kalau kau ingin selamat, ikutlah aku. Aku akan menuntunmu keluar dari hutan ini menuju Desa Qingxi yang berada di pinggiran. Di sana ada orang-orang biasa dan juga murid-murid sekte yang lewat. Kau bisa beristirahat dan memikirkan apa yang harus kau lakukan selanjutnya."

Mendengar tawaran itu, wajah Mu Chen langsung bersinar cerah bagai menemukan penyelamat.

"Benarkah? Terima kasih banyak, Nona Lin! Aku sungguh tidak tahu jalan ke mana-mana. Kalau sendirian, mungkin besok aku sudah tersesat di dalam hutan selamanya atau menjadi makanan hewan roh," ucapnya dengan nada lega yang tulus.

"Panggil saja aku Xiaoyao. Jangan terlalu sopan. Tapi ingat, ikutilah aku dan jangan berbuat sembarangan. Hutan ini masih luas dan bahaya belum sepenuhnya hilang," pesan gadis itu serius.

Mereka pun mulai berjalan perlahan menuju arah timur, tempat di mana Xiaoyao tahu ada jalan setapak yang aman. Mu Chen berjalan di belakangnya, matanya terus mengamati sekeliling dengan rasa ingin tahu yang bercampur kebingungan yang tak berujung.

Selama perjalanan, batu giok di tangannya terus memancarkan cahaya samar, perlahan namun pasti terus menyerap energi halus yang ada di udara tanpa disadarinya. Tubuhnya yang tadinya hanya tubuh remaja biasa kini perlahan mengalami perubahan halus — kulitnya menjadi lebih kuat, tulangnya lebih padat, dan indranya semakin tajam. Namun bagi Mu Chen sendiri, ia hanya merasa sedikit lebih ringan saat berjalan.

Di tengah perjalanan, ia terus memandangi hal-hal di sekitarnya dengan pandangan yang terlihat lucu. Ia melihat pohon besar yang batangnya memancarkan cahaya samar, lalu bertanya dengan bingung:

"Xiaoyao, kenapa pohon itu bersinar? Apakah sudah tua sekali atau ada jamur khusus yang tumbuh di situ? Di duniaku, pohon hanya hijau saat hidup dan cokelat saat mati, tidak bersinar seperti lentera!"

Xiaoyao menoleh sebentar, lalu menjelaskan: "Itu Pohon Cahaya Malam. Ia menyerap energi matahari di siang hari dan memancarkannya kembali di malam hari. Kayunya bagus untuk membuat alat bantu kultivasi."

"Menyerap matahari lalu bersinar... itu seperti panel surya di duniaku! Tapi kok tumbuh sendiri? Apakah ada ilmuwan yang menciptakannya jutaan tahun lalu?" gumam Mu Chen bingung.

Xiaoyao hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Semakin lama berjalan bersamanya, semakin ia sadar betapa besarnya perbedaan cara pandang Mu Chen dengan orang-orang di dunia ini. Segala hal yang dianggap wajar di sini terlihat aneh dan sulit dipahami oleh pemuda itu, dan begitu pula sebaliknya.

Namun di tengah kebingungan itu, Xiaoyao juga merasakan sesuatu yang lain. Keberadaan Mu Chen seolah membawa suasana yang berbeda. Ia tidak memandang hal-hal ajaib ini dengan rasa takut atau keserakahan seperti kebanyakan orang, melainkan dengan rasa ingin tahu dan logika yang sederhana namun unik.

Dan yang paling misterius, aliran energi seimbang yang terus menyebar dari tubuhnya perlahan membuat udara di sekitar mereka menjadi lebih segar dan nyaman untuk dihirup. Bahkan makhluk-makhluk kecil yang biasanya bersembunyi di malam hari tampak berani keluar sedikit demi sedikit, tertarik pada energi yang tidak berbahaya itu.

Di bawah sinar bulan yang tembus celah dedaunan, dua sosok muda itu terus berjalan menuju desa di kejauhan. Satu adalah gadis yang sudah akrab dengan hukum dunia ini, dan satu lagi adalah pemuda yang datang dari dunia lain, masih tenggelam dalam samudra kebingungan namun perlahan mulai menyadari bahwa tubuhnya menyimpan rahasia yang bahkan tidak dimengerti oleh para tetua kultivator paling hebat sekalipun.

Perjalanan keluar dari hutan ini baru permulaan. Masih banyak hal aneh yang akan dilihat Mu Chen, masih banyak pertanyaan yang akan terlintas di kepalanya, dan rahasia di balik batu giok serta kemampuan tubuhnya baru akan mulai terungkap perlahan-lahan seiring waktu.

Mohon dukungannya teman teman

1
premier MT
mantap
Riekcy Rachmat
lanjut trus🙏
Riekcy Rachmat
menarik sekali, semoga updatenya banyak nnti
Riekcy Rachmat
😄😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!