NovelToon NovelToon
JODOH PILIHAN AYAH BUNDA

JODOH PILIHAN AYAH BUNDA

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:6.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Binti Ulfa

Nabila Asofi telah dijodohkan orangtuanya, Tapi sebuah kecelakaan merenggut nyawa suaminya disaat pernikahan mereka belum genap satu tahun ,dan Sofi sedang hamil tua. Disaat itu mantan kekasih yang ditinggalkannya mencoba mendekatinya lagi, akankah Sofi berpaling dan kembali pada kekasihnya setelah menyandang status janda dengan dua anak kembar?
SELAMAT MEMBACA SEMOGA TERHIBUR...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binti Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Tak Terduga

💖Selamat Membaca💖

Tekan like dulu ya teman teman....!

Pa Hendra dirawat dirumah sakit selama tujuh hari. Selama itu juga Faiz, Sofi, dan mama Sarah, bergiliran untuk menunggui di rumah sakit. Sedangkan Izzah, seperti kata mama Sarah tidak bisa diandalkan. Karena dirinya cukup sibuk menghadapi ujian akhir semester.

Raut wajah lelah sangat terlihat dari wajah ketiganya. Terutama Sofi, akhir akhir ini ia merasa sering pusing dan berkunang kunang. Ia mengira itu adalah efek dari sering begadang dan kurang beristirahat.

Hingga pada hari itu giliran Sofi menemani mertuanya, Faiz mengatakan akan menjemput Sofi sore hari sepulang kerja.

Sore itu Sofi melaksanakan ibadahnya di ruangan pa Hendra, setelah itu ia tak langsung membuka mukena. Ia meneruskan dengan membaca kitab suci kecil yang selalu dibawanya ketika bepergian di dalam tasnya.

Ayat demi ayat ia lantunkan dengan khusyuk, Pa Hendra mendengar bacaan menantunya dengan khusyuk pula. Hingga saat di ayat terakhir sebuah surah, ia mengakhirinya dengan bacaan iftitam. Lalu menutup kitab itu, mengecupnya dan kemudian memasukkan lagi kedalam tas.

Ia melintas disamping ranjang Pa Hendra, lelaki setengah baya itu tersenyum kearahnya.

"Pa, papa pengen apa, makan atau minum? Biar Sofi ambilkan!" Pa Hendra menggeleng.

"Lantunan Qur'an mu bagus sekali, Sof! Mas Abdullah pasti mendidikmu dengan dasar agama yang bagus. Papa salut, gak salah kami memilihmu jadi menantu kami. Faiz juga, terlihat bahagia beristri kamu."

"Papa terlalu berlebihan memuji Sofi, Sofi lebih banyak kurangnya dari pada kelebihannya, Pa! Lagipun, manusia memang akan selalu ada kekurangan, tak ada yang sempurna."

Apalagi, Sofi juga jauh dari kata cantik. Terkadang perasaan minder sering hadir, kala secara tak sengaja jika berdua bersama Faiz lalu mereka bertemu dengan teman temannya yang kebanyakan sangat cantik.

"Bagi kami, aku dan Mamanya Faiz, kamu adalah menantu sempurna."

Sofi tersipu.

"Ah, papa jangan terlalu memuji Sofi. Nanti Sofi jadi terbang ke angkasa nih!" gurau Sofi membuat Pa Hendra tertawa.

"Oiya, tadi kamu tanya papa pengen apa? Papa pengen makan apel, kupasin ya Sof!" Sofi mengangguk, dengan senang hati ia mengupaskan buah untuk Pa Hendra, lalu mengirisnya kecil kecil memakai wadah piring dari stainless yang tersedia. Lalu menyodorkan beserta air putih didalam kemasan botol yang diberi sedotan.

"Sofi suapin aja ya, Pa?"

"Mau sih, tapi gak enak hati udah ngerepotin kamu, Sof!"

"Papa bisa aja. Gak repot kok, pa! Lagipun Sofi juga ngapain disini cuman duduk duduk doang!" jawabnya Sofi lalu mengatur ranjang hingga pa Hendra dalam posisi duduk dan bersandar di ranjang. Sofi lalu menyuapkan irisan apel satu demi satu.

"Hmmm, Sof! Kamu udah ada tanda tanda isi belum?" tanya pa Hendra setelah menelan kunyahan apel ya. Sofi menautkan alis, kurang faham dengan apa yang dikatakan pa Hendra.

"Maksud papa, apa kamu sudah ada tanda tanda hamil?"

Sofi menggeleng.

"Sepertinya belum, Pa! Lagi pula kita masih baru jalan tiga bulan, masih panjang!"

"Iya, papa tahu. Tapi Papa berharap segera menimang cucu pertama dari kamu. Biar rumah gak sepi, lagipula kalau papa sama mama ke rumah kalian, biar ada yang dijadikan alasan. "

Sofi tersenyum. "Kuharap juga begitu, pa. Ayah sama ibu juga bilangnya seperti itu. Pengen cepat nimang cucu. Semoga disegerakan."

"Aamiin!" ucap kedua orang itu. Pa Hendra dan Sofi.

Saat irisan apel masih separuh, pa Hendra menyorongkan telapak tangannya, tanda ia menyudahi makannya.

"Sof, Papa kok rasanya pengen ke toilet! Tuntun Papa sampai depan toilet ya!" Sofi mengangguk, dan setelah mengembalikan piring ke atas meja, ia mulai memapah pa Hendra menuju toilet.

Ya Alloh, kenapa rasa pusing datang lagi sih, disaat gak tepat seperti ini!

Sofi sekuat tenaga menahan diri dari rasa pusing. Ia memapah pa Hendra yang bertubuh tinggi besar.

Ya sampai sini aja, kamu kembali kesana ya, Papa mau buang air!" Sofi mengangguk, meninggalkan pa Hendra yang menutup pintu toilet. Dan duduk di ranjang dengan memijit tengkuknya.

Ya Alloh!

"assalamu'alaikum!" itu suara Mama Sarah. Alhamdulillah, Mama telah datang. batin Sofi.

Waalaikum salam, ma!"

"Papamu mana, Sof!" Mama sudah terlihat agak segar, Mama pasti lebih dulu pulang, lalu mandi dan segera kesini.

"Ada, di toilet, Ma. Katanya mau buang air tadi." Mama Sarah mengangguk, lalu meletakkan tas selempangnya di kursi.

Mama Sarah sudah stand by di ruangan pasien, Sofi pun bersiap untuk pamit undur diri. Ia sudah mengirim pesan pada suaminya, dan Faiz baru saja keluar dari lokasi kantor untuk pulang.

"Sof, kamu kok pucat gitu? kamu sakit?" Ma Sarah mendekati menantunya, menyentuh dahi Sofi. Tidak panas.

"Kepala Sofi agak berat, Ma. Pusing dari tadi."

"Kemarin juga gitu waktu pagi. Mual mual juga, tapi sesudah minum air jahe panas, reda dengan sendirinya, Ma."

"Ya udah. Nanti sampai rumah segera istirahat. Maaf ya Sof, ngerepotin kamu."

"Gak papa kok, ma. Udah tugas anak. Ya udah, karena Mama udah disini, Sofi pamit. Mas Faiz juga udah di perjalanan!" Mama Sarah mengangguk.

"Eh, Sof!" saat Sofi mencium tangannya Mama Sarah menahannya. Dan memperhatikan gestur menantunya.

"Apa kamu sedang hamil?" Sofi menggeleng.

"Belum, Ma! Tapi kayaknya Sofi udah telat datang bulan." Mama Sarah tersenyum

"Ya udah, kalau nanti udah benar benar telat, segera periksa ke dokter kandungan ya!" Sofi mengangguk lalu berjalan keluar ruangan.

Sesampainya dekat parkiran Faiz mengirim pesan, ia mengabarkan akan sedikit terlambat karena macet, sedang Sofi saat ini merasa lelah dan agak pusing. Akhirnya dia duduk menunggu didekat tempat parkir sambil menyenderkan punggungnya di kursi.

Sofia menunduk dan memejamkan mata, sedang tangannya sibuk memijit mijit pangkal hidung serta pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing.

Tiba tiba di depannya berdiri seseorang pria yang memanggil namanya.

"Sofi? Benar kamu Sofi kan?"

Suara itu!

Sofi masih mengenalnya dengan baik. Perlahan Sofi mendongakkan kepala.

Deg...

Benar saja, orang yang memanggil ada di hadapannya adalah...

"M_mas Farhan!" Sofi menengok ke kiri dan ke kanan seperti orang bingung, dia sedang menunggu Faiz, suaminya.

Tapi kenapa yang datang dia? dia yang selama ini ingin Sofi lupakan.

" Hai apa kabar Sof, sudah lama tidak ketemu. Kau makin cantik saja Sof!"

Eh, kenapa malah menggombal? Sofi hanya tersenyum kikuk.

"Aku, aku sedang nunggu suamiku mas. Tadi katanya mau jemput, tapi gak tau kenapa kok belum datang." jawabnya dengan senyum kikuk.

" Oiya! mas Farhan ngapain disini?"

"Mau jenguk teman, sakit dan dirawat disini, " Jawab Farhan.

"Teman? Laki laki atau perempuan?" potong Sofi tiba tiba.

Eh... bodohnya, kenapa aku tanya seperti itu? batin Sofi merutuki pertanyaannya yang reflek. Yang dirasa begitu bodoh. Farhan tersenyum sambil melangkah duduk dusampingnya. Terpisah satu bangku darinya.

"Laki laki, aku baru datang dari pulang kantor langsung kesini Sof. Tadi teman temanku sudah lebih dulu masuk dan aku ngelihat kamu disini sendirian." Farhan memperhatikan Sofi dengan seksama, wajahnya agak pucat, Sofi pun menunduk tahu jika dirinya diperhatikan dengan begitu rupa.

Sedang tak jauh dari mereka ada seseorang yang mengepalkan tangan, marah dan cemburu. Tapi dia berlalu masuk ke dalam rumah sakit melalui jalan lain, tak ingin diketahui keberadaanya.

"Mas Farhan jangan memandangku seperti itu! Gak pantas mas Farhan menatap istri orang lama lama!"

" Aku sudah milik orang lain mas, maaf!" Sofi menunduk dan menjalin jemarinya.

"Kenapa minta maaf?" Farhan menoleh dengan alis tebalnya bertautan.

"Karena...karena aku lebih memilih menuruti kedua orang tuaku untuk menikah dengan mas Faiz, daripada mempertahankan dan memperjuangkan hubungan kita dulu." Sofi tak sanggup menatap Farhan, ia bicara masih dengan menunduk.

"Aku minta maaf, benar benar minta maaf. Kuharap mas Farhan merelakan ku, hingga kita bisa hidup masing masing dengan tenang. Aku...aku juga berharap mas akan mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dari aku." imbuh Sofi lagi. Farhan menghela napas, lalu tersenyum kecil.

"Tak usah merasa bersalah. Yakini saja kalau itu memang takdir kita, aku malah merasa bangga padamu."

"Bangga! Apa yang mas banggakan dari penghianat macam aku?"

" Aku, karena aku pernah menyukai orang yang tepat, yang lebih mencintai dan mendahulukan keinginan orang tua, " Farhan menarik nafas lagi. Perasaannya kini sesak mengingat bagaimana kebersamaan mereka dulu.

"Pada awalnya, terus terang aku marah. Dan tidak terima kau dijodohkan dengan orang lain, aku sedih, aku frustasi. Tapi, syukur Alhamdulillah, aku dikelilingi orang orang yang baik. Mereka mengingatkan aku, menasehati ku kalau apa yang aku pikirkan dan aku lakukan itu salah. Hingga aku sadar, dan terbuka mata hatiku. Aku sekarang sadar bahwa mencintai itu bukan berarti harus memiliki. Mencintai itu menerima orang yang dicinta bahagia. Walaupun itu tidak bersamaku."

"Sekarang aku ikhlas, Sof! Aku bahagia jika melihat kamu bahagia walaupun ternyata bahagia mu tidak bersama diriku. " kata kata Farhan terdengar pasrah.

Lama mereka terdiam, tak tahu harus bicara apa. Karena rasa canggung dan rasa tak enak hati menguasai diri. Lalu Sofi melihat pada jam tangannya, heran.

Kenapa mas Faiz belum datang juga?

"Eh, kita bicara ngalir ngidul, tapi aku gak tahu kepentingan kamu disini. Siapa yang sakit?" suara Farhan memecah kecanggungan. Diantara suara suara bising di lobi rumah sakit.

"Papa mertuaku mas, darah tingginya kumat. Aku gantian sama Mama nungguin Papa, dan sekarang aku sedang nunggu mas Faiz jemput!" terang Sofi.

" Ya udah, kalau gitu aku masuk dulu. Teman teman pasti menungguku di dalam. Hati hati ya, salam buat suami kamu." senyum Farhan terlihat tulus.

"Iya mas, terima kasih atas pengertiannya, ya!" Farhan mengangguk, segera berlalu diikuti tatapan mata Sofi.

Sofi merogoh tasnya, mengambil ponsel lalu melakukan panggilan, satu kali panggilan tak diangkat. Sekali lagi ia melakukan panggilan, dan diangkat.

"Halo Assalamu'alaikum. Mas, masih terjebak macet ya? Kok belum nyampe, aku nunggu dari tadi." cerocos Sofi yang lelah menunggu. Dan juga ia lagi bad mood.

"Waalaikum salam, Tunggu disitu jangan kemana mana," jawab yang diseberang telpon.

Tutt....telpon langsung dimatikan sepihak oleh Faiz.

Sofi menatap layar ponselnya, dan bergumam.

Ini orang kenapa ya, aneh!

Tak lama kemudian Faiz datang, tapi dari dalam rumah sakit. Membuat dahi Sofi berkerut heran.

"Loh, kok mas Faiz dari dalam? Kapan nyampe nya, mas dari tempat Papa ya?" Sofi berdiri menghampiri suaminya lalu berjalan di sisinya. Anehnya Faiz sama sekali tak menoleh ataupun mengajaknya sambil menggandeng tangan mesra seperti biasa.

"Hmmmmm, " jawab Faiz, sambil terus berjalan menuju mobil nya diparkirkan.

*H*anya hmmm gitu, kenapa sih dia? Bingung aku.

Sofi mengikuti langkah Faiz dalam diam dan keheranan.

Faiz

"Sial, hari ini kenapa jalan juga macet, padahal udah capeknya gak karuan. Belum juga harus jemput istri di rumah sakit." ia membayangkan enaknya rebahan di kasur. Entah kenapa rasa capeknya berlipat lipat.

Gue mau cepat sampai rumah terus istirahat." gerutunya dalam kesendirian, menatap kemacetan yang belum terurai. Maklum, karena saat ini waktu pulang kantoran.

"Hmmm, sepertinya ada kecelakaan. Pantas saja macetnya panjang banget." gumamnya kemudian.

Ia meneguk cepat air mineral dalam botol, membuat tubuhnya lebih segar.

Akhirnya setelah sekitar tiga puluh menit bisa keluar dari kemacetan yang mengular. Faiz segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang, karena sebentar lagi sudah sampai area rumah sakit. Dia segera memarkirkan ditempat yang mudah untuk keluar karena dia tidak akan lama.

"Whattt! itu bukannya Sofi!"

Faiz mengamati sang istri yang sedang berbincang begitu dekat dengan seorang pria. Rahangnya mengeras.

Dengan siapa dia? Laki laki itu? sepertinya aku mengenalinya. Faiz bermonolog.

"Ckkk, kurang ajar bener tuh laki. Ngelihat istriku sampai segitunya." Faiz mencengkeram setir kemudi erat.

Sofi juga, kenapa dia ketemu sama mantannya disini? Udah tahu orang punya suami, atau jangan jangan mereka memang janjian? Merah muka Faiz menahan amarah. Dadanya naik turun dengan nafas kasar, cemburu. Ia memukul stir mobilnya.

Yah, tentu dia cemburu.

Melihat istri berduaan dengan mantan pacar, yang sampai saat ini dia yakin istrinya belum bisa melupakan sepenuhnya.

Daripada aku sakit hati melihat dia bersama nya lebih baik aku menengok papa, jangan sampai dia tahu, Faiz mengendap endap untuk pergi ke ruangan Papanya, menggunakan jalur lain. Sesekali ia menoleh kearah istrinya yang masih asyik bicara, terkadang terbit senyumnya juga.

Sesampainya di kamar pasien Faiz melihat Papanya sedang makan buah, di suapi oleh mama.

"Assalamualaikum,"

"Walaikum salam." jawab Papa dan Mamanya bareng. Faiz menampilkan senyum supaya mereka tidak tahu kegalauan hatinya.

"Loh, Iz...istrimu kan lagi menunggumu di parkiran. Kamu belum ketemu sama dia, gak telpon dulu?" tanya Ma Sarah dengan wajah heran.

"Ya, tadi kita udah ketemu kok Ma, cuma aku bilang ingin liat papa sama Mama dulu. Jadi, dia aku suruh tunggu di sana sebentar."

" Bagaimana keadaan Pa, apa sudah mendingan?" tanya Faiz setelah duduk di ranjang Papanya. Memijit mijit kakinya.

"Papa sudah baikan, bahkan kalau dari hari ini tensi Papa sudah stabil, gak naik lagi, besok papa sudah boleh pulang." kata Papa agak terbata, bicaranya agak sulit.

"Alhamdulillah kalau begitu Papa, Papa harus mengatur pola makan yang lebih sehat mulai sekarang. Jangan terlalu mikir yang berat ya Pa. Tidurnya juga harus cukup!"

"Jangan biasakan bawa pekerjaan kantor ke rumah, " omelku melarang aktifitas Papa yang sering membawa pekerjaan kantor ke rumah. Bahkan kadang sampai larut malam baru tidur.

Tiba tiba hape Faiz berbunyi, dan ternyata panggilan dari Sofi, sengaja Faiz tidak mengangkatnya. Lagi mode marah ceritanya.

Tapi ternyata kemudian hapenya berbunyi lagi.

"Siapa Iz, diangkat dong telfonnya, kok cuma dipandangi?" tanya Mama. Akhirnya aku menekan tombol hijau.

Setelah bicara satu kalimat segera ku tutup telfon dari Sofi dan aku berpamitan pada Papa Mama untuk pulang.

"Iya, cepat sana! Tadi aja Sofi keliatan pucat. Besok kalau Sofi memang gak enak badan, lebih baik gak usah ke kantor, bilangin sama dia, ya!"

Faiz mengangguk, setelah mengucap salam dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya, ia pun keluar ruangan itu.

Sampai ditempat Sofi menunggu, wajahnya menampakkan rasa heran. Karena Faiz berjalan dari dalam rumah sakit, bukan dari tempat parkir. Dia lalu bertanya tapi hanya di jawab Faiz dengan gumaman.

Dalam hati Faiz bertanya, dimana laki laki itu? pintar sekali dia. Pasti dia sudah menyuruh laki laki itu pergi sebelum aku datang.

Faiz memasang tampang masa bodo melihat raut heran Sofi.

Kau kan yang mulai?......

⚡🌩🌩

Sampai jumpa di part selanjutnya teman teman.

1
Rahma Lia
Luar biasa
Adi Nugroho
sofi sama kayak aq kalau ngjdam nyiun bau ketiak gk mau makan nasi
Yeni Eka
mungkin Nisa salah paham aja x
Yeni Eka
selamat ya Sof, akhirnya hamil lagi
Yeni Eka
kayaknya sih iya Farhan lagi ngidam 😂
Yeni Eka
kaget ya Sof ternyata pak Dani ayah mertua mu. Awas jgn sampe kesedak baco merson ya Sof
Yeni Eka
Iya X Nad, nyalain kompor aja gak bisa. Nyalain yg lain bisa ga tuh?
Yeni Eka
Izah izah semoga kamu gak hamidun
Yeni Eka
Farhan enggak usah teriak-teriak kali
Yeni Eka
pelakor tiba
Yeni Eka
Alhamdulillah Akhirnya sah juga. Beruntung banget deh Sofi dpt bujangan
Yeni Eka
Batu sandungan menghampiri calon pengantin nih
Yeni Eka
Itu Jihan mantan nya Faiz kan
Yeni Eka
kok Farhan nyosor gtu sih org blm halal
Yeni Eka
mungkin ditolak dulu nanti ujung2nya diterima
Yeni Eka
luar biasa nih cowok kayak Farhan mau menyayangi anak mantannya
Yeni Eka
cerita nya beda. baru kali ini baca tokoh utamanya dibikin meninggal. Sayang banget padahal sama Faiz yg lagi mesra2 nya
Yeni Eka
akhirnya Farhan sama Sofi lagi ya
Yeni Eka
😭😭
Yeni Eka
Sofi yang kuat ya 😭. Baca sinopsisnya Faiz meninggal ya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!