Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seribu Alasan yang Tak Masuk Akal
POV Aluna
Malam turun dengan sunyi yang terasa lebih pekat dari biasanya.
Langit gelap tanpa banyak bintang, seolah ikut menyembunyikan sesuatu. Angin berembus pelan, membawa dingin yang menyelinap hingga ke tulang.
Namun dingin itu tidak mampu menahan langkahku.
Aku berjalan pelan, nyaris tanpa suara, menyusuri halaman belakang rumah besar ini. Tatapanku lurus ke depan—ke arah paviliun yang sejak kemarin terus mengusik pikiranku.
Larangan dari nyonya Alice kembali terngiang.
“Tempat ini bukan untukmu.”
Aku menghela napas panjang.
“Tidak masuk akal…” gumamku pelan.
Bagiku, larangan tanpa alasan hanyalah cara lain untuk menyembunyikan sesuatu. Dan semakin aku dilarang, semakin kuat dorongan dalam diriku untuk mengetahui kebenaran.
“Aku bukan anak kecil yang bisa disuruh diam tanpa penjelasan,” bisikku lagi.
Langkahku tidak terhenti.
Tidak ada rasa takut.
Hanya rasa penasaran yang tumbuh semakin besar.
Beberapa saat kemudian, aku sudah berdiri di depan paviliun itu lagi. Sama seperti siang tadi.
Sepi.
Sunyi.
Dan terasa… mengundang.
Aku menatap pintu itu lekat-lekat. Kali ini, tidak ada yang akan menghentikanku.
Tanganku terangkat perlahan.
Jemariku hampir menyentuh gagang pintu
Klik.
Tubuhku menegang.
Pintu di hadapanku… terbuka dari dalam.
Aku refleks mundur satu langkah.
Jantungku berdegup kencang.
Dan dari dalam kegelapan itu—
Seseorang keluar.
Langkahnya tenang, namun kehadirannya langsung memenuhi ruang sempit di antara kami.
Aku membeku.
“Zayn…?” suaraku lirih, penuh keterkejutan.
Ia pun tampak sama terkejutnya. Sorot matanya menajam saat melihatku.
“Aluna?”
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
Hanya suara angin yang berembus pelan di antara kami.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya akhirnya, suaranya rendah namun tegas.
Aku menelan ludah.
Pertanyaan itu seharusnya mudah dijawab. Namun saat ini, justru terasa berat.
“aku… hanya ingin memastikan sesuatu,” jawabku pelan.
Tatapannya berubah.
Lebih dalam.
Lebih waspada.
“Memastikan apa?” tanyanya lagi.
Aku mengerutkan kening.
“Seharusnya aku yang bertanya,” balasku, kini dengan nada yang lebih berani. “Kenapa kamu ada di dalam sana?”
Ia terdiam sejenak.
Hanya sekejap—namun cukup bagiku untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
“Saya memiliki urusan di sini,” jawabnya akhirnya singkat.
“Urusan apa?” desakku.
“Itu bukan hal yang perlu kamu ketahui.”
Aku menghela napas kesal.
“Lagi-lagi seperti itu,” kataku. “Semua orang di rumah ini selalu mengatakan hal yang sama. ‘Bukan urusanmu.’ ‘Tidak perlu kamu tahu.’”
Ia menatapku tajam.
“Karena memang ada batas yang harus kamu pahami.”
“Batas tanpa alasan bukanlah batas,” balasku cepat. “Itu hanya aturan sepihak.”
Ia terdiam.
Untuk sesaat, ia seperti kehabisan kata.
Aku melangkah satu langkah mendekat.
“Kenapa aku tidak boleh masuk ke sana?” tanyaku, menatap langsung ke matanya. “Apa yang sebenarnya disembunyikan,apa yang kalian rahasiakan?”
Ia menarik napas dalam.
“Tidak ada apa-apa, walaupun ada,itu bukan urusanmu,” jawabnya.
Aku langsung menggeleng.
“Itu tidak masuk akal.”
“Saya berkata yang sebenarnya.”ucapnya
“Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa aku dilarang?” balasku lagi. “Kenapa nyonya Alice begitu keras? Kenapa kamu juga… terlihat seperti menyembunyikan sesuatu?”
Ia memalingkan wajahnya sejenak.
“Aluna, cukup.”
“Tidak,” potongku, kali ini lebih tegas. “aku tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban yang masuk akal.”
Ia kembali menatapku.
Sorot matanya kini lebih keras.
“Saya sudah memberikan jawaban.”
“Seribu alasan sekalipun kamu berikan,” kataku pelan namun tajam, “jika tidak masuk akal, tetap saja tidak akan aku terima.”
Suasana menjadi tegang.
Aku melangkah mendekati pintu.
“Kalau begitu, biarkan aku melihat sendiri.”
Tanganku terulur, hendak mendorong pintu itu.
Namun dengan cepat, ia menahan pergelangan tanganku.
“Jangan.”
Suaranya rendah, namun penuh perintah.
Aku menoleh, menatap tanganku yang ditahannya.
“Kenapa?” tanyaku pelan.
Ia tidak langsung menjawab.
Namun genggamannya sedikit menguat.
“Kamu tidak boleh masuk ke sana,” ujarnya tegas.
“Alasannya?”
“Karena saya yang melarang.”
Aku tersenyum tipis, tanpa kehangatan.
“Itu bukan alasan.”
Aku mencoba melepaskan tanganku.
Namun ia tidak membiarkannya.
“Aluna,” katanya, kali ini lebih serius. “Tidak semua hal harus kamu ketahui.”
“Dan aku tidak akan menerima itu.”timpalku
Kami saling menatap.
Tidak ada yang mengalah.
Namun akhirnya—
Ia yang bergerak lebih dulu.
Ia menarik tanganku dengan perlahan namun pasti, menjauhkanku dari pintu itu.
“Kita kembali,dan kamu harus kembali ke kamarmu ,ini sudah malam” ujarnya singkat.
“aku belum selesai.”
“Ini sudah selesai.”timpalnya
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk perdebatan.
Aku berusaha menahan langkahku, namun tenaganya jauh lebih kuat.
Ia tidak menyeretku dengan kasar, tetapi cukup tegas untuk membuatku tidak punya pilihan selain mengikuti.
Kami berjalan dalam diam.
Hanya suara langkah kaki yang terdengar di tengah malam yang sunyi.
Sesampainya di depan kamarku, ia berhenti.
Ia melepaskan genggaman tanganku.
“Masuk,” perintahnya.
Aku menatapnya, jelas masih tidak puas.
“aku belum mendapatkan jawaban.”
“Dan kamu tidak akan mendapatkannya malam ini.”
“Kenapa?”
Ia menatapku dalam.
“Karena kamu harus berhenti.”
Aku menggeleng pelan.
“Tidak,” bisikku. “aku tidak bisa dan tidak akan berhenti.”
Untuk sesaat, ia hanya diam.
Lalu ia menghela napas panjang.
“Kalau begitu, kamu harus belajar menahan diri,” katanya. “Tidak semua rasa penasaran harus diikuti.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Dan tidak semua rahasia harus disembunyikan.”
Ia terdiam lagi.
Namun kali ini, ia tidak membalas.
Ia hanya membuka pintu kamarku.
“Masuk. Dan istirahat.”
Nada suaranya kembali dingin. Tegas.
Aku menggigit bibirku sejenak.
Namun akhirnya, aku melangkah masuk ke dalam kamar.
Sebelum pintu tertutup, aku menoleh sekali lagi.
Tatapanku masih penuh pertanyaan.
Dan aku tahu—
Ia menyadarinya.
“Tidurlah,” katanya singkat.
Pintu itu pun tertutup.
Aku bersandar di baliknya.
Dadaku naik turun.
Rasa penasaranku tidak berkurang.
Justru semakin besar.
Aku memejamkan mata sejenak.
Lalu membukanya kembali.
“Aku tidak akan berhenti…” bisikku pelan.
Apa pun yang mereka sembunyikan di paviliun itu—
Aku akan menemukannya, sekeras apapun mereka melarangku