NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Jangan Menatapku!

​Malam terakhir di kawasan hutan pinus Lembang menyajikan mahakarya alam yang mengagumkan sekaligus mengintimidasi. Langit malam yang bersih dari awan menampilkan taburan bintang yang tak terhitung jumlahnya, berkilauan seperti serpihan berlian yang berserakan di atas permadani beludru hitam. Namun, keindahan di angkasa itu sama sekali tidak mampu menembus pekatnya suhu udara yang anjlok hingga menyentuh belasan derajat celcius. Angin malam berhembus membelah celah-celah pepohonan pinus raksasa, membawa embun beku yang menyengat pori-pori kulit.

​Untuk melawan hawa dingin yang menusuk tulang, panitia acara Makrab telah menyusun gelondongan kayu pinus kering di tengah lapangan utama perkemahan dan menyulutnya menjadi sebuah api unggun raksasa. Kobaran api jingga yang menyala terang itu menjilat-jilat udara, memercikkan bunga-bunga api keemasan yang menari liar sebelum akhirnya padam ditelan malam.

​Di sekeliling api unggun itu, ratusan mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis duduk melingkar dalam kelompok-kelompok besar. Suasana begitu hidup. Dentingan senar gitar akustik mengiringi suara nyanyian massal lagu-lagu persahabatan. Ada yang sibuk memanggang marshmallow dan sosis di atas ranting, ada yang bertukar cerita horor, dan ada pula yang sekadar tertawa lepas menikmati kebersamaan.

​Geng Akuntansi duduk di salah satu sudut lingkaran tersebut. Mereka menggelar dua buah tikar plastik lebar yang disatukan. Sinta, Kiera, dan Ami duduk berderet, menutupi kaki mereka dengan satu selimut tebal yang sama. Rehan dan Reza duduk bersila di dekat mereka, sibuk membolak-balik tusukan sosis bakar. Di sisi yang agak menyamping, Dimas duduk dengan tenang sambil menyesap kopi seduhannya, sementara Angga duduk tak jauh darinya, masih dengan balutan perban putih di kedua lengan yang tertutup oleh lengan jaket parkanya.

​Dan di tengah-tengah kehangatan itu, duduklah Anandara Arunika.

​Malam ini, Anandara telah mengerahkan sisa-sisa tenaga dan kewarasannya untuk tampil senormal mungkin. Ia mengenakan jaket tebalnya, membiarkan rambut panjangnya tergerai menghalau angin. Nyonya Es itu ikut tersenyum dan tertawa setiap kali Rehan atau Reza melontarkan lelucon konyol yang tak masuk akal. Ia merespons celotehan Sinta dengan anggukan dan tawa renyah.

​Bagi orang luar yang melihat, Anandara tampak seperti seorang gadis yang sedang menikmati malam keakraban dengan sahabat-sahabatnya. Tidak ada yang tahu bahwa tawa itu tak lebih dari sebuah mekanisme pertahanan diri—sebuah lip sync emosional yang ia lakukan untuk menutupi jeritan hatinya yang sedang berdarah.

​"Sumpah ya, muka lo tadi pas disuruh nyanyi ke depan sama kating (kakak tingkat) komdis itu kocak abis, Za! Kayak maling ayam ketahuan warga!" ledek Rehan sambil tertawa terbahak-bahak, menunjuk Reza dengan sisa tusuk sosisnya.

​Reza mendengus kesal, melempar gumpalan tisu ke arah Rehan. "Sialan lo! Gue kan udah bilang gue buta nada! Katingnya aja yang sentimen milih gue. Mana Ami tadi ikut-ikutan ngetawain gue lagi!"

​Ami yang namanya disebut langsung menutup mulutnya menahan tawa, pipinya sedikit bersemu merah terkena pantulan cahaya api unggun. "Habisnya suara lo beneran kayak kaleng rombeng dipukul, Za. Maaf ya, tapi emang selucu itu."

​Melihat interaksi menggemaskan itu, Anandara ikut tertawa pelan. Tawa yang mengalun dari bibirnya terdengar sangat meyakinkan. Ia berhasil, pikirnya. Ia berhasil menipu dunia. Ia berhasil membungkus lukanya rapat-rapat sehingga tidak ada satu pun yang curiga bahwa tadi pagi ia baru saja menghancurkan harga diri pria yang ia cintai.

​Namun, di tengah tawa palsu yang ia paksakan itu, insting purba di dalam diri Anandara tiba-tiba menyala. Saraf-saraf di tengkuknya meremang. Ada sebuah tarikan gravitasi tak kasat mata yang sangat kuat, sebuah presensi yang menuntut untuk diakui.

​Anandara merasa sedang diawasi.

​Dengan sangat perlahan, seolah dikendalikan oleh kekuatan yang tak bisa ia tolak, Anandara memutar kepalanya, mengalihkan pandangannya menembus kobaran api unggun yang menyala di tengah-tengah mereka.

​Tatapannya langsung menabrak sepasang mata elang di seberang sana.

​Angga Raditya sedang menatapnya. Lurus. Tajam. Dan tak berkedip.

​Pemuda itu tidak ikut tertawa mendengar lelucon Rehan. Ia duduk dengan postur santai namun memancarkan intimidasi yang sangat pekat. Pantulan cahaya api unggun menari-nari di bola mata kelamnya, menciptakan siluet yang membuat ketampanan pria itu terlihat semakin tak nyata sekaligus berbahaya.

​Tawa canda di bibir Anandara menguap seketika, mati tergantikan oleh rasa panik yang merayap naik mencekik tenggorokannya.

​Tatapan Angga malam ini sangat berbeda dari tatapan luka yang ia lihat di kantin, atau tatapan amarah yang ia lihat tadi pagi. Malam ini, mata pemuda itu memancarkan sebuah keyakinan yang absolut. Angga tidak lagi melihat Anandara sebagai Nyonya Es yang kejam. Berkat kejadian tadi pagi—saat Angga memergoki sorot kesedihan Anandara yang bocor sebelum gadis itu melarikan diri—Angga kini tahu bahwa semua penolakan itu hanyalah kebohongan belaka.

​Mata elang itu seolah sedang menguliti jiwa Anandara lapis demi lapis. Tatapan Angga menembus tawa palsunya, menembus senyum buatannya, dan langsung mencengkeram hatinya yang sedang menangis di dasar palung.

​Gue tahu lo bohong, Nanda, seakan mata tajam itu sedang berbisik menembus riuhnya suara api unggun. Gue tahu lo menderita. Lo bisa nipu Sinta, lo bisa nipu Rehan, tapi lo nggak bisa nipu gue lagi. Gue bakal terus natap lo sampai topeng lo bener-bener hancur berantakan.

​Dada Anandara bergemuruh hebat, memompa darah dengan kecepatan yang menyakitkan. Napasnya mulai tersengal-sengal tanpa suara.

​Siksaan batin ini terlalu berat untuk ditanggung. Ditatap sedemikian rupa oleh pria yang sangat ia cintai, pria yang telah ia buang demi melindungi persahabatannya, membuat seluruh dinding pertahanannya bergetar hebat siap untuk runtuh.

​Jangan menatapku, jerit batin Anandara meronta-ronta dalam kepanikan yang luar biasa. Tangannya yang berada di atas pangkuan meremas erat kain jaketnya. Tolong, Angga, kumohon... jangan menatapku seperti itu. Jangan bongkar pertahananku. Jangan buat aku berharap lagi. Sinta ada di sebelahku! Jika kau terus menatapku, Sinta akan melihatnya. Sinta akan hancur.

​Anandara memohon dalam kebisuan, namun Angga menolak untuk berbelas kasihan. Pemuda itu sama sekali tidak memalingkan wajahnya. Intensitas tatapannya justru semakin mendalam, sengaja menekan psikologis Anandara, memaksa gadis itu untuk mengakui perasaannya sendiri.

​Pertarungan mata itu hanya berlangsung selama beberapa belas detik, namun bagi Anandara, rasanya seperti dikuliti hidup-hidup selama berabad-abad.

​Anandara kalah telak. Ia tidak sanggup lagi. Jika ia menatap mata elang itu satu detik lebih lama, ia takut ia akan benar-benar menangis dan meneriakkan semua rahasianya di depan api unggun ini.

​Dengan gerakan patah-patah dan kaku, Anandara menundukkan kepalanya dalam-dalam, memutus paksa kontak mata yang menyiksa itu. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Jantungnya berdetak gila-gilaan, menyakitkan tulang rusuknya. Udara di sekitarnya terasa lenyap, digantikan oleh gas karbon monoksida dari asap api unggun yang seolah masuk mencekik paru-parunya.

​"Nan? Lo kenapa?" Sinta, yang duduk di sebelah Anandara, menyadari perubahan drastis pada postur tubuh sahabatnya. Bidadari ceria itu menoleh dengan raut wajah khawatir. "Muka lo tiba-tiba pucat banget. Asam lambung lo kumat lagi?"

​Anandara buru-buru menggeleng, tak berani mengangkat wajahnya. "Nggak... nggak apa-apa, Sin," suaranya bergetar samar. Ia harus segera melarikan diri dari medan perang ini sebelum topengnya benar-benar pecah.

​Dengan gerakan tergesa-gesa, Anandara berdiri dari duduknya. Ia merapatkan ritsleting jaketnya hingga ke leher.

​"Gue... gue kedinginan banget, Sin. Anginnya makin kencang," bohong Anandara dengan napas yang sedikit terputus-putus. "Kepala gue juga agak pusing efek jatuh kemarin kayaknya. Gue mau balik ke tenda duluan ya, mau langsung tidur."

​Sinta langsung ikut berdiri, wajahnya dipenuhi kecemasan. "Ya ampun, ya udah ayo gue temenin balik ke tenda. Gue kelonin biar lo hangat."

​"Nggak usah!" tolak Anandara agak keras, lalu buru-buru melembutkan nadanya. "Gue bisa sendiri, Sin. Lo lanjut aja nikmatin malam makrab ini. Ini kan malam terakhir, rugi kalau lo kelewatan acara puncaknya. Lo temenin anak-anak aja, gue beneran cuma butuh tidur."

​Sinta ragu-ragu sejenak. Ia menatap teman-temannya yang lain, lalu kembali menatap Anandara. "Beneran nggak apa-apa gue tinggal?"

​"Iya, beneran. Udah ya, gue duluan," final Anandara, memaksakan sebuah senyum tipis sebelum ia membalikkan badan dan berjalan cepat menjauhi lingkaran api unggun.

​Langkah gadis itu terlihat terburu-buru, seperti seseorang yang sedang dikejar oleh hantu masa lalunya. Nyonya Es itu kembali melarikan diri, menyembunyikan tangisnya di dalam kegelapan tenda, menjauh dari tatapan mata elang yang nyaris meruntuhkan seluruh dunia kebohongannya.

​Angga Raditya masih duduk di tempatnya. Ia melihat kepergian Anandara dengan rahang yang mengeras. Pemuda itu menghela napas panjang, menahan dorongan kuat untuk bangkit dan mengejar gadis itu. Ia membiarkan Anandara lari untuk malam ini, tapi ia tahu pasti, dinding gadis itu sudah retak parah.

​Namun, drama tatapan intens dan pelarian emosional yang terjadi di tengah keramaian itu tidak sepenuhnya luput dari pengawasan. Di antara riuhnya nyanyian dan canda tawa, ada sepasang mata bulat milik Reza yang sejak tadi tak sengaja menangkap adegan bisu tersebut.

​Reza yang sedang mengunyah sosis, perlahan menghentikan kunyahannya. Otak gamer-nya yang terbiasa menangkap pergerakan mikroskopis di layar monitor, kini memproses informasi visual yang baru saja ia lihat. Ia melihat bagaimana Angga menatap Anandara tanpa berkedip, ia melihat bagaimana Anandara mendadak menunduk ketakutan, dan ia melihat gadis itu langsung kabur dengan alasan kedinginan.

​Ada sesuatu yang sangat janggal. Ada tegangan listrik bertenaga tinggi di antara dua orang yang katanya saling membenci itu.

​Mata Reza melebar. Insting keponya sebagai tukang gosip nomor satu di circle mereka langsung meronta-ronta. Dengan semangat menggebu-gebu, Reza menyikut pinggang Rehan yang duduk di sebelahnya dengan sangat keras.

​"Buset! Sakit woy! Ngapain sih lo nyikut-nyikut?!" gerutu Rehan kesal, mengelus pinggangnya.

​Reza mencondongkan tubuhnya ke arah Rehan, wajahnya penuh dengan konspirasi tingkat dewa. Ia berbisik dengan nada setengah histeris. "Han! Lo lihat nggak tadi?! Matanya Angga... gila, matanya Angga ke Nanda tuh kayak—"

​PLAK!

​Belum sempat Reza menyelesaikan kalimat observasinya yang brilian, Rehan sudah bergerak dengan kecepatan kilat. Tangan kanan pemuda plontos itu langsung membekap mulut Reza dengan sangat rapat, mencengkeram pipi dan bibir sahabatnya itu hingga mengerucut seperti ikan koi yang kekurangan oksigen.

​"Mhh! Mmmhhpp!!" Reza meronta-ronta kaget, matanya melotot memprotes tindakan anarkis Rehan.

​Rehan menarik tubuh Reza mendekat, menatap sahabat karibnya itu dengan mata melotot yang menyiratkan peringatan bahaya level merah. Di balik sifat konyol dan otak pas-pasannya dalam hal akademis, Rehan sebenarnya memiliki kecerdasan emosional (EQ) yang cukup tajam. Ia juga menyadari ketegangan antara Angga dan Anandara sejak kejadian di tebing. Namun, Rehan juga sangat menyadari bahwa Sinta—gadis yang duduk tak jauh dari mereka—sedang mabuk kepayang pada Angga.

​Jika Reza membuka mulutnya yang bocor itu sekarang, Sinta akan mendengarnya. Sinta akan curiga. Dan jika Sinta menyadari bahwa ada sesuatu antara sahabatnya dan pria yang ia cintai, circle persahabatan mereka akan hancur lebur malam ini juga.

​"Lo mau urusannya bikin rumit, kampret?!" desis Rehan pelan namun sangat tajam, tepat di telinga Reza. Matanya mendelik penuh ancaman. "Diem aja lo! Nggak usah sok jadi detektif cinta! Telan ludah lo sekarang dan pura-pura nggak lihat apa-apa, atau gue botakin rambut lo malam ini juga!"

​Reza yang masih dibekap mulutnya hanya bisa mengangguk-angguk panik berulang kali, menyetujui gencatan senjata itu.

​Rehan akhirnya melepaskan bekapannya dengan kasar. Reza terbatuk-batuk kecil sambil mengusap mulutnya yang memerah, menatap Rehan dengan wajah bersungut-sungut namun tak berani membantah. Kedua duo kocak itu akhirnya kembali diam, kembali memanggang sosis dengan kecanggungan yang tiba-tiba mengudara di antara mereka.

​Sementara itu, di sudut lain, Dimas yang duduk menyeruput kopinya kembali menjadi saksi bisu dari seluruh kekacauan tersebut. Ia melihat tatapan Angga. Ia melihat kaburnya Anandara. Ia melihat Reza yang menyikut Rehan, dan ia melihat Rehan yang secara heroik membungkam Reza demi melindungi Sinta.

​Dimas memejamkan mata di balik kacamatanya, memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa berdenyut pusing. Lelah. Ia benar-benar lelah menjadi penonton di teater tragedi ini.

​Angga, yang menyadari Dimas sedang memijat keningnya, menoleh sekilas. "Kenapa lo, Dim? Sakit kepala?"

​Dimas membuka matanya, menatap Angga dengan wajah sedatar triplek, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

​"Nggak," jawab Dimas singkat, mengaktifkan kembali alasan abadi yang menjadi perisainya. "Gue laper. Sosis bakarnya kelamaan mateng. Usus gue udah demo daritadi."

​Angga hanya mendengus pelan, kembali mengalihkan pandangannya ke arah api unggun, sementara Dimas kembali menggelengkan kepalanya, merutuki kebodohan semua orang di sekitarnya.

​Keesokan harinya, matahari bersinar cerah mengiringi kepulangan ratusan mahasiswa FEB kembali ke habitat asal mereka di kampus. Bus-bus pariwisata berjejer rapi, menelan rombongan mahasiswa yang wajahnya sudah kucel, lelah, namun dipenuhi oleh sisa-sisa euforia makrab.

​Di dalam Bus Nomor 3, formasi tempat duduk Geng Akuntansi sudah terbentuk. Anandara dan Sinta duduk di barisan kursi nomor empat dari depan sebelah kiri. Tepat di seberang lorong mereka, duduk Kiera dan Ami. Di barisan belakang Anandara dan Sinta, Rehan dan Reza menguasai kursi dengan tas-tas yang diletakkan sembarangan. Sementara Angga dan Dimas, seperti biasa, memilih deretan kursi paling belakang yang tenang.

​Suasana di dalam bus cukup bising. Mesin diesel yang menderu, lagu dangdut koplo yang diputar pelan oleh sopir bus, dan obrolan mahasiswa yang sedang membagikan foto-foto selama camping saling bertabrakan.

​Anandara duduk di dekat jendela, menyandarkan kepalanya ke kaca bus yang bergetar. Gadis itu memejamkan mata, memasang earphone tanpa menyalakan musik sama sekali. Ia hanya ingin memblokir dunia luar. Kelelahannya bukan sekadar fisik, melainkan kelelahan mental yang menguras habis esensinya sebagai manusia. Kepalanya pusing memikirkan bagaimana ia harus terus menghadapi tatapan membongkar dari Angga di hari-hari perkuliahan selanjutnya.

​Di belakang Anandara, duo beban negara sedang asyik berbisik-bisik, mengira suara mesin bus dan riuhnya obrolan akan menyamarkan percakapan rahasia mereka.

​Rehan mencondongkan tubuhnya ke arah Reza, wajahnya kembali mengeras serius seperti detektif yang sedang membedah kasus pembunuhan.

​"Za, lo masih kepikiran soal semalam nggak?" bisik Rehan membuka topik terlarang itu. "Gue terpaksa bekap mulut lo karena ada Sinta. Lo tahu kan Sinta lagi gila-gilanya sama Angga? Kalau lo ngomong, bisa perang dunia ketiga tuh anak cewek."

​Reza mengangguk setuju dengan wajah serius. "Iya, gue paham maksud lo semalam, Han. Tapi sumpah, otak gue masih belum bisa nerima. Ini beneran aneh. Lo sadar nggak sih, pas Angga nyelamatin Nanda dari jurang kemarin... Angga tuh kayak orang kesetanan takut kehilangan. Dia rela ngebentur batu gede buat ngelindungin Nanda. Cowok mana yang mau ngorbanin bahunya remuk buat cewek yang benci sama dia?"

​"Nah, itu dia!" Rehan menjentikkan jarinya pelan. "Dan tatapan mereka semalam di api unggun... astaga, itu bukan tatapan benci, Za. Itu bukan tatapan musuh bebuyutan."

​Rehan menatap mata Reza, memberikan jeda dramatis, lalu menyeringai jahil, menemukan analogi yang paling sempurna dan sekaligus mematikan untuk sahabatnya itu.

​"Asal lo tahu aja ya, Za," lanjut Rehan dengan suara yang dibuat sedikit mengejek. "Tatapan Angga ke Nanda semalam itu persis banget, mirip seratus persen, sama tatapan elo kalau lagi ngeliatin Ami di kelas!"

​BAM!

​Mata Reza langsung melotot seukuran bola pingpong. Wajah yang tadinya serius mendadak berubah menjadi merah padam seperti disiram air cabai. Panik luar biasa menyerang pertahanan pemuda itu.

​"Sembarangan lo bawa-bawa gue, kampret!" desis Reza dengan suara serak yang bergetar karena panik, menendang tulang kering Rehan dari bawah kursi. "Gue nggak pernah natap Ami kayak gitu! Fitnah lo dosa besar!"

​"Alah, ngeles aja lo kayak bajaj! Gue punya bukti CCTV di mata gue sendiri!" kekeh Rehan menahan sakit di kakinya, makin senang menggoda sahabatnya yang salah tingkah itu.

​Karena panik dan refleks yang buruk, Reza tiba-tiba menolehkan kepalanya secara cepat ke arah seberang lorong, tepat ke arah kursi tempat Ami dan Kiera duduk, seolah ingin memastikan apakah Ami mendengar percakapan memalukan mereka.

​Namun takdir yang gemar melawak itu bertindak cepat.

​Tepat saat Reza menoleh, Ami, yang sedang membuka sebungkus camilan, tak sengaja memutar kepalanya ke arah belakang.

​Mata mereka berdua bertabrakan di udara yang dipisahkan oleh lorong bus.

​Waktu seketika berhenti.

​Reza membeku, tertangkap basah sedang menatap gadis itu. Wajah pemuda kocak itu kini sudah merah sampai ke telinga, matanya berkedip-kedip kaku seperti orang bodoh.

​Di seberangnya, Ami juga ikut tersentak. Mata bulat gadis itu melebar. Aliran darah mendadak naik ke pipinya, menciptakan semburat merah merona yang sangat manis. Ami gelagapan, napasnya sedikit tertahan melihat Reza yang terus mematung menatapnya. Kecanggungan yang luar biasa pekat dan menggelikan langsung mengudara di antara mereka berdua.

​Mereka saling bertatapan selama tiga detik penuh, terjebak dalam rasa malu yang membahagiakan, sebelum akhirnya keduanya memalingkan wajah secara serentak ke arah yang berlawanan. Reza membuang muka ke arah jendela dengan napas tersengal-sengal, memukuli dadanya sendiri yang berdebar kencang. Sementara Ami buru-buru menundukkan wajahnya dalam-dalam, pura-pura sibuk membaca bungkus camilannya yang terbalik.

​Rehan, yang duduk tepat di sebelah Reza dan menyaksikan seluruh adegan rom-com picisan itu dari kursi VIP, hanya bisa menganga tak percaya.

​Pemuda plontos itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. Ia mengangkat tangan kanannya, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pusing melihat kelakuan bucin (budak cinta) sahabatnya yang tak tertolong lagi itu.

​"Ampun dah..." keluh Rehan dengan suara memelas, menggeleng-gelengkan kepalanya meratapi nasibnya sendiri. "Gue niatnya mau bahas kasus cinta segitiga Nyonya Es yang dark abis, eh gue malah jadi nyamuk di antara lo berdua yang lagi kasmaran! Nasib jomblo emang selalu diuji!"

​Di barisan depan, Anandara, yang masih menyandarkan kepalanya di kaca jendela bus dengan mata terpejam, diam-diam mendengar keluhan Rehan. Sebuah senyum tipis, sangat tipis dan sarat akan kepahitan, muncul di bibir pucatnya.

​Ia iri pada Reza dan Ami. Ia sangat iri pada keluguan dan kebebasan mereka untuk saling menatap, untuk saling salah tingkah, dan untuk saling jatuh cinta tanpa harus menanggung beban masa lalu. Mereka bisa saling mencintai tanpa harus menyakiti siapa pun.

​Sementara dirinya?

​Anandara semakin memejamkan matanya, membiarkan getaran bus yang menyusuri jalanan menurun pegunungan meninabobokan logikanya sejenak. Di dalam kegelapan pikirannya, tatapan mata elang Angga tadi malam kembali terlukis jelas. Tatapan yang menguliti pertahanannya.

​Angga sudah tahu aku berbohong, batin Anandara merintih pedih, sebuah kesadaran yang sangat menakutkan menggerogoti nyalinya. Dia tidak akan berhenti. Pria itu akan terus menghancurkan tembokku. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Seberapa dalam lagi aku harus menggores hatiku sendiri agar pria itu menyerah dan memilih Sinta?

​Di dalam bus yang bising oleh lagu dangdut dan tawa mahasiswa itu, Nyonya Es tersebut kembali memeluk rahasianya erat-erat, bersiap menghadapi badai yang jauh lebih besar saat mereka kembali ke kampus nanti. Badai di mana cinta, pengorbanan, dan ego akan bertabrakan secara frontal, dan tak ada satu pun dari mereka yang akan keluar tanpa luka.

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!