WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.
•
Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.
Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.
Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.
Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?
Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?
Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
#1
“Assalamualaikum warahmatullah—”
Gerakan sholat terakhir itu menandai usainya ibadah sholat subuh yang tengah ia jalankan. Hari ini agak kesiangan, karena pukul 2 dini hari Firza baru kembali ke rumah. Mungkin sang istri pun tak tega membangunkannya.
Pria itu masih duduk bersila, larut dalam dzikir dan doa yang menenangkan jiwa.
Beberapa saat kemudian ia mendengar suara tangis putranya melalui connecting door, sepertinya Ersha sedang sibuk di dapur hingga tak mendengar suara tangis Abizar.
Firza pun berdiri setelah mengakhiri rangkaian dzikirnya, tak lupa membereskan sajadah, serta melepas pecinya.
“Anak Ayah, sudah bangun?” sapa Firza begitu tiba di kamar Abizar.
Bocah berusia satu tahun itu mengangkat kedua tangannya ingin digendong sang ayah.
“Jagoan Ayah.” Dengan gerakan perlahan, Firza mengangkat tubuh mungil Abizar ke dalam pelukannya, “Ayah kangen, Nak,” ungkapnya, karena beberapa hari terakhir pekerjaannya di kantor sedang menumpuk.
HudaTex baru saja merombak kepemimpinan, semula direktur mereka adalah Giana. Setelah menikah, wanita itu ingin kembali fokus dengan dunia fashion dan desain pakaian, maka dengan berbagai pertimbangan, serta izin dari suaminya, ia pun menyerahkan kursi kepemimpinannya pada sang keponakan.
Maka praktis, Firza pun memiliki jabatan strategis sebagai tangan kanan direktur baru, Albiru Singgih.
“Mama—” rengek Abizar, mencari keberadaan ibunya.
“Mama sedang menyiapkan sarapan, main sama Ayah, ya?”
“Mau Ma— ma—” isak Abizar, masih setia merengek dalam tangis kecilnya.
“Oke, kita cari mama, yuk.”
Firza berjalan keluar kamar, “Mama— ada yang kangen, nih,” kata Firza, sambil menirukan suara Abizar.
Di dapur, Ersha tersenyum mendengar panggilan tersebut, “Eh, sudah bangun? Sebentar, Bang. Aku selesaikan sedikit cucian piring ini.”
“Tuh, Mama masih cuci piring,” bisik Firza di telinga Abizar. Makin keras suara tangis Abizar, karena ia sedang menginginkan ASI sang mama.
“Sabar, ya?” Firza membawa Abizar keluar rumah, udara pagi yang sejuk langsung menyambut mereka. Suara burung berkicau sudah ramai, mereka bertengger di pohon mangga yang ada di halaman rumah.
Abizar segera berhenti menangis, karena ia sangat suka suara burung. Firza ikut bersiul menirukan suara burung pipit kecil tersebut, ia menabur pakan burung di halaman, agar burung-burung itu tertarik mendekat.
Sejak resmi menikah dengan Ersha 2,5 tahun silam, rumah tangga mereka adem ayem, dan jarang ada pertengkaran. Paling hanya ribut kecil karena beda pendapat, selain itu tidak ada.
Tak salah rupanya menuruti permintaan mamak-nya, karena hidupnya semakin tenang, dan rezekinya terus mengalir tanpa masalah.
Beberapa saat kemudian, Ersha menghampiri Abizar yang sedang asik melihat para burung menikmati makanannya. Rupanya keberadaan Ersha lebih menarik di mata Abizar, balita yang baru bisa berjalan itu, langsung menghampiri mamanya.
“Maaf, Bang. Tadi nggak aku bangunkan lagi, Abang pulas sekali tidurnya, aku bangunkan beberapa kali, belum berhasil juga. Niatnya setelah cuci piring, aku akan bangunkan Abang lagi, ternyata sudah bangun.”
Firza mengusap kepala Ersha yang sedang menyusui putra mereka, “Tidak apa-apa. Oh iya, habis ini kita piknik, yuk,” ajak Firza.
“Piknik?” Firza mengangguk. “Tapi, ini bukan hari libur, Abang, kan, harus kerja?”
“Libur sehari, tak mengapa. Lagian, sabtu-minggu kemarin Abang lembur, jadi tak sempat bermain dengan Abizar.” Telapak tangan Firza mengusap betis Abizar yang kini selonjoran di atas pangkuannya.
“Rasanya anak ini cepat sekali tumbuh besar, padahal baru kemarin aku mengadzaninya ketika ia baru lahir,” gumam Firza.
“Ya, sudah. Terserah Abang saja, aku ikut.” Ersha tersenyum, menyanggupi permintaan suaminya.
•••
Meski datar, dan jarang berekspresi, tapi Ersha tahu beginilah cara Firza mengungkapkan rasa sayangnya pada Abizar dan dirinya. Yakni sesekali mengajak piknik, atau sekedar liburan tipis.
Dari tempat ia duduk Ersha melihat kehangatan interaksi sang suami yang sedang bermain gelembung bersama putra mereka. Meski momen itu terasa dekat, Ersha tak bisa menampik kegelisahan hatinya yang selalu merasa ada jarak tipis yang memisahkan dirinya dengan sang suami.
Sudah hampir tiga tahun menikah, tapi masih banyak hal yang belum Ersha ketahui tentang suaminya. Terutama cerita tentang pengalamannya belajar di luar negeri, padahal Ersha sudah sering mendesak, bahkan memancing obrolan ke arah sana. Tapi Firza selalu menghindar, hingga akhirnya Ersha pun menyerah, dan tak lagi bertanya.
Informasi lain tentang Firza biasa Ersha tanyakan pada mamak mertuanya, Karmila. Dan menurut sang mertua Firza memang datar, jarang bicara dan tak biasa mengungkapkan perasaannya pada orang lain. Lagi-lagi, Ersha harus mencoba memahaminya, mungkin suatu saat Firza akan berubah.
“Mama, Nyum,” pinta Abizar dengan bahasa yang masih cadel. Ersha mengulurkan botol minum milik bocah itu, setelah minum Abizar kembali berlari ke arah sang ayah.
“Hati-hati, Sayang,” pekik Ersha, yang khawatir melihat langkah kaki Abizar yang teramat cepat.
Beberapa meter dari tempatnya berada, Ersha melihat seseorang yang menatap ke arahnya, “Siapa dia? Kenapa melihat terus ke arahku?” gumam Ersha, “Ah, mungkin hanya kebetulan saja.”
Ersha pun berdiri, alih-alih menunggu ia memilih membawa makanan agar bisa sekalian menyuapi Abizar selagi bocah itu sibuk bermain bersama ayahnya. Abizar adalah tipe anak yang susah makan, jika tidak sambil bermain, alamat ia akan terus melakukan GTM, alias gerakan tutup mulut.
“Ayo, sambil makan. Lihat, Mama buat bola-bola nasi.” Ersha menyuapkan sebutir bulatan nasi berukuran kecil ke mulut Abizar, dan bocah itu lahap memakan, karena diselingi dengan main bersama sang ayah.
Sepintas, sudut mata Ersha kembali melirik wanita yang masih setia berdiri di tempatnya, wajahnya tertutup masker, dan ia pun berkaca mata. Membuat Ersha makin sulit mengenalinya. Tapi dari penampilannya, Ersha sangat yakin bahwa orang itu adalah perempuan.
“Udah, yuk, Ayah juga lapar, mau makan dulu.” Firza langsung meraih Abizar dalam pelukannya, bocah itu terkikik geli, ketika Firza mencium perutnya. “Hebat, anak Ayah, makan yang banyak, ya. Biar kuat larinya.”
“Ini, Bang.” Tumbler berisi kopi pahit adalah minuman favorit Firza, pria itu menjadi coffeeholic sejak belajar di luar negeri. Semua karena tuntutan harus selalu on focus, belajar kerja, belajar lagi, kerja lagi. Begitulah aktivitasnya sehari-hari.
“Bang, kok orang itu melihat ke arah kita terus, ya?” tanya Ersha, jarinya menunjuk pada wanita yang berdiri dengan jarak beberapa meter dari mereka.
“Mana, sih?” gumam Firza.
“Di sa— loh, kok hilang. Aku lihat dia berdiri di sana cukup lama, Bang.” Ersha mencari-cari jejak keberadaan wanita itu. Tapi nihil, karena tubuhnya seperti lenyap begitu saja.
“Ya sudah, mungkin dia sedang melamun saja.” Firza kembali menolehkan wajah sang istri ke arahnya.
“Mungkin saja begitu.” Ersha membenarkan ucapan suaminya, meski gelisah masih menggelayuti pikirannya.
toh sama" single