Kisah seorang anak perempuan yang selalu mendapatkan ketidakadilan dari sang ibu. gadis itu sering di bandingkan dengan saudara saudara nya sendiri. karena tuntutan ibunya, Lusiana harus terjun menjadi wanita malam, di sebuah club ternama di kota.
bagaimana car gadis itu bertahan dari keras nya dunia. apakah gadis itu mampu bahagia, atau malah sebaliknya?? ikuti kisah Lusiana sekarang juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.15
Suara sirine ambulan menuju ke rumah Lusi terdengar di telinga para warga. Pak RT dan warga setempat juga membantu keluarga Lusi menyiapkan tenda dan bendera putih yang sudah melengkung di perantaraan rumah nya Lusi.
Ibunya yaitu Marni saat ini kaget dengan kepergian suaminya itu. Rasa bersalah menyeruak di hati Marni saat ini. badan nya lemas dan tak tau harus bagaimana.
"Hikss....suami ku." ucap nya dengan nada sedikit lebay agar orang orang bersimpati dengan nya.
Sedangkan Dimas saat ini tak tau pergi kemana. padahal ponsel nya sudah di hubungi berkali kali. Tapi tetap saja, tak ada kabar apapun.
Jenazah pak aden langsung di letakan di dalam rumah. Dengan kondisi yang sudah di bungkus dengan kain kafan. karena saat di rumah sakit, Lusi meminta para perawat untuk memandikan jenazah ayah nya. Dan tinggal di sholat kan saja.
"Hiks.....ayah." ucap Lusi yang sudah begitu rapuh saat melihat kepergian ayah nya. bahkan penampilan nya sudah cukup berantakan kali ini.
"Sudah saat nya jenazah ayah mu, dikuburkan nduk." ucap pak RT yang begitu iba dengan wajah putrinya almarhum pak Aden ini.
"Baik pak RT, terima kasih sudah membantu untuk mengurus pemakaman ayah saya." ucap nya dengan suara lemah dan serak
"Sama sama nduk." ucap pak RT dengan tersenyum tipis.
Sifat pak RT memang begitu baik, dan begitu ramah kepada seluruh warga nya, tapi tidak dengan buk RT yang suka julid dan suka iri dengan orang yang berduit. gaya buk RT juga mirip orang orang sosialita yang lebih memakan gengsi nya.
"Kasihan ya buk RT, liat si Lusi. Baru beberapa hari di sini, ayah nya udah meninggal!" ucap salah satu warga yang duduk nya dekat dengan Bu RT.
"Biarin aja, itu kan memang sudah nasib nya. Lagi pula si Lusi ini pasti kerja yang ga bener di kota. Dia pulang juga buat sial keluarga nya."
"Astaghfirullah Bu RT, jangan suudzon gitu, orang nya lagi berduka loh."
"Cih siapa yang suudzon, keponakan saya melihat Lusi masuk ke salah satu hotel di kota itu. dan penampilan nya juga berubah saat itu."
"Kalau memang begitu, ngeri juga ya Bu RT." ucap salah satu warga yang mulai terhasut dengan omongan buruk Bu RT.
"Kita pulang saja, disini juga takutnya kita kena sial keluarga ini." ucap Bu RT yang mengompori para warga yang duduk dekat dengan nya.
"Benar juga, ayo kita pergi, setidaknya kita sudah melihat jenazah pak aden."
Jenazah langsung di kuburkan di pemakaman terdekat yang tak jauh dari rumah Lusi. Gadis itu juga ikut untuk mengantarkan ayah nya untuk yang terakhir kalinya.
Beberapa bapak bapak membantu menurunkan jenazah ke liang lahat. Lusi melihat jelas bagiamana ayah nya itu dimasukan ke dalam tanah yang sudah di gali cukup dalam. Tatapan gadis itu terlihat kosong. Tak ada yang bisa memahami perasaan nya saat ini. bahkan ibunya sendiri saja tak ikut ke area pemakaman.
Setelah proses pemakaman selesai, tak lupa pula pak ustadz membacakan doa kepada almarhum ayah nya Lusi. setelah selesai semua orng beranjak meninggalkan area pemakaman. kecuali Lusi yang masih duduk di samping tanah gundukan ayah nya itu.
"Ayah, terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Lusi sayang sama ayah. ayah adalah ayah terbaik yang pernah Lusi miliki." ucap nya dengan suara yang serak karena terlalu banyak menangis.
Setelah itu, gadis itu pulang dengan langkah pelan. tatapan nya masih terlihat kosong.
"Aku harus tetap kuat." gumam nya dalam hati yang berusaha menyakinkan dirinya nya sendiri.
Di kamar saat ini, marni tengah menghitung uang yang diberikan oleh para warga sekitar tadi. tatapan yang tadi terasa lemah, kini Tampa bersemangat karena yang didapatkan cukup banyak.
Lusi yang telah sampai di rumah, menatap rumah nya dengan mata yang berkaca-kaca. sekarang rumah ini tampak begitu sepi. biasanya ayah nya selalu duduk di teras, dengan kopi segelas di meja. Mengingat ayah nya tak terasa air mata nya menetes kembali.
Apa mgkin Lusi putri konglomerat yg di culik waktu bayi..