NovelToon NovelToon
Sumpah Badai

Sumpah Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Fantasi
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: andre kurnia

11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istana yg megah

Malam yang dingin perlahan berganti menjadi pagi yang cerah. Matahari mulai menampakkan sinarnya yang hangat, diiringi suara ayam yang berkokok bersahutan. Pegunungan di sekitar desa masih diselimuti kabut putih tebal, tanda bahwa warga harus mulai bersiap menyambut hari. Ada yang berjalan menuju ladang, para ibu sibuk di dapur atau berangkat ke sungai untuk mencuci — semua bergerak riang menyambut pagi.

Namun, kesibukan pagi itu sama sekali tak menyentuh Yuse Yattama. Pintu kamarnya tertutup rapat, tak ada tanda-tanda sang ksatria akan bangun. Meskipun sudah berkali-kali dipanggil ibunya dari luar, Yuse tetap tak menyahut sedikit pun.

Sementara itu, Brisa yang sudah terbangun sejak fajar sibuk membantu Ibu Cyena menyiapkan sarapan di dapur. Melihat sang ibu yang terus memanggil tanpa hasil, Brisa akhirnya menawarkan diri.

"Biar aku saja yang bangunkan dia, Bu," ujarnya sambil tersenyum kecil.

Ibu Cyena mengembuskan napas panjang lalu mengangguk pasrah. "Tolong ya, Nak Brisa."

Brisa melangkah menuju kamar Yuse, mengetuk pintu kayu itu beberapa kali.

"Yuse, bangun."

Hening. Tak ada jawaban. Dipanggil sampai tiga kali pun, tetap tak ada tanda-tanda kehidupan. Kesabaran Brisa akhirnya habis. Dengan wajah memerah menahan marah, ia mendorong pintu yang ternyata tak terkunci. Di dalam, Yuse masih mendengkur nyaman di balik selimut tebalnya.

Tanpa pikir panjang lagi, Brisa mengambil ancang-ancang. Ia melompat tinggi ke udara, menjatuhkan seluruh berat badannya tepat ke arah perut pemuda itu sembari berteriak nyaring, "BANGUN KAU, KERBAU MALAS!!!"

BRAAKK!!! UGH!!!

Terkaget hebat karena perutnya tertindih beban berat, Yuse terbangun seketika. Matanya membelalak lebar, wajahnya pucat pasi, dan ia langsung meringkuk seperti udang di atas kasur sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri luar biasa. Ksatria pelindung yang gagah itu kini tampak menyedihkan.

"Dasar kerbau! Bangun sekarang, atau aku lempar kau keluar dari rumah ini!" ancam Brisa sambil berkacak pinggang di atas kasur, menatap tajam ke arah Yuse.

"Baik, baik! Aku bangun!" sahut Yuse dengan suara serak, perlahan bangkit dari tempat tidur dengan wajah cemberut dan masih menahan sakit.

Begitu Yuse keluar kamar dengan langkah gontai, Ibu Cyena yang sedang merapikan meja makan langsung menyapanya hangat.

"Eh, anak Ibu sudah bangun. Mau langsung sarapan sekarang, Yuse?"

Yuse melirik tajam ke arah Brisa yang berjalan di belakangnya, lalu mendengus kesal.

"Tidak dulu, Ibu. Aku mau mandi saja… soalnya badanku habis tertimpa kotoran yang sangat besar dan berat pagi-pagi begini."

Seketika alis Brisa menukik tajam, bibirnya mencebik kesal mendengar sindiran itu. Ia ingin sekali membalas, tapi menahan diri karena ada Ibu Cyena di sana.

"Omong-omong," sela Ibu Cyena dengan nada ceria, "Apakah kalian mau ikut Ibu pergi ke pasar sebentar?"

Belum sempat Yuse menjawab, Brisa langsung memotong dengan antusiasme tinggi.

"Aku! Aku mau ikut, Ibu!"

Ibu Cyena tersenyum lebar melihat semangat gadis berambut perak itu.

"Tentu saja boleh, Nak. Mari kita pergi sama-sama."

Sementara itu, Yuse memilih untuk tetap tinggal di rumah. Setelah melalui banyak pertempuran berat belakangan ini, ia benar-benar hanya ingin beristirahat tenang di rumah masa kecilnya yang aman dan damai. Ibu Cyena yang sangat mengerti kondisi putranya pun tak memaksa.

"Baiklah, kalau kamu lapar nanti, semua lauknya sudah ada di meja ya," pesannya sebelum berjalan pergi bersama Brisa.

Sesampainya di pasar, suasana sudah mulai ramai dan hiruk-pikuk. Ibu Cyena berbelanja dengan telaten: sayuran segar, bumbu dapur, dan tak lupa daging dalam jumlah banyak — makanan kesukaan Yuse. Kabut pagi perlahan hilang sepenuhnya, digantikan sinar matahari yang makin hangat menyentuh kulit.

Setelah cukup lama berkeliling, semua kebutuhan sudah terpenuhi. Brisa membantu membawakan salah satu keranjang belanjaan, namun tepat saat mereka hendak pulang, sebuah suara yang sangat akrab terdengar dari keramaian.

"Eh? Brisa?!"

Brisa menoleh cepat. Benar saja, di sana berdiri sosok gadis berpakaian anggun dengan senyum ceria yang khas. Itu adalah Cindy Gulla!

"Kau juga ada di sini?!" seru Cindy sambil berlari kecil mendekat, matanya berbinar senang. "Aku sama sekali tak menyangka bakal ketemu kamu di pasar sekecil ini!"

Cindy segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling penuh harap.

"Kalau kau ada di sini, berarti Yuse juga ada kan? Di mana dia sekarang?"

Brisa sedikit bingung dengan pertanyaan beruntun itu.

"Aku… sedang berkunjung ke rumah ibunya Yuse. Dia lagi ada di rumah sekarang."

"Rumahnya di mana?!" tanya Cindy makin bersemangat, matanya makin berbinar mendengar kata 'ibu Yuse'.

Tak lama kemudian, Ibu Cyena yang sempat tertinggal karena membayar belanjaan pun mendekat.

"Eh, ada temannya Nak Brisa rupanya ya?"

Cindy langsung membetulkan sikapnya, lalu menjura hormat dengan sangat sopan dan anggun layaknya seorang putri sejati.

"Salam kenal, Ibu. Nama saya Cindy, teman dekat Brisa… juga teman baik Yuse," ujarnya sengaja menekankan kata terakhir sambil tersenyum manis.

Setelah berbincang hangat dan saling tertawa sebentar, Cindy tiba-tiba menggenggam tangan Brisa dengan mata berbinar penuh ide baru.

"Brisa, mumpung nggak terlalu jauh dari sini, bagaimana kalau hari ini kau ikut aku ke istana dulu? Kita bisa mengobrol banyak hal dan bersenang-senang di sana!"

Brisa seketika diliputi rasa dilema. Di satu sisi ia membawa barang belanjaan, tapi di sisi lain hatinya sangat ingin melihat dunia luar yang belum pernah ia jelajahi. Ia menatap Ibu Cyena dengan wajah ragu.

Ibu Cyena yang sangat peka langsung tersenyum maklum.

"Pergilah saja, Nak Brisa. Tidak apa-apa, Ibu bisa bawa semua ini sendiri. Lagipula Ibu masih mau cari beberapa barang kecil lagi di sini sebelum pulang."

Dengan lembut ia mengambil alih semua keranjang dari tangan Brisa.

"Terima kasih banyak, Ibu! Maaf ya aku nggak bisa bantu sampai rumah," ujar Brisa sambil membungkuk hormat.

"Tidak masalah sama sekali, bersenang-senanglah!" jawab Ibu Cyena sambil melambaikan tangan.

Di sepanjang perjalanan menuju kediaman kerajaan, mereka berjalan berdampingan sambil bersenda gurau. Rasa canggung yang tadinya ada perlahan mencair sepenuhnya. Di tengah obrolan itu, Brisa yang penasaran akhirnya bertanya.

"Cindy, kenapa kamu bisa ada di pasar desa ini? Bukankah seharusnya kamu masih belajar di Perguruan Arpati?"

Cindy menghela napas panjang sambil memonyongkan bibir sedikit.

"Memang seharusnya begitu. Tapi kabar soal serangan Drugsana dan pria bertopeng waktu itu sampai terdengar ke telinga Ayah. Dia sangat panik dan khawatir akan keselamatanku, jadi dia memerintahkanku pulang ke istana demi keamanan."

Ia terkekeh pelan lalu menyenggol pundak Brisa dengan akrab.

"Tapi bosan juga diam di kamar terus. Akhirnya aku nekat jalan-jalan keluar, eh malah beruntung ketemu kamu di sini!"

Tak lama kemudian, langkah mereka terhenti tepat di depan gerbang istana yang luar biasa megah. Brisa seketika terpaku, matanya membelalak takjub melihat pemandangan di depannya. Pilar-pilar putih tinggi menjulang ke langit, ukiran emas yang berkilauan, serta taman yang tertata sangat indah membuatnya serasa masuk ke dunia mimpi.

Melihat ekspresi kagum sahabat barunya, Cindy tersenyum bangga. Ia langsung menggandeng tangan Brisa masuk, lalu dengan antusias menceritakan setiap sudut, sejarah, dan fungsi seluruh bagian istana itu tanpa ada yang terlewat sedikit pun.

1
broken home
semoga lebih diperbaiki kosakata dan penempatan katanya
andara
berikan saran kalian terhadap karya ini, pendapat kalian adalah kunci ku untuk terus maju agar lebih berkembang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!