Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Murid Dalam
Huang dan Lei Shan mengangguk. Kemudian mereka berjalan memasuki gerbang sekte.
Ketika mereka melewati gerbang utama, dua murid penjaga yang mengenakan jubah abu-abu tua langsung menangkupkan kedua tangan dengan hormat. Sikap mereka jauh lebih sopan dibandingkan murid dalam biasa.
"Menyapa kakak senior Luo Mei dan Lei Shan," ucap salah satu penjaga.
Luo Mei hanya mengangguk tipis sebelum terus berjalan. Huang mengikuti di belakang sambil memperhatikan keadaan sekitar dengan tenang. Mereka menaiki tangga batu panjang menuju area utama sekte bagian dalam.
Setelah sampai di anak tangga terakhir, Huang melihat pelataran luas yang ramai dipenuhi murid. Sebagian sedang berlatih teknik pedang. Sebagian lain duduk bersila membaca kitab di bawah pohon besar yang rimbun. Seorang tetua berjubah biru tampak membimbing puluhan murid dengan serius.
Benturan senjata terdengar dari beberapa arena kecil di kejauhan. Tidak sedikit murid bagian dalam yang sudah berada di Ranah Fondasi Tahap Menengah. Bahkan beberapa aura terasa jauh lebih dalam dan berat daripada itu.
Huang diam-diam menarik napas pelan. Tempat ini benar-benar berbeda.
Luo Mei memimpin jalan tanpa banyak bicara. Beberapa murid yang melihat mereka langsung menoleh, terutama saat menyadari Huang berjalan bersama dua murid dalam terkenal.
"Itu Huang..."
"Juara kompetisi murid luar?"
"Aku penasaran, kejutan apa yang bisa dia buat disini?"
Bisik-bisik terdengar pelan dari berbagai arah. Huang tetap tenang. Dia tidak terlalu memedulikan tatapan orang lain.
Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya tiba di depan Aula Misi. Aula itu sangat besar, dengan tiang batu hitam setinggi beberapa meter menopang atapnya. Di depan aula, Tetua Xu sedang berbicara dengan seorang tetua lain yang bertugas mencatat misi sekte.
Lei Shan dan Luo Mei segera menangkupkan kedua tangan. "Guru."
Tetua Xu menyadari kedatangan mereka. Dia segera berbalik, lalu mengangkat tangan ringan. Tatapannya jatuh pada Huang.
Huang menangkupkan kedua tangannya dengan hormat. "Salam, Tetua Xu."
Tetua Xu mengangguk pelan. Tatapannya meneliti Huang dari atas sampai bawah sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Baru dua bulan sejak pertemuan kita di gerbang luar. Namun perkembanganmu sudah sejauh ini."
Tetua Xu berhenti sesaat. "Tetua Mo benar-benar memperhatikanmu."
Huang menundukkan kepala sedikit. "Tetua terlalu memuji murid."
Tetua Xu terkekeh pelan. Setelah itu dia mengibaskan lengan bajunya. Sebuah token perak muncul di tangannya. Token itu memiliki lambang awan dan gunung, dengan tulisan "Murid Dalam" terukir di bagian tengah. Tetua Xu menyerahkan token itu kepada Huang.
"Mulai hari ini, identitasmu berubah."
Huang menerima token tersebut dengan kedua tangan. Dia bisa merasakan energi spiritual samar mengalir dari benda itu.
"Terima kasih, Tetua."
Tetua Xu menatap Huang beberapa saat, lalu berkata tenang. "Panggil aku guru saja. Aku sudah mengatur semuanya agar kau menjadi muridku."
Huang sedikit terkejut, namun segera menunduk lebih dalam. "Terima kasih, Guru. Salam hormat murid."
Tetua Xu mengangguk, ekspresinya tampak cukup puas.
Dia memang sudah lama memperhatikan Huang, sejak pertemuan pertama mereka. Dan kemenangan di kompetisi kemarin... semakin menguatkan keinginannya menerima Huang sebagai murid pribadi.
"Baiklah."
Tetua Xu berbalik. "Ikuti aku. Kau akan diresmikan di Aula Utama Sekte Yunwu bersama Ning Su dan Qiao Rin."
Huang mengangguk. "Baik, Guru."
Mereka pun berjalan bersama menuju aula utama sekte bagian dalam. Sepanjang perjalanan, Huang melihat semakin banyak murid kuat. Aura beberapa orang bahkan membuat dadanya terasa berat tanpa sadar. Meski tidak mengetahui tingkat kultivasi mereka secara pasti, Huang tahu sebagian besar sudah jauh melampaui Ranah Fana.
Kultivasi di sekte bagian dalam jelas jauh lebih dalam.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan aula utama. Bangunan itu berdiri di puncak pelataran batu luas. Dua patung naga hitam berdiri di kanan kiri tangga masuk. Energi spiritual di sekitar aula begitu padat hingga kabut tipis tampak bergerak perlahan di lantai batu.
Huang melihat Ning Su dan Qiao Rin sudah berdiri di depan aula. Ning Su tetap membawa pedang tipisnya di pinggang. Wajah dinginnya tidak berubah sedikit pun. Qiao Rin berdiri sambil memainkan salah satu belatinya pelan dengan jari rampingnya.
Keduanya segera menyadari kedatangan Huang.
Qiao Rin melirik Huang dari atas ke bawah.
"Lukamu cepat sekali pulih."
Huang menjawab sopan. "Berkat pil pemberian guruku."
Ning Su menatap gelang besi yang kini sudah kembali terpasang di tangan dan kaki Huang. Matanya sedikit menyipit.
"Kau memasangnya lagi?"
Huang mengangguk kecil. "Guru berkata latihan tidak boleh berhenti."
Qiao Rin menghela napas pendek. "Orang sepertimu memang merepotkan."
Tetua Xu berjalan melewati mereka bertiga, lalu berkata. "Masuk."
Ketiganya segera mengikuti dari belakang. Sementara Lei Shan dan Luo Mei menunggu diluar.
Di bagian dalam aula utama... sangat luas. Beberapa tetua duduk berjajar di sisi kiri dan kanan ruangan. Di kursi paling depan duduk Pemimpin Sekte Yun Guicheng dengan wajah tenang. Tekanan samar dari pria itu membuat udara di aula terasa berat.
Huang segera menangkupkan kedua tangan bersama Ning Su dan Qiao Rin. "Murid memberi salam kepada Pemimpin Sekte dan para tetua."
Yun Guicheng membuka matanya perlahan. Tatapannya menyapu ketiga murid muda di depannya.
"Kalian bertiga adalah hasil terbaik kompetisi murid luar tahun ini." Suaranya tenang, namun terdengar jelas di seluruh aula. "Mulai hari ini, kalian resmi menjadi murid bagian dalam Sekte Yunwu."
Beberapa tetua mengangguk pelan.
Tetua berjubah hijau di sisi kiri berkata. "Ning Su diterima."
Tetua lain mengangguk. "Qiao Rin diterima."
Tetua Xu berbicara tenang. "Huang diterima sebagai muridku."
Yun Guicheng mengangkat tangan perlahan. "Dengan ini, ketiga murid luar ini, resmi menjadi murid dalam Sekte Yunwu." Aura spiritual ringan menyebar dari tubuhnya, menandakan pengesahan resmi.
Huang merasakan token murid dalam di tangannya sedikit bergetar. Sebuah tanda pengakuan sekte tercetak di dalam token tersebut. Ning Su dan Qiao Rin tetap tenang, namun mata keduanya sedikit berubah. Menjadi murid dalam berarti jalan kultivasi mereka benar-benar berubah mulai hari ini.
---
Sementara itu, di sebuah ruangan lain di wilayah sekte bagian dalam, Dhu Yan duduk sambil meminum teh spiritual bersama beberapa murid dalam lain. Ruangan itu dipenuhi aroma dupa ringan. Empat pria dan dua wanita duduk mengelilingi meja batu.
Salah satu pria berambut panjang tertawa kecil. "Kau benar-benar kalah dari murid luar itu?"
Dhu Yan menatap dingin ke arah cangkir tehnya. "Bukan aku yang bertarung langsung."
"Hasilnya tetap sama." Pria lain berkata malas sambil bersandar di kursinya. "Kau gagal menekannya."
Beberapa orang di ruangan tampak tidak terlalu tertarik. Mereka memiliki kekuatan yang setara dengan Dhu Yan. Bagi mereka, murid baru Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung bukan sesuatu yang terlalu penting.
Namun dua murid lain yang kekuatannya berada di bawah Dhu Yan tampak tertarik. "Aku mendengar dia menggunakan teknik gravitasi?"
"Benar," jawab Dhu Yan dingin. "Teknik aneh dari Tetua Mo."
Seorang wanita berjubah ungu tersenyum tipis. "Kalau begitu bukankah menarik? Sekte bagian dalam sudah lama membosankan."
Pria di sampingnya mendengus. "Murid luar tetap murid luar. Setelah masuk ke sini, dia akan tahu seberapa besar langit di atas kepalanya."
Dhu Yan akhirnya mengangkat kepalanya. Tatapannya dingin dan suram. "Tidak perlu terburu-buru." Bibirnya melengkung tipis. "Dia baru saja masuk ke sekte bagian dalam..."