Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.
Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.
Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.
Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu yang Terbuka
Perjalanan dari kota kecil itu menuju kampung orang tuanya hanya memakan waktu satu jam. Satu jam yang terasa seperti perjalanan menuju ujung dunia.
Fortuner hitam melaju perlahan di jalanan desa yang semakin sempit, aspal berganti tanah, lalu tanah berganti bebatuan kecil yang membuat mobil berguncang pelan.
Rafiq tidak terburu-buru. Ia membiarkan mobilnya meliuk mengikuti lekuk jalan yang ia kenal sejak kecil—jalan yang dulu ia lalui setiap hari ketika berangkat mengaji, jalan yang dulu ia lalui ketika membantu orang tuanya di sawah.
Tapi itu dulu. Sekarang semuanya berbeda.
Kampung itu muncul di kejauhan seperti lukisan usang yang sudah lama tidak dirawat.
Rumah-rumah kayu berdempetan dengan dinding yang mulai lapuk. Beberapa anak kecil berlarian di pinggir jalan, berhenti sejenak untuk menatap mobil hitam besar yang jarang masuk ke kampung mereka.
Seorang nenek yang sedang duduk di beranda rumahnya mengangkat tangan, setengah melambai, setengah mengusir.
Rafiq terus melaju hingga jalanan habis di ujung kampung. Di sana, di pinggir desa, di mana rumah-rumah mulai jarang dan pepohonan mulai rapat, berdiri sebuah rumah kecil yang sudah lama tidak ia tempati.
Rumah itu adalah warisan orang tuanya. Rumah panggung sederhana dengan dinding papan kayu jati yang sudah menghitam karena usia. Atap sengnya berkarat di beberapa bagian, beberapa lembar bahkan terlihat berlubang.
Terasnya sempit, hanya cukup untuk dua kursi bambu yang kini sudah lapuk tak terpakai. Halaman depannya ditumbuhi ilalang setinggi lutut.
Dan di belakang rumah itu, menjulang besar dan rindang, pohon beringin tua yang akar-akarnya menjalar seperti urat-urat nadi yang menghubungkan rumah ini dengan sesuatu yang tidak terlihat.
Di balik pohon beringin itu, hutan lebat membentang. Hutan yang oleh penduduk desa disebut angker. Hutan yang tidak ada seorang pun berani memasukinya setelah matahari terbenam. Hutan yang konon menjadi tempat berkumpulnya makhluk-makhluk halus penjaga desa.
Rafiq mematikan mesin. Ia turun dari Fortuner dengan langkah berat. Di tubuhnya masih melekat kemeja hitam yang sama sejak kemarin, kini kusut dan sedikit berbau apek karena basah keringat dan hujan yang tak sempat kering sempurna.
Celana bahan hitamnya sudah penuh kerutan. Sepatu ketsnya berlumpur. Wajahnya pucat dengan janggut yang mulai memanjang tidak terurus. Matanya cekung dengan lingkaran hitam di bawahnya.
Ia membawa koper kecil dari bagasi—hanya berisi pakaian seadanya, Al-Qur'an usang milik ayahnya, dan foto Fatih. Ia menaiki tiga anak tangga kayu menuju teras rumah, kayunya berderit pelan di bawah kakinya.
Pintu depan tidak terkunci—tidak pernah ada yang mencuri di kampung ini. Ia mendorong pintu kayu yang berat itu, dan debu-debu beterbangan menyambutnya.
Rumah itu gelap. Udara di dalamnya lembab dan berbau tanah. Cahaya matahari hanya masuk melalui celah-celah dinding dan jendela yang beberapa kacanya sudah pecah.
Ruang tamu sempit dengan meja kayu kecil di tengahnya, dua kursi kayu di sampingnya. Dindingnya dipenuhi sarang laba-laba. Di sudut ruangan, rak kayu masih berdiri tegak dengan beberapa buku usang yang mulai dimakan rayap.
Dapur di belakang hanya berupa tungku tanah dan beberapa peralatan makan yang sudah berkarat. Dan di ujung ruang paling belakang, satu kamar tidur dengan kasur kapuk yang sudah tidak layak pakai.
Rafiq meletakkan kopernya di lantai. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling. Rumah ini adalah saksi bisu masa kecilnya. Di rumah inilah ia pertama kali belajar membaca Al-Qur'an dari ayahnya.
Di rumah inilah ia pertama kali mendengar azan berkumandang dari masjid desa yang tak jauh dari sini. Di rumah inilah ibunya mengajarinya tentang keikhlasan dan kesabaran.
Kesabaran.
Rafiq tersenyum pahit. Kesabaran telah mengajarkannya bahwa orang yang sabar akan mendapatkan balasan. Tapi balasan apa yang ia dapatkan? Pengkhianatan. Kehilangan. Kematian anaknya di usia yang masih begitu muda.
Ia berjalan ke dapur, mengambil sapu lidi yang masih tersandar di sudut. Ia mulai membersihkan rumah itu—menyapu debu dan daun-daun kering yang masuk melalui celah dinding, membersihkan sarang laba-laba, membuka jendela-jendela yang masih bisa dibuka. Pekerjaan fisik ini membantunya mengalihkan pikiran sejenak dari beban yang menekan dadanya.
Satu jam berlalu. Rumah itu mulai terlihat layak huni. Debu-debu telah bersih, jendela-jendela terbuka lebar membiarkan cahaya matahari masuk, dan udara di dalamnya mulai terasa lebih segar meskipun masih bercampur aroma kayu tua.
Rafiq sedang membersihkan rak buku di sudut ruangan ketika ia mendengar suara dari luar.
Kreek... kreek... kreek...
Suara sandal kayu yang menapaki anak tangga teras.
Rafiq menoleh ke arah pintu. Dari balik pintu yang masih terbuka, sesosok pria tua muncul. Tubuhnya kurus dan sedikit membungkuk, mengenakan kemeja lengan panjang putih yang sudah kekuningan dan sarung batik coklat yang dililitkan hingga di atas lutut.
Rambutnya putih semua, dicukur pendek. Wajahnya keriput dengan kulit mengendur di pipi dan lehernya. Matanya—itu yang paling mencolok—matanya jernih, tajam, seperti mata seseorang yang bisa melihat jauh ke dalam sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Di tangan kanannya, ia memegang tongkat kayu hitam yang sudah halus karena usia.
"Mbah Jaya," Rafiq bergumam.
Mbah Jaya. Dukun kampung yang terkenal di seluruh desa. Pria tua yang sudah berusia di atas delapan puluh tahun, yang konon memiliki ilmu yang tidak sedikit.
Ia adalah sesepuh yang dihormati sekaligus ditakuti oleh penduduk desa. Rumahnya di ujung desa, di jalan setapak yang tidak bisa dilalui mobil, di balik hutan kecil yang angker.
Mbah Jaya melangkah masuk tanpa diundang. Sandal kayunya berdecit di lantai kayu rumah. Ia menatap Rafiq dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan yang membuat Rafiq merasa seperti sedang dibedah.
"Nak Rafiq," suara Mbah Jaya serak, parau, seperti suara orang yang sudah tua dan jarang berbicara. "Wis suwe ora ketemu. Kowe bali."
Rafiq menegakkan tubuhnya. Ia tidak menyangka akan kedatangan tamu secepat ini. Apalagi tamu seperti Mbah Jaya. "Mbah... Mbah tahu saya pulang?"
Mbah Jaya tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya yang tajam. "Desa iki cilik, Nak. Kabar seko kota wis teko sadurunge kowe teko."
Rafiq tidak bertanya kabar apa yang sudah sampai. Ia yakin seluruh desa sudah tahu tentang kehancuran hidupnya. Tentang istrinya yang berselingkuh.
Tentang perusahaannya yang dicuri. Tentang anaknya yang meninggal. Mungkin juga tentang tuduhan korupsi uang masjid yang kini menempel di namanya.
Mbah Jaya berjalan pelan mengelilingi ruangan. Tongkatnya sesekali menyentuh lantai, sesekali menyentuh dinding, seperti sedang merasakan sesuatu. Ia berhenti di depan rak buku usang, menatap Al-Qur'an milik ayah Rafiq yang masih terbaring di rak itu.
"Kowe nggowo barang liyo, Nak," kata Mbah Jaya tanpa menoleh. "Barang sing ora katon. Barang sing bobote luwih abot tinimbang koper sing mbok gowo."
Rafiq terdiam. Ia tahu Mbah Jaya tidak berbicara tentang barang fisik.
Mbah Jaya akhirnya menoleh. Matanya yang tajam menatap langsung ke mata Rafiq. Dan di dalam tatapan itu, Rafiq merasa semua yang ia sembunyikan—semua amarah, semua sakit hati, semua dendam yang membara di dadanya—terbaca jelas.
"Balas dendam," kata Mbah Jaya pelan. "Kowe nggowo dendam ing omah iki."
Bukan pertanyaan. Itu adalah pernyataan.
Rafiq tidak menyangkal. "Iya, Mbah."
Mbah Jaya menghela napas panjang. Ia berjalan menuju kursi kayu di dekat jendela, duduk perlahan dengan bantuan tongkatnya. Matanya tidak lepas dari Rafiq.
"Lungguho, Nak," katanya, menunjuk kursi di depannya.
Rafiq duduk. Kemeja hitamnya yang kusut terlihat semakin lusuh di bawah sinar matahari yang masuk dari jendela. Wajahnya yang pucat kini terlihat jelas di siang hari—pipi yang mulai tirus, mata yang cekung, bibir yang kering pecah-pecah. Ia adalah bayangan dari Rafiq Al Farisi yang dulu, pria yang selalu rapi dan bercahaya ketika berdiri di mimbar masjid.
Mbah Jaya mengamatinya lama. Ketika berbicara, suaranya berubah. Tidak lagi serak seperti orang tua, tapi dalam, berat, seperti suara yang keluar dari kedalaman yang tidak terduga.
"Aku ngerti kowe loro, Nak. Aku ngerti kowe kelangan. Bojomu, perusahaanmu, anakmu. Nanging aku ugo ngerti, dalan sing arep mbok tempuh iki ora bakal nggowo kowe menyang tentrem."
"Aku tidak butuh ketenangan, Mbah," jawab Rafiq cepat. Suaranya datar, tapi ada getaran di dalamnya. Getaran dendam yang sudah mengakar.
"Aku butuh keadilan. Mereka mengambil segalanya dari aku. Mereka mengambil anakku. Anakku, Mbah. Fatih. Usia empat tahun. Dia tidak bersalah. Dia tidak melakukan apa-apa. Tapi dia mati karena kelalaian mereka. Karena mereka lebih memilih bersenang-senang daripada mengurus anakku yang sakit."
Suaranya meninggi di akhir kalimat. Dadanya naik turun. Tangannya yang diletakkan di pangkuan mengepal erat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan.
"Aku ingin mereka merasakan," lanjutnya, suaranya turun menjadi bisikan yang dingin.
"Aku ingin Tono merasakan kehilangan. Aku ingin Aisyah merasakan apa yang aku rasakan ketika aku melihat anakku terbaring di rumah sakit dengan selang di mana-mana. Aku ingin mereka tahu rasanya kehilangan sesuatu yang paling berharga. Aku ingin—"
"Cukup."
Satu kata dari Mbah Jaya, dan Rafiq terdiam. Bukan karena kata itu keras. Tapi karena ada sesuatu dalam suara Mbah Jaya yang membuat seluruh ruangan terasa lebih berat. Sesuatu yang menekan pundaknya, membuatnya tidak bisa berkata-kata.
Mbah Jaya menatapnya dengan mata yang tidak lagi hanya tajam, tapi juga... gelap. Ada sesuatu di balik pupil jernih pria tua itu. Sesuatu yang membuat Rafiq merasa sedang ditatap oleh bukan hanya satu orang.
"Aku bisa nulungi kowe," kata Mbah Jaya pelan. "Aku bisa menehi kekuatan sing mbok karepake. Kekuatan kanggo males. Kekuatan sing ora bakal mbok temokake ing dalan agama. Nanging ana syarate."
Rafiq menegang. Dadanya berdebar lebih cepat. "Syarat apa?"
Mbah Jaya tersenyum. Senyum yang sama seperti tadi—tidak sampai ke mata. Tapi kali ini, di balik senyum itu, ada sesuatu yang mengintai. Sesuatu yang gelap.
"Kowe kudu ninggalake sholat lima wektu."
Rafiq membeku.
Ruangan yang tadinya terasa hangat karena sinar matahari tiba-tiba terasa dingin. Udara di sekelilingnya seperti berubah, menjadi lebih berat, lebih pekat. Ia bisa merasakan bulu kuduk di tengkuknya berdiri.
"Sholat lima waktu?" ulang Rafiq lirih.
"Sholat iku gerbang, Nak," jelas Mbah Jaya dengan suara yang semakin dalam.
"Sholat iku sing nyambungke kowe karo Gusti. Sholat iku sing njogo kowe. Selagi kowe sholat, kowe oni ing lindungane. Dalanku ora bakal bisa mlaku yen kowe isih sholat. Kowe kudu milih. Gusti, utawa balas dendam."
Rafiq terdiam. Di dalam kepalanya, perang sedang terjadi. Ia telah menjalankan sholat sejak usia tujuh tahun. Ia diajari oleh ayahnya.
Ia membiasakannya. Ia menjadikannya kebutuhan, bukan sekadar kewajiban. Setiap kali ada masalah, ia mendekatkan diri pada Tuhan. Setiap kali ada kesulitan, ia memperbanyak doa dan sholat.
Dan apa hasilnya?
Istrinya selingkuh di belakangnya. Sahabatnya mencuri perusahaannya. Anaknya meninggal dunia.
Sholatku selama ini apa artinya?
Ia mengangkat wajahnya. Matanya yang cekung menatap Mbah Jaya dengan cahaya yang berbeda. Cahaya yang tidak lagi mencari kebenaran, tapi mencari kekuatan.
"Selama ini aku sholat," katanya pelan, "tapi semuanya diambil dariku. Aku beribadah, aku berdoa, aku berusaha menjadi hamba yang baik. Tapi lihat apa yang terjadi. Istriku berselingkuh. Sahabatku mencuri. Anakku mati."
Ia tertawa. Tertawa pendek, pahit.
"Mungkin selama ini aku salah. Mungkin selama ini aku terlalu pasrah. Mungkin selama ini aku terlalu percaya bahwa Tuhan akan melindungi orang-orang yang beribadah. Tapi kenyataannya tidak. Tuhan membiarkan semua ini terjadi. Tuhan membiarkan mereka menghancurkan hidupku."
Mbah Jaya tidak menjawab. Ia hanya menatap, mendengarkan, seperti sedang menunggu sesuatu.
"Jadi sekarang," Rafiq berdiri. Tubuhnya yang tinggi membayangi Mbah Jaya yang duduk.
"Sekarang saatnya aku yang menentukan. Saatnya aku yang mengambil. Jika Tuhan tidak memberi keadilan, maka aku akan mengambilnya sendiri."
Ia mengepalkan tangannya.
"Aku siap. Aku akan tinggalkan sholat. Untuk selamanya. Berikan aku kekuatan itu, Mbah."