NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

"Jadi, Lo ngapain nyuruh kita ke sini?" tanya Caca pada dua pemuda di depannya, siapa lagi kalau bukan Nathan dan Fabian.

Saat ini mereka berlima sedang duduk di taman belakang sekolah. Sebenarnya niat awal memang di kantin, namun mengingat di sana ada Nisa—jadilah keduanya memutuskan untuk bertemu di sini.

"Dia bukan Nata," singkat Fabian dengan ekspresi serius.

"Maksudnya?" tanya Isna bingung.

"Yang ada sama kita sekarang itu bukan Nata. Dia adalah kembaran Nata, Nisa," jelas Nathan.

Caca, Isna, dan Lina menatap syok ke arah keduanya. Mereka sedikit kaget mendengar kenyataan yang nggak masuk akal.

"Nggak, nggak mungkin. Lo pasti bercanda," ucap Isna nggak percaya dengan sedikit tawa.

"Tapi itu faktanya," sarkas Nathan.

"Kalau itu bukan Nata, terus di mana dia sekarang?" tanya Lina penasaran.

"Dia ada, gantiin kembarannya."

"Ini maksudnya gimana sih, gue nggak ngerti," ujar Caca yang masih syok.

Fabian dan Nathan memutuskan untuk menceritakan tentang apa yang sedang terjadi. Nggak semua, hanya bagian yang perlu mereka tahu dengan di beri sedikit bumbu kebohongan.

"Jadi, sekarang kita harus bersikap gimana?"

"Untuk sementara ini kita harus berpura-pura menganggap dia Nata, sampai semuanya kembali normal," kata Fabian sambil memandang langit yang cerah.

Mereka bertiga mengangguk setuju dengan perkataan Fabian. Mereka harus berpura-pura menganggap Nisa adalah Natalie. Ya, meskipun berat—tapi mereka harus melakukan itu semua agar dia nggak curiga.

Mereka akan mempermainkan sandiwara ini sampai hari itu tiba. Dan jika sebelum hari itu tiba, tapi dia membuat ulah—mereka nggak akan tinggal diam.

"Lebih baik sekarang kita ke kantin, sebelum dia curiga," ucap Nathan yang di angguki semuanya.

Di kantin, Nisa menunggu yang lain dengan cemberut. Ia merasa jenuh dan bosan menunggu mereka. Makanan di depannya pun belum ia sentuh sama sekali, mungkin sekarang sudah mulai dingin karena terlalu lama ia diamkan.

"Mereka ke mana sih. Tadi katanya cuma mau pesan makanan, kok lama," gerutunya.

"Nata …!" seru Caca dengan senyum merekah. Di tangannya terdapat semangkuk bakso dan es teh.

"Kalian kok lama, sih."

Isna nyengir lebar mendengar protesan Nisa. "Sorry, tadi antriannya panjang."

"Udah, udah. Mending kita makan sekarang yuk, sebelum bel masuk."

Mereka bertujuh makan dengan tenang, sebelum suara batuk mengalihkan perhatian mereka. Nisa menepuk dadanya pelan karena tersedak mie ayam yang di makannya. Dengan sigap Nathan dan Caca menyodorkan minuman kepadanya.

Dengan serabutan ia mengambil minuman di tangan Nathan. Meminumnya dengan rakus. Wajahnya memerah karena rasa pedas yang menjalar di dadanya.

"Makanya hati-hati kalau makan. Kebiasaan Lo tuh, kalau makn suka tersedak," ucap Nathan penuh perhatian.

Nisa yang di perlakukan dengan lembut dan penuh perhatian oleh Nathan, pipinya semakin bersemu merah. Perutnya serasa ada kupu-kupu yang berterbangan. Ia tak kuat menahan salting dengan perlakuannya.

"Lain kali nggak lagi-lagi kok, janji," ucap Nisa dengan nada yang di. lembut-lembutkan.

......................

Waktu sudah menunjukkan sore hari. Kini Natalie sudah bersiap-siap untuk pulang dan menjemput Nisa. Sejujurnya kalau di tanya capek atau nggak, ia sangat capek. Apalagi sekarang tubuhnya sudah nggak bisaa sebebas dulu.

"Semangat Nata, Lo pasti bisa," semangatnya pada diri sendiri.

Di depan sekolah, Natalie menunggu cukup lama. Ia memakai topi dan masker agar tidak ada yang mengenalnya. Bahkan ia juga melapisi tubuhnya dengan jaket.

"Kamu kenapa masih pakai motor, sih. Kan aku udah bilang kalau mau jemput aku harus pakai mobil jangn motor," protesnya.

"Udah deh, Lo mau pulang atau nggak. Gue capek, nggak ada tenaga untuk debat sama Lo," balas Natalie.

Udahlah dirinya capek kerja seharian, di tambah Nisa yang sangat rewel cuma perkara kendaraan. Lama-lama dirinya bisa terkena darah tinggi hadapin orang modelan Nisa ini.

Dengan muka cemberut Nisa naik ke atas motor, duduk dengan tengan di jok belakang. Tangannya bersedekap dada, enggan menoleh ke arah Natalie.

Natalie memutarkan bola matanya malas. Lelah dengan sikap kembarannya itu.

"Natalie, kamu deket sama orang yang namanya Nathan dan Fabian, nggak?" teriak Nisa membuka pembicaraan.

Meskipun ia merasa bete dengan Natalie, keingin tahuannya tentang Nathan dan Fabian membuatnya mau nggak mau bertanya.

"Kenal, kenapa?"

Nisa terdiam cukup lama, tak membalas pertanyaan Natalie. Sedangkan Natalie pun hanya diam, fokus kembali pada jalan.

Beberapa menit kemudian, motor yang mereka kendarai telah sampai di depan rumah Dewi. Natalie tak langsung memarkirkan motornya di garasi, ia menaruh motor itu di depan rumah.

Karena rencananya ia akan keluar lagi mencari kerjaan baru. Biar seenggaknya bisa menghasilkan uang lebih untuk biaya hidup. Dan kalau bisa ia mencari pekerjaan yang shift malam agar lebih mudah membagi waktu.

"Gue minta nomor mereka dong," kata Nisa tiba-tiba.

"Buat apa?"

"Ck, udahlah kasih aja kenapa sih," paksanya.

"Nggak bisa. Gue nggak akan kasih nomor mereka ke siapa pun tanpa ijin dari keduanya," tolak Natalie mentah-mentah.

Natalie langsung meninggalkan Nisa di depan rumah sendirian. Nisa berdecak sebal. Tangannya terkepal, memukul udara.

"Awas aja kamu, aku aduin mama," gumamnya.

......................

"Tan, aku malam ini kayaknya mau pulang ke rumah deh Tan. Aku titip Nisa, ya," ujar Natalie sambil membantu Dewi masak.

"Tumben. Kamu … nggak lagi ada masalah kan?" tanya Dewi curiga.

Bukan apa, biasanya ketika keponakannya tiba-tiba ingin pulang pasti ada sesuatu yang terjadi. Bukannya berniat trust issue, tapi itu kenyataannya.

"Nggak ada masalah apa-apa kok, Tan. Aku cuma kangen aja sama cimel, udah lama aku nggak ketemu dia," jelasnya.

"Oh, gitu. Kamu mau berangkat sekarang? Nggak nunggu makan malm dulu?"

"Nggak deh, Tan. Aku mau makan di rumah aja," tolaknya.

"Gini aja deh, Tante bawain kamu ya untuk di makan di rumah. Nanti yang ada kamu nggak makan karena main sama cimel terus," bujuk Dewi.

"Iya deh."

Percakapan berhenti, keduanya kembali fokus pada tugas masing-masing. Sebenarnya ini terlalu awal untuk masak makan malam. Tapi gimana lagi, mereka sudah kepepet.

"Tan, aku mau mandi dulu ya. Udah lengket semua nih, badan aku."

"Yaudah, sana. Jangan lama-lama, entar masuk angin kamu," peringat Dewi yang hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.

Karena Natalie terbiasa bermain dengan busa dulu dan memetik beberapa bunga di taman untuk menemaninya mandi. Bahkan ia juga terkadang membawa lilin aroma, katanya biar tubuhnya rileks. Benar sih, tubuhnya akan rileks, Tapi kalau kelamaan berendam di air bisa-bisa masuk angin.

Di dalam kamar mandi, Natalie tak langsung membersihkan tubuhnya. Ia berendam cukup lama. Memejamkan matanya sambil menghirup aroma bunga yang sudah ia petik kemarin sore.

"Gue cari di mana lagi, ya. Apa di supermarket aja, ya." tanyanya pada dirinya sendiri.

"Iya deh, di supermarket aja. Kan lumayan kalau di supermarket, nggak terlalu jauh juga tempatnya dari rumah."

Natalie lagi-lagi menghela napasnya. Menatap dinding-dinding kamar mandi dengan raut wajah sendu.

"Sampai kapan gue harus kayak gini. Gue capek," lirihnya.

Ia melirik pada luka di tangannya yang masih basah. Bahkan terdapat sedikit darah yang kembali keluar. Luka itu berasal dari goresan yang tak sengaja ia ukir karena penasaran gimana rasanya saat tangan tergores cutter. Jadilah luka itu tercipta.

Tangannya menggenggam erat-erat luka itu, sampai darah menetes ke air. Membuat air yang semula bening, menjadi keruh akibat darah. Tak ada ringisan kesakitan. Hanya tatapan puas yang tercetak jelas di wajahnya.

Natalie tertawa pelan saat merasakan sensasi perih yang baru terasa. Saking senangnya, air matanya luruh begitu saja dari pelupuk matanya.

.

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!