NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PASAR HANTU DAN HARGA SEBUAH NYAWA

Lampu-lampu Jakarta di spion SUV hitam itu perlahan mengecil, digantikan oleh deretan gudang tua yang berjejer kaku di kawasan pelabuhan Marunda. Udara di sini berat, bukan cuma karena polusi dan bau garam yang membusuk, tapi karena sisa-sisa energi murni yang saling bertabrakan di udara.

Tempat ini dikenal sebagai "Pasar Hantu". Sebuah titik buta di peta digital mana pun, di mana hukum negara digantikan oleh hukum rimba, dan di mana Giok bukan sekadar perhiasan, melainkan mata uang nyawa.

Arka menyandarkan kepalanya di kursi kulit, napasnya sedikit berat. Di balik jas hitamnya, dadanya terasa panas. Menguras Ki (energi murni) untuk mencabut kanker stadium empat dari tubuh Jenderal Pratama ternyata punya efek samping yang lebih besar dari dugaannya. Tubuhnya yang sekarang masihlah tubuh manusia bumi, sebuah wadah yang belum cukup kuat untuk menampung aliran tenaga setingkat Dewa secara terus-menerus.

"Tuan, kita sampai," bisik Tuan Yan. Matanya melirik Arka lewat spion tengah, ada kekhawatiran yang coba ia sembunyikan. "Klan Macan Putih sudah mengosongkan area dermaga 9. Tapi saya rasa ini jebakan. Harimau tidak pernah mengundang tamu untuk makan malam tanpa niat menerkam."

Arka membuka matanya. Pupil emasnya berdenyut lemah, tapi sorot matanya tetap setajam silet. "Kalau mereka tidak mencoba menerkamku, artinya mereka tidak punya nyali. Dan aku tidak butuh sekutu yang penakut, Yan."

Pintu mobil dibuka. Clarissa turun lebih dulu, gaun zamrudnya kini berganti dengan pakaian taktis kulit hitam yang melekat ketat di tubuhnya. Di pinggangnya, dua bilah pisau pendek berkilau tertimpa cahaya bulan yang pucat.

Mereka melangkah masuk ke dalam sebuah hanggar rahasia yang terkubur di bawah tanah. Begitu lift tua itu berhenti di lantai dasar, pemandangan berubah total. Di bawah tanah yang lembap itu, berdiri sebuah pasar megah dengan arsitektur oriental klasik. Aroma dupa bercampur dengan bau besi berkarat. Orang-orang di sini bukan pedagang asongan; mereka adalah kultivator liar, tentara bayaran kelas atas, dan kolektor barang antik yang mengerti nilai energi.

Di ujung aula pasar, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut putih panjang yang dikuncir rapi. Ia mengenakan jubah tradisional Tionghoa berwarna putih bersih. Di tangannya, ia memutar dua buah bola baja yang mengeluarkan suara gemerincing yang aneh—suara yang frekuensinya sanggup menggetarkan gendang telinga orang biasa hingga berdarah.

Dia adalah Tuan besar Li, kepala cabang Klan Macan Putih di Jakarta.

"Arka... Sang Dewa Medis yang baru lahir," suara Tuan Li bergema di seluruh ruangan, tenang tapi menindas. "Menghancurkan klan Mahesa dalam satu malam adalah prestasi. Tapi datang ke sini dengan kondisi energi yang bocor? Itu namanya bunuh diri."

Langkah Arka tidak berhenti. Setiap langkahnya menimbulkan suara ketukan yang bergema, menciptakan ritme yang perlahan mematahkan dominasi energi Tuan Li di ruangan itu.

"Aku tidak datang untuk mendengar analisis medis darimu, Li," jawab Arka datar. Ia berdiri lima meter di depan singgasana Tuan Li. "Aku datang untuk Giok Langitmu. Berapa banyak yang kau punya?"

Tuan Li tertawa, sebuah tawa yang kering. "Giok Langit adalah fondasi kekuatanku. Setiap butirnya berharga seratus miliar di pasar luar. Dan kau ingin semuanya? Dengan apa kau akan membayar? Uangmu sudah jadi sampah di tangan Konsorsium."

"Aku akan membayar dengan satu hal yang tidak bisa dibeli Konsorsium," Arka menatap tepat ke mata Tuan Li. Matanya mulai bersinar emas, membedah tubuh pria tua itu. "Satu tahun lagi untuk hidupmu."

Gerakan bola baja di tangan Tuan Li mendadak berhenti. Suasana di hanggar itu menjadi sangat dingin hingga uap napas mulai terlihat.

"Apa maksudmu?" tanya Tuan Li, suaranya kini sedikit rendah.

"Jantungmu," Arka menunjuk ke arah dada kiri Tuan Li. "Setiap kali kau memutar bola baja itu, kau sebenarnya sedang menekan denyut jantungmu yang tidak beraturan akibat teknik 'Tapak Macan' yang kau pelajari secara salah tiga puluh tahun lalu. Kau terlihat kuat, tapi di dalam, pembuluh darahmu rapuh seperti kaca. Kau akan mati saat gerhana bulan depan, kecuali aku menyentuhnya."

Para pengawal Macan Putih langsung mencabut senjata. Suasana tegang hingga ke titik didih. Clarissa sudah dalam posisi rendah, siap melesat seperti anak panah.

Namun Tuan Li hanya terdiam. Keringat dingin mulai muncul di keningnya. Apa yang dikatakan Arka adalah rahasia paling gelap yang bahkan anak kandungnya pun tidak tahu.

"Kau berani mengancamku di kandangku sendiri?" Tuan Li berdiri. Energi putih mulai keluar dari tubuhnya, membentuk bayangan macan yang samar di belakangnya.

"Ini bukan ancaman. Ini bisnis," Arka maju satu langkah lagi, kali ini ia mengabaikan rasa sakit yang menusuk di paru-parunya. Ia memaksakan Mata Saktinya masuk ke mode Bedah Atma. "Jika kau memberikan Giok itu sekarang, aku akan memperbaiki jalur energimu. Jika tidak, silakan panggil peti mati terbaikmu malam ini."

Tuan Li menatap Arka dengan tajam. Ia mencari keraguan di mata pemuda itu, tapi yang ia temukan hanyalah jurang emas yang tak berdasar.

"Buktikan," tantang Tuan Li. "Jika kau gagal, kepalamu akan menjadi hiasan di pintu masuk pasar ini."

Arka tidak membuang waktu. Ia melesat maju. Gerakannya tidak lagi terlihat oleh mata manusia biasa. Para pengawal baru saja akan menarik pelatuk ketika Arka sudah berdiri tepat di depan Tuan Li.

Telapak tangan Arka menghantam dada Tuan Li. Tapi bukan hantaman keras, melainkan sentuhan selembut bulu.

BOOM!

Bukan ledakan fisik, melainkan ledakan energi spiritual yang menyapu seluruh hanggar. Lampu-lampu kristal di langit-langit pecah berkeping-keping. Arka memuntahkan seteguk darah kecil dari sudut bibirnya, tapi tangannya tetap menempel di dada Tuan Li.

Di penglihatan Arka, ia melihat 'benang-benang' energi merah yang kusut di jantung Tuan Li. Dengan sisa energinya, Arka mulai mengurai kekusutan itu satu per satu, seolah sedang menjahit kembali nyawa seseorang.

Tuan Li membelalak. Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa, seolah jantungnya diremas oleh tangan besi, tapi sedetik kemudian, rasa sakit itu digantikan oleh aliran hangat yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun. Napasnya yang selama ini terasa pendek dan menyesakkan, mendadak menjadi lega.

Arka menarik tangannya dan mundur tiga langkah, tubuhnya sedikit goyah namun tetap tegak.

"Cek nadimu, Harimau Tua," ucap Arka sambil menyeka darah di bibirnya.

Tuan Li mencoba menarik napas dalam-dalam. Ia kemudian menghantamkan tinjunya ke udara. Crrrack! Tembok beton di sampingnya retak parah hanya karena tekanan angin dari tinjunya. Kekuatannya kembali, bahkan lebih besar dari masa jayanya.

Tuan Li tertegun. Ia menatap tangannya, lalu menatap Arka dengan pandangan yang kini penuh dengan rasa hormat yang mendalam—dan sedikit ketakutan.

"Buka brankas utama," perintah Tuan Li kepada anak buahnya. "Berikan semua Giok Langit yang kita miliki kepada Tuan Arka. Sekarang!"

Dua menit kemudian, sebuah peti kayu cendana dibuka. Di dalamnya, sepuluh butir giok berwarna biru langit berpendar dengan cahaya lembut. Energi yang keluar dari peti itu begitu murni hingga membuat luka dalam Arka mulai terasa sedikit lebih baik hanya dengan menghirup aromanya.

"Ini sepuluh butir terakhir di Asia Tenggara," kata Tuan Li. "Ambillah. Dan anggap ini sebagai tanda awal aliansi kita. Tapi ingat, Arka... Konsorsium sudah tahu kau ada di sini. Mereka telah mengirim 'Pembersih' mereka. Mereka tidak akan membiarkan seorang Dewa Medis hidup untuk mengganggu neraca keuangan mereka."

Arka mengambil peti itu. Ia menoleh ke arah pintu keluar pasar. Mata Saktinya berdenyut kembali, tapi kali ini warnanya bukan emas murni, melainkan merah gelap.

"Pembersih?" Arka tersenyum miring, senyum yang membuat para petarung Macan Putih merinding. "Baguslah. Aku butuh sedikit darah segar untuk merayakan kesembuhanku."

Baru saja Arka akan melangkah keluar, tiba-tiba langit-langit hanggar itu meledak. Bongkahan beton raksasa jatuh, dan dari tengah debu yang mengepul, muncul tiga sosok berjubah abu-abu dengan topeng besi tanpa lubang mata.

Mereka tidak bicara. Mereka tidak bernapas. Di tangan mereka, terdapat rantai hitam yang mengeluarkan aura kematian yang pekat.

"Shadow Guard," gumam Tuan Yan sambil mencabut pistol peraknya. "Unit pembunuh bayaran Konsorsium yang hanya muncul untuk menghapus klan pilar."

Arka menyerahkan peti Giok itu pada Clarissa. Ia melangkah maju, melepaskan jas hitamnya yang kini kotor terkena debu, menyisakan kemeja putih yang sedikit basah oleh keringat dan darah.

"Yan, Clarissa... Mundur," perintah Arka.

"Tapi Tuan, kondisi Anda—"

"Aku bilang mundur," suara Arka kali ini mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

Arka menatap ketiga Shadow Guard itu. Ia bisa merasakan bahwa mereka bukan lagi manusia, melainkan mayat hidup yang dikendalikan oleh energi buatan. Ia mengepalkan tangannya, dan tiba-tiba, energi dari sepuluh Giok Langit di dalam peti yang dipegang Clarissa seolah-olah 'terpanggil'. Cahaya biru dari peti itu mengalir masuk ke dalam tubuh Arka lewat udara.

Rambut Arka sedikit terangkat. Pupil matanya yang tadinya emas redup kini berkobar, menyala terang hingga menerangi kegelapan hanggar.

"Kalian datang di waktu yang salah," bisik Arka.

Dalam satu kedipan mata, Arka menghilang dari posisinya. Detik berikutnya, suara dentuman logam menghantam daging terdengar keras. Salah satu Shadow Guard terpental menembus tiga lapis tembok gudang.

Arka berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh percikan energi biru dan emas yang liar. Ia bukan lagi sekadar pemuda yang sedang sakit; ia adalah badai yang sedang mencari mangsa.

Di kejauhan, di atas atap gudang seberang, si Kakek misterius kembali terlihat. Ia menyesap kopi hitam dari gelas plastik murahan, matanya menatap pertarungan di bawah dengan senyum tipis.

"Mainkan musiknya, Arka," gumam si Kakek. "Tunjukkan pada mereka kenapa langit harus takut pada naga yang sedang marah."

Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Di bawah rembulan Marunda, darah akan mengalir, dan nama Arka akan terukir bukan lagi sebagai manusia, melainkan sebagai bencana yang tak terelakkan.

Saat Arka hampir menghabisi ketiga Shadow Guard, salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah kalung perak dari balik jubahnya. Kalung yang sangat Arka kenal—kalung milik Maria, ibunya. Arka tersentak, dan di saat itulah, sebuah pedang hitam menembus bahunya dari belakang. Siapa pengkhianat di dalam lingkaran terdekatnya?

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
arc 1 tamat lanjut ke Arc 2
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!