Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resonansi Biru dan Sangkar Epigrafi
Keheningan yang menyelimuti kaldera Dieng kini terasa berbeda. Bukan lagi keheningan alam yang beku, melainkan keheningan artifisial yang menekan gendang telinga. Sebuah dengungan berfrekuensi sangat rendah—suara yang lebih terasa bergetar di tulang dada daripada terdengar oleh telinga—memancar dari ruang utama candi (garbhagriha).
Cahaya biru cyan itu menyapu pelataran berbatu, menembus sisa-sisa kabut, dan mencetak bayangan panjang Kolonel Rayyan Aksara serta Dr. Lyra Andini di dinding tebing.
Bau ozon—seperti udara sesaat setelah petir menyambar di padang terbuka—menggantikan bau belerang secara absolut.
“Kolonel…” Letnan Jati merayap mendekat dari arah pelataran, senapannya diturunkan, matanya membelalak tak percaya menatap dari balik bahu Rayyan. Tawanan musuh sudah diikat di sudut pelataran oleh Dito. “Benda apa itu? Apakah itu… uranium?”
Rayyan tidak langsung menjawab. Ia mengangkat sebelah tangannya, memerintahkan Jati untuk tetap di posisinya. Laras senapan Rayyan tetap terarah lurus ke kegelapan ruangan, tidak terpengaruh oleh keindahan pendaran cahaya asing tersebut.
“Uranium tidak melayang, Jati,” jawab Rayyan sedingin es. “Dan uranium tidak memancarkan cahaya biru tanpa medium reaktor.”
Rayyan menoleh sedikit ke arah Lyra yang berdiri terpaku di sisinya. Gadis itu melepas kacamata berdebunya, mengusap lensanya dengan ujung kemeja yang reltif bersih, lalu memakainya kembali. Matanya yang cokelat memantulkan pendaran biru yang hipnotis.
“Lyra? Kau masih bersamaku?” Panggil Rayyan pelan, suaranya bertindak sebagai jangkar untuk menarik kewarasan gadis itu kembali.
Lyra tersentak keçil, mengangguk cepat. “Y-ya. Aku disini.”
Ia melangkah setengah sentimeter ke depan, namun lengan kokoh Rayyan langsung melintang di dadanya, menahannya seperti palang pintu baja.
“Tetap di belakangku. Kita tidak tahu apakah ruangan ini memiliki jebakan lain atau radiasi mematikan,” perintah Rayyan tanpa kompromi. Ia menekan radio di kerah bajunya. “Dito, aktifkan pencacah Geiger. Cek tingkat radiasi dari pintu masuk.”
Dito setengah berlari mendekat sambil memegang alat detektor radiasi portabel. Layar alat itu berkedip-kedip hijau, lalu mati total, menyala kembali, lalu mati lagi. Jarum analognya bergetar tak terkendali di angka nol, bukan di angka bahaya.
“Bukan radiasi nuklir, Kolonel,” lapor Dito bingung mengetuk-ngetuk alatnya. “Tapi medan elektromagnetiknya… gila. Jarum kompas digital saya berputar seperti baling-baling.”
Rayyan mengangguk. Ia menggeser tubuhnya, melangkah melewati ambang pintu batu setebal satu meter itu dengan sangat perlahan. Matanya menyapu lantai, dinding, dan langit-langit, mencari kawat pemicu atau pelat penekan. Tidak ada apa-apa. Ruangan itu kosong melompong, kecuali altar lingga-yoni di tengahnya.
Lyra melangkah tepat di atas jejak sepatu bot Rayyan, nyaris menempel pada punggung pria itu. Saat ia melewati ambang pintu, ia menyadari sesuatu yang aneh.
“Rayyan… suhu di sini,” bisik Lyra, melepaskan sarung tangan termal di tangan kanannya. “Di luar minus dua derajat. Di dalam sini… hangat. Sekitar dua puluh lima derajat Celcius.”
Rayyan merasakan hal yang sama. Keringat dingin mulai terbentuk di pelipisnya di balik balaclava yang sudah ia tarik turun ke leher. Ruangan berbatu andesit itu bertindak sebagai inkubator raksasa yang menahan energi panas dari batu kristal tersebut.
“Kolonel, lihat dindingnya,” napas Lyra tertahan. Ia menunjuk ke arah relief yang dipahat di sekeliling ruangan.
Bukan pahatan Dewa Siwa, Brahma, atau Wisnu yang biasa ditemukan di candi Hindu abad ke-8. Dinding itu dipenuhi oleh garis-garis geometris simetris, titik-titik yang terhubung membentuk konstelasi rasi bintang yang sama sekali tidak dikenalnya, dan pola-pola rumit yang menyerupai… sirkuit motherboard komputer super raksasa yang dipahat di atas batu.
“Arsitek kuno kerajaan Mataram Kuno tidak membangun candi ini untuk menyimpan benda ini,” Lyra bergumam, kepalanya berputar menganalisis fakta-fakta sejarah yang bertabrakan di depan matanya. “Mereka menemukan benda ini saat sedang menggali batu di gunung vulkanik. Mereka tidak tahu apa ini, tapi mereka tahu benda ini memiliki kekuatan absolut. Jadi, mereka membangun Candi Taring Dewa di sekelilingnya untuk menyembah dan menyegelnya.”
Rayyan menatap lekat kristal yang melayang itu. “Sebuah sumber tenaga purba? Atau teknologi yang tertinggal?”
“Apa pun ini, benda ini tidak berasal dari bumi,” bisik Lyra, suaranya bergetar antara rasa takjub dan ngeri.
Lyra merogoh kantong ranselnya, mengeluarkan sebuah kaliper logam (jangka sorong) kecil untuk mengukur dimensi benda tersebut dari jarak aman. Ia mengangkat kaliper itu.
“Lyra, jangan—“ peringatan Rayyan terlambat.
Tepat saat ujung kaliper berbahan baja tahan karat itu berjarak setengah meter dari kristal, benda itu bereaksi.
Dengungan rendah itu tiba-tiba berubah menjadi nada tinggi yang melengking. Rotasi kristal itu mempercepat putarannya dalam hitungan kedipan mata. Urat-urat biru di permukaannya menyala menyilaukan, mengubah ruangan gelap itu seterang siang hari yang diwarnai filter biru pekat.
Kaliper di tangan Lyra tersentak hebat, ditarik oleh gaya magnetis buas ke arah altar. Lyra kehilangan cengkeramannya, dan alat besi itu terbang menempel pada kristal tersebut.
WUUSSHHH!
Sebuah gelombang kejut elektromagnetik (EMP) meledak memancar dari kristal itu, tak kasat mata namun memiliki kekuatan fisik setara dengan hembusan angin puting beliung.
Rayyan bereaksi sepenuhnya berdasarkan insting tempur yang telah menyelamatkan nyawanya ribuan kali. Ia tidak mencoba menembak atau melawan gelombang itu. Ia menerjang Lyra.
“Tiarap!”
Tubuh besar Rayyan menghantam Lyra, menjatuhkan gadis itu ke lantai batu kuno sesaat sebelum gelombang kejut itu menyapu mereka berdua.
Suara kaca pecah terdengar beruntun dari arah luar. Lampu sorot halogen milik musuh di pelataran meledak serempak. Layar GPS Letnan Jati mati total. Bahkan senter taktis di bahu Rayyan berdesis dan padam untuk selamanya. Di radius lima ratus meter, tidak ada satu pun barang elektronik yang selamat.
Di dalam garbhagriha, satu-satunya sumber cahaya hanyalah kristal itu, yang kini kembali berputar pelan dengan kaliper logam Lyra yang menempel pasrah di sisinya. Dengungan tinggi itu kembali merendah menjadi harmoni yang menenangkan, seolah benda itu baru saja “bersin” karena iritasi logam modern.
Hening merayap kembali.
Lyra membuka matanya dengan susah payah. Pandangannya berputar sejenak akibat bantingan ke lantai batu. Namun, rasa sakit di punggungnya tidak ada, karena sebuah tangan bersarung tangan termal tebal menyangga bagian belakang kepalanya sebelum sempat membentur lantai.
Ia mendongak.
Rayyan menahan berat tubuhnya menggunakan kedua siku di sisi kepala Lyra, mengurung gadis itu sepenuhnya di bawah tubuh besarnya. Wajah Rayyan hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya, diterangi oleh pendaran cahaya biru cyan yang menciptakan bayangan tajam di garis rahang dan tulang pipi pria itu.
Napas mereka memburu, beradu di ruang sempit di antara wajah mereka.
“Kau berutang penjelasan padaku, Dr. Andini, tentang seberapa berbahaya alat tulis arkeologimu itu,” geram Rayyan dengan suara sangat rendah, serak, dan berbahaya.
Meski kata-katanya penuh peringatan, mata obsidian pria itu tidak memancarkan kemarahan, melainkan kepanikan yang baru saja reda, digantikan oleh kesadaran intim tentang posisi mereka saat ini.
Lyra menelan ludah. Ia bisa merasakan detak jantung Rayyan yang berpacu liar menembus rompi kevlar dan jaket tebal mereka. Tangan kanan Lyra secara refleks masih mencengkeram erat lengan kemeja Rayyan di bagian bisepnya yang keras bagai batu.
“Itu… hanya kaliper baja. Benda itu memiliki medan magnet selektif yang sangat agresif,” bisik Lyra terbata-bata, pikirannya terbagi dua antara menganalisis fenomena fisika dan menahan godaan untuk menyentuh rahang kokoh di atasnya.
Rayyan tidak langsung menyingkir. Ia menatap lekat bibir Lyra sejenak, menelan ludahnya sendiri dengan jakun yang bergetar naik-turun, sebelum akhirnya memejamkan mata dan mengutuk pelan di bawah napasnya.
“Medan perang, Aksara. Kendalikan dirimu,” gerutu Rayyan pada dirinya sendiri.
Dengan satu gerakan gesit, pria itu bangkit berdiri, lalu menarik Lyra hingga kembali berdiri di atas kakinya. Rayyan melepaskan tangan Lyra dengan enggan, kembali memfokuskan pandangannya ke altar.
“Gelombang tadi menggoreng semua alat komunikasi kita,” Rayyan memeriksa radio taktisnya yang kini hanya berupa seonggok plastik tak berguna. “Kita buta dan tuli. Bala bantuan musuh mungkin sedang mendaki gunung ini sekarang karena mendengar ledakan tembakan tadi, dan kita tidak bisa menghubungi helikopter ekstraksi udara.”
“Kita harus mengamankan benda itu dan membawanya,” ucap Lyra cepat, merapikan rompinya, berusaha menghilangkan sisa panas di wajahnya. “Jika jatuh ke tangan paramiliter, mereka bisa menjualnya ke pasar gelap senjata atau membuat reaktor nuklir tak terbatas.”
“Bagaimana cara membawanya?” Rayyan menunjuk ke arah kristal yang melayang angkuh itu. “Setiap logam yang mendekatinya akan ditarik atau memicu gelombang EMP susulan. Dan kau melarangku menyentuhnya dengan tangan kosong.”
Lyra menatap ranselnya. Ia menurunkannya, membukanya dilantai, dan mulai mengeluarkan beberapa kotak penyimpanan artefak.
“Emas,” ucap Lyra tiba-tiba, menatap Rayyan.
“Apa?”
“Emas adalah logam diamagnetik murni. Logam ini tidak bereaksi terhadap medan magnet sekuat apa pun,” Lyra membuka sebuah kotak kayu berukir dari dalam tas ranselnya. Bagian dalam kotak itu dilapisi dengan pelat emas tipis (Prada) yang biasa digunakan untuk menyimpan relikui tulang biksu suci. “Aku membawa kotak relikui ini untuk berjaga-jaga jika kita menemukan perkamen rapuh. Jika kita bisa memasukkan kristal itu ke dalam sini, lapisan emasnya akan bertindak sebagai sangkar Faraday alami dan meredam medan magnetnya.”
Rayyan menatap kotak kayu itu, lalu mengangguk paham. “Aku yang akan memindahkannya. Kau pegang kotaknya.”
Lyra membuka kotak kayu berlapis emas itu lebar-lebar, memegangnya dengan kedua tangan yang bergetar pelan. Ia berdiri sekitar satu meter dari pinggiran altar.
Rayyan mencabut pisau taktis Ka-Bar dari dadanya. “Pisauku menggunakan material bilah Carbon-Ceramic. Nol persen logam feromagnetik.”
Pria itu melangkah maju perlahan mendekati altar batu. Dengungan kristal itu tidak berubah. Medan magnetnya tidak mendeteksi bilah keramik di tangan Rayyan.
Dengan gerakan yang sangat mantap dan presisi yang menuntut fokus 100%, Rayyan menjulurkan bilah keramiknya, menyentuh pelan sisi bawah kristal metalik tersebut. Sensasinya aneh—pisau itu tidak terasa menyentuh logam padat, melainkan seperti mendorong sebuah balon berisi udara padat.
“Tahan kotaknya tepat di bawahnya, Lyra,” komando Rayyan tanpa menoleh.
Lyra memajukan kotak berlapis emas itu.
Rayyan menekan bilah pisaunya ke bawah, melawan gaya levitasi magnetik yang tak kasat mata. Otot lengan bawahnya menonjol, menahan tolakan energi yang sangat kuat. Dengan satu sentakan keras, Rayyan mencongkel kristal tersebut keluar dari medan titik imbangnya.
Kristal metalik itu terlempar kecil ke udara, kehilangan pendaran biru terangnya sejenak, lalu jatuh berdebum… tepat ke dalam kotak berlapis emas yang dipegang Lyra.
BRAK!
Lyra langsung membanting tutup kotak kayu itu dan menguncinya dengan kait kuningan.
Seketika, dengungan bernada rendah di ruangan itu hilang sepenuhnya. Pendaran cahaya biru lenyap di telan kegelapan pekat. Suhu udara di ruangan batu itu langsung anjlok secara drastis, kembali di tarik oleh udara beku dataran tinggi Dieng.
Mereka kini berdiri dalam kegelapan yang hampir sempurna, hanya ditemani sisa cahaya pagi kelabu dari arah pintu masuk candi.
“Berhasil,” bisik Lyra, memeluk erat kotak kayu itu di dadanya layaknya melindungi seorang bayi. Beratnya tidak lebih dari dua kilogram, namun rasanya ia sedang memegang nasib peradaban manusia.
Rayyan menyarungkan kembali pisaunya. Ia menyalakan lampu suar (flare) darurat merah dari sabuknya, menerangi ruangan itu kembali.
“Kita bergerak sekarang,” Rayyan melangkah mendekati Lyra, berdiri sangat dekat di belakangnya, untuk memberikan pengawalan maksimal. “Jati! Formasi berlian. Kita turun dari gunung ini secepatnya. Misi utama selesai.”
“Kolonel!” Suara Jati terdengar dari ambang pintu, berteriak melawan angin gunung yang tiba-tiba berhembus kencang. Wajah wakil komandan itu tampak tegang di bawah pendar suar merah. “Satelit mungkin mati, tapi teropong analog saya tidak. Ada sekitar tiga puluh prajurit bersenjata berat sedang mendaki jalur utama ke arah kita. Mereka memotong jalur evakuasi kita.”
Rayyan menggertakan rahangnya. Tiga puluh orang bersenjata laras panjang, melawan enam orang prajurit Black Ops yang kehilangan seluruh alat komunikasi dan berada di ujung tebing kaldera yang buntu.
Rayyan menoleh, menatap kotak kayu di pelukan Lyra, lalu menatap gadis itu. Pria baja itu tidak pernah mengenal kata menyerah.
“Kalau begitu, Letnan,” ucap Rayyan, mengokang senapan serbunya dengan suara clack-clack logam yang tajam dan menggema di dalam candi purba tersebut. “Kita buat jalan evakuasi kita sendiri. Lindungi Dokter Lyra dengan nyawa kalian.”