NovelToon NovelToon
Dendam Maharani

Dendam Maharani

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Dendam Kesumat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.

cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.

maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.

maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.

akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mencari jejak

Bu Sukma makin hari tubuhnya makin kurus.

Kehilangan putri kesayangan membuatnya lemah.

Hari-harinya hanya diisi dengan harapan kembalinya Maharani.

Hingga berbulan-bulan gadis manis itu tak kunjung pulang.

Bu Sukma meraba kasur yang tak lagi hangat.

Tangisnya tergugu.

"Kamu dimana nak? Pulanglah..." isak bu Sukma pilu.

"Buk..." panggil Bagas yang rupanya melihat kesedihan ibundanya dari ambang pintu kamar Rani.

"Bagas.... Ibu rindu Rani mbak mu... Apa dia baik-baik saja? Apa dia nggak kedinginan diluar sana? Lalu gimana kalau dia ketemu orang jahat? Ibu takut Gas..."

Bagas memeluk bu Sukma. Dirinya pun sama seperti bu Sukma. Putus asa.

Semua petunjuk sudah dia telusuri namun hasilnya masih abu-abu baginya.

"Bagaimana kalau mbakmu jadi korban mbah Djani juga? Orang-orang bilang, kalau mbah Djani itu juga mengincar perempuan muda untuk dijadikan pengikutnya... Ibu takut apa yang dikatakan orang-orang benar... Ibu sungguh takut Bagas...."

"Bagas juga takut bu... Beberapa hari lalu Bagas mimpi mbak Rani... Wajahnya cantik bersih tapi tatapannya kosong dan dingin... Senyum mbak Rani juga hilang... Dan dibelakang mbak Rani ada bayangan hitam yang menyelimutinya.... Mbak Rani terlihat memegang sesuatu ditangannya. Bagas nggak bisa lihat itu apa karena keburu tersentak bangun" tutur Bagas akhirnya menceritakan mimpi yang mengganjal pikirannya.

"Ya Tuhan Gas... Ibu juga bermimpi yang sama denganmu... Semoga apa yang kita takutkan tidak terjadi..." tangis bu Sukma makin kencang.

Firasat seorang ibu tidak pernah salah.

Hatinya gelisah setelah bermimpi tentang Rani.

Mata Bagas berkeliling memindai isi kamar Maharani.

Sudah lama ia ingin menggeledah kamar itu namun selalu dilarang oleh pak Rahman.

Bagas melepas pelukannya pada Sukma.

Langkahnya pelan menuju lemari kayu jati yang berada di pojok kamar.

"Kamu mau apa Gas? Kenapa buka lemari mbak mu?" heran bu Sukma.

"Bagas mau cari sesuatu buk... Mungkin mbak Rani punya catatan atau semacamnya... Mbak Rani itu pendiam dan suka mendam masalahnya sendiri. Dan biasanya kalau orang seperti mbak Rani pasti punya buku harian sebagai teman curhatnya..."

Bu Sukma hanya memantau dari pinggir ranjang.

Menunggu Bagas yang sedang menggeledah isi lemari Maharani.

Kening Bagas mengkerut.

Laci lemari Rani dikunci rapat.

Bagas berusaha mencari keberadaan kunci laci yang mungkin saja disimpan disatu tempat.

Tangannya menyibak helai lipatan baju Rani.

Kosong tak ada apa-apa.

Dia kemudian beralih ke meja rias kayu milik Rani.

Membuka satu-persatu laci.

"Ketemu.... Mungkin ini kuncinya" ujar Bagas segera membuka laci.

Tek...

Laci lemari terbuka.

Ada dua buku harian berwarna pink disana.

Bagas mengeluarkan buku pertama dan membuka lembaran demi lembaran kertas buku berwarna soft pink tersebut.

"Bu...." cicit Bagas.

Kakinya terasa lemah hingga hampir saja jatuh.

Dirinya tak menyangka bahwa temuannya sungguh menyayat hati.

Bu Sukma menghampiri Bagas dan meraih buku dari tangan putranya.

"Ya Tuhan... Bagas.... Ini nggak benar kan Gas... Rani mbak mu nggak mungkin punya hubungan dengan mas Andre kan.... Bagaimana ini Gas...?" jerit tertahan dari bu Sukma.

Ada beberapa foto yang di tempel hingga membuat nafas keduanya tercekat.

Foto-foto yang memperlihatkan sebuah hubungan manis sepasang anak manusia yang saling jatuh cinta.

Di foto pertama terlihat Andre sedang memeluk Rani dari belakang, mungkin itu awal mereka jadian.

Dan ada juga foto Rani diatas ranjang dengan memeluk Andre yang sedang tidur. Pose keduanya sungguh membuat hati bu Sukma teriris sakit.

Sebab tak ada satupun orangtua yang rela putrinya punya hubungan sebelum adanya ikatan resmi sebuah pernikahan.

"Nggak mungkin Gas... Mbak mu nggak mungkin punya hubungan dengan mas Andre... Ya Tuhan... Ranii... Kenapa begini nak? Kenapa kamu lakukan ini pada kami?" tangis bu Sukma pilu.

Dia duduk bersimpuh dilantai.

Sementara Bagas masih melanjutkan membaca lembaran demi lembaran yang berisi tulisan tangan Rani.

Dia tak serta merta langsung menyalahkan Rani.

Dirinya harus menguak rahasia ini.

Temuan Bagas makin membuatnya merasa iba pada Rani.

Ada banyak kisah yang menyayat hati yang Rani tuangkan dalam tulisan tersebut.

Bagas tak sanggup membacanya.

Dirinya sebagai adik merasa sangat bersalah.

Dia pikir kakaknya hanyalah gadis yang pemalu dalam bergaul.

Namun ternyata, banyak air mata yang telah mengucur dari mata indah sang kakak yang selama ini disembunyikan dengan sangat rapi oleh Rani.

Tak terasa, airmata Bagas menetes dipipinya.

Bagas menekan kuat tepi buku harian.

Ternyata dugaannya selama ini benar, laki-laki bernama Andre itu telah berbuat terlalu jauh pada kakaknya.

"Mbak... Kenapa harus begini? Kenapa mbak nggak cerita pada kami...? Andaikan mbak cerita, aku pasti akan bantu mbak Rani..." batin Bagas dengan rasa sesalnya.

Dibuku harian itu tertuang semua kejadian yang menimpa Rani termasuk pel*cehan yang dilakukan oleh juragan Kardi saat Rani berusia belasan tahun.

Segala bullyan ia dapatkan dari Meri dan teman-temannya.

Kakaknya hanya ingin dicintai namun haus kasih sayang itu justru dimanfaatkan oleh laki-laki bi*dap bernama Andrean.

Dan lebih menyedihkan adalah, Andre yang meminta dirinya menggugurkan janin yang bahkan masih berbentuk bongkahan d*rah.

Bagas semakin membenci Andre.

Dirinya bersumpah akan meminta pertanggungan laki-laki itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Dirumah kediaman pak Herman...

"Mbah... Bantu kami... Tolong temukan putra kami" pinta bu Ratih.

Mbah Kromo hanya diam.

Mulutnya komat-kamit.

Disampingnya, Tarjo berdiri dengan sebuah tempayan berisi air.

"Tarjo.. Letakkan tempayan itu disana" perintah mbah Kromo dengan meletakkan tempayan dihadapan mbah Kromo yang sedang duduk bersila dilantai beralas karpet permadani.

Tarjo melakukan perintah dalam diam.

"Bagaimana mbah? Dimana Andrean putraku? Apa dia dibawa penghuni hutan pinus? Apa dia mbah Djani?" desak bu Ratih tak sabaran.

Mbah Kromo hanya mendengus.

Matanya tajam menatap bu Ratih pun dengan Tarjo.

Wanita paruh baya dengan dandanan cetar ala istri pejabat itu langsung kicep dan hening.

"Hhmmmmmmgggg....!" dengung mbah Kromo.

Dia kembali memejamkan mata dan menggeleng pelan seperti sedang berkomunikasi secara batin dengan makhluk ghoib.

"Putramu sedang menerima karmanya!" ujarnya kemudian.

Bu Ratih terlihat tak mengerti.

"Apa maksud mbah? Karma apa? Andre laki-laki baik. Dia mana mungkin bisa berbuat jahat. Mbah jangan mengada-ada" emosi bu Ratih.

Mbah Kromo lagi-lagi mendengus sembari membuka mata.

Tatapannya semakin dingin serasa menusuk bagi bu Ratih.

"Ma~maksud mbah apa? Karma apa?" ulang bu Ratih dengan suara bergetar.

"Laki-laki itu lebih kejam dari pada ibl*s. Bukan hanya satu tapi terlalu banyak nyawa yang telah dia renggut paksa tanpa belas kasih terutama para gadis yang dia dekati... Aku tidak bisa bantu...! Lawannya kali ini terlalu kuat dan aku tidak ingin berurusan dengannya!" ujar mbah Kromo menolak permintaan bu Ratih.

"Tidak bisa begitu mbah...! Aku sudah bayar mahal jadi mbah harus menolong kami... Setidaknya aku harus tahu dia dimana"

Mbah Kromo menghela nafas kasar.

"Dia ada di satu tempat... Dan sedang dipersiapkan untuk menjadi tumbal bagi raja iblis..." tegas mbah Kromo.

"Jangan tanya dimana karena aku tidak akan memberitahumu! Tempat itu terlalu berbahaya bagi manusia lemah seperti kalian! Dan hawanya terlalu kuat untuk kalian tembus termasuk diriku!"

"Andreee... " tangis bu Ratih pecah seketika. Dia histeris.

Dirinya tak pernah menyangka akan mengalami ini semua.

"Apa tidak ada cara lain mbah? Memanggilnya lewat ritual untuk berkomunikasi misalnya?" kali ini pak Herman yang bertanya.

Pria paruh baya itu memaksa keluar kamar meski masih terlihat pucat.

"Hanya ada satu cara tapi ini terlalu beresiko..."

"Apa mbah? Apa kita bisa mengganti tumbalnya?" sela bu Ratih.

Mbah Kromo tersenyum miring.

"Apa kalian mau jadi penggantinya?" ujar mbah Kromo yang membuat sepasang suami istri itu saling pandang.

"Sebenarnya ini ada apa? Kenapa putra kami dijadikan tumbal? Padahal aku tidak pernah melakukan pesugihan apalagi melakukan perjanjian dengan setan...." tanya pak Herman ingin kejelasan.

Mbah Kromo menarik nafas panjang.

"Bukan kalian, tapi ini memang murni karena putra kalian yang membuat kesalahan yang fatal. Dia itu bukan laki-laki baik seperti yang kalian kira selama ini... Dia pemain perempuan, bahkan dengan tega menghilangkan nyawa mereka ketika dirasa itu mengusiknya.... Padahal para perempuan itu hanya ingin pertanggungjawaban darinya...."

Bersambung....

1
Astuti Puspitasari
Mbahe iku jahat apa ngga ya kok makan janin /Grimace/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!