NovelToon NovelToon
RAHASIA PANAS DI BALIK PERNIKAHAN

RAHASIA PANAS DI BALIK PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.1M
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Dewasa
Follow My Instagram @Mae_jer

Dami tidak menyangka dia akan menghadapi Jeremy yang menggila padahal statusnya sudah menjadi istri dokter Bima. Walau status itu hanya sebatas pernikahan kontrak, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Namun, siapa yang akan menyangka Dami akan terlibat dengan permainan panas Jeremy, serta Bima yang ikut-ikutan menggila, yang membuatnya berada di situasi yang membingungkan.

Terjebak di antara dua pria yang sama-sama menginginkannya, situasi semakin rumit saat Dami hamil. Karena ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Jeremy atau Bima? Lebih gilanya lagi, baik Bima maupun Jeremy, sama-sama tidak mau melepaskannya.

Ketiganya harus merahasiakan hubungan gila mereka sampai akhirnya salah satu dari kedua pria itu mengalah, dan merelakan Dami dengan laki-laki yang dia cintai.

Apakah masih Jeremy cinta pertamanya yang menjadi pemenang? Atau Bima, dokter tampan yang juga mencintai Dami dengan tulus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia yang mulai

Suara hentakan keras itu bergema di seluruh ruangan toilet mewah, diikuti erangan kesakitan yang keluar dari mulut Riana. Tubuh wanita itu terpelanting ke belakang dan jatuh terlentang di atas lantai marmer yang licin. Belum sempat Riana berusaha bangun atau berteriak, Dami sudah bergerak cepat, ia melangkah maju, lalu dengan sigap menindih tubuh Riana, menekan pinggang wanita itu agar tidak bisa bergerak bebas.

"Kau berani menamparku dan menghinaku? Kau pikir aku akan diam saja?" desis Dami dengan suara rendah dan dingin, matanya memancarkan amarah yang meledak-ledak.

Tanpa memberi kesempatan Riana untuk membela diri, tangan kanan Dami terangkat dan melayangkan pukulan demi pukulan tepat ke wajah wanita itu.

BUKK! BUKK! BUKK!

Setiap pukulan diayunkan dengan tenaga yang terlatih, bukan sekadar amarah biasa. Pipi Riana segera memerah, lalu membengkak, dan tak lama kemudian darah mulai mengalir dari sudut bibirnya, dari lubang hidungnya, bahkan sedikit dari sudut matanya.

"Aku bukan wanita lemah yang bisa kau hina dan tampar sesuka hati!" teriak Dami di sela-sela pukulannya.

"Kau bicara tentang kehormatan? Lihat dirimu sendiri! Wanita yang masih memendam perasaan pada pria yang sudah beristri, lalu berani menghina istrinya dengan kata-kata kotor! Kau tidak tahu apa-apa tentang aku, tentang masa laluku, atau tentang apa yang aku lalui! Tapi kau berani menghakimi seenaknya!"

Riana hanya bisa berteriak kesakitan, tangannya berusaha menangkis namun tenaganya tidak sebanding dengan Dami yang sudah terlatih bertahun-tahun ini. Wajah wanita itu perlahan berubah bentuk, membengkak parah, dan darah terus membasahi lantai di sekitarnya. Teman Riana yang tadinya merasa puas kini berubah menjadi panik luar biasa. Ia berdiri mematung sejenak, lalu berbalik dan berlari secepat kilat keluar dari toilet, berteriak meminta tolong.

"Tolong! Ada perkelahian! Tolong cepat!"

Suara teriakannya terdengar hingga ke lorong luar. Beberapa menit kemudian, langkah kaki yang cepat dan berat mendekat. Pintu toilet didorong terbuka lebar, dan tampak Bima serta Arsen berdiri di ambang pintu dengan napas terengah dan ekspresi kaget tak percaya.

Pemandangan yang mereka lihat sungguh di luar dugaan. Di tengah ruangan, Dami sedang duduk di atas perut Riana, tangan kanannya terus bergerak memukul dengan ritme yang teratur dan penuh kekuatan. Wajah Riana yang tadinya cantik dan terawat kini sudah membengkak parah, berlumuran darah, dan nyaris tidak bisa dikenali lagi. Ia sudah tidak berteriak lagi, hanya mengerang lemah karena kesakitan.

Arsen mengerutkan keningnya, matanya mengamati gerakan Dami dengan cermat. Ia yakin sepenuhnya bahwa gerakan pukulan itu bukanlah pukulan sembarangan. Itu adalah teknik bela diri yang terlatih, kemampuan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang biasa berhadapan dengan bahaya. Jika Dami tidak menahan tenaganya sedikit saja, Riana pasti sudah terbaring tak sadarkan diri atau bahkan lebih parah lagi bisa meninggal.

"Dami! Berhenti!" teriak Bima.

Namun Dami seolah tidak mendengar. Di matanya saat ini hanya ada wanita yang telah menghinanya, menamparnya, dan meremehkan martabatnya. Ia merasa marah bukan hanya karena dirinya dihina, tapi juga karena wanita itu berani mencampuri urusan rumah tangganya dan meremehkan posisinya sebagai istri sah.

Melihat Dami tidak berhenti juga, Bima segera melangkah masuk. Ia mendekat dengan cepat, lalu meraih pinggang Dami dengan kedua tangannya dan menarik tubuh wanita itu ke belakang dengan kekuatan yang cukup besar, memisahkannya dari Riana yang tergeletak lemas di lantai.

"DAMI! KAU GILA?!" bentak Bima dengan suara keras, matanya menatap tajam ke wajah istrinya. Nada bicaranya bercampur antara kaget, marah, dan sedikit kekhawatiran yang berusaha ia sembunyikan.

Dami terhuyung sedikit karena tarikan itu, lalu berdiri tegak. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun hebat. Wajahnya masih memerah menahan amarah, dan buku-buku jarinya terlihat memerah bahkan sedikit tergores karena benturan keras dengan wajah Riana.

Ia menatap Bima dengan pandangan yang masih menyala, namun perlahan-lahan kesadarannya kembali. Ia melihat kondisi Riana yang tergeletak di lantai, berlumuran darah dan tidak berdaya, lalu menatap kembali suaminya.

Arsen segera berjalan mendekati Riana, berjongkok untuk memeriksa kondisinya.

"Dia masih sadar, tapi wajahnya bengkak parah dan mungkin ada tulang yang bergeser. Kita harus bawa dia ke rumah sakit segera," ucap Arsen dengan nada tenang meski matanya masih sesekali melirik Dami dengan pandangan yang tajam.

Bima kembali menatap Dami, tatapannya penuh pertanyaan dan kemarahan yang belum surut.

"Apa yang kau lakukan? Ini pesta penting! Semua orang ada di sini! Dia adalah tamuku! Kau membuat keributan besar dan memukul tamu sampai separah ini! Apakah kau sudah gila?!"

Dami mengatupkan rahangnya, menahan emosinya yang masih bergejolak. Ia menatap balik Bima dengan pandangan tegas, tidak merasa bersalah meski sadar telah membuat kekacauan.

"Dia yang mulai," jawab Dami dengan suara parau namun jelas.

"Dan kau memukulnya sampai separah ini? Kau bisa saja membunuhnya!"

Kali ini Dami terdiam.

"Panggil ambulance sekarang juga." Perintah Arsen pada teman Riana, lalu menatap Dami yang masih di tahan oleh Bima dengan tatapan tajam.

"Dami, maaf. Aku harus menahanmu sekarang. Serangan yang kau lakukan sudah termasuk serangan fatal. Kalau aku tidak segera bertindak, orang lain akan mempertanyakan integritasku sebagai kepala polisi."

Dami menatap Bima.

"Jangan menatapku seperti itu. Kau yang berbuat, kau juga yang harus tanggung akibatnya." kata Bima dingin, meski dia tangannya tetap setia memeluk pinggang Dami.

"Tapi dia yang mulai."

"Karena itu semua akan selesai di kantor polisi. Kau harus memberikan keteranganmu. Saksi yang lain juga." Pandangan Arsen berpindah pada teman Riana yang sibuk memanggil ambulance dengan wajah paniknya.

Dami terdiam, tidak berusaha melepaskan diri dari pegangan Bima. Ia tahu, meski ia dibenarkan secara emosional, tindakannya tetap bisa disalahartikan di mata hukum. Ia hanya mengangguk pelan, menerima kenyataan bahwa ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Padahal dia sudah membunuh banyak mafia besar dan lolos tanpa tertangkap. Tapi malam ini, bisa-bisanya dia tertangkap seperti ini. Lalu ia merasakan tangan Bima terlepas dari pinggangnya.

"Arsen, kau bawa dia. Aku akan membubarkan pesta dan menyusul nanti. Bagaimana ambulance-nya?" kali ini ia melirik teman Riana yang sudah kembali ke dekat mereka. Wajahnya masih syok, apalagi pas menatap Dami.

"Sudah dalam perjalanan."

"Kau urus dia. Setelah itu susul kami ke rumah sakit untuk memberikan keterangan. Bima, kau cek cctv dan bawa padaku." kata Arsen. Bima menganggukkan kepala, ia menatap Dami sebentar dengan ekspresi datar, lalu pergi dari sana. Dami menatap kepergian laki-laki itu lama sekali.

"Ayo, kita lewat belakang untuk menghindari perhatian." kata Arsen tak kalah datarnya dari sang kakak.

1
Fitria Syafei
Si Molly mpus mau nya apee sih.irii yaa ga di lirik Langit bawaan nya Syirik ajee 😏 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 😍
aryuu
Kaka adik kelakuannya assuuu banget sihhh...
aryuu
ayolah otor sayang buat mereka bersatu , langit Naya forever, daripada buat langit menderita terlalu lama buat saja langit meninggal cepat tor../Grimace/
Rasmini
jangan deketin naya ama bison ih. juhin ajah udqh. naya biar tinggal ama neneknya.
Tuti Tyastuti
𝘪𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘯𝘢𝘺 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘪 𝘮𝘰𝘭𝘭𝘺 𝘵𝘶𝘩
🍒WINA🍒
Bagus naya lawan aja simolly jangan mau ditindas dan direndahkan simolly😄molly anggap naya perempuan gak bener dan apa yg dilakukan naya dimata molly salah dan buruk...

molly hanya karena iri dan cemburu naya dekat kak langit, molly musuhin naya diam-diam molly suka sama langit...

langit tahu molly suka tapi langit gak tanggapin bersikap dingin dan datar, langit gak mau didekati sama molly dan perempuan lainnya. kecuali naya langit sangat aman dan nyaman sama naya sangat tulus....

heran dech sikapnya molly sangat kasar dan suka merendahkan dan menghina, beda banget sifatnya dami dan bima kayak langit dan bumi....

mason sangat dingin dan datar tapi gak suka menghina dan merendahkan, sifatnya molly nurunin siapa ya...
🍒WINA🍒
Cie-cie langit pura-pura lemah dihadapan naya🤭biar dibantu dan diperhatian naya padahal langit masih menggangkat tangannya sendiri.

gak apa-apa manja-manja dikit sama naya, naya dah cantik baik hati dan tulus, pasti banyak pria yg jatuh cinta sama naya...
Dirman Ha
ignore
Dirman Ha
yg yo
Dirman Ha
ig dch jo
Dirman Ha
ig giih
🍒WINA🍒
Langit dan naya jadi pasangan sangat cocok dan serasi sekali, semoga aja berjodoh tapi tergantung author mae😊

ssmoga aja mae mengabulkan permintaan para pembaca langit dan naya berjodoh....

langit happy sekali naya sangat perhatian dan peduli, apalagi alvin sangat nyaman sama naya...
Tuti Tyastuti
𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵
⭐️asteri
nah gitu dong thor.jangan sampe anak Eva lemah .
Putu Ariyastini
sudah thor naya sama langit aja deh, gak kebayang aja kalau ternyata mereka gak berjodoh kasihan langit nya yg sudah terlalu nyaman sm naya.
Bunda Dzi'3
khawatir Mason Khilaf&Curi Ciuman Prtma naya🤭😉
Mutia Efrida
Suka suka suka pokoknya naya hrs berani nyaut, walopun depan dami & Bima, kl moly bicara ketus, naya harus berani nyaut. buat langit nembak naya jd pacarnya their, trus naya nerima, trus naya curhat sm mama papanya soal langit, and mama pa pa naya setuju, pokoknya naya harus cerita soal langit ke mama papanya Thor 🤣🤣🤣🤣🤣
Eva Tigan
masih belum ketebak apakah Naya akan bersama Langit atau Mason.
kalo aku sih terserah othor saja..dan aku menikmati setiap episode nya
Dirman Ha
ye rg Hi
Dirman Ha
if gkpp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!