Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.Langkah Catur di Atas Panggung Emas dan Angin Malam Kota Glory
Aroma dupa kemenyan yang dibakar di sudut alun-alun Keluarga Suci mendadak terasa getir di tenggorokan. Udara di sekitar arena kultivasi seolah turun beberapa derajat saat riuh rendah bisikan para tetua berganti dengan keheningan yang mencekam.
Di atas panggung batu giok putih, Xiao Xuan berdiri dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung. Jubah kultivasi birunya yang berhias sulaman benang perak bergerak tipis ditiup angin sore, tidak menunjukkan tanda-tanda kekacauan bahkan setelah melewati pertarungan sengit. Tatapan matanya yang sedalam sumur tua beralih perlahan, jatuh tepat pada sosok pria paruh baya yang duduk di kursi utama tribun kehormatan.
Patriark Shen Hong.
Saat mata mereka bertemu, ekspresi wajah Shen Hong menggelap, menyerupai mendung hitam yang siap menumpahkan badai. Kilatan dingin yang sarat akan penolakan dan harga diri yang terluka terpancar jelas dari sepasang matanya yang menyipit.
*‘Bagaimana mungkin...’* Shen Hong mengepalkan tinjunya di dalam lengan jubah panjangnya hingga kuku-kukunya memutih. *‘Kubis muda terbaik yang telah kurawat dan kutanam dengan tetesan keringat serta sumber daya terbaik Keluarga Suci, hari ini harus diinjak-injak oleh pemuda dari Keluarga Xiao ini? Rasanya aku benar-benar ingin turun ke sana dan meremukkan kesombongannya dengan tanganku sendiri!’*
Namun, gemertak gigi Shen Hong tertahan di pangkal tenggorokan. Sudut matanya menangkap sosok tua yang duduk dengan tenang tak jauh dari posisinya—Tetua Agung Keluarga Xiao, Xiao Tian. Pria tua itu hanya duduk sambil menyesap tehnya, namun aura sedalam samudra yang samar-samar terpancar dari tubuhnya bertindak bagai gunung tak terlihat yang mengunci setiap gerak-gerik Shen Hong. Di depan umum, di tengah Kota Glory yang penuh intrik, menyerang penerus sah Keluarga Xiao sama saja dengan menyulut perang darah. Shen Hong terpaksa menelan kembali ludah pahitnya.
Jika sang Patriark saja harus menahan diri, tidak demikian dengan generasi muda Keluarga Suci. Di bawah panggung, gejolak amarah membakar dada mereka bagai api yang disiram minyak. Shen Qingqiu bukan sekadar genius wanita di keluarga mereka; dia adalah dewi, sekuntum bunga teratai salju yang dipuja oleh hampir seluruh pemuda berbakat di wilayah itu. Melihat Xiao Xuan mampu menandinginya, bahkan dengan gestur yang begitu santai, membuat darah muda mereka mendidih karena cemburu. Pandangan-pandangan mata yang tajam bagai belati diarahkan pada Xiao Xuan, seolah-olah mereka ingin mencabik-cabiknya menjadi serpihan.
Pertandingan antara Xiao Xuan dan Shen Qingqiu akhirnya dinyatakan berakhir imbang oleh wasit—sebuah keputusan taktis yang diambil dengan halus demi menjaga muka kedua belah pihak di mata publik. Shen Qingqiu mundur dengan dada naik turun, menatap Xiao Xuan dengan tatapan rumit yang dipenuhi rasa tidak percaya, sementara Xiao Xuan hanya membalasnya dengan anggukan kepala yang teramat tipis, penuh kesopanan yang dingin.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Merasa harga diri keluarga mereka dipertaruhkan, beberapa pemuda berbakat lainnya seperti Shen Ning dan Shen Xiao segera melompat naik ke panggung secara bergantian.
"Aku, Shen Ning, ingin meminta petunjuk dari Tuan Muda Xiao!"
"Maju," jawab Xiao Xuan pendek.
Suaranya tidak keras, namun gaungnya yang tenang mendominasi seluruh arena. Langkah kakinya seringan bulu, bergerak dengan presisi yang mengerikan. Tanpa perlu mengeluarkan jurus-jurus yang megah, Xiao Xuan hanya memanfaatkan momentum dan ketajaman intuisinya. Setiap pukulan Shen Ning yang mengarah ke titik vital berhasil dielakkan dengan pergeseran tubuh yang minimal, disusul oleh satu ketukan jari di pergelangan tangan yang seketika melumpuhkan aliran energi spiritual lawan. Shen Ning terlempar keluar arena dalam hitungan detik. Shen Xiao yang maju berikutnya pun bernasib sama; dia bahkan tidak mampu menyentuh ujung jubah Xiao Xuan sebelum sebuah sapuan kaki yang bersih membuatnya jatuh terduduk di tanah dengan napas terengah-engah.
Suasana alun-alun berubah menjadi keheningan yang mematikan, hingga akhirnya deburan angin malam yang mulai turun terdengar jelas. Keadaan baru kembali memanas ketika Shen Fei—salah satu harapan terbesar Keluarga Suci—melangkah naik dengan wajah merah padam oleh amarah yang tertahan.
"Jangan sombong, Xiao Xuan! Mari kita lihat apakah kau bisa menahan ini!" Shen Fei Meraung.
Energi spiritual di dalam tubuhnya bergolak hebat. Di belakang punggungnya, udara mendistorsi dan memancarkan cahaya merah darah saat sebuah bayangan raksasa mulai terbentuk. Itu adalah Roh Iblis Harimau Hitam Api Merah. Raungan harimau itu menggetarkan gendang telinga, membawa hawa panas yang membakar udara di sekitarnya hingga beberapa rumput di tepi panggung mengering.
Xiao Xuan berdiri diam, membiarkan angin panas menerpa wajahnya. Tidak ada ketakutan, tidak ada kepanikan. Di mata dewasanya, amarah Shen Fei hanyalah riak kecil di permukaan kolam.
*‘Roh iblis yang mengandalkan amarah... kasar dan penuh celah,’* batin Xiao Xuan.
Detik berikutnya, Xiao Xuan memejamkan mata sekejap. Ketika kelopak matanya terbuka, seberkas cahaya keemasan yang murni dan kuno memancar dari pupilnya. Dari dalam jiwanya, sebuah tekanan yang teramat masif, sedalam langit sembilan tingkat, mendadak tumpah ke seluruh penjuru panggung. Roh Iblis Naga Leluhur bermanifestasi tanpa suara, namun kehadirannya langsung mengubah gravitasi di sekitar arena.
*Roar!*
Sebuah raungan tak terdengar yang langsung menghantam kesadaran jiwa bergema. Di bawah tatapan agung sang Naga Leluhur, Harimau Hitam Api Merah milik Shen Fei mendadak gemetar hebat. Api merah yang membubung di tubuhnya meredup seketika, dan roh iblis itu justru meringkuk ketakutan, seolah-olah menghadapi penguasa tertinggi mutlak.
"Apa?!" Shen Fei terbelalak, merasakan aliran energinya berbalik menghantam dadanya sendiri.
Sebelum Shen Fei sempat memulihkan kesadarannya dari syok spiritual tersebut, bayangan Xiao Xuan telah lenyap dari tempatnya berdiri.
*Wush!*
Aroma tipis embun malam menyengat hidung Shen Fei bersamaan dengan munculnya sosok Xiao Xuan tepat di depannya. Dua gerakan. Satu hantaman telapak tangan terbuka di dada, disusul dengan satu sentakan lutut yang taktis.
*Brak!*
Shen Fei terlempar tinggi, melewati batas ring, dan jatuh berdebam di atas tanah berdebu di luar panggung, langsung pingsan dengan sudut bibir mengeluarkan darah segar. Hanya dalam dua atau tiga gerakan, genius kebanggaan mereka telah ditumbangkan tanpa ampun.
Melihat fakta brutal ini, sisa generasi muda Keluarga Suci yang tadinya berteriak lantang kini tertunduk dengan wajah pucat. Betapapun marahnya mereka, perbedaan kekuatan yang membentang bagai jurang pemisah memaksa mereka untuk menelan kembali semua kata-kata kesombongan. Pemuda di atas panggung itu terlalu kuat untuk ukuran usianya.
Xiao Xuan tidak menunjukkan raut pongah. Ia tahu betul, Keluarga Suci, terlepas dari segala kebusukan internalnya, masih memiliki nilai guna yang besar dalam peta politik Kota Glory yang sedang ia susun. Menghancurkan mereka sekarang bukanlah pilihan yang bijak. Karena itu, Xiao Xuan memilih untuk tetap tinggal selama beberapa waktu, memberikan beberapa patah kata petunjuk kultivasi—yang sebenarnya terdengar seperti teguran dingin namun sangat akurat—kepada Shen Fei yang baru sadar, Shen Yue, Shen Ning, serta Shen Xiao.
Bahkan, ia juga meluangkan waktu beberapa menit untuk mengoreksi aliran energi spiritual dalam teknik pedang milik Shen Qingqiu. Interaksi itu berlangsung singkat, namun ketajaman analisis Xiao Xuan yang dibungkus dengan ketenangan pria dewasa membuat Shen Qingqiu terpaku, matanya tidak bisa lepas dari cara Xiao Xuan menjelaskan setiap detail dengan begitu fasih tanpa ada kesan menggurui yang murahan.
Melihat situasi yang mulai mencair, Tetua Agung Xiao Tian tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pria tua itu melangkah maju dan dengan lambaian tangannya, mengeluarkan sejumlah kotak giok berisi sumber daya kultivasi tingkat tinggi—ramuan spiritual dan batu energi murni—untuk ditinggalkan bagi generasi muda Keluarga Suci. Namun, dengan senyum penuh arti yang tersungging di wajah keriputnya, Xiao Tian mengarahkan sebagian besar kotak giok terbaik langsung ke tangan Shen Qingqiu.
Xiao Tian benar-benar telah bersusah payah demi masa depan cucu keponakannya. Dalam benak orang tua itu, dia sudah mulai menghitung-hitung dan menimbang untuk mencarikan pasangan hidup yang layak bagi Tuan Mudanya, Xiao Xuan. Langkah kemurahan hati yang tak terduga ini seketika mengubah atmosfer di alun-alun. Gelombang simpati dan rasa hormat yang mendalam dari para tetua Keluarga Suci kini berbalik mengalir kepada Keluarga Xiao. Mereka menganggap Keluarga Xiao sangat bermartabat dan tahu cara menghargai hubungan.
Melihat ketulusan (dan tekanan terselubung) yang ditunjukkan oleh Keluarga Xiao, Patriark Shen Hong tidak bisa lagi mempertahankan wajah ketatnya. Ia berdehem pelan, menyingkirkan semua ego kelamnya, dan bahkan tersenyum ramah. Dengan nada suara yang diakrab-akrabkan, ia secara khusus mendekati Xiao Xuan, menjabat tangannya, dan mendesak pemuda itu dengan sangat hangat agar lebih sering datang berkunjung dan berinteraksi dengan Shen Qingqiu serta anak-anak muda lainnya.
Malam pun jatuh sepenuhnya, menyelimuti Kota Glory dengan jubah kegelapan yang dihiasi kelap-kelip lampu minyak dari rumah-rumah penduduk. Angin malam bertiup cukup kencang, menerbangkan beberapa daun kering di jalanan batu yang sepi.
Xiao Xuan dan Xiao Tian berjalan berdampingan menuju kediaman mereka. Langkah kaki Xiao Xuan konstan dan tenang, sementara Xiao Tian berjalan dengan tangan menyilang di dalam lengan baju panjangnya, sesekali melirik ke arah pemuda di sebelahnya dengan senyum menggoda yang tidak bisa disembunyikan.
"Tuan Muda," Xiao Tian akhirnya membuka suara, memecah keheningan malam dengan nada penuh seloroh. "Bagaimana pendapatmu tentang cucu perempuan Shen Hong tua itu? Orang tua ini memperhatikan bahwa saat di arena tadi, Tuan Muda tidak hanya meninggalkan sumber daya, tetapi juga memberikan petunjuk yang sangat mendalam padanya. Apakah... diam-diam Tuan Muda telah menaruh hati pada gadis manis dari Keluarga Suci itu? Hmm?"