NovelToon NovelToon
Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Istri Culun Sang CEO: Kebangkitan Sang Ratu Panggung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.

Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Yoshi menatap keluar jendela ruang kerja, ke taman mungil yang tertata rapi di belakang rumah keluarga Anderson. Sore merembes pelan, menempel pada kaca dan membiaskan bayangan dirinya sendiri-sosok lelaki yang tampak mapan dari luar, tetapi sedang compang-camping di dalam hati. Ucapan Thalia kemarin, "Maaf, aku tidak bisa datang," terus bergaung seakan-akan baru diucapkan satu menit yang lalu.

Pintu diketuk halus. Marrie masuk dengan langkah terukur, membawa secangkir kopi yang asapnya masih menari. Senyumnya rapi, hangat, dan terlalu manis untuk seseorang yang tadi pagi membentak pelayan hanya karena teh terlalu hangat.

"Kau masih memikirkannya, Sayang?" suara Marrie lembut, sengaja dibuat seolah khawatir.

Yoshi tidak langsung menjawab. Matanya tetap pada halaman. "Dia anakku. Tapi menolak aku seperti menolak kewajiban. Apa sekarang sopan santun sudah jadi barang langka?"

Marrie berdiri di sisi meja, menurunkan cangkir. "Kau sudah melakukan banyak untuknya. Tidak semua anak bisa melihat itu." Ia duduk, menyilangkan kaki. "Lihat Nadine, misalnya. Dia berusaha keras membuatmu bangga. Selalu pulang tepat waktu, selalu mendengar nasihatmu. Sementara Thalia... semakin hari semakin jauh."

Alis Yoshi berkerut. "Aku tidak pernah membedakan mereka."

"Aku tidak bilang kau membedakan," Marrie menarik napas seolah berat. "Tapi rasa percaya yang terlalu besar kadang membuat anak lupa batas. Thalia sudah menolak ajakan keluarga. Kalau orang luar lihat, apa yang mereka pikirkan? Keluarga ini terlihat retak. Reputasi kita bisa jadi bahan gunjingan."

Yoshi menggertakkan rahang. Kata "reputasi" menyentak sisi dirinya yang paling peka. "Kau selalu membawa-bawa reputasi."

"Karena itu penting." Marrie mencondongkan tubuh, menatap Yoshi yang masih menatap luar. "Bisnis, keluarga, relasi-semuanya berdiri di atas kepercayaan orang. Andai Thalia tidak mau bekerja sama, kita tidak bisa terus-menerus membiarkannya mengikis citra keluarga. Tegaslah sedikit. Nadine butuh dukunganmu. Setidaknya anak itu tidak pernah membuatmu malu."

Ketukan lagi di pintu. Nadine mengintip, lalu masuk. Rambutnya rapi, bibirnya merekah, ekspresi manis yang sudah sangat terlatih. "Mama memanggil?"

"Masuk," kata Yoshi, berusaha terdengar tenang. "Bagaimana kuliahmu?"

"Baik, Papa." Nadine duduk dengan sikap patuh. "Tugas banyak, tapi aku akan berusaha. Aku ingin Papa bangga."

Marrie tersenyum tipis, seolah baru saja membuktikan satu poin penting. "Lihat, Sayang? Anak ini selalu tahu caranya menyenangkan hatimu."

Yoshi mengangguk kecil, jantungnya terasa hangat. "Kalau butuh sesuatu, katakan."

Nadine menautkan jemari. "Sementara ini tidak, Papa." Ia menatap Marrie sekilas, lalu kembali memandang Yoshi. "Aku hanya... ingin keluarga kita rukun."

Kalimat terakhir itu menelusup seperti benang halus yang menarik-narik rasa bersalah Yoshi. Rukun. Sederhana, tapi pedih, mengingat Thalia yang menolak hadir. Ia menghela napas panjang. "Papa akan... memikirkan semuanya lagi."

Marrie bangkit, menyentuh bahu Yoshi pelan-sentuhan yang tampak lembut, padahal seperti menyisipkan jarum-jarum kecil yang menumbuhkan keraguan baru. "Istirahat sebentar, Sayang. Jangan biarkan pikiran buruk menguasai."

Ia menoleh pada Nadine. "Temani Papa makan malam nanti."

"Baik, Mama." Nadine melirik Yoshi dengan tatapan penuh bakti. "Aku akan pulang lebih awal."

Yoshi hanya mengangguk. Saat pintu menutup kembali, ruang kerja terasa lebih dingin. Kata-kata yang tadi disematkan Marrie menempel seperti label: reputasi, tegas. Ia memejamkan mata sejenak. Bukan dendam yang tumbuh, melainkan kecewa yang menebal.

Pagi di mansion Maverick menyapa dengan cara yang berbeda: udara bersih dari taman belakang, sinar matahari yang jatuh miring ke marmer tangga, dan suara pelayan yang tertata, bekerja sesuai ritme. Di dapur utama, chef menyiapkan sarapan, sementara Rina merapikan tas kecil bergambar dinosaurus milik Liam.

"Rina," Thalia menuruni tangga dengan gaun santai berwarna pastel dan cardigan tipis. "Nanti sebelum jam sebelas, Liam tidur siang seperti biasa, ya. Kalau dia minta cerita dinosaurus, ambil buku yang biru."

"Baik, Nyonya," jawab Rina. "Susu hangatnya juga sudah saya buat."

Liam berlari kecil keluar dari kamar bermain, rambutnya sedikit berdiri, pipinya masih bundar. "Mamaaa!" serunya, cadel dan antusias, "Liam makan loti cama celai... apa itu-ctla... ctlaw...."

"Strawberry," Thalia terkekeh, menunduk untuk menyamakan tinggi. "Ucapkan pelan."

"Ctla...be...beli," Liam menyerah, lalu memeluk Thalia. "Pokoknya yang pink."

"Yang pink." Thalia mengecup kening putranya. "Mama kuliah pagi ini. Liam main sama Rina, nanti sore Mama pulang cepat."

"Papa mana?" Liam menoleh kanan-kiri, mencari sosok tinggi yang biasanya selalu sibuk kerja.

"Papa kerja," jawab Thalia lembut. "Kalau Liam kangen, kita kirim pesan suara, ya?"

Liam mengangguk. "Liam bilang: Papa semangat!" Ia menggenggam tangan Thalia, menirukan gaya teater. "Papa... cemangat!"

"Hebat." Thalia tertawa kecil. "Rina, terima kasih sudah menyiapkan bekalku."

"Dengan senang hati, Nyonya. Dan supa-" Rina berhenti, mengoreksi diri, "sop... saran dari chef, jangan lupa makan siang tepat waktu."

Thalia menerima kotak bekal dan botol jus yang masih dingin. "Sampaikan terima kasih untuk chef, ya."

Seorang pelayan lain lewat dan membungkuk sopan. "Nyonya, sopir sudah menunggu."

"Baik." Thalia berlutut sekali lagi di depan Liam. "Tunggu Mama pulang. Main yang rapi."

"Ciap, Mama." Liam mengacungkan jempol kecilnya. "Liam jaga Lina"

"Harusnya Rina yang jaga Liam, Sayang," goda Thalia.

Rina terkekeh. "Tidak apa-apa. Tuan Kecil memang suka menjadi pelindung."

Thalia melambaikan tangan, melewati lorong panjang yang dindingnya dipenuhi lukisan. Begitu keluar, udara pagi menyentuh kulitnya. Ia menarik napas panjang. Semoga hari ini damai, batinnya.

Kampus ramai oleh tumpukan tugas, rapat organisasi, dan kerumunan yang selalu suka menonton drama. Setelah kelas pertama, Thalia dan Zea melangkah menuju kantin. Thalia membawa jus segar dan bekal dari rumah. Zea, dengan ransel berat penuh buku, berjalan di sisi Thalia sambil mengomel mengenai dosen metodologi.

"Aku yakin beliau menganggap kita robot," desis Zea. "Baca lima jurnal dalam tiga hari? Itu bukan tugas, itu penistaan."

"Pelan-pelan, nanti kau kehabisan napas," sahut Thalia, suaranya ringan. "Kita makan dulu. Kau butuh energi."

"Setuju. Marahpun butuh energi" gumam Zea.

Mereka masuk ke kantin yang bergema oleh suara piring, garpu, dan percakapan. Papan menu harian menggantung, aroma sup dan kopi berkeliaran. Thalia mengarahkan langkah ke sudut dekat tanaman hias, tempat yang biasa mereka duduki.

Tiga pasang mata memperhatikan dari jauh: Aurora, Celina, dan Alara. Aurora bersandar pada meja, gaun modisnya sempurna tanpa noda.

Senyumnya tipis.

"Target datang," bisik Celina, matanya berkilat.

"Rencana awal," balas Aurora. "Kita buat dia ingat siapa yang penguasa sosial di sini."

Alara cekikikan. "Dia bawa jus. Simbolis sekali."

Aurora berdiri santai di sisi jalur sempit yang harus dilalui Thalia. Momen berikutnya terjadi cepat: kaki Aurora bergeser setengah langkah, menyelonong halus di depan pergelangan kaki Thalia.

"Thal-!" Zea menjerit pelan.

Thalia tersandung. Refleksnya menyelamatkan bekal, tapi gelas jus terlepas dari genggaman. Cairan oranye itu melambung setengah detik-cukup lama untuk membuat semua orang menahan napas-sebelum jatuh dan menyiram gaun Thalia dari dada sampai pinggang. Pecahan plastik menimbulkan bunyi trakk yang bersih.

Suara kantin mendadak melambat, lalu berubah menjadi bisik-bisik.

"Gila...."

"Itu Aurora, ya?"

"Lihat wajah Thalia."

Aurora menutup mulut dengan punggung tangan, pura-pura kaget. "Astaga! Maaf sekali, aku tidak melihatmu." Celina dan Alara menahan tawa, lalu gagal menahannya.

Zea menyerbu ke sisi Thalia, mengangsurkan tisu. "Kau baik-baik saja? Sini, sini-"

Thalia berdiri tegak. Dingin. Matanya menatap lurus ke wajah Aurora. Bukan tatapan yang bergetar karena malu, melainkan tatapan yang memutuskan sesuatu.

"Tidak perlu," kata Thalia pelan kepada Zea. Ia menaruh bekal di meja terdekat, lalu meraih sebuah nampan yang sedang kosong milik meja di sisi jalur -nampan yang ditinggalkan sejenak pemiliknya untuk mengambil sendok.

Di atas nampan itu ada sup krim hangat, sepiring pasta saus tomat, dan segelas soda. Semuanya berpindah ke tangan Thalia dalam gerakan sederhana. Napas kantin terasa tertahan.

"Apa yang kau-" Aurora tidak sempat menyelesaikan kalimat.

Thalia mengangkat nampan, mendekat satu langkah hingga hanya berjarak satu lengan, dan dengan suara setenang permukaan danau ia berkata, "Supaya adil."

Semuanya tumpah ke kepala Aurora.

Sup krim menelusuri rambut yang disasak rapi, pasta merah menggulung di bahu, soda meletup di dagu dan meluncur ke leher. Aurora menjerit, Celina memekik, Alara terpaku sebelum akhirnya heboh mencari tisu yang tidak akan ada gunanya.

Kantin meledak. Ada yang tertawa, ada yang berseru kaget, ada yang memotret.

"Gila, dia berani!"

"Dua kosong! Thalia membalas!"

Aurora bangkit, kursi menyeret lantai dengan suara kasar. Amarahnya mendidih. "Kurang ajar!" Tangannya terangkat tinggi, telapak tangan siap mendarat di pipi Thalia.

Tap!

Bukan bunyi tamparan, melainkan bunyi tangan yang dihentikan di udara. Pergelangan Aurora tertahan oleh genggaman kokoh. Seorang lelaki berdiri di antara mereka-tinggi, tenang, wajahnya tidak mengumumkan kemarahan, tapi jelas menolak kekerasan.

"Cukup," kata Leon, suaranya rendah namun jelas menembus riuh.

Waktu tersendat. Nama itu berputar seperti rumor yang tiba-tiba jadi nyata. "Leon?" beberapa orang berbisik bersamaan.

Henry yang duduk agak jauh berdiri setengah.

"Astaga, dia benar-benar campur tangan."

Harsha menyikut Alvaro. "Catat tanggalnya. Ini sejarah."

Alvaro menaikkan kacamata. "Aku tidak pernah lihat dia peduli urusan semacam ini."

Aurora membeku. Matanya melebar, bukan hanya karena amarah, tetapi juga karena malu: lelaki yang selama ini ia puja dengan diam-diam menahan tangannya-demi Thalia. Celina dan Alara saling pandang panik.

Leon melepaskan pergelangan Aurora perlahan.

"Tidak ada yang boleh menampar siapa pun di sini. Kau menjegalnya. Itu berbahaya."

Aurora menggertakkan gigi. "Dia menuangkan makanan ke kepalaku!"

"Setelah kau mempermalukannya." Leon menoleh sedikit pada Thalia. "Kamu terluka?"

"Tidak," jawab Thalia singkat. Suaranya tetap datar, tapi ada tepi baja di sana.

"Kalau mau protes, pakai kata-kata," Leon menatap Aurora lagi. "Bukan tangan."

Aurora mendesis. "Kamu pikir kamu siapa mengajariku aturan?"

"Orang yang tidak suka kekerasan," balas Leon. "Dan saksi."

Kata terakhir itu seperti pukulan telak.

Zea menemukan suaranya. "Thalia, ayo bersihkan dulu."

Petugas kantin-perempuan paruh baya yang biasanya ramah-datang dengan langkah cepat. "Cukup! Ini kantin, bukan arena. Kamu," ia menunjuk Aurora, "ke kamar mandi sekarang. Kamu," ia menatap Thalia, "ikut saya. Kalian yang merekam, turunkan ponselnya. Kalau tidak, saya panggil keamanan."

Beberapa ponsel menurun patuh; beberapa yang lain pura-pura patuh. Namun semua paham: drama belum selesai.

Leon memberi jalan. "Aku antar," katanya pada Thalia, bukan menawarkan, lebih seperti memastikan tidak ada yang menghalangi.

Thalia menatapnya sepersekian detik-tidak nyaman dibantu, tetapi juga tidak bodoh untuk menolak pengawalan di tengah lautan kamera-lalu mengangguk pendek. "Terima kasih."

Mereka berjalan beriringan melewati jalur yang mendadak memberi ruang. Zea menyusul dengan cemas. Di belakang, Celina dan Alara menyeret Aurora yang meronta-gaunnya belepotan, rambutnya basah sup.

"Ini belum selesai, Thalia!" seru Aurora, setengah menjerit. "Aku akan-"

"Diam!" potong petugas kantin. "Selesaikan dulu bajumu."

Kantin bergerak lagi, namun dengan topik baru yang lebih panas. Suara-suara menyambar:

"Leon nolong Thalia!"

"Pertama kali, bro. Biasanya dia acuh."

"Dia itu sibuk organisasi sosial, bukan drama begini."

"Makanya ramai. Ini pertama kalinya."

Di ruang kecil belakang kantin, ada wastafel, cermin, dan gantungan jaket. Thalia melepas cardigan, membilas noda yang masih menempel. Zea sibuk mencari tisu kering dan mengipasinya dengan map.

"Jantungku masih kencang," gumam Zea. "Aku ingin lempar nampan ke Aurora tadi."

Menolak pengawalan di tengah lautan kamera-lalu mengangguk pendek. "Terima kasih."

Mereka berjalan beriringan melewati jalur yang mendadak memberi ruang. Zea menyusul dengan cemas. Di belakang, Celina dan Alara menyeret Aurora yang meronta-gaunnya belepotan, rambutnya basah sup.

"Ini belum selesai, Thalia!" seru Aurora, setengah menjerit. "Aku akan-"

"Diam!" potong petugas kantin. "Selesaikan dulu bajumu."

Kantin bergerak lagi, namun dengan topik baru yang lebih panas. Suara-suara menyambar:

"Leon nolong Thalia!"

"Pertama kali, bro. Biasanya dia acuh."

"Dia itu sibuk organisasi sosial, bukan drama begini."

"Makanya ramai. Ini pertama kalinya."

Di ruang kecil belakang kantin, ada wastafel, cermin, dan gantungan jaket. Thalia melepas cardigan, membilas noda yang masih menempel. Zea sibuk mencari tisu kering dan mengipasinya dengan map.

"Jantungku masih kencang," gumam Zea. "Aku ingin lempar nampan ke Aurora tadi."

Thalia menahan tawa kecil yang tidak sempat tumbuh. "Kau sudah melempar di dalam hati. Itu cukup."

Leon berdiri di ambang pintu, menjaga jarak sopan. "Aku minta maaf karena terlambat," katanya. "Aku baru masuk ketika dia mengangkat tangan."

"Bukan salahmu," jawab Thalia tanpa menoleh. "Terima kasih sudah menghentikannya."

Leon mengangguk.

Tidak jauh dari kantin, tepat di balik pilar, Nadine berhenti. Ia baru hendak masuk ketika melihat adegan tangan Aurora yang ditahan Leon. Adegan yang singkat, tapi cukup untuk membuat perutnya mual oleh rasa yang tak ingin ia akui: cemburu dan muak. Leon berdiri di sisi Thalia. Di sisi Thalia, bukan di sisinya.

Nadine menggenggam ponsel terlalu kencang sampai buku-bukunya memutih. Ia menelan ludah, menenangkan wajahnya supaya tetap ayu. Namun mata itu, yang biasanya lembut di depan Papa, kini dingin.

"Kenapa harus dia?" bisiknya, hampir tidak terdengar. "Kenapa bukan aku?"

Ia memandangi kerumunan yang mulai bubar, lalu menoleh ke arah berlawanan. Ada dorongan untuk masuk, berteriak, dan mengacak-acak skenario. Namun Nadine bukan tipe yang mengamuk di tengah umum; ia tipe yang menyiapkan cerita, menunggu saat yang tepat, lalu menusuk di tempat yang paling sakit.

Ia menghela napas, menata raut wajah.

"Tenang," gumamnya pada diri sendiri. "Permainan belum mulai."

Sore hari, kampus perlahan kembali ke ritme semula, meski kantin masih menyimpan sisa-sisa sensasi. Thalia menyelesaikan kelas berikutnya tanpa komentar terhadap bisik-bisik di belakang. Zea setia mengawal sampai gerbang.

"Aku antar sampai parkiran," kata Zea.

"Tidak usah. Sopirku sudah menunggu." Thalia menatap sahabatnya lembut.

Mobil meluncur meninggalkan kampus. Di jok belakang, Thalia memejamkan mata. Bayangan Liam melambaikan tangan dari tangga pagi tadi muncul jelas. Untuk dia aku belajar bertahan, batinnya.

Malam menukar bunyi pelayan dengan lirih hujan di taman. Thalia tiba di mansion, disambut Rina yang menceritakan hari Liam: main puzzle dinosaurus, makan siang habis, tidur siang sempat ngigau menyebut "Mama juara."

"Juara apa?" Thalia tertawa pelan.

"Tidak tahu, Nyonya." Rina ikut tertawa. "Mungkin juara peluk."

Liam berlari kecil dari ruang bermain.

"Mamaaa!" Ia menubruk pinggang Thalia, memeluk tanpa tedeng aling-aling. "Mama bau wangi."

"Lebih wangi daripada jus oranye," kata Thalia, bercanda untuk dirinya sendiri.

"Juc?" Liam menatap penasaran. "Mama minum juc?"

"Hmm," Thalia merunduk, menangkup pipi Liam. "Hari ini ada orang yang tidak sopan di kantin. Tapi Mama baik-baik saja."

"Ciapa jahat cama Mama?" nada Liam berubah, cadelnya membuat tegas terdengar lucu. "Liam malah." Ia mengerutkan hidung kecilnya.

"Tidak apa-apa," Thalia menggeleng. "Mama kuat. Liam juga kuat, kan?"

"Kuat!" Liam mengepalkan tangan mungil. "Liam lindungi Mama."

"Terima kasih, pelindung kecilku." Thalia memeluk lebih erat. Pelukan itu menghangatkan bagian hati yang seharian ia biarkan keras.

Rina melirik jam. "Nyonya, makan malam sudah siap. Tadi chef membuat sup krim favorit Tuan Kecil."

"Baik, kita makan. Tolong sampaikan terima kasih ke chef."

"Siap, Nyonya."

Mereka makan sederhana di ruang keluarga-sup krim, roti hangat, sedikit salad. Liam menceritakan dinosaurus yang bisa terbang (yang kemudian dikoreksi Thalia sebagai pterosaurus, bukan dinosaurus, dan langsung dibantah Liam karena baginya semua yang keren adalah dinosaurus). Tawa kecil muncul, halus, membersihkan sisa-sisa getir hari.

Setelah makan, Thalia menidurkan Liam. Anak itu memeluk bonekanya, menggumamkan "Mama juara" sekali lagi sebelum terlelap. Thalia duduk di sisi ranjang beberapa detik ekstra, memastikan napas Liam teratur. Untukmu, aku tidak akan tunduk, janjinya dalam hati.

Di tempat lain, rumah keluarga Anderson terasa lebih dingin meski lampu-lampu hangat menyala. Yoshi duduk di meja makan, Nadine di kanan, Marrie di kiri. Obrolan mereka ringan di permukaan-menu, cuaca, kuliah-namun ada sesuatu yang menguap dari piring-piring porselen: jarak yang dipelihara dengan rapi.

"Papa, jadwalku minggu depan rapat organisasi," ujar Nadine. "Tapi aku akan menyisihkan waktu untuk makan malam keluarga."

Yoshi mengangguk tanpa ekspresi. "Baik."

Marrie menyendokkan sup untuk Yoshi, tatapannya lembut. "Terima kasih sudah pulang lebih awal, Sayang."

Makan malam berakhir seperti biasa. Rapi.

Sunyi. Yoshi kembali ke ruang kerja, menatap layar ponsel yang sepi dari pesan siapa pun yang ingin ia baca. Ada nomor yang ingin ia hubungi, ada kata yang ingin ia ucapkan-namun gengsi dan suara Marrie yang teratur membentuk pagar.

Di belakang pintu, Marrie berdiri, memandang punggung Yoshi. Bibirnya melengkung tipis, bukan karena bahagia, melainkan karena rencananya berjalan sesuai harapan: jarak antara Yoshi dan Thalia melebar, sementara Nadine melangkah masuk mengisi ruang itu.

1
CaH KangKung,
MC... josss
CaH KangKung,
👣👣
Fajar Fathur rizky
cepat hancurkan Abraham thor
Iry
siap
Mifta Nurjanah
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
secangkir kopi buat kamu thor😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: sama🤗
total 2 replies
Lili Inggrid
lanjut
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor, bab ini tadi ceritanya ada yang di ulang²🤭
Iry: baiklah beb
total 3 replies
Sugiarti Arti
bagus
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
thor kasih visualnya dong😊
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛: iya dong thor biar gak penasaran 🤭
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny♬⃝❤️🅠🅛
jos jis thalia👍🏻
Anonim
bagus iii ceritanya
lanjuttttt/Kiss/
Ma Em
Semangat Thalia pasti kamu pemenang nya dan sukses jadi bintang kalahkan semua saingan mu dan bersinar lah dgn prestasimu apalagi Nadine yg tdk ada apapa nya buat mereka yg dulu selalu menghinamu malu .
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru menamatkan cerita berjudul "Beautifully Hurt" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Apa jadinya kalau Dinda (21) dipaksa menikah dengan Rendra (35) ? Putra tunggal presiden yang reputasinya sedang hancur karena skandal panas dengan seorang aktris.
Di balik pernikahan yang penuh tekanan, rahasia, dan sorotan publik, Dinda harus bertahan di dunia yang sama sekali bukan miliknya 💔
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!